Tampilkan postingan dengan label AR Fachrudin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AR Fachrudin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2025

PAK AR FACHRUDIN TERNYATA SEORANG "KONTRAKTOR"?


Di Indonesia, kalau kita mendengar kata kontraktor, bayangan kita biasanya adalah pria berhelm kuning yang mondar-mandir di proyek sambil memegang blueprint dan memarahi tukang karena lambat bekerja atau semen sampe habis. Atau paling tidak orang kaya yang punya kenalan pejabat. 

Tapi rupanya, ada satu kontraktor yang tidak pernah masuk daftar: Pak AR Fachruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah selama 22 tahun. Bedanya, beliau bukan kontraktor bangunan, beliau kontraktor, rumahnya ngontrak. Bahkan sampai akhir hayat, beliau tidak memiliki rumah. Benar-benar kontraktor profesional, berpindah-pindah, dan yang lebih keren lagi: seringnya rumah itu katanya ada jin penunggunya.

Pak AR, dengan segala kesederhanaannya, memilih rumah-rumah yang harga sewanya miring, dan biasanya, rumah murah itu punya dua kemungkinan: catnya mengelupas atau katanya ada penghuni tak kasatmata. Dalam kasus Pak AR, paket hemat itu berisi keduanya.

Contohnya waktu beliau tinggal di Sentolo, Kulonprogo. Rumah sewa dekat stasiun, lama kosong, pemiliknya Mbah Radi yang terkenal galak. Sudah cocok untuk konten "Dunia Lain". Katanya, setiap malam ada suara orang menimba air. Mistis banget. Begitu dihuni Pak AR, rupanya suara itu cuma bambu senggot kena angin. Jadi, daripada jin menimba air, kenyataannya hanya teknologi tradisional yang kurang peredam suara.

Lanjut ke Kauman. Rumah sewa lagi, kali ini katanya dihuni jin bernama Trowongso. Namanya saja sudah seperti tokoh sampingan dalam film Gundala. Malam-malam ada suara anak menangis, lalu suara “dar-der” seperti dilempari batu. Setelah dicek, suara tangisan itu dari hewan sejenis luwak. Suara “dar-der” ternyata buah sawo jatuh kena atap seng. Jinnya? Tidak pernah muncul. Mungkin Trowongso pun malas ketemu keluarga yang terlalu positif thinking.

Yang paling menarik adalah ketenangan Pak AR. Orang lain kalau dengar rumah berhantu langsung siap-siap bawa air ruqyah ukuran galon. Pak AR? Tenang saja. Seolah-olah beliau punya kesepakatan damai dengan seluruh dunia gaib: “Kamu jangan ganggu saya, saya juga nggak akan menagih kontrakan dari kamu.”

Ironisnya, meski langganan kontrakan, beliau justru ditipu developer saat mencoba mencicil rumah sendiri. Duitnya dibawa kabur. Bukannya marah, beliau menenangkan istrinya, berkata bahwa Allah akan mengganti dengan rumah di surga. Jawaban yang bukan hanya bijak, tapi juga menunjukkan bahwa beliau mungkin memang paling cocok tinggal di bumi tanpa kredit, tanpa cicilan, dan tanpa drama developer.

Dan ketika Muhammadiyah ingin memberi tanah dan membangunkan rumah untuk keluarga Pak AR setelah beliau wafat, istrinya malah menolak. “Muhammadiyah lebih membutuhkan tanah itu,” katanya. Kalau ini terjadi di zaman sekarang, mungkin headline-nya: “Keluarga Mantan Ketua Umum Tolak Hibah, Netizen Bingung: Ini Kok Bisa?”

Begitulah. Pak AR adalah satu-satunya “kontraktor” yang justru meninggalkan warisan non-fisik paling besar: teladan kesederhanaan. Tidak pernah punya rumah, tapi jadi tokoh besar. Sementara banyak orang zaman sekarang sudah punya rumah luas dua lantai, tapi hatinya tetap sempit.

Kadang-kadang, kalau membaca kisah Pak AR, kita jadi sadar: rumah itu penting, iya. Tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita tinggal di dunia dengan jujur, ringan, dan tidak mudah takut sama suara sawo jatuh yang disangka jin.

Allahu a'lam