“Buuk Crook! Buuk Crook! Buuk Crok!”
Entah sudah ke berapa ratus kali cangkul itu diayunkan oleh tangan Aluna. Setiap kali mata besinya terangkat ke udara lalu jatuh kembali, tanah merah di depannya terbelah tanpa bisa menolak. Tanah basah itu diam saja, menerima nasib dengan sabar, seakan tahu bahwa pada akhirnya apa pun yang lahir dari tubuhnya akan kembali kepadanya juga.
Air yang terselip di sela tanah berbeda sikap. Ia selalu mudah tersinggung. Setiap kali dihantam cangkul, ia memercik liar, melontarkan lumpur ke betis dan paha Aluna. Celana kerjanya yang dulu bersih kini penuh noda cokelat pekat. Namun Aluna tak peduli.
Bagi perempuan itu, tanah, air, dan cangkul sudah menjadi satu-satunya dunia. Matanya menentang tanah, tangannya menghidupkan cangkul, kakinya mengatur langkah, sementara pikirannya berjalan jauh. Ada wajah ibunya yang menua di beranda rumah, ada suara adiknya yang meminta biaya sekolah, dan ada berita buruk yang terus menghantui: sawah yang ia cangkul ini kabarnya akan dijual untuk proyek jalan raya.
Setiap ayunan cangkul terasa seperti perlawanan kecil.
“Selama tanah ini masih di bawah kakiku,” batin Aluna, “ia tetap milikku, meski hanya untuk sebentar.”
Tanah tidak pernah menuntut balas jasa, tidak pernah marah. Tapi Aluna tahu, tanah juga menyimpan rahasia—ia menyaksikan setiap keringat, setiap air mata, setiap janji yang diucapkan petani. Dan di bawah sinar matahari yang semakin terik, Aluna terus mencangkul, seolah ingin menanamkan tekadnya ke dalam bumi: bahwa hidup boleh diguncang, tapi ia tak akan menyerah.
Baik, saya akan melanjutkan cerita Aluna dengan merujuk pada teks yang kamu berikan. Saya gabungkan nuansa puitis perubahan alam dengan batin Aluna, sehingga alur tetap hidup dan terasa menyatu.
Perubahan warna pada tanah yang membentang di depan Aluna sama sekali tak ia sadari. Sejam yang lalu, tanah itu masih kelabu kehitaman. Kini, di bawah cahaya yang mulai menanjak, tanah tampak cokelat kemerah-merahan, seperti sedang berdandan menyambut hari baru.
Ia juga tak begitu mendengar perubahan bunyi-bunyian di sekitarnya. Saat ia mulai mencangkul, suara percik air bercampur dengan kokok ayam jantan dan kerik jangkrik. Kini, suara jangkrik mulai redup, berganti dengan nyanyi burung yang berkejaran di langit fajar. Kegembiraan kecil bersayap itu begitu tulus, seolah-olah mereka sedang menabuh musik suci, menyambut anugerah pagi dengan puja-puji kepada Tuhan.
Sinar matahari merah keemasan perlahan merayapi cakrawala, memercikkan cahaya kehidupan. Pohon-pohon asem dan mahoni di tepi jalan mulai keluar dari gelap, menggeliat seperti manusia yang baru bangun, mengusir pegal setelah semalaman terlelap. Daun-daun muda di ujung ranting bergerak lembut tertiup angin, seperti melambaikan salam kepada hari yang baru lahir.
Di atas sawah berair, garis keemasan tampak melukis permukaan. Rumput-rumput di galengan memantulkan cahaya, dihiasi butir embun yang bergelantung bagai mutiara. Semua benda, baik yang hidup maupun mati, seakan mandi dalam cahaya kebahagiaan yang dibawa sinar keemasan pagi.
Aluna berhenti sejenak. Nafasnya terengah, keringat mengalir deras, namun matanya terpaku pada lukisan semesta di hadapannya. “Alangkah indah,” bisiknya lirih. Tapi dalam keindahan itu, hatinya terguncang. Sawah ini, yang kini bermandi cahaya, sebentar lagi mungkin hanya tinggal kenangan. Proyek jalan raya akan datang, menggantikan semua—tanah, embun, nyanyian burung, bahkan keringatnya.
Ia menggenggam cangkulnya erat-erat, seakan benda itu satu-satunya pegangan yang tersisa. Dalam hati, ia bertanya: apakah manusia memang tahu menerima dan menghargai berkah seperti bumi dan burung-burung ini? Atau justru selalu ingin merampas lebih, tanpa pernah cukup?
Sinar matahari terus menanjak, tapi hati Aluna semakin diliputi kabut keraguan. Namun ia tahu satu hal: selama embun masih menetes di ujung rumput, selama burung masih bernyanