P R O L O G
Jakarta, Awal Agustus 1949
Di sebuah rumah di daerah Matraman, Jakarta, kota yang dijadikan ibukota bagi negara yang baru empat tahun merdeka, tampak lebih ramai dari hari-hasi biasa. Hari itu, berkumpul sejumlah tokoh senior dan pemuda Indonesia. Satu-persatu datang dengan penuh kehati-hatian. Mereka punya misi penting, karena sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti sebuah perundingan besar yang akan menentukan arah negeri yang baru merdeka ini.
Mereka yang hadir sadar, meski pada tanggal 7 Mei 1949, Republik Indonesia dan Belanda menyepakati beberapa hal dalam Perjanjian Roem Roijen, namun peperangan sporadis di sejumlah tempat di Indonesia belum mereda. Pasalnya, Belanda tetap ingin bercokol lagi di Indonesia.
Militer Belanda terus melakukan serangan-serangan untuk menguasai sejumlah kota-kota penting di Indonesia. Pimpinan militer Belanda terus berusaha meyakinkan pada dunia internasional, bahwa tindakan itu sebagai aksi polisional dan bukan seranga kemanusiaan, ataupun serangan pada negara lain.
Itu sebabnya, hingga awal Agustus 1949, empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan diumumkan, di Indonesia masih berkecamuk perang-perang di beberapa lokasi. Perlawanan rakyat, dan militer Indonesia yang semakin terorganisir dengan baik, memberikan kejutan pada militer Belanda yang dikirimkan.
Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, telah membangkitkan perlawanan di kalangan rakyat dan jajaran militer Indonesia. Serangan ini, dapat membuktikan pada dunia intenasional bahwa Republik Indonesia masih ada. Militer dan rakyatnya, masih mampu memberikan perlawanan pada militer Belanda yang selalu saja mengklaim serangan itu sebagai tindakan aksi polisional.
Serangan itu pun, tampaknya akan dilakukan lagi pada awal Agustus 1949. Karena militer Belanda masih terus mencoba menguasai kota-kota penting di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Pada saat yang sama, sejumlah tokoh Indonesia, baik senior dan para pemuda yang mendapat pendidikan luar negeri, sedang berkumpul di sebuah tempat di Jakarta.
Mereka inilah yang dipersiapkan untuk menghadapi perundingan penentuan. Perundingan yang akan menentukan arah sejarah bangsa ini. Bung Hatta dan Bung Karno, sudah memperkirakan itu semua. Pada akhirnya nanti, Belanda akan terpaksa melakukan perundingan. Mereka mengenal dengan baik, kondisi ekonomi Belanda saat itu tidak akan mampu lagi membiayai peperangan di Indonesia. Itu hanya akan membawa perekonomian mereka akan semakin terpuruk.
Kecolongan di Yogyakarta, membuat Belanda tidak ingin terulang lagi. Itu sebabnya, mereka memperkuat pertahanan militer di kota-kota di Jawa yang berhasil mereka kuasai. Namun, tindakan ini malah memperhebat semangat perlawanan rakyat dan militer Indonesial. Keberhasilan di Yogyakarta pun, ingin diulang lagi di kota lain. Untuk memperlihatkan pada dunia bahwa Negara Republik Indonesia tetap eksis.
Tanpa diketahui dengan pasti kapan serangan itu akan dilakukan, yang jelas militer Belanda pun berusaha memperkuat benteng pertahananya di kota-kota yang sudah dikuasai. Mereka menyiapkan barisan militer dengan dukungan persenjataan yang lengkap. Kekuatan itu, dihabiskan sebagian besar di Yogyakarta dan Solo, yang mereka perkirakan akan menjadi pertaruhan terbesar Indonesia dan bagi muka mereka. Meski dalam hati prajurit-prajurit muda itu, mereka merasakan kegentaran dan amat kekhawatiran akan mendapatkan serangan seperti yang dilakukan di Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Meski mereka berhasil menguasai kembali keamanan Yogyakarta, namun tak urung mereka kehilangan banyak persenjataan dan personil. Sebuah kerugian besar yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat.
