Senin, 27 Oktober 2025

Rica



Rica adalah gadis kecil berusia dua belas tahun dari Desa Tebing Rambutan, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Bengkulu. 

Di balik wajahnya yang lembut dan senyum cerianya, tersimpan kisah yang menggugah hati banyak orang. 

Sejak ayahnya lumpuh empat tahun lalu, Rica menjalani kehidupan yang jauh lebih berat dari anak-anak seusianya. 

Ia berhenti sekolah bukan karena tidak ingin belajar, tetapi karena harus merawat ayahnya yang terbaring lemah dan tak berdaya.

Namun, berbeda dari bayangan tentang anak yang putus sekolah karena kemiskinan, Rica tetap menjalani harinya dengan semangat yang luar biasa. Ia dikenal sebagai anak yang periang, selalu tersenyum dan menyapa siapa pun yang datang ke rumah mereka. 

“Rica itu ceria, nggak pernah murung,” kata salah satu warga. “Dia suka nyanyi waktu nyapu rumah, sambil ngurus ayahnya. Kadang malah bikin orang yang datang ikut tertawa.”

Setiap pagi, Rica bangun sebelum matahari terbit. Ia menyiapkan air untuk ayahnya, membersihkan tubuh sang ayah yang sudah tak bisa bergerak, lalu memastikan ada makanan, meski sekadar nasi dan garam. “Saya bantu Bapak dulu, baru nanti beresin rumah,” katanya pelan. 

Ia tidak pernah mengeluh, meskipun hidupnya penuh keterbatasan. “Bapak nggak bisa jalan. Jadi Rica yang jagain,” tambahnya, dengan suara yang lembut tapi pasti.

Ayahnya, pria tua dengan tubuh kurus dan kulit legam, memandang anaknya dengan mata berkaca-kaca. “Rica anak baik. Sejak saya sakit, dia yang rawat saya. Anak lain semua sudah punya urusan masing-masing. Tapi dia nggak pernah pergi,” ucapnya lirih, diselingi senyum tipis yang penuh bangga dan haru.

Ketika kisahnya viral di media sosial, banyak orang tak kuasa menahan air mata. 

Dalam video yang beredar, terlihat Rica duduk di antara beberapa orang dewasa, termasuk Bupati Kaur, Gusril Pausi, yang datang langsung ke rumahnya pada Ahad, 26 Oktober 2025. Suasana haru menyelimuti ruang kecil berdinding bata itu. Rica duduk bersila di atas tikar lusuh, berhadapan dengan sang bupati.

Percakapan mereka sederhana, tapi begitu menyentuh.

“Kalo, ini kelas 6, Pak,” kata seseorang yang mendampingi.

“Kelas 6,” jawab Gusril sambil menatap Rica penuh perhatian. “Berarti waktu kamu umur delapan tahun, Bapak masih sehat ya?”

Rica menunduk sejenak, lalu menggeleng pelan. “Iya, waktu itu Bapak udah sakit juga.”

“Jadi siapa yang rawat Bapak?” tanya sang Bupati lagi.

“Tidak ada,” jawab Rica lirih. 

Ibu kemana? “Entah kemana. Nggak ada…”

Suasana menjadi hening. Ayah Rica yang duduk di sampingnya hanya terdiam, air matanya menetes perlahan. Beberapa kali Rica melirik ke arah ayahnya, seolah ingin menenangkan. “Yang di kebun kakak saya, Pak. Kakak cowok,” katanya melanjutkan. “Tapi dia kerja di kebun, nggak di rumah.”

Bupati mengangguk perlahan, lalu menatap ayah Rica. “Berarti anaknya enam ya, Pak?”

Ayahnya tersenyum lemah. “Enam, Pak. Tapi yang di kebun itu, kadang datang, kadang nggak. Ya… ini anak yang paling kecil, tapi dia yang paling rajin.”

Suasana menjadi semakin mengharukan ketika sang Bupati berkata, “Mudah-mudahan seperti ini sehat terus ya, Pak. Biasanya orang yang rajin ngurus orang tuanya, nanti hidupnya sukses.”

Rica menatap sang Bupati dengan mata yang berbinar, lalu menjawab lirih, “Amin.”

Percakapan itu mungkin sederhana, tapi mengandung makna yang dalam. Ia bukan sekadar tanya-jawab tentang kehidupan, melainkan potret nyata ketulusan dan kasih seorang anak kecil kepada orang tuanya.

“Saya pengen sekolah lagi, Pak,” kata Rica kemudian. “Tapi nanti kalau saya sekolah, siapa yang jaga Bapak?”

Bupati menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tenang, Rica. Pemerintah akan bantu. Nanti ada yang bantu jagain Bapakmu, kamu tetap harus sekolah. Anak sekuat kamu harus punya masa depan yang baik.”

Hari itu, pemerintah daerah bersama Baznas membawa bantuan: sembako, uang tunai, dan janji untuk memulihkan hak Rica sebagai anak yang berhak mendapatkan pendidikan. Namun lebih dari semua itu, kunjungan tersebut membawa harapan baru.

Sejak hari itu, Rica tak lagi sendiri dalam perjuangannya. Ia masih merawat ayahnya dengan penuh cinta, tapi kini dengan semangat baru, karena ia tahu, ada banyak orang yang peduli. “Saya janji mau sekolah rajin,” katanya sambil menatap ayahnya. “Biar nanti bisa kerja, bantu Bapak.”

Ayahnya tersenyum dan menepuk tangan kecil putrinya. “Bapak doain kamu jadi orang sukses, Nak. Jangan pernah berhenti senyum, karena itu yang bikin rumah ini tetap hangat.”

Kini, setiap pagi, senyum Rica kembali menyala. Ia masih menjalani rutinitasnya: merawat ayah, menyapu halaman, lalu mempersiapkan diri untuk kembali ke sekolah. 

Tapi kali ini, langkahnya lebih ringan. Ia tidak hanya membawa beban tanggung jawab, tapi juga harapan, bahwa masa depan masih menunggunya, dan cinta yang ia tanam hari ini akan tumbuh menjadi kekuatan yang tak akan pernah padam.

Rica bukan hanya gadis kecil dari pelosok Bengkulu. Ia adalah simbol ketulusan, keteguhan, dan kasih yang tak terukur. Dari rumah sederhana berdinding bata itu, lahirlah inspirasi tentang makna pengorbanan, cinta tanpa syarat, dan keyakinan bahwa secercah kebaikan dapat mengubah segalanya. 

Rica adalah kekuatan cinta dan ketulusan seorang anak kecil yang tak menyerah pada hidup. Ia membuktikan bahwa kasih dan tanggung jawab bisa tumbuh dari hati paling sederhana, menjadikan kesulitan bukan alasan berhenti, melainkan alasan untuk terus berjuang. 

Penulis: Edhy Aruman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar