Rabu, 10 September 2025

Saat Hati Diuji: Menyulam Luka Menjadi Doa

Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada saat-saat ketika takdir menghadirkan ujian yang berat: kehilangan, kekecewaan, atau luka yang membuat kita hampir menyerah. Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menimpakan ujian untuk mereka...” (HR. Ibnu Majah).

Ujian bukanlah hukuman, melainkan tanda cinta. Dari rasa sakit kerang, lahirlah mutiara. Dari panas dan tempaan besi, tercipta pedang yang kuat. Dari kepompong yang sulit diterobos, lahirlah kupu-kupu dengan sayap indah. Begitu pula manusia: kita ditempa ujian agar menjadi lebih kokoh dan bernilai.

Sayangnya, kita sering terjebak pada keinginan hasil instan, melupakan proses yang penuh makna. Padahal Allah tidak pernah memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Setiap ujian sudah disertai jalan keluar—asal kita bersabar dan berserah.

Para Nabi pun menjalani ujian besar. Nabi Ibrahim AS diuji dengan pengorbanan terhadap keluarga. Nabi Yusuf AS melewati pengkhianatan, godaan, hingga penjara. Dari ujian itulah lahir keteladanan yang abadi.

Maka ketika hati diuji, jangan hanya melihat luka. Lihatlah kesempatan untuk menjadikannya doa. Setiap air mata bisa menjadi jalan menuju ridha Allah. Setiap cobaan bisa menjadi undangan untuk lebih dekat pada-Nya.

Ujian bukan akhir, melainkan awal dari kedewasaan iman. Mari belajar menyulam luka menjadi doa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar