Nasehat buat diri sendiri dan anak-anaku
Setiap orang pernah merasakan kegagalan. Entah itu gagal dalam pendidikan, pekerjaan, usaha, bahkan dalam urusan pribadi, percintaan dan sebagainya. Rasanya memang tidak enak—sedih, kecewa, atau merasa hidup hancur. Tapi, sebenarnya kegagalan di dunia bukanlah akhir dari segalanya. Selama kita masih diberi kesempatan hidup, kita selalu bisa bangkit dan mencoba lagi.
Berbeda dengan kegagalan di akhirat. Sekali kita gagal di sana, tidak ada kesempatan kedua. Itulah mengapa hidup di dunia sebenarnya bukan tujuan akhir, melainkan hanya tempat persinggahan untuk mempersiapkan perjalanan panjang setelah kematian.
Allah ﷻ sendiri mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sementara kehidupan akhirat jauh lebih berharga bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-An‘ām: 32). Artinya, kegagalan di dunia masih bisa ditebus, tapi kegagalan di akhirat tidak ada obatnya.
Rasulullah ﷺ bahkan menggambarkan dunia sebagai ladang akhirat. Apa yang kita tanam di sini—amal baik atau keburukan—akan menentukan apa yang kita panen di kehidupan setelah mati. Kalau yang ditanam kebaikan, hasilnya keselamatan. Tapi kalau yang ditanam justru dosa dan kelalaian, penyesalan panjang menanti.
Sayangnya, manusia sering lebih takut gagal di dunia ketimbang di akhirat. Gagal ujian, gagal kerja, atau gagal bisnis bisa bikin gelisah berhari-hari. Tapi, ketika shalat mulai lalai atau dosa dilakukan berulang, seringkali hati kita tetap tenang-tenang saja. Padahal, kegagalan sejati justru ketika seseorang tidak meraih ridha Allah ﷻ.
Allah ﷻ menegaskan dalam QS. Āli ‘Imrān: 185 bahwa orang yang selamat dari neraka dan masuk surga, dialah yang benar-benar sukses. Dunia ini, dengan segala gemerlap dan pencapaiannya, hanyalah kesenangan sementara.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadis sahih: ketika seseorang meninggal, hanya amalnya yang akan menemaninya. Keluarga, harta, dan jabatan—semua akan ditinggalkan. Karena itu, yang paling penting bukanlah seberapa tinggi kita mencapai dunia, melainkan seberapa baik kita mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Meski begitu, bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Allah ﷻ berpesan agar kita tetap mencari bagian kita di dunia, tetapi jangan sampai melupakan akhirat (QS. Al-Qashash: 77). Dunia dan akhirat harus berjalan seimbang: bekerja, belajar, berusaha, iya; tapi tetap menjaga ibadah dan amal saleh sebagai bekal yang tak tergantikan.
Sahabat, jika gagal di dunia, jangan berputus asa. Masih ada kesempatan untuk mencoba lagi. Allah ﷻ bahkan menegaskan bahwa setiap manusia pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah mereka yang mau bertaubat (HR. Tirmidzi).
Yang harus diingat, kesempatan itu hanya ada di dunia. Saat nyawa berakhir, pintu taubat tertutup. Karena itu, jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu esok untuk berubah, karena kita tidak tahu apakah esok masih ada.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah yang hanya mengikuti hawa nafsunya.” (HR. Tirmidzi).
Mari kita belajar menjadi orang yang cerdas—yang menjadikan kegagalan di dunia sebagai pelajaran, bukan sebagai akhir dari segalanya. Karena sejatinya, gagal di dunia masih bisa diperbaiki. Tetapi gagal di akhirat, tidak ada jalan kembali.