Suatu pagi di akhir 1990-an, di garasi kecil milik Susan Wojcicki di Menlo Park, dua mahasiswa Stanford bernama Larry Page dan Sergey Brin sibuk menyusun kabel, komputer, dan mimpi besar.
Mereka tidak tahu bahwa perempuan yang menyewakan garasi itu akan menjadi salah satu arsitek penting dari kerajaan yang kelak bernama Google. Wojcicki bukanlah seorang insinyur, bukan pula tokoh flamboyan khas Silicon Valley.
Namun dialah perempuan yang membuktikan bahwa pengaruh tidak harus datang dengan suara keras, melainkan dengan visi yang tajam dan keyakinan yang tenang.
Sebagai karyawan keenam belas Google, Susan Wojcicki berperan besar dalam mengubah mesin pencari sederhana menjadi raksasa bisnis global.
Ia membangun strategi pemasaran pertama Google, meluncurkan AdSense—mesin uang yang menopang seluruh ekosistem digital—dan memainkan peran utama dalam akuisisi YouTube serta DoubleClick, dua langkah yang mendefinisikan masa depan media daring.
Tetapi di tengah semua kesuksesan itu, Wojcicki juga menolak mitos kerja tanpa henti yang mengakar di dunia teknologi.
Ia adalah ibu dari lima anak, dan setiap pukul enam sore, ia mematikan komputer untuk makan malam bersama keluarga. Dalam industri yang menganggap “jam panjang” sebagai ukuran dedikasi, keputusan sederhana itu adalah bentuk pemberontakan tersendiri.
Perjalanan berbeda ditempuh Marissa Mayer. Sebagai salah satu insinyur pertama Google dan kemudian CEO Yahoo, Mayer adalah wajah publik dari perempuan ambisius di dunia yang sering kali menolak mereka.
Saat ia diangkat menjadi CEO sambil mengandung anak pertamanya, media membanjiri berita dengan spekulasi: seberapa lama ia akan cuti, apakah ia bisa menjadi ibu dan pemimpin sekaligus?
Mayer menjawab dengan tindakan—hanya mengambil cuti singkat, lalu kembali bekerja dengan penuh energi.
Ia pernah berkata, “Jika saya seorang pria yang akan punya anak, berita itu tidak akan pernah ditulis.” Ia tidak hanya memimpin perusahaan, tetapi juga berjuang di medan perang opini, melawan anggapan bahwa keibuan adalah penghalang kepemimpinan.
Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook, membawa perjuangan itu ke tingkat global. Sheryl menjadi COO Facebook pada Maret 2008, saat perusahaan itu masih muda dan belum memiliki arah bisnis jelas. Berbekal pengalaman dari Google, ia membantu Mark Zuckerberg membangun struktur organisasi dan sistem iklan digital yang mengubah Facebook menjadi raksasa global.
Di tengah budaya teknologi yang didominasi laki-laki, Sandberg memperkenalkan nilai empati, keseimbangan hidup, dan kesetaraan gender. Kepemimpinannya menandai masa transformasi besar bagi Facebook dan menjadikannya simbol perempuan yang mampu memimpin dengan ketegasan sekaligus kehangatan di jantung Silicon Valley.
Dalam bukunya Lean In, ia menantang perempuan untuk berani duduk di meja pengambil keputusan, untuk tidak menyingkir demi memberi ruang pada ego laki-laki. Sandberg menggunakan posisinya bukan sekadar untuk berkuasa, tetapi untuk mengubah budaya.
Ia mendorong Facebook agar lebih empatik terhadap isu perempuan, menyoroti kesenjangan gaji, dan berbicara terbuka tentang kehilangan suaminya sebagai bentuk kemanusiaan di tengah dunia digital yang dingin.
Namun kisah perempuan di Silicon Valley tidak berhenti pada mereka yang terkenal. Dalam setiap laboratorium, kapal superkomputer, dan ruang rapat startup, ada perempuan-perempuan lain yang mungkin tidak dikenal publik, tapi kisahnya tak kalah penting.
