Air bah belum surut ketika seorang figur publik muncul di tepian genangan, sepatu botnya menjejak lumpur yang pekat. Verrell Bramasta, anggota DPR dari PAN, datang meninjau korban banjir di Sumatera Barat. Kamera-kamera warga spontan menyorot kehadirannya, bukan pada bantuan yang ia bawa, bukan pula pada dialognya dengan mereka yang kehilangan rumah.
Yang paling mencuri perhatian justru sesuatu yang menempel di tubuhnya: sebuah rompi taktikal warna gelap, penuh kantong dan strap. Sekilas, amat mirip rompi anti-peluru yang biasa dipakai pasukan khusus. Dalam hitungan menit, foto-fotonya menyebar, dan begitu pula tafsir publik yang mengalir lebih cepat dari arus banjir.
Apakah Verrell merasa berada di zona perang? Apakah ada ancaman lain selain air yang meluap? Ataukah ini sekadar gaya?
Belakangan, Verrell mengklarifikasi. Rompi itu, katanya, hanya tactical vest biasa—semacam “peralatan kerja” untuk menyimpan perlengkapan di medan bencana yang sulit. Tidak lebih. Namun publik terlanjur memberi makna. Dan di sinilah cerita sebenarnya dimulai.
Dalam komunikasi publik, terkadang yang paling nyaring justru bukan kalimat yang terucap, melainkan simbol yang diam. Itulah yang disebut subtext: lapisan makna yang mengalir di bawah permukaan, muncul dari pakaian, gestur, ekspresi, bahkan reputasi sang komunikator. Subtext bukan sesuatu yang dirancang secara eksplisit, tapi audiens selalu menemukannya, seperti membaca arus sungai dari riak di permukaan.
Secara semiotika, publik memaknai apa pun yang terlihat sebagai tanda. Rompi, dalam konteks bencana, bukan sekadar rompi: ia membawa konotasi. Dalam situasi krisis, manusia memproses pesan lewat jalur cepat emosi dulu, logika belakangan. Karena itu pakaian bisa menjadi “pesan pertama” yang membentuk persepsi, bahkan sebelum sang komunikator membuka mulut.
Pada kasus Verrell, rompi taktikal itu menjadi narasi tersendiri. Bagi sebagian orang, ia terlihat siap tempur, sigap, dan profesional menghadapi medan yang berat. Namun bagi yang lain, tampilannya terasa dramatis, seolah-olah ia sedang syuting film aksi, bukan meninjau banjir. Tanpa satu kata pun, rompi itu menciptakan dunia interpretasi: dari heroik, niat baik, sampai pencitraan yang berlebihan.
Niat Verrell mungkin sederhana: hadir dan membantu. Tetapi subtext-nya melompat jauh, membentuk opini yang tidak selalu selaras dengan maksud aslinya. Begitulah komunikasi publik bekerja—kadang yang ingin disampaikan tenggelam, yang tak disengaja justru muncul ke permukaan.
Di lokasi bencana, keputusan visual adalah keputusan strategis. Pilihan pakaian, siapa yang mendampingi, bagaimana kamera menangkap momen—semuanya bisa berubah menjadi pesan. Bahkan sebuah rompi sederhana pun dapat menggeser cerita.
Lalu, kembali pada pertanyaan awal: Makna apa yang Anda tangkap ketika melihat Verrell dengan rompi taktikal itu? Heroik? Keren? Atau justru Jagoan di tengah banjir?
Setiap mata punya jawabannya sendiri.
