Suatu hari di Athena, seorang lelaki tua berdiri di pengadilan. Dia bukan sebagai terdakwa kejahatan, melainkan sebagai tersangka kelemahan.
Ia adalah Sophocles, penyair tragedi besar. Dia dituduh oleh anak-anaknya sendiri telah pikun dan tak lagi cakap mengelola hartanya.
Tuduhan itu terdengar masuk akal di mata hukum: usia lanjut sering disamakan dengan kemunduran akal.
Namun Sophocles tidak membela diri dengan argumen panjang atau ratapan emosional. Ia hanya membacakan bagian pembuka dari naskah drama terbarunya, Oedipus at Colonus.
Kata-kata yang mengalir penuh keindahan dan kedalaman itu seketika mengubah ruang sidang menjadi teater. Para juri bertepuk tangan, tuduhan gugur, dan Sophocles pulang dengan kehormatan.
Dalam buku How to be a leader, Plutarch memulai esainya Should an Old Man Engage in Politics? dengan kisah ini untuk menggugah pertanyaan mendasar: benarkah usia tua identik dengan ketidakmampuan, atau justru sebaliknya, usia tua menyimpan bentuk kecakapan yang paling matang?
Plutarch adalah filsuf, sejarawan, dan penulis Yunani–Romawi (±46–120 M) yang terkenal melalui Moralia dan Parallel Lives, karya tentang etika, kepemimpinan, dan teladan hidup.
Plutarch menolak anggapan bahwa pemimpin lanjut usia sebaiknya menyingkir dari kehidupan publik. Baginya, pengalaman panjang bukan beban, melainkan modal politik yang tak tergantikan.
Untuk memperjelas argumennya, ia menghadirkan kontras tajam antara dua tokoh Romawi: Lucullus dan Pompey.
Lucullus adalah jenderal besar yang memilih pensiun dini demi kemewahan. Rumah-rumah megah, pesta berlebihan, dan kenikmatan sensual mengisi hari tuanya.
Namun Plutarch menggambarkan kehidupan Lucullus yang pasif itu seperti bunga karang di laut yang tenang: perlahan layu karena tak lagi digerakkan arus. Bahkan keputusan-keputusannya diserahkan pada bekas budak yang memberinya ramuan aneh, seolah hidupnya sendiri kehilangan kendali.
Berbeda dengan Lucullus, Pompey tetap aktif dan menaruh curiga pada kemewahan yang melemahkan karakter. Ketika seorang dokter menyarankan ia memakan burung thrush yang hanya tersedia di peternakan mewah Lucullus, Pompey menolak.
Ia bertanya sinis apakah ia tak akan bertahan hidup jika Lucullus bukan seorang hedonis.
Dalam anekdot sederhana ini, Plutarch menanamkan pesan kuat: bagi orang tua, keterlibatan dalam urusan publik lebih pantas daripada tenggelam dalam kesenangan pribadi. Aktivitas politik menjaga martabat, sementara kemewahan berlebih justru menggerogoti kebajikan.
Lebih jauh, Plutarch menunjukkan bahwa usia tua menghadirkan jenis keberanian yang tak dimiliki kaum muda. Solon dari Athena menjadi contoh.
Ketika Pisistratus mulai bergerak menuju tirani, tak satu pun warga berani melawan. Solon, yang telah renta, justru keluar rumah membawa senjata dan menantang ketakutan kolektif itu.
Saat ditanya dari mana datangnya keberanian tersebut, jawabannya singkat dan legendaris: dari masa tuanya. Usia membuatnya bebas dari ambisi, sehingga keberaniannya murni, tak tercemar oleh harapan pribadi.
Kewibawaan usia juga tampak dalam kisah Appius Claudius. Dalam keadaan tua dan buta, ia ditandu ke Senat Romawi ketika para senator hendak menerima perjanjian damai yang memalukan setelah kalah perang.
Dengan pidato yang tajam, ia menyatakan lebih baik menjadi tuli daripada mendengar rencana yang merendahkan kehormatan negara. Kata-katanya mengubah keputusan Senat.
Di sini, Plutarch menegaskan bahwa suara seorang tetua, meski tubuhnya rapuh, mampu menjadi jangkar moral bagi negara yang goyah.
Plutarch tidak menutup mata terhadap keterbatasan fisik usia lanjut, tetapi ia menolak menjadikannya alasan pensiun total.
Ia mengajukan analogi kuda Bucephalus milik Alexander Agung. Saat kuda itu menua, Alexander tidak lagi menungganginya untuk tugas ringan, tetapi ketika pertempuran besar tiba, Bucephalus tetap menjadi pilihan utama.
Begitu pula pemimpin tua: mereka seharusnya menahan diri dari urusan sepele, memberi ruang bagi yang muda, namun siap maju ketika krisis besar menuntut kebijaksanaan dan keberanian yang telah teruji waktu.
Pada akhirnya, esai Plutarch bukan sekadar pembelaan bagi orang tua dalam politik, melainkan refleksi tentang kepemimpinan bijaksana.
Kepemimpinan sejati tidak diukur dari tenaga fisik atau ambisi yang menyala-nyala, melainkan dari kejernihan akal, penguasaan diri, dan komitmen seumur hidup pada kebaikan bersama.
Sophocles di pengadilan, Pompey yang menolak kemewahan, Solon yang berani karena usia, dan Appius Claudius yang menegur Senat, semuanya menunjukkan bahwa usia lanjut bukan akhir dari kepemimpinan. Justru di sanalah politik menemukan bentuknya yang paling matang: tenang, bermartabat, dan berakar pada kebijaksanaan.
Pada akhirnya, pesan Plutarch sederhana namun kuat: _pemimpin bijak mungkin berhenti mengejar jabatan, tetapi tidak pernah berhenti mengabdi.
Negara paling aman adalah yang memadukan energi kaum muda dan kebijaksanaan para tetua.
Penulis: Edhy Aruman
RUJUKAN
Plutarch. (2004). _How to be a leader_ (I. Scott-Kilvert & C. Pelling, Trans.). Penguin Classics. (Karya asli diterbitkan ca. abad ke-1–2 M).
Plutarch. (2001). _Lives_ (J. Dryden, Trans.). Modern Library.
Plato. (1997). _Complete works_ (J. M. Cooper & D. S. Hutchinson, Eds.). Hackett Publishing.








