Baru saat ini merasakan terima kasih pada orangtua, yang sejak kecil "memaksa" untuk menyukai udaya dan tradisi Jawa. "Ben gak ilang Jawane," itukah kata-kata yang sering diucapkan Bapak padaku dan empat orang adik-adik. Sebagai keturunan Jawa yang tinggal di Sumatra, tentu belum sepenuhnya memahami apa yang sesungguhnya dilakukan Bapak.
Hampir setiap hari, almarhum Bapak (al fatihah) memperdengarkan gending-gending Jawa. Terkadang memutar lagu pop Jawa, yang ketika itu lebih banyak dari album Pop Jawa Koes Plus, Moes Mulyadi, termasuk juga Eddy Silitonga yang menyanyikan lagu Romo ono Maling karya Titiek Puspa. Bahkan, Bapak berlangganan Majalah Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa.
Bapak juga sempat mengasuh komunitas kelompok Jatilan dan Reog Ponorogo. Pemainnya, ketika itu tinggal di daerah transmigrasi. Mereka biasanya tampil rutin setahun sekali di kota, dan mereka semua menginap di rumah. Bukan hanya itu, juga tradisi Wayang Kulit, lengkap dengan dalang dan pengrawit yang "diopeni" almarhum Bapak.
Itu sebabnya, saya menyukai dan tertarik dengan tontonan wayang kulit. Setiap ada pementasan wayang kulit, hampir selalu diajak. Terakhir, sewaktu masih tinggal di Sumatra, saya diajak nonton pementasan Wayang Kulit di Tanjung Enim, di area PTBA kalau tidak salah ingat.
Dan terakhir, sebelum Bapak meninggal, aku sempat mengajak nonton wayang kulit di Bentara Budaya Kompas Jakarta, tahunnya lupa. Sebelum itu, juga sempat saya ajak nonton wayang kulit di DPR RI, dan nonton di Wayang Orang di Gedung Bharata.
Ketertarikanku dengan Wayang Kulit ini pula yang membawaku akhirnya bergaul dengan Senowangi (Organisasi Seniman Wayang Indonesia), di TMII. Tahun ini, Senowangi sudah memasuki usia ke-50. Pada pekan lalu, mereka juga menggejar hajatan peringatan Hari Wayang Nasional di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta.
Triwikrama
Salah satu kisah yang membuatku kagum sejak kecil terkait satu kata Triwikarama. Orang sabar, tokoh baik-baik bisa marah dan mengubah dirinya menjadi raksasa. Tapi juga bisa diartikan sebagai penguasaan pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jika ketiganya bisa dikuasai, maka akan menguasai cokro manggilingan. Turun naiknya proses kehidupan akan selalu bisa waspodo, saat posisi di atas, tidak akan lupa diri. Begitu juga saat di bawah, tidak akan nglokro, terpuruk. Semua merupakan perjalanan hidup yang tetap disyukuri.
Di balik keteduhan budaya Jawa yang sering dikaitkan dengan harmoni dan ketenangan, terselip satu konsep dahsyat yang jarang dibahas: Triwikrama. Sebuah momen ketika sosok yang biasanya bijaksana dan sabar berubah menjadi raksasa kosmis, penuh tenaga, dan tak terhentikan. Triwikrama bukan sekadar amarah, melainkan energi moral yang meledak pada saat kejahatan menembus batas.
Dalam dunia pewayangan, istilah ini paling melekat pada Bathara Kresna, raja Dwarawati yang halus tutur, lembut perangai, dan selalu menjadi penengah. Namun dalam keadaan tertentu, ketika ketidakadilan sudah tak tertahankan, Kresna menampakkan wujud Mahabesar, jauh melampaui ukuran manusia dan dewa.
Kisah Triwikrama biasanya muncul pada bagian-bagian paling tegang dalam lakon. Misalnya ketika Kresna menghadapi raksasa Kalasrenggi, atau saat ia turun tangan menahan ambisi tokoh-tokoh adigang yang tak bisa lagi ditundukkan dengan nasihat. Pada titik itu, wajah Kresna berubah garang, tangannya berapi, tubuhnya membesar, dan suaranya mengguntur seperti badai dari langit Kahyangan.
Bagi penonton wayang, kemunculan Triwikrama adalah puncak emosi. Lampu blencong meredup, gamelan menegang, dan dalang memperdalam suara. Seolah seluruh jagat berhenti sesaat untuk menyaksikan amarah suci yang hanya muncul jika dunia benar-benar dalam bahaya.
Makna Filosofis
Dalam falsafah Jawa, Triwikrama adalah simbol bahwa:
-
Kesabaran ada ujungnya.
-
Kebenaran membutuhkan keberanian.
-
Kekuatan hanya digunakan dalam keadaan dharurat moral.
Dengan kata lain, perubahan wujud Kresna bukanlah kehilangan kendali, melainkan laku spiritual: wicaksana yang bangkit untuk menegakkan keseimbangan.
Resonansi di Zaman Sekarang
Menariknya, Triwikrama tidak hanya hidup dalam jagat pewayangan. Ia muncul dalam keseharian kita, meski dengan bentuk yang jauh lebih sederhana. Hari-hari ini, ketika menyaksikan ketimpangan yang masih terus berlanjut, apakah tetap berdiam diri.
Saat seorang ibu mempertahankan anaknya dari bahaya. Saat seorang pemimpin akhirnya berani mengambil keputusan tidak populer demi kebaikan umum. Atau ketika seseorang yang biasanya pendiam akhirnya bersuara untuk melawan ketidakadilan. Atau ketika lahan warisan keluarga, diklaim orang lain, perusahaan atau bahkan lembaga negara dengan alasan "aset negara", maka meradang pun tak tertahankan.
Ingat dengan kondisi lahan yang tiba-tiba di klaim pihak lain, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun tidak tinggal diam. Begitu juga yang dialami, Kolonel Inf. (Purn.) Eka Yogaswara, lahan kakeknya Bek Musa, yang ada di Jalan Tendean 41, Jakarta, diklaim oleh PFN, tentu saja jadi meradang. Sayang, dia malah dikriminalkan oleh PFN, dengan alasan memasuki lahan orang lain.
Perasaan ketidakadilan seperti ini, terjadi juga di sejumlah tempat di Indonesia. Mungkin, dalam konteks modern, Triwikrama adalah metafora tentang batas terakhir integritas. Tentang momen ketika kita tidak lagi diam karena diam sama dengan membiarkan. Inilah yang menjelaskan bagaimana mereka mempertahankan diri, bahkan melawan ketidakadilan yang dialaminya.
Wayang sebagai Cermin Batin
Budaya Jawa selalu menawarkan jalan simbolik untuk memahami diri. Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Dan Triwikrama mengingatkan bahwa menjadi baik tidak berarti selalu lembut; menjadi bijak tidak berarti selalu menahan diri.
Kadang, untuk menjaga kebenaran, kita pun perlu “membesar”—bukan dalam arti fisik, tetapi dalam tekad, keberanian, dan komitmen moral.






