Selasa, 21 Oktober 2025

Emas

Selepas Isya tadi, anak laki-laki saya mengirimkan sebuah grafik di ponsel. “Market gold di analisis mencapai top, Yah,” tulisnya singkat. 

Grafik itu memperlihatkan tren harga emas yang menanjak tajam dalam beberapa pekan terakhir, garis yang melesat ke atas seolah menembus langit, setelah perjalanan panjang yang penuh naik-turun selama bertahun-tahun. 

Saya bukan investor, tapi grafik itu memancing rasa ingin tahu dan perenungan dalam diri saya. Mengapa manusia, sejak ribuan tahun lalu, begitu terpesona oleh emas? Apa yang membuat logam ini tidak hanya berharga di pasar, tapi juga di hati manusia?

Saya menatap grafik itu bukan sebagai laporan ekonomi, tetapi sebagai cermin kehidupan. Perjalanan emas dalam grafik itu terasa seperti perjalanan manusia itu sendiri, penuh fase jatuh dan bangkit, penuh waktu diam di lembah sebelum akhirnya menemukan momentum untuk naik lagi. 

Ada masa-masa ketika nilainya stagnan, lalu tiba-tiba melonjak, seperti seseorang yang akhirnya menemukan jati dirinya setelah bertahun-tahun berjuang dalam diam.

Emas memang istimewa. Ia tidak berkarat, tidak pudar, tidak bisa dihancurkan oleh waktu. Di setiap peradaban, dari Mesir kuno hingga dunia modern, emas selalu menjadi simbol kemurnian, kekuatan, dan keindahan yang abadi. 

Tapi bagi saya, emas melambangkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar benda berharga — ia adalah metafora tentang ketekunan dan nilai sejati.

Saya teringat sebuah dokumenter yang dirilis oleh World Gold Council berjudul Elton John – Touched by Gold. Dalam video yang sekarang masih bisa ditonton di X  https://x.com/i/status/1968208024738336791 itu, Elton John bercerita tentang bagaimana emas telah menjadi bagian dari hidupnya, bukan hanya sebagai ornamen di atas panggung, tetapi juga sebagai simbol dari perjalanan batin seorang seniman. 

Ia menyebut emas sebagai sesuatu yang “timeless”, abadi. 

Emas, katanya, adalah pengingat betapa indahnya sesuatu yang sederhana bisa terlihat jika kita memberi waktu dan perhatian. Bagi Elton John, emas adalah refleksi dari dirinya sendiri — penuh cahaya, tapi juga hasil dari kerja keras dan proses panjang.

Pernyataan itu membuat saya berpikir: mungkin setiap orang memiliki “emasnya” masing-masing. Sesuatu yang mereka rawat, mereka perjuangkan, dan mereka jaga agar tetap bersinar di tengah kerasnya hidup. 

Bagi sebagian orang, “emas” itu bisa berupa keluarga yang mereka bangun dengan sabar. 

Bagi yang lain, mungkin pekerjaan, karya, atau nilai-nilai yang mereka pegang teguh. Dalam dunia yang sering memuja hasil instan, emas mengajarkan kita arti dari kesabaran. Ia tidak diciptakan dalam semalam — ia ditempa dari panas, tekanan, dan waktu.

Yang menarik, emas juga punya dua wajah. Ia bisa sederhana, tapi juga luar biasa. Ia bisa jadi cincin kecil di jari seseorang yang penuh makna, tapi juga bisa menjadi mahkota raja yang melambangkan kekuasaan. Sama seperti manusia — kita pun punya fleksibilitas untuk menjadi siapa saja, tergantung bagaimana kita membentuk diri kita sendiri. 

Di tangan yang sabar dan tekun, emas menjadi karya seni. Dalam hidup yang dijalani dengan kesadaran dan kasih, manusia pun bisa menjadi sesuatu yang berharga.

Mungkin karena itu emas selalu menarik hati manusia. Bukan karena ia bersinar lebih terang, tetapi karena ia adalah simbol dari hal-hal yang tidak bisa dibeli: ketulusan, kesetiaan, dan nilai yang bertahan meski dunia berubah. 

Ketika orang menambang emas, mereka harus menggali dalam, melewati batu, lumpur, dan tanah — barulah ditemukan butiran kecil yang bersinar. 

Begitu pula dengan diri kita. Kita pun perlu menggali lebih dalam untuk menemukan “emas” di dalam hati — sisi terbaik dari diri kita yang kadang tertutup oleh kesibukan, ketakutan, atau kelelahan hidup.

Jadi ketika saya melihat grafik emas yang mencapai puncak, saya tidak berpikir tentang harga atau pasar. Saya berpikir tentang proses panjang di balik setiap kilau itu. Tentang kesabaran bumi yang menyimpan logam itu selama jutaan tahun, tentang tangan-tangan yang bekerja untuk menambangnya, tentang nilai yang tumbuh bukan karena uang, tapi karena makna.

Emas mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru. Bahwa keindahan sejati tidak datang dari hasil instan, tetapi dari proses panjang yang dijalani dengan kesetiaan dan cinta. 

Ia mengingatkan kita bahwa nilai tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita punya, tetapi seberapa dalam kita menghargai sesuatu.

Maka, ketika anak saya berkata “market gold di analisis mencapai top,” saya hanya bisa  tersenyum. Mungkin iya, harga emas sedang di puncak. 

Tapi bagi saya, emas tidak pernah benar-benar punya titik tertinggi. Karena makna sejatinya bukan di grafik, melainkan di hati manusia — di tempat di mana nilai, kesabaran, dan keindahan hidup bertemu dan bersinar tanpa henti. 

Penulis: Edhy Aruman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar