Sore kemarin, seusai late lunch bersama dengan beberapa sahabat, saya menerima kabar dari salah satu diantara sahabat itu mengatakan bahwa Israel "menyerah". Mereka menarik pasukannya dari Gaza.
Langsung saya membuka peramban dan mencari informasi detailnya. Dari situs Aljazeera.com didapat informasi, Hamas telah mengumumkan tercapainya kesepakatan penghentian perang di Gaza: penarikan pasukan IDF, masuknya bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tahanan. Tak lama berselang, Donald Trump menulis di akun Truth Social miliknya, @realDonaldTrump, bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama rencana perdamaian.
Sebuah kabar menggembirakan, tetapi tetap saja di dalam hati ada keraguan. Seolah-olah ada yang melarang untuk tidak terburu-buru optimis. Jalan menuju perdamaian masih panjang dan berliku—apalagi dengan rekam jejak Israel yang sering mengingkari kesepakatan.
Taufan Al-Aqsa: Titik Balik Sejarah
Peristiwa Taufan Al-Aqsa, yang meletus pada 7 Oktober 2023, akan terus dibicarakan dari berbagai sudut pandang. Ada yang menulisnya kering, sekadar kronologi tanpa jiwa—padahal peristiwa itu masih hangat dan berdenyut di mata dunia. Ada pula yang melihatnya dari sudut hukum jihad, lalu dengan mudah menuduh rakyat dan pejuang Gaza sebagai kelompok sesat, khawarij, atau pencari kehancuran.
Kita lupa satu hal: cita-cita besar selalu menuntut pengorbanan besar. Mereka yang hanya menjadi penonton di balik layar, atau ulama pesanan penguasa yang menuding perlawanan sebagai kesalahan, seharusnya malu di hadapan sejarah. Mereka telah mati saat nurani dunia justru hidup kembali.
Serangan 7 Oktober bukan sekadar operasi militer yang berani dan berisiko tinggi. Ia menjadi titik balik kesadaran global tentang kolonialisme modern, keadilan, dan martabat manusia. Dalam hitungan jam, sistem pertahanan Israel yang selama ini dianggap tak tertembus, berhasil dilumpuhkan. Namun, harga yang dibayar Gaza sangat mahal: lebih dari 66.000 jiwa gugur, 168.000 tertimbun reruntuhan, dan seluruh wilayahnya hampir musnah dari peta kehidupan.
Dari kehancuran itu justru lahir gelombang solidaritas internasional terbesar sejak perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan. Taufan Al-Aqsa telah melampaui makna militer — ia menjadi badai moral yang mengguncang kesadaran dunia.
Perang Kesadaran Mengalahkan Perang Senjata
Selama puluhan tahun, narasi konflik Palestina dikendalikan oleh media dan kepentingan politik negara besar. Namun sejak 2023, arah itu berubah.
Demonstrasi pro-Palestina menggema di lebih dari 80 negara. Kampus-kampus ternama seperti Harvard, Oxford, dan Cambridge menjadi pusat advokasi kemanusiaan yang menekan kebijakan luar negeri negaranya sendiri. Di dunia maya, jutaan orang menampilkan bendera Palestina di profil mereka — simbol bahwa perjuangan ini telah melampaui batas ideologi dan geografi.
Perjuangan Palestina kini bukan lagi isu Timur Tengah semata. Ia telah menjadi simbol perlawanan universal terhadap ketidakadilan global, sebagaimana Vietnam melawan kolonialisme Prancis atau Afrika Selatan menumbangkan apartheid.
Meskipun deep state di Barat belum berubah, deep society—masyarakat akar rumput, akademisi, aktivis, mahasiswa—telah berbalik arah. Narasi Palestina kini diakui sebagai bagian dari gerakan dekolonisasi modern.
Dengan demikian, Taufan Al-Aqsa bukan hanya perang fisik, melainkan perang narasi global—dan pada tataran moral, Palestina telah menang.
Pelajaran dari Revolusi Dunia
Untuk memahami masa depan Palestina, kita perlu belajar dari sejarah kemerdekaan bangsa-bangsa lain pasca Perang Dunia II.