Itu sebabnya, ketika pagi-pagi pada tanggal 7 Agustus 1949, sepuluh hari menjelang hari kemerdekaan Indonesia yang keempat, militer Belanda kembali di kagetkan. Mereka memang sudah mempersiapkan diri terhadap kemungkinan serangan itu. Apalagi, menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Namun yang tak disangkat, ternyata serangan itu dilakukan di Surakarta. Kota yang diperkirakan tidak akan jadi pilihan serangan, karena mereka sudah memperlihatkan betapa persenjataan yang dipersiapkan untuk mempertahankan kota itu sangat lengkap.
Satu hal yang tak disangka, ternyata militer Indonesia didukung penuh oleh pejuang gerilya yang terdiri dari masyarakat dan pemuda setempat. Bagi Belanda, dukungan rakyat inilah, yang tidak ingin diharapkan terjadi. Mereka tahu, jumlah mereka memang besar, namun jika semua rakyat bergerak dalam satu komando, maka persenjataan lengkap yang dimiliki tidak akan ada artinya.
Apalagi, kalangan terdidik pun mulai ikut ambil bagian dengan membentuk Tentara Pelajar. Mereka inilah yang kemudian berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-markas militer Belanda di Solo dan sekitarnya.
Serang umum, sekali lagi menghancurkan arogansi militer Belanda. Mereka sudah mengkhawatirkan itu akan terjadi. Mereka sudah mempersiapdiri akan adanya serangan ini, namun serangan di Solo ini, tampaknya mulai menyadarkan pimpinan militer Belanda. Bahwa, angin perubahan dunia sudah berhembus kearah yang berbeda.
Mereka tidak akan mungkin memenangkan pertempuran dengan pengerahan kekuatan militer. Apalagi, Solo merupakan salah satu kota dengan pertahanan militer Belanda terkuat saat itu. Tangsi mereka berhasil dibobol dan dirampas. Padahal, perlawanan rakyat dan militer Indonesia yang bergerak bersama dalam satu komando itu, menggunakan peralatan jauh tertinggal dari yang mereka miliki. Perlawanan itu dipimpin Slamet Riyadi.
Pertempuran di Solo itu pun berakhir pada tanggal 10 Agustus 1949. Posisi Belanda di mata dunia internasional semakin terpojok. Beruntung, Amerika Serikat yang sudah menekan Belanda, sedikit memberi muka pada Belanda. Memaksa Belanda untuk mau ke meja perundingan, dengan ancaman akan mencabut bantuan ekonominya.
Belanda pun tunduk, dan siap mau ke perundingan yang akan dilakukan di Den Haag. Apalagi, kondisi perekonomian dalam negerinya juga mulai goyang, setelah membiayai perang yang tidak mungkin dimenangkan.
"Kalau secara militer kita tidak bisa menguasai lagi, paling tidak kita bisa mengalihkan hutang kita pada mereka," ujar salah satu pembesar di Belanda di Den Haag, menghibur para petinggi militer yang galau karena pasukannya kalah perang.
Sementara Ratu Belanda sendiri, tidak mendengar dengan bisikan itu. Ia hanya mengharapkan, kerajaannya bisa bangkit dari keterpurukan, dan menghentikan perang yang sudah menyedot dana dalam jumlah yang sangat besar.
Ternyata benar saja, ancaman itu pun terjadi saat perundingan Ronde Tofel Conferentie atau Konferensi Meja Bundar (KMB) di gelar di Den Haag. Semua delegasi Indonesia terkejut dengan prasyarat yang tidak dituliskan dalam nota perjanjian secara terbuka. Namun, mereka tahu, kesepakatan bawah tangan itu akan mengikat negeri yang baru merdeka ini.
Bung Hatta yang memimpin delegasi Indonesia di perundingan KMB itu, tampak tidak terkejut dengan permintaan bawah tangan itu. Ia dan Sukarno sudah menduga sebelumnya. Itu sebabnya, Hatta yang sudah sepakat dengan Bung Karno, mereka akan memainkan "tipu-tipu Melayu". Mereka pun sudah memilih tokoh-tokoh senior untuk menghadapi perundingan penentuan tersebut. Mereka dipilih bukan sekedar menggertak delegasi Belanda, tetapi mereka sebenarnya punya hubungan "khusus" dengan para delegasi itu.
Hatta sadar betul, bahwa pihak delegasi Belanda pun dipilih karena tahu mereka punya hubungan "khusus" itu. Meskipun begitu, ia sadar perundingan yang diperkirakan akan alot dan penuh tipu muslihat. Disaat perekonomian sulit seperti saat itu, Belanda akan meminta kompensasi besar. Bahkan, mungkin hutang pembangunan untuk bangkit kembali yang diterima dari Amerika akan dibebankan pada Indonesia.
Bung Hatta pun mengajak sejumlah tokoh muda Indonesia yang mungkin bisa saja mengingatkan para senior. Terutama, atas ancaman yang bisa saja muncul dan tidak terlihat, karena para senior sedang sangat ingin menyelesaikan konflik yang sudah sangat melelahkan ini.
Delegasi Indonesia dalam KMB itu terdiri dari:
- Ketua: Mohammad Hatta
- Wakil Ketua: Mr. A.K. Pringgodigdo
- Sekretaris: Prof. Dr. Soepomo
- Anggota: Mohammad Roem; Dr. Johannes Leimena; Mr. Ali Sastroamidjojo; Ir. Juanda; Mr. Suyono Hadinoto; Dr. Sumitro Djojohadikusumo; Mr. Abdul Karim Pringgodigdo; Kolonel T.B. Simatupang; Dr. Muwardi
"Siapa yang diutus untuk berangkat Bung. Kita tidak mungkin berangkat ke Den Haag semua. Tapi, diantara kita memang harus ada yang pergi. Siapa orangnya Bung?" tanya Sumitro, seorang pemuda gagah, agak kurus namun punya kesan mendalam.
Hatta ingat dengan pemuda ini. Orangtua Sumitro inilah yang dengan berani meminta tandatangan pada Sukarno untuk mendirikan bank yang akan menjadi pendukung perekonomian negara. Ia meminta legalitas itu, tepat setelah Sukarno selesai pidato di lapangan Ikada pada 19 September 1945. Penandatanganan itupun, di lakukan di salah satu gedung yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sana, di kompleks yang sekarang menjadi bagian dari Kementrian Keuangan. Bank itu dinamakan Bank Negara Indonesia 1946.
"Kita semua yang hadir disini, akan berangkat semua. Tapi ingat, ada kemungkinan mereka akan menekan kita. Apapun itu, kita harus mendapatkan pengakuan untuk merdeka dulu. Tuntutan dari mereka kita setujui aja dulu. Target kita pengakuan Indonesisa merdeka," ujar Bung Hatta.
Begitulah, Bung Hatta mengingatkan pada semua calon delegasi KMB sebelum berangkat ke Den Haag. KMB sendiri, digelar pada tanggal 23 Agustus - 2 November 1949, di Den Haag, Belanda. KMB ini merupakan perundingan antara Indonesia, Belanda, dan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) untuk menyelesaikan sengketa dan akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
Pengakuan kedaulatan itu sendiri, baru dilakukan pada 27 Desember 1949. Pengakuan secara resmi terjadi, ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam.
Bagi Belanda, mereka tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Pasalnya, jika itu dilakukan, maka sama saja mengakui tindakan yang mereka katakan sebagai politionele acties (aksi polisionil) pada tahun 1945-1949 sebagai tindakan ilegal.
--bersambung--


