Holly Reisem Hanna, pendiri dan penerbit situs pemenang penghargaan, The Work at Home Woman. Situs ini bertujuan membantu individu menemukan karier jarak jauh (remote) dan bisnis yang sesuai dengan jiwa mereka.
Kredibilitasnya diakui secara luas. Situsnya dinobatkan oleh Forbes sebagai salah satu dari "100 Situs Teratas untuk Wanita". Selain itu, ia sering dikutip dan diwawancarai oleh media besar seperti CNN, MSN Money, Huffington Post, dan majalah Woman’s Day.
Sebelum menjadi pengusaha digital, Holly bekerja sebagai perawat dan koordinator klinis untuk sebuah fasilitas penelitian farmasi. Dalam peran ini, ia terbiasa dengan lingkungan kerja yang menuntut multitasking tinggi, seperti mengelola studi klinis di lantai gedung yang berbeda dan menangani pasien dengan berbagai tingkat akut.
Pengalaman ini memberinya dasar dalam menangani situasi yang penuh tekanan, meskipun ia mengakui bahwa ia tidak bahagia dengan pekerjaan tersebut.
Lalu bagaimana dia bisa berbalik menjadi pengusaha digital dan mendalami soal manajemen waktu? Kisahnya bermula dari perubahan statusnya menjadi seorang ibu. Setelah melahirkan putrinya, Hadley, Holly meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat. Dia menjadi ibu rumah tangga penuh waktu dan mengeksplorasi jalur karier baru.
Dia menjalankan bisnis yang berkembang pesat dari rumah. Tugasnya mencakup mengelola banyak pekerja lepas (freelancers) dan klien, sembari tetap menangani aktivitas sehari-hari rumah tangga
Awalnya, dia merasa kewalahan menyeimbangkan peran sebagai ibu baru dan pemilik bisnis freelance. Dia menggambarkan dirinya saat itu sebagai seseorang yang "berantakan" dan mengalami kelelahan kronis
Kisahnya bermula dari sebuah kejadian kecil namun sangat membekas. Suatu hari, ketika hendak terbang ke pesta lajang sahabatnya, Holly panik karena kartu kreditnya hilang dari dompet. Dengan cemas ia menelepon suaminya, membayangkan segala kemungkinan buruk.
Ternyata kartu itu tidak hilang sama sekali. Putrinya yang masih berusia dua tahun dengan polos memindahkannya ke dalam tas mainan sehari sebelumnya. Masalahnya memang selesai, tetapi perasaan di dada Holly justru semakin berat. Ia tidak hanya lega, ia juga merasa kalah oleh kekacauan hidupnya sendiri. Saat itulah ia sadar, cara hidup yang serba spontan dan tanpa sistem tidak lagi bisa dipertahankan.
Pengalaman tak bagus itu bisa dihindari, bila malam sebelumnya dia menyisihkan waktu 10-20 menit untuk merencanakan jadwal esok hari, memilih pakaian, dan merapikan barang-barang, termasuk memeriksa dompetnya, agar pagi hari berjalan lebih lancar.
Dari pengalaman itulah perjalanan Holly dimulai. Ia membaca banyak buku, dan menyisihkan waktu sekitar 20 menit setelah membaca setiap bab, untuk mengerjakan langkah-langkah implementasi yang diuraikan di buku itu.
Disitu dia bisa mencoba berbagai metode, dan gagal berkali-kali sebelum akhirnya menemukan satu benang merah yang sederhana namun masuk akal. Manajemen waktu tidak harus rumit dan melelahkan.
Perubahan besar tidak selalu datang dari keputusan drastis, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan sadar dan konsisten. Gagasan inilah yang kemudian ia rangkum dalam bukunya, Time Management in 20 Minutes a Day.
Judul buku itu sering disalahartikan. Dua puluh menit bukanlah batasan waktu untuk mengatur seluruh hidup, melainkan simbol pendekatan yang realistis. Holly tidak meminta pembacanya mengubah segalanya sekaligus. Ia justru mengajak orang meluangkan sekitar dua puluh menit untuk membangun sistem kecil yang membuat hidup terasa lebih ringan.
Dua puluh menit untuk merencanakan hari esok di malam hari. Dua puluh menit untuk merapikan email agar tidak menjadi sumber stres. Dua puluh menit untuk membereskan satu sudut rumah, bukan seluruh rumah sekaligus. Sedikit demi sedikit, tetapi berkelanjutan.
Kejujuran Holly terasa kuat karena ia tidak memposisikan diri sebagai sosok yang selalu disiplin dan sempurna.
Baca email
Ia mengakui pernah hampir membuang satu jam hidupnya hanya karena membaca email terlalu cepat. Dalam kondisi terburu-buru, ia menerima permintaan wawancara dan langsung menjadwalkan waktu untuk menjawab pertanyaan.
Baru setelah duduk dan membaca ulang email itu dengan saksama, ia menyadari ada permintaan bayaran agar tulisannya dimuat. Ia langsung membatalkan.
Dari kejadian sepele itu, ia belajar bahwa tergesa-gesa sering kali menyamar sebagai efisiensi, padahal justru menjadi sumber pemborosan waktu.
Pelajaran lain yang paling membumi muncul dari perannya sebagai ibu. Sebelum memiliki anak, Holly membayangkan dirinya sebagai ibu ideal dengan rumah bersih, makanan sehat buatan sendiri, dan hidup yang tertata rapi.
Kenyataannya jauh berbeda. Mobilnya penuh remah makanan, lantai rumah jarang dipel, dan makan malam sering kali hanya sereal atau pizza beku.
Di titik itulah ia mengambil keputusan penting: berhenti mengejar kesempurnaan. Ia memilih prinsip “oke sudah cukup bagus”.
Penulis: Edhy Aruman