Indonesia memadukan perjuangan bersenjata dan diplomasi hingga akhirnya meraih pengakuan kedaulatan pada 1949. Aljazair, setelah menumpahkan darah lebih dari sejuta syahid, akhirnya memaksa Prancis mengakui kemerdekaan pada 1962. Vietnam menegaskan bahwa keteguhan militer dan dukungan moral dunia dapat menumbangkan kekuatan adidaya.
Dari pengalaman itu, lima pelajaran penting dapat dipetik:
-
Persatuan nasional adalah pondasi revolusi.
-
Legitimasi moral dunia lebih kuat dari kekuatan senjata.
-
Momentum geopolitik global sering menjadi peluang emas.
-
Kekuatan narasi menentukan pandangan dunia terhadap perjuangan.
-
Keseimbangan antara perlawanan dan diplomasi adalah kunci kemenangan sejati.
Revolusi Pra-Kemerdekaan Palestina
Dalam konteks sejarah, Taufan Al-Aqsa dapat disebut sebagai revolusi pra-kemerdekaan Palestina. Ia belum melahirkan negara, tetapi telah mengguncang legitimasi moral Israel.
Kini, banyak kalangan Barat mulai berani menyebut Israel sebagai “apartheid”, “pembersih etnis”, bahkan “pelaku genosida.” Tokoh konservatif AS, Tucker Carlson, dengan lantang berkata:
“Stop calling it a war. It’s genocide, it’s an invasion, it’s ethnic cleansing!”
Perubahan besar ini mencerminkan pergeseran dari deep state ke deep society: dari kekuasaan elit menuju hati nurani publik global.
Namun perjuangan masih panjang. Amerika Serikat tetap menjadi penopang utama Israel. Uni Eropa terbelah antara moral dan kepentingan ekonomi. Sementara perpecahan internal antara Otoritas Palestina dan Hamas masih menghambat lahirnya kepemimpinan nasional yang solid.
Peluang Baru di Tengah Krisis Dunia
Meskipun penuh tantangan, peluang menuju tatanan dunia baru tetap terbuka.
Perang Ukraina, ketegangan di Laut Cina Selatan, dan menguatnya dunia multipolar mengubah peta kekuatan global.
Negara-negara di Amerika Latin, Afrika, dan Asia kini lebih berani berpihak pada Palestina. Bolivia dan Kolombia memutus hubungan diplomatik dengan Israel, sementara Afrika Selatan menggugat Israel di Mahkamah Internasional. Indonesia terus menegaskan dukungannya bagi kemerdekaan Palestina dengan Al-Quds sebagai ibu kota.
Sejarah menunjukkan: perubahan besar lahir dari krisis besar. Dunia pernah menyaksikan Indonesia merdeka di tengah perang ideologi global. Kini, mungkin giliran Palestina—lahir dari kelelahan dunia terhadap hegemoni tunggal Amerika Serikat dan pencarian sistem internasional yang lebih adil.
Dari Tragedi Menuju Transformasi
Taufan Al-Aqsa adalah tragedi besar, namun sekaligus awal transformasi kesadaran dunia. Ia membuktikan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berganti rupa. Ia menunjukkan bahwa kekuatan moral dan nurani mampu menembus benteng kekuasaan yang paling kokoh sekalipun.
Jika Gaza dapat bertahan, bersatu, dan membangun kembali kekuatannya, maka revolusi kemerdekaan Palestina akan menemukan jalannya sendiri — bukan dengan meniru revolusi lain, tapi dengan menjadi simbol universal perlawanan terhadap penjajahan modern.
Perlawanan Gaza telah mengguncang geopolitik internasional. Israel tak akan duduk di meja perundingan tanpa kekuatan tawar dari Hamas yang bertahan lebih dari dua tahun.
Ibarat pertandingan sepak bola, mereka belum kalah hingga peluit terakhir berbunyi. Mereka membuktikan bahwa kehormatan dan keteguhan lebih berharga daripada hidup dalam kehinaan.
Sejarah kini mencatat: muqawamah—perlawanan terhadap penjajahan—adalah tindakan sah dan bermartabat, bukan kesesatan. Justru entitas penjajahlah yang kini diadili dunia.
Dan jika sejarah benar-benar berpihak pada keadilan, maka tragedi Gaza bukanlah akhir, melainkan awal lahirnya tatanan dunia baru yang lebih adil.
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.”
(QS. Al-Qashash: 5)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar