Selasa, 04 November 2025

ZIONIS MENGAJI BUKAN FITNAH, TAPI FAKTA

Mari simak kajian Dr. Abdul Aziz Al-Rayyis

"Dan terbunuhnya Utsman (bin Affan) terjadi karena tipu daya orang Yahudi, dan di antara mereka adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba, yang berpura-pura masuk Islam. Maka ketahuilah —pada masa para salaf, masa para sahabat— sudah ada orang Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam. Maka ketahuilah juga bahwa di zaman kita sekarang ini ada banyak orang Yahudi sejati yang berpura-pura menjadi Muslim.


Banyak di antara mereka yang disebut “jihadis”, atau bahkan bisa jadi ada penyusup di kalangan salafi—seorang Yahudi yang menyusup dan berpura-pura menjadi salafi untuk membuat kerusakan. Maka berhati-hatilah.


Bahkan, salah satu syekh mulia dari Palestina pernah bercerita kepadaku. Ia mengatakan bahwa ia menghadiri sidang tesis magister di sebuah universitas Yahudi. Tesis itu disusun oleh seorang Yahudi, dan setelah sidang selesai, syekh itu bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkan semua informasi ini?” Yahudi itu menjawab, “Aku hidup di Dammaj selama lima tahun (atau semacam itu).” Ia hidup di tengah para salafi di Dammaj, berpura-pura menjadi salah satu dari mereka, hidup dalam kemiskinan, hanya demi menyelesaikan penelitiannya.


Dan ada banyak kisah serupa. Al-Albani rahimahullah juga pernah menyebut bahwa salah satu muridnya pernah berada di sebuah restoran dan bertemu dengan seorang Yahudi tua yang sangat menguasai ilmu hadis. Sebab di negeri Yahudi pun ada kajian tentang ilmu-ilmu syar’i, termasuk ilmu hadis, dan sebagian dari mereka bahkan mencapai derajat profesor dalam bidang tersebut.


Yahudi tua itu bercerita kepada salah satu murid Al-Albani bahwa setelah membaca kitab Ahmad Syakir—yakni tahqiq-nya atas Sunan at-Tirmidzi atau Musnad Ahmad—ia menulis catatan koreksi dan mengirimkannya kepada Ahmad Syakir. Setelah membacanya, Ahmad Syakir rahimahullah berkata di akhir suratnya: *“Sungguh menyedihkan, catatan ini datang dari seorang Yahudi keji seperti dirimu.”* Namun hal itu menunjukkan bahwa orang Yahudi itu memiliki ilmu dalam bidang hadis.


Dan Yahudi itu bahkan memuji Al-Albani, katanya: “Al-Albani lebih unggul dari yang lain.” Jadi, mereka (orang Yahudi) juga mempelajari ilmu-ilmu keislaman di universitas mereka. Bahkan, sebagian syekh dari Palestina bercerita bahwa di sana mereka juga mempelajari seni berkhutbah. Seorang Yahudi bisa berdiri di mimbar dan menyampaikan khutbah.


Maka jangan heran jika banyak di antara para pemimpin kelompok takfiri, jihadis, Ikhwanul Muslimin, dan yang sejenisnya, sebenarnya adalah orang Yahudi. Bahkan ada juga kaum Yahudi yang menyusup di kalangan salafi untuk menimbulkan fitnah dan perselisihan di antara mereka. Contoh dan bukti paling jelas adalah perbuatan Abdullah bin Saba. Jika hal seperti itu bisa terjadi pada masa para sahabat —masa yang agung itu— maka bagaimana lagi di zaman kita sekarang?"


Jakarta, 04/11/2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar