Minggu, 12 Oktober 2025

Harga Diri

Di sebuah ruangan sederhana, seorang pembicara berdiri di depan para siswa dengan selembar uang kertas $20 di tangannya. “Siapa yang mau uang ini?” tanyanya. 

Hampir semua tangan langsung terangkat. Tak ada yang ragu — semua tahu nilai dari uang itu. Dua puluh dolar tetap dua puluh dolar.

Lalu, sang pembicara menggenggam uang itu erat-erat, meremasnya hingga kusut dan lusuh. “Masih ada yang mau?” tanyanya lagi. 

Sekali lagi, tangan-tangan itu terangkat tanpa ragu. 

Ia tersenyum, kemudian menjatuhkan uang itu ke lantai, menginjaknya, menekannya hingga kotor. “Sekarang?” katanya sambil mengangkat uang yang sudah lecek dan bernoda. 

Dan tetap saja, seluruh ruangan ingin memilikinya. Karena meskipun uang itu telah diremas, diinjak, dan dikotori, nilainya tidak berubah — tetap $20.

Di situlah letak pelajarannya. Betapa pun kerasnya hidup memperlakukan kita — seberapa banyak kita jatuh, tersakiti, ditolak, atau gagal — nilai diri kita tidak pernah berkurang. 

Sama seperti uang kertas itu, kita bisa lelah, lusuh, atau bahkan rusak secara lahiriah, tapi nilai sejati di dalam diri kita tetap sama. 

Dunia mungkin membuat kita merasa tidak cukup baik. Kesalahan masa lalu mungkin membuat kita malu. Kegagalan bisa membuat kita merasa tak berharga. Namun, tidak satu pun dari itu benar-benar bisa mengurangi siapa kita sebenarnya.

Kita sering lupa bahwa nilai diri bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, melainkan sesuatu yang melekat di dalam diri sejak awal. Ia tidak tergantung pada pujian, jabatan, atau pengakuan. 

Ia tidak hilang hanya karena kita pernah membuat keputusan yang buruk atau menjalani masa sulit. Nilai itu tetap ada, bahkan ketika hidup tampak menghancurkan kita dari luar.

Pembicara itu menatap para siswa satu per satu dan berkata pelan, “Tak peduli apa yang telah terjadi, tak peduli apa yang akan terjadi, kamu tidak pernah kehilangan nilaimu. Kamu tidak pernah kehilangan harga dirimu.” 

Kalimat itu menggema di ruangan, tapi lebih dari itu, menggema di hati setiap orang yang mendengarnya. Karena kebenaran sederhana itu sering kali kita lupakan — bahwa kita selalu berharga, bahkan ketika dunia membuat kita merasa sebaliknya.

Hidup bisa keras. Ada masa ketika kita merasa remuk oleh tekanan, terinjak oleh kegagalan, dan kotor oleh kesalahan yang kita sesali. Tapi tidak satu pun dari itu menentukan nilai kita. Justru melalui luka-luka itulah kita menjadi manusia yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih penuh kasih. Seperti uang kertas yang lusuh tetapi tetap sah digunakan, begitu pula kita — penuh cerita, namun tetap berharga.

Demonstrasi sederhana dengan uang $20 itu bukan hanya tentang nilai mata uang, melainkan tentang nilai manusia. Ia mengingatkan bahwa meski dunia bisa membuat kita kusut, hidup bisa menekan kita hingga ke tanah, dan waktu bisa mengubah penampilan luar kita — nilai sejati tidak pernah berubah.

Nelson Mandela tahu rasanya menjadi uang yang diremukkan dunia. Dua puluh tujuh tahun hidup di balik jeruji besi — dipisahkan dari keluarga, dituduh sebagai musuh negara, dihina oleh bangsanya sendiri. 

Tapi ketika akhirnya bebas, Mandela tidak kehilangan nilai dirinya. Ia justru kembali dengan lebih besar dari sebelumnya — menjadi simbol perdamaian dan pengampunan. Dunia telah mencoba menghapusnya, tapi nilainya justru menjadi abadi.

Begitu pula dengan Steve Jobs. Ia dipecat dari Apple, perusahaan yang ia dirikan sendiri. Dunia melihatnya gagal. Tapi Jobs tahu, seperti uang dolar yang kusut, nilainya tidak hilang hanya karena bentuknya berubah. 

Ia bangkit, membangun NeXT dan Pixar, hingga akhirnya kembali ke Apple dan merevolusi dunia teknologi. 

Uang itu mungkin pernah terinjak, tapi nilainya justru meningkat karena perjalanan yang dilaluinya.

Oprah Winfrey juga pernah menjadi “uang yang kotor” di mata dunia. Masa kecilnya penuh luka — kemiskinan, pelecehan, dan rasa tidak berharga. Namun ia memilih untuk tidak membiarkan pengalaman itu menghapus nilai dirinya. 

Ia berkata, “You are worthy because you were born.”

Dari trauma yang dalam, ia membangun empati dan kekuatan yang menyentuh jutaan jiwa. Nilainya tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keberaniannya untuk sembuh dan menginspirasi.

Kisah serupa juga datang dari J.K. Rowling. Sebelum Harry Potter menjadi legenda, ia adalah ibu tunggal yang hidup dari tunjangan sosial, menulis di kafe sambil menidurkan anaknya. Berkali-kali ia ditolak penerbit. 

Dunia mungkin menginjaknya, tapi ia tidak menyerah. Ia tahu, seperti uang dolar yang lecek, nilainya tetap utuh. Dan kini, kisahnya menjadi bukti bahwa yang pernah dianggap tak berharga bisa mengubah dunia dengan imajinasi dan keteguhan hati.

Abraham Lincoln mengalami kegagalan demi kegagalan — kalah dalam pemilihan, kehilangan orang yang dicintai, dan bergulat dengan depresi. Namun ia terus berdiri. Dunia meremukkannya berkali-kali, tapi ia tak pernah kehilangan nilai. Pada akhirnya, dialah yang menyatukan bangsanya di masa paling kelam dalam sejarah Amerika.

Bahkan di era modern, Elon Musk memperlihatkan hal serupa. Ia pernah berada di titik di mana Tesla dan SpaceX hampir bangkrut bersamaan. Dunia menertawakannya, menyebutnya gila. Tapi Musk tetap percaya pada visinya.

Ia tahu nilai dirinya tidak ditentukan oleh opini orang lain, tapi oleh keyakinannya terhadap masa depan. Kini, orang yang dulu diremehkan itu memimpin dua perusahaan paling berpengaruh di dunia.

Setiap kisah itu adalah versi manusia dari uang kertas $20 yang diremukkan — lusuh, kotor, bahkan nyaris robek, tapi nilainya tetap sama. Kadang, justru karena luka dan perjalanan itulah nilai seseorang menjadi lebih besar.

Hidup mungkin tidak selalu adil. Ada masa ketika dunia menekan kita hingga terasa tak bernapas. Tapi nilai sejati manusia tidak bisa dihapus oleh kegagalan, kesalahan, atau pandangan orang lain. Nilai itu melekat — sejak lahir, dan tidak akan pernah pergi.

Maka ketika hidup mencoba meremukkanmu, ingatlah uang dolar itu. Mungkin kamu terlihat kusut di mata dunia, tapi nilaimu tidak berubah. Kamu tetap berharga. Karena seperti uang itu, tidak peduli seberapa keras hidup memperlakukanmu, nilai dirimu tidak pernah hilang. 

Penulis: Edhy Aruman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar