Pagi di bulan April 2007, Arianna Huffington pingsan di kantornya. Dia mengalami kelelahan ekstrem. Ia jatuh, kepalanya menghantam meja, tulang pipinya patah, dan ia siuman dalam genangan darahnya sendiri.
Peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan kerja. Itu merupakan pesan keras dari tubuh yang selama ini diabaikan. Arianna, yang kala itu sedang membangun The Huffington Post dengan ritme kerja tanpa henti, menyadari bahwa keyakinannya; dan keyakinan banyak orang, bahwa kurang tidur menjadi harga yang wajar untuk sukses.
Ternyata itu sebuah ilusi berbahaya. Dari momen inilah lahir gagasan besar yang kemudian ia sebut sebagai Sleep Revolution. Itu adalah gerakan yang menempatkan tidur sebagai dasar kesehatan, kejernihan mental, dan kesuksesan, menentang budaya kerja berlebihan yang merusak manusia.
Arianna Huffington, bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah jurnalis, penulis, pengusaha media, dan salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia modern.
Lahir di Yunani, menempuh pendidikan di Cambridge, dan kemudian meniti karier di Amerika Serikat, Arianna dikenal sebagai pendiri The Huffington Post, media digital yang mengubah lanskap jurnalisme global.
Arianna kerap disebut “ratu media modern.” Ia bukan hanya mendirikan The Huffington Post, tetapi mengubah wajah media digital: dari media satu arah menjadi ruang percakapan cepat, partisipatif, dan berpengaruh.
Penjualan HuffPost ke AOL menegaskan bahwa media digital setara, bahkan lebih kuat, dari media tradisional.
Yang membuatnya benar-benar modern adalah keberaniannya bertransformasi. Setelah sukses sebagai mogul media, ia justru mengkritik budaya kerja berlebihan yang ikut ia bangun. Ia lalu memimpin wacana global tentang tidur, kesejahteraan, dan produktivitas berkelanjutan melalui The Sleep Revolution dan Thrive Global.
Jika raja media lama berkuasa lewat kontrol, Arianna berpengaruh lewat ide, empati, dan relevansi zaman. Dalam arti itu, sebutan “ratu media modern” layak disematkan.
Namun, di balik kesuksesan intelektual dan profesionalnya, ia sempat terperangkap dalam budaya kerja berlebihan yang memuja kesibukan dan mengorbankan tidur. Pengalaman pingsan itu mengubah arah hidup dan pemikirannya secara mendasar.
Sleep Revolution adalah sebuah gerakan pemikiran yang menantang cara kita memandang tidur. Dalam buku The Sleep Revolution, Arianna menegaskan bahwa tidur bukanlah kemewahan, kelemahan, atau penghalang produktivitas, melainkan fondasi kesehatan, kejernihan mental, kreativitas, dan keberhasilan jangka panjang.
Revolusi ini mengajak manusia modern untuk keluar dari budaya “selalu terjaga” dan kembali menghormati ritme biologisnya sendiri. Tidur, menurut Arianna, adalah kebutuhan fundamental yang tidak bisa digantikan oleh kopi, ambisi, atau teknologi.
Untuk memperkuat pesannya, Arianna merangkai berbagai kisah dari sejarah, sains, dan kehidupan populer. Salah satu yang paling mengerikan adalah eksperimen_ “Wakeathon”Peter Tripp pada tahun 1959.
DJ radio ini mencoba tidak tidur selama lebih dari delapan hari demi amal. Alih-alih menunjukkan ketangguhan manusia, eksperimen itu justru membuka sisi gelap kurang tidur: perubahan kepribadian, halusinasi, paranoia, dan kerusakan fungsi otak.
Kisah Tripp menjadi cermin ekstrem dari apa yang sebenarnya terjadi, dalam skala lebih kecil, pada jutaan orang yang terus-menerus begadang.
Sejarah juga memperlihatkan bagaimana sikap manusia terhadap tidur berubah. Benjamin Franklin dan John Adams pernah berbagi tempat tidur di sebuah penginapan sempit pada tahun 1776, dan perdebatan mereka tentang jendela kamar berakhir dengan Adams tertidur lelap saat Franklin berteori panjang lebar.
Tidur kala itu adalah aktivitas alami dan komunal, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Kontras dengan era modern, Thomas Edison justru memerangi tidur. Ia menganggap tidur sebagai kebiasaan buruk dan memprediksi manusia suatu hari tidak akan tidur sama sekali.
Pandangan ini ikut membentuk budaya produktivitas ekstrem yang masih kita warisi, meski ironisnya Edison sendiri diduga menanggung dampak kesehatannya.
Namun, _Sleep Revolution_ tidak hanya berisi peringatan. Arianna juga menunjukkan kekuatan tidur dan mimpi sebagai sumber kreativitas.
Paul McCartney menemukan inspirasi lagu _“Let It Be”_ dari mimpi tentang ibunya. Madam C.J. Walker membangun imperium bisnis dari formula yang datang dalam tidur. Elias Howe memecahkan kebuntuan desain mesin jahitnya setelah mimpi buruk yang penuh simbol. Semua kisah ini menegaskan bahwa saat kita tidur, pikiran tidak berhenti bekerja. Ia justru menemukan jalannya sendiri.
Di dunia modern, kurang tidur bahkan mendorong manusia pada solusi instan yang berbahaya, seperti ketergantungan obat tidur.
Kisah-kisah tentang perilaku aneh akibat Ambien, dari merekam salad hingga belanja ribuan dolar tanpa sadar, menunjukkan betapa rapuhnya kesadaran ketika kita mencoba memanipulasi tidur alih-alih menghormatinya.
Sebaliknya, ketika tidur dipulihkan, hasilnya nyata.
Atlet NBA Andre Iguodala membuktikan bahwa tidur delapan jam semalam dapat meningkatkan performa secara signifikan. Tidur bukan membuatnya malas, tetapi justru menjadikannya juara.
Semua kisah ini kembali bermuara pada “panggilan bangun” Arianna Huffington. Darah di lantai kantornya adalah simbol dari harga yang harus dibayar ketika manusia melawan kodrat biologisnya.
_Sleep Revolution_ mengajak kita untuk berhenti membanggakan kelelahan, berhenti mengukur nilai diri dari seberapa sibuk kita, dan mulai melihat tidur sebagai bentuk kebijaksanaan.
Revolusi ini bukan tentang tidur lebih lama semata, melainkan tentang hidup lebih sadar, lebih sehat, dan lebih utuh. Dalam dunia yang terlalu terjaga, mungkin tindakan paling radikal adalah memejamkan mata dan benar-benar beristirahat. *Edhy Aruman*
*RUJUKAN*
Huffington, A. (2016). _The sleep revolution: Transforming your life, one night at a time._ New York, NY: Harmony Books.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar