Tampilkan postingan dengan label novel inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2025

Aluna

“Buuk Crook! Buuk Crook! Buuk Crok!”

Entah sudah ke berapa ratus kali cangkul itu diayunkan oleh tangan Aluna. Setiap kali mata besinya terangkat ke udara lalu jatuh kembali, tanah merah di depannya terbelah tanpa bisa menolak. Tanah basah itu diam saja, menerima nasib dengan sabar, seakan tahu bahwa pada akhirnya apa pun yang lahir dari tubuhnya akan kembali kepadanya juga.

Air yang terselip di sela tanah berbeda sikap. Ia selalu mudah tersinggung. Setiap kali dihantam cangkul, ia memercik liar, melontarkan lumpur ke betis dan paha Aluna. Celana kerjanya yang dulu bersih kini penuh noda cokelat pekat. Namun Aluna tak peduli.

Bagi perempuan itu, tanah, air, dan cangkul sudah menjadi satu-satunya dunia. Matanya menentang tanah, tangannya menghidupkan cangkul, kakinya mengatur langkah, sementara pikirannya berjalan jauh. Ada wajah ibunya yang menua di beranda rumah, ada suara adiknya yang meminta biaya sekolah, dan ada berita buruk yang terus menghantui: sawah yang ia cangkul ini kabarnya akan dijual untuk proyek jalan raya.

Setiap ayunan cangkul terasa seperti perlawanan kecil.

“Selama tanah ini masih di bawah kakiku,” batin Aluna, “ia tetap milikku, meski hanya untuk sebentar.”

Tanah tidak pernah menuntut balas jasa, tidak pernah marah. Tapi Aluna tahu, tanah juga menyimpan rahasia—ia menyaksikan setiap keringat, setiap air mata, setiap janji yang diucapkan petani. Dan di bawah sinar matahari yang semakin terik, Aluna terus mencangkul, seolah ingin menanamkan tekadnya ke dalam bumi: bahwa hidup boleh diguncang, tapi ia tak akan menyerah.

Baik, saya akan melanjutkan cerita Aluna dengan merujuk pada teks yang kamu berikan. Saya gabungkan nuansa puitis perubahan alam dengan batin Aluna, sehingga alur tetap hidup dan terasa menyatu.

Perubahan warna pada tanah yang membentang di depan Aluna sama sekali tak ia sadari. Sejam yang lalu, tanah itu masih kelabu kehitaman. Kini, di bawah cahaya yang mulai menanjak, tanah tampak cokelat kemerah-merahan, seperti sedang berdandan menyambut hari baru.

Ia juga tak begitu mendengar perubahan bunyi-bunyian di sekitarnya. Saat ia mulai mencangkul, suara percik air bercampur dengan kokok ayam jantan dan kerik jangkrik. Kini, suara jangkrik mulai redup, berganti dengan nyanyi burung yang berkejaran di langit fajar. Kegembiraan kecil bersayap itu begitu tulus, seolah-olah mereka sedang menabuh musik suci, menyambut anugerah pagi dengan puja-puji kepada Tuhan.

Sinar matahari merah keemasan perlahan merayapi cakrawala, memercikkan cahaya kehidupan. Pohon-pohon asem dan mahoni di tepi jalan mulai keluar dari gelap, menggeliat seperti manusia yang baru bangun, mengusir pegal setelah semalaman terlelap. Daun-daun muda di ujung ranting bergerak lembut tertiup angin, seperti melambaikan salam kepada hari yang baru lahir.

Di atas sawah berair, garis keemasan tampak melukis permukaan. Rumput-rumput di galengan memantulkan cahaya, dihiasi butir embun yang bergelantung bagai mutiara. Semua benda, baik yang hidup maupun mati, seakan mandi dalam cahaya kebahagiaan yang dibawa sinar keemasan pagi.

Aluna berhenti sejenak. Nafasnya terengah, keringat mengalir deras, namun matanya terpaku pada lukisan semesta di hadapannya. “Alangkah indah,” bisiknya lirih. Tapi dalam keindahan itu, hatinya terguncang. Sawah ini, yang kini bermandi cahaya, sebentar lagi mungkin hanya tinggal kenangan. Proyek jalan raya akan datang, menggantikan semua—tanah, embun, nyanyian burung, bahkan keringatnya.

Ia menggenggam cangkulnya erat-erat, seakan benda itu satu-satunya pegangan yang tersisa. Dalam hati, ia bertanya: apakah manusia memang tahu menerima dan menghargai berkah seperti bumi dan burung-burung ini? Atau justru selalu ingin merampas lebih, tanpa pernah cukup?

Sinar matahari terus menanjak, tapi hati Aluna semakin diliputi kabut keraguan. Namun ia tahu satu hal: selama embun masih menetes di ujung rumput, selama burung masih bernyanyi menyambut pagi, ia pun tak boleh menyerah.

Rabu, 11 Juni 2025

Lintingan Terakhir


Pasar mulai padat ketika matahari baru naik sejengkal. Di antara deretan penjual ikan, sayur, dan kain batik, seorang perempuan muda berjalan anggun. 

Baki bambu di tangannya berisi rokok lintingan. Rambutnya disanggul rapi, kainnya bersih, matanya jernih meski menyimpan lautan yang tak bisa dibaca.

"Rokok, Gusti?" suaranya lembut, nyaris seperti tembang.

Seorang bangsawan muda menoleh. "Ah, Roro Mendut," sapa lelaki itu sambil tersenyum. "Hari ini aku datang bukan karena rokokmu. Tapi karena kau."

Roro Mendut tersenyum tenang. "Kalau begitu, Gusti tidak perlu membeli. Karena yang hamba jual hanya rokok."

"Tapi tak ada lintingan yang selembut ini. Apa rahasianya?"

Ia menatap lelaki itu sejenak. "Doa, dan ketabahan."

Roro Mendut menjual rokok bukan semata demi kebutuhan, tapi demi pilihan. Setelah menolak dijadikan selir oleh Ki Tumenggung Wiroguno, ia keluar dari keraton dan kehilangan seluruh kenyamanan yang dulu ia miliki. 

Dalam karya sastra Ajip Rosidi, Wiroguno digambarkan sebagsai sesorang yang memiliki keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaannya yang tak tergoyahkan. Dia bukan hanya dihormati oleh para bangsawan dan rakyat jelata, tetapi juga dicintai oleh Sang Sultan dari Mataram.

Wiroguno mengawali pengabdiannya dari posisi rendah, namun perlahan menapaki tangga kepercayaan dengan kerja keras dan dedikasi luar biasa. Ia dikenal sebagai prajurit tangguh yang tak segan berada di barisan terdepan, bahkan rela menjadi tameng hidup bagi Sultan. 

Kesetiaannya tak sekadar ucapan, tetapi terbukti dalam setiap medan tempur yang dilalui, di mana banyak negeri kecil berhasil ia taklukkan dan persembahkan kepada junjungannya.

Atas segala jasanya, Sultan Agung menganugerahkan gelar Tumenggung kepada Wiroguno, sekaligus menjadikannya wedana—pemimpin para bupati seantero Mataram. Sebuah kehormatan yang tak sembarang orang bisa raih. 

Wilayah kekuasaannya dikenal dengan nama Wirogunan, sebuah tempat yang kelak menjadi simbol kebesaran dan keteladanannya.

Wiroguno juga mendapat hadiah berupa Roro Mendut dari Sultan. Namun, hubungan mereka menjadi rumit karena Roro Mendut menolak untuk menjadi istri atau selir Ki Tumenggung, meskipun ia telah diberi banyak kemewahan. 

Penolakan ini menimbulkan konflik karena Ki Tumenggung merasa dipermalukan dan marah besar atas keberanian Roro Mendut yang dianggap lancang sebagai wanita kelas bawah (anak tukang bakul) yang menolak seorang pejabat tinggi kerajaan.

Konflik ini bukan hanya menggambarkan ketegangan pribadi, tapi juga benturan nilai-nilai—antara kekuasaan yang menganggap semua bisa dimiliki, dan kehendak bebas seorang perempuan yang menuntut hak atas dirinya sendiri.

Keputusan Roro Mendut menolaknya bukan tanpa risiko. Dunia di sekelilingnya tidak memberi banyak pilihan bagi perempuan yang berani berbeda. Namun, dari keterbatasan itulah ia menemukan jalan perlawanan yang sederhana tapi penuh makna.

Ia memilih menjual lintingan, rokok dari daun jagung dan tembakau, karena itu satu-satunya cara ia bisa hidup tanpa menjual dirinya. Ia tidak sekadar mencari nafkah, ia mempertahankan kehormatan.

Namun lebih dari itu, Roro Mendut menjual dengan hati. Ia membangun hubungan dengan pelanggannya, bukan sekadar menjajakan barang, tetapi menyentuh emosi mereka dengan ketulusan. 

Inilah kekuatan dari Emotional Selling : memahami emosi, membangun koneksi, dan menawarkan lebih dari sekadar produk—yakni kepercayaan dan kenyamanan (Mayer & Salovey, 1997; Goleman, 1998).

Penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional (emotional intelligence/EI) bukan hanya meningkatkan adaptasi penjual terhadap situasi pelanggan, tapi juga menciptakan loyalitas yang lebih tinggi melalui pendekatan yang empatik dan personal (Dulewicz et al., 2005; Wisker & Poulis, 2015). 

Dalam hal ini, Roro Mendut jauh lebih maju dari zamannya. Dengan intuisinya, ia telah mempraktikkan seni menjual dengan hati.

"Kau tahu risikonya. Dia bisa menghancurkanmu," kata lelaki itu.

"Biarlah," bisiknya. "Lebih baik tubuh ini hancur karena mempertahankan kehormatan, daripada utuh tapi hampa."

Angin pagi menyapu pasar. Sejenak keduanya terdiam.

Lelaki itu mengambil satu lintingan dan menyalakannya. "Rokokmu hari ini terasa lebih dalam."

Roro Mendut menatap jauh ke arah langit. "Karena ini lintingan terakhir. Besok hamba akan pergi dari kota ini. Menuju tempat yang tidak menuntut perempuan untuk menjual diri agar dianggap berarti."

Lintingan terakhir ini bukan hanya penutup dagangan, tapi pernyataan: bahwa hidup bisa dipilih, bahwa kehormatan bukan untuk ditukar, dan bahwa perempuan punya suara, bahkan jika hanya disampaikan lewat sebatang rokok yang perlahan terbakar.

Ia tidak lari—ia pergi dengan kepala tegak. Lintingan itu adalah jejak terakhir di tanah yang coba mengubur dirinya. Sebuah simbol penghabisan, namun juga permulaan. Karena dengan meletakkan lintingan terakhir itu, ia memulai hidup yang baru—dengan kebebasan utuh.

Lelaki itu tak berkata. Ia hanya menatap lintingan yang perlahan habis—seperti pagi yang mengantar seorang perempuan pergi, dengan kepala tegak dan hati yang tak bisa dibeli. 


Penulis: Edhy Aruman


RUJUKAN

Rosidi, A. (1985). Roro Mendut. Jakarta: Gunung Agung