Lynn Conway, misalnya, adalah pionir sejati di balik layar. Sebagai peneliti di Xerox Palo Alto Research Center (PARC), Conway menyaksikan langsung lahirnya chip “Geometry Engine” ciptaan Jim Clark—prototipe awal yang mengubah dunia grafis komputer.
Dari desain itu lahirlah teknologi visual yang kini menggerakkan film seperti _Jurassic Park_, simulasi penerbangan, hingga realitas virtual.
Lynn Conway bukan hanya ilmuwan brilian; ia juga sosok transpuan yang berani hidup jujur di masa ketika dunia sains nyaris tidak memberi ruang bagi keberagaman. Keberadaannya adalah pernyataan bahwa inovasi sejati lahir dari keberanian menjadi diri sendiri.
Ada pula D’Anne Schjerning, sekretaris setia Jim Clark, yang mengawali kariernya dengan menata kertas dan dokumen tanpa pernah menyangka akan menjadi jutawan.
Ketika Netscape—perusahaan yang terinspirasi oleh Clark—go public pada 1995, saham yang ia pegang membuatnya kaya raya.
Ia membeli Cadillac emas dan pensiun dengan tenang, sementara kotak-kotak arsip yang ia simpan menjadi catatan sejarah digital paling berharga di Silicon Valley.
Dari balik meja administrasi, D’Anne membuktikan bahwa kesetiaan dan ketelitian juga dapat menorehkan jejak dalam revolusi teknologi.
Tidak semua kisah berakhir manis. Nancy Rutter, jurnalis dan istri ketiga Jim Clark, menyaksikan dari dekat sisi rapuh seorang visioner.
Ia melihat suaminya tenggelam dalam obsesi dan kesepian—merakit helikopter di garasi, atau terobsesi dengan kapal yang dapat dikendalikan komputer.
Di atas kapal itu, seorang juru masak bernama Tina Braddock berjuang menghadapi “revolusi digital” versi laut lepas.
Suatu malam, sistem otomatis di dapur kapal Hyperion error: partisi meja tiba-tiba naik ke langit-langit, piring-piring jatuh, dan alarm berbunyi nyaring.
Tina hanya bisa menatap layar kontrol sambil mengutuk kecanggihan yang justru membuatnya merasa tidak berdaya.
Di dinding dapurnya, ia menempelkan kalimat yang menggigit: _“Orang pintar menghabiskan waktu berjam-jam belajar menggunakan teknologi baru. Orang yang lebih pintar menemukan cara untuk mengelak darinya.”_
Kisah perempuan di Silicon Valley tidak hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang benturan antara kemanusiaan dan teknologi.
Dalam rapat keuangan besar di Wall Street, seorang bankir wanita dari Morgan Stanley berbicara lewat telepon konferensi karena sedang sakit.
Saat diskusi serius berlangsung, suara bayi terdengar dari ujung lain sambungan. Semua eksekutif tertawa canggung.
Namun di balik momen itu tersimpan realitas yang tak bisa dihapuskan: bahkan di tengah dunia bisnis yang berputar cepat, kehidupan nyata -- ibu, anak, keluarga -- tetap hadir dan menuntut tempat.
Mereka semua — Wojcicki, Mayer, Sandberg, Conway, Schjerning, Rutter, Braddock, bahkan sang bankir tanpa nama — adalah wajah-wajah yang menantang narasi lama Silicon Valley.
Mereka mengingatkan bahwa di balik kode, laba, dan logika, ada sisi manusia yang tak boleh hilang. Mereka membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar bagian kecil dari sejarah teknologi, tetapi denyut nadi yang membuat inovasi tetap bermakna.
Dan mungkin, di masa depan, ketika dunia menulis ulang kisah Silicon Valley, garasi itu —yang dulu disewakan oleh seorang perempuan muda bernama Susan Wojcicki — akan dikenang bukan sebagai tempat lahirnya mesin pencari, tapi sebagai simbol perubahan. Titik awal di mana perempuan berhenti hanya menjadi penonton, dan mulai menulis sejarah mereka sendiri. *Edhy Aruman*