Sabtu, 08 November 2025

"Rosho" Dan AI

Di tengah gempuran perkembangan AI, saya masih ada keyakinan, ada yang belum bisa tergantikan AI dalam kerja-kerja jurnalis. 

Salah satunya, pagi ini saya dapai satu tulisan sahabat di grup penguji Uji Kompetensi Wartawan. Ia menulis tentang kata "Huuh…”

Ia menuliskan, Huuh ... Merupakan yang gampang ditulis Dan diterjemahkan oleh AI. Kata itu  sederhana, tapi di dunia jurnalistik, maknanya bisa sangat kaya, bagi jurnalis yang berhadapan langsung dengan narasumber.

Ia melanjutkan, AI mungkin akan  menganggapnya hanya sebagai bunyi non-verbal, tidak penting, lalu menghapusnya dari transkrip-wawancara. .

Tapi seorang jurnalis manusia tidak akan begitu cepat melaluinya. Ia akan merasakan dan mencoba membaca konteks di balik desahan itu.

Mari kita uraikan lewat contoh konkret ini : 

😔Nada Lelah dan Pasrah

Seorang petani berkata:

 “Harga gabah turun lagi tahun ini... huuh…”

Jurnalis yang peka akan tahu bahwa “huuh” di situ bukan sekadar napas,

tapi tanda kelelahan, kepasrahan, mungkin juga rasa tidak berdaya.

Dalam tulisan, jurnalis bisa . menarasikannya begini:

“Ia menghela napas panjang, seperti menumpahkan lelah yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.” .

Itu bukan dramatisasi, tapi interpretasi rasa, bentuk empati terhadap emosi manusia yang nyata.

😡Nada Marah atau Geram

Dalam wawancara politik:

“Kita sudah sampaikan protes itu berkali-kali! Huuh!”

Nada ini berbeda. “Huuh” di sini adalah luapan emosi — sebuah tekanan, mungkin frustrasi atau kemarahan.

Jurnalis yang peka akan menandainya dalam catatan lapangan:

“nada meninggi, gestur tangan menekan meja.”

Itulah cara jurnalis menangkap dimensi non-verbal yang memperkaya makna berita.

😢 Nada Menahan Tangis

“Dia... dia baik sekali pada saya... huuh...”

 “Huuh” disini, adalah tangis yang tertahan,

ruang di antara kalimat yang penuh emosi.

Jurnalis tidak perlu mengubahnya menjadi kata-kata lain.

Cukup menuliskannya dengan empati, agar pembaca merasakan keheningan itu.

Jadi, ketika narasumber berkata “huuh…”,

seorang jurnalis tidak hanya mendengar suara — ia mendengar perasaan.

Itulah “feel” yang tak bisa diprogram dalam AI.

Fakta bisa ditulis siapa saja.

Tapi makna di antara napas — hanya bisa ditangkap oleh manusia yang punya hati.

Inilah yang ditulis  Soleman Yusuf di akun IG-nya  https://www.instagram.com/reel/DQt_psRkj3N/?igsh=MW9raTRkbXB1dzFpYQ==

Meski begitu, saya sedang bersemangat mengajarkan tentang creative writing Dan belajar AI bagi anak-anak. Mereka memang Harus menguasai cara berkomunikasi dengan AI yang berkembang sangat cepat dengan variasi penggunaan yang beragam dengan arah yang tak pernah dibayangkan sebelumnya...

Bagi yang ingin mempersiapkan anak-anaknya sejak dini untuk memahami AI, terutama usia kelas 4 SD sampai kelas 1 SMP atau kelas 7, silahkan hubungi saya di prihadiyokoimam@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar