Kamis, 06 November 2025

Imogiri, Tempat Bersatunya Raja-raja Mataram

 


Berita wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada 1 November 2025, dalam usia 77 tahun, bukan hanya menjadi kabar duka bagi Keraton Surakarta, tetapi juga menjadi pengingat tentang betapa panjangnya napas sejarah Jawa. 


Beberapa orang mungkin bertanya—terutama generasi yang tidak lagi akrab dengan tata krama keraton—mengapa jenazah seorang raja Solo justru tidak dimakamkan di Surakarta, melainkan di Imogiri, Yogyakarta. Mengapa tidak dimakamkan di dalam lingkungan keraton seperti layaknya leluhur bangsawan Eropa, atau di makam keluarga di Surakarta seperti lazimnya masyarakat umum? 


Jawabannya menyimpan kisah panjang yang jauh lebih tua daripada berdirinya kota Solo sendiri.


*Keraton Surakarta baru berdiri pada tahun 1745.* Tetapi garis darah raja-raja Surakarta jauh melampaui tanggal itu. Mereka bukan dimulai dari Solo, tetapi dari Kerajaan Mataram Islam—kerajaan yang dibangun sejak Panembahan Senopati di Kotagede, mencapai puncaknya pada masa Sultan Agung, lalu terbelah menjadi dua tahta akibat Perjanjian Giyanti: Yogyakarta dan Surakarta. Maka ketika seorang raja Surakarta wafat, yang dikuburkan bukan sekadar sosok penguasa Surakarta, tetapi *keturunan langsung dinasti Mataram, pewaris takhta Sultan Agung.*


Dan di sinilah jawaban historis yang jarang dijelaskan secara utuh: Imogiri bukan “milik Yogyakarta”. *Imogiri adalah makam raja-raja Mataram,* yang dibangun oleh Sultan Agung pada abad ke-17 sebagai rumah abadi bagi dirinya dan keturunannya. Ia bukan kompleks pemakaman politis, melainkan *simbol persatuan dinasti*—tempat di mana seluruh pewaris sah Mataram, entah dari Surakarta atau Yogyakarta, akhirnya pulang ke tanah yang sama.


Imogiri adalah titik temu sejarah: raja yang berkuasa di dua istana yang berbeda, akhirnya disatukan lagi dalam keheningan yang sama. Hamengkubuwono I maupun Pakubuwono I, yang dulu pernah berperang memperebutkan tahta, kini beristirahat tidak lebih dari beberapa puluh langkah satu sama lain. Keturunan mereka pun menyusul dari abad ke abad. Maka ketika Pakubuwono XIII dimakamkan di sana, ia tidak sedang "pindah kota", melainkan "pulang ke asal".


Orang yang bertanya: "Mengapa raja Solo dimakamkan di Yogyakarta?" sesungguhnya tersesat oleh peta modern. Mereka lupa bahwa batas administratif yang kita kenal hari ini—perbatasan provinsi, identitas kota, dan garis wilayah—adalah ciptaan kolonial dan republik. Sedangkan garis keturunan raja mengikuti hukum yang jauh lebih tua: *trah, bukan daerah.* Pakubuwono XIII tidak datang dari “keraton Solo”, ia datang dari garis Mataram—dan Imogiri adalah bukti bahwa sejarah Jawa tidak pernah mengenal sekat politis sebagai sekat spiritual.


Ketika jenazahnya dipikul meniti anak tangga menuju puncak bukit Imogiri, itu bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan napas sejarah yang ditarik sekali lagi. Di sana ia bergabung dengan Sultan Agung, leluhur agung Mataram; dengan para Pakubuwono generasi sebelumnya, yang juga harus menutup mata di tengah zaman yang berubah; dengan raja-raja Yogya yang meski berbeda istana, tetap satu keluarga darah.


Maka dimakamkannya Pakubuwono XIII di Imogiri bukanlah keanehan, melainkan kelanjutan tradisi yang tidak pernah putus. Ketika kekuasaan terbelah, imogiri menyatukan kembali. Ketika sejarah melahirkan perjanjian, makam itu membatalkannya dalam keabadian.


Dan mungkin di situlah paradoks Jawa berdiri megah: meski istana bisa diperebutkan, tetapi tempat pulang selalu satu. Seorang raja boleh dilahirkan di Solo, berkuasa di Surakarta, tetapi ia wafat sebagai anak Mataram. Dan Mataram, hingga kini, masih hidup—bukan dalam istana megah, tetapi dalam *tanah Imogiri yang sunyi*.




Elang cyber, 03 November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar