Kamis, 23 Oktober 2025

Saladin

 


Dalam sejarah panjang manusia, sedikit sekali pemimpin yang dikenang bukan karena kekuatannya menaklukkan dunia, melainkan karena kelembutan hatinya dalam mengangkat martabat manusia. 

Salah satunya adalah Ṣalāḥ ad-Dīn Yūsuf ibn Ayyūb, Sultan Saladin.

Di tengahan abad ke-12 yang bergolak, di mana perang dan ambisi menjadi bahasa dunia, Saladin muncul membawa pesan yang lebih tinggi: bahwa kekuasaan tanpa kasih hanyalah kekosongan.

Lahir di Tikrit, Irak, pada tahun 1137, Saladin berasal dari keluarga Kurdi sederhana. Sejak kecil, ia dikenal pemalu dan lebih mencintai ilmu daripada peperangan. Ia menggemari pelajaran tafsir, sejarah, dan ilmu hukum. 

Namun di balik ketenangannya, tersimpan tekad yang besar untuk mempersatukan dunia Islam yang tercerai-berai. 

Di bawah bimbingan Nuruddin Zangi di Damaskus, Saladin belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya di medan perang, tetapi juga dalam keadilan dan kebijaksanaan.

Nuruddin Zangi adalah penguasa saleh dan adil dari Dinasti Zengid, yang memerintah Suriah dan Damaskus pada abad ke-12. Ia menjadi guru politik dan spiritual bagi Saladin, yang pertama kali bertemu dengannya saat keluarganya pindah ke Damaskus. 

Di bawah bimbingan Nuruddin, Saladin belajar kepemimpinan dan keadilan, lalu dikirim ke Mesir bersama pamannya, Shirkuh. Dari sinilah, Saladin tumbuh menjadi pemimpin besar yang melanjutkan cita-cita gurunya: mempersatukan umat dan menegakkan kedamaian.

Ketika ia dipercaya menjadi penguasa Mesir, dunia seakan menantangnya. Negeri itu hancur oleh perebutan kekuasaan dan kemerosotan moral. 

Namun Saladin membangun kembali dengan sabar, menata pemerintahan, menghapus korupsi, memperkuat pendidikan, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Ia menolak kemewahan istana. 

Ibn Shaddād, sahabat sekaligus juru catatnya, menulis bahwa Saladin hanya memiliki satu mantel sederhana yang terus ia pakai hingga lusuh. Ketika pelayan istana menyiapkan hidangan lezat, Saladin menegur: “Bagaimana aku bisa makan dengan nikmat sementara rakyatku lapar?”

Namun kisah yang membuatnya abadi, lahir pada tahun 1187, ketika ia memimpin pembebasan Yerusalem. Setelah kemenangan di Bukit Hattin, pasukan Saladin mengepung kota suci itu yang selama hampir satu abad berada di tangan pasukan Eropa. 

Banyak yang mengira Saladin akan membalas dendam atas tragedi pembantaian umat Islam tahun 1099. 

Tetapi, begitu Yerusalem jatuh, Saladin menolak kekerasan. Ia melarang pasukannya menyentuh penduduk sipil dan memerintahkan agar rumah ibadah tetap dijaga. Lonceng gereja tetap boleh berdentang. 

Bahkan, menurut catatan Phillips (2019), Saladin menebus banyak tawanan yang tak mampu membayar kebebasannya dengan uang pribadinya. Seorang biarawati tua yang tak berdaya datang memohon pembebasan anaknya, Saladin menunduk, menangis, dan berkata lembut: “Aku tidak bisa menolak air mata seorang ibu.”

Sikapnya yang penuh kasih ini mengguncang dunia. Raja Richard dari Inggris, yang memimpin pasukan besar dalam perang berikutnya, mengakui kebesaran jiwa Saladin. 

Dalam suatu masa gencatan senjata, ketika Richard jatuh sakit, Saladin mengirimkan tabib terbaiknya dan dua ekor kuda istana untuk membantu sang raja pulih. Ia juga mengirim buah-buahan segar dari Suriah dan air dari pegunungan Libanon. 

Hubungan mereka melampaui perang, dua ksatria yang saling menghormati di tengah pertempuran.

Dari kisah-kisah seperti inilah, legenda Saladin bertumbuh. Di Barat, bahkan para sejarawan yang dulu memandangnya sebagai musuh mulai mengaguminya. 

Humphreys (1977) menulis, Saladin adalah pemimpin yang memahami seni pemerintahan lebih baik daripada banyak penguasa sezamannya. Ia menaklukkan bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun kembali. 

Sementara di Timur, ia menjadi lambang persatuan dan keadilan. Dalam doa, dalam sastra, dalam legenda, nama Saladin menjadi sinonim dari kebesaran jiwa.

Menjelang akhir hayatnya di Damaskus pada tahun 1193, Saladin jatuh sakit. Di saat itu, ia tetap memerintahkan agar hartanya dibagikan kepada fakir miskin. Ketika wafat, harta yang tersisa di istana tak cukup untuk membiayai pemakamannya. 

Ibn Shaddād mencatat dengan getir, “Sultan yang pernah memiliki kerajaan seluas langit, kini tak memiliki apa-apa kecuali kain kafan dan doa rakyatnya.” Di atas makamnya yang sederhana di Damaskus, tertulis sebuah pesan: “Tidak ada yang kekal kecuali amal dan keadilan.”

Warisan Saladin bukan sekadar sejarah peperangan, melainkan pelajaran abadi tentang kemanusiaan. Ia mengajarkan bahwa kejayaan tidak diukur dari berapa banyak musuh dikalahkan, tetapi dari berapa banyak hati yang dimenangkan. 

Dalam dunia modern yang sering terpecah oleh kepentingan, kisah Saladin menjadi cahaya yang menuntun, bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin lahir dari kelembutan, kejujuran, dan kasih sayang.

Berabad-abad telah berlalu, namun namanya tetap bergema, dari Damaskus hingga Kairo, dari London hingga Istanbul. Di setiap masa, selalu ada orang yang berkata: “Andai dunia ini memiliki lebih banyak Saladin, mungkin perdamaian bukan lagi impian.” 

Penulis: Edhy Aruman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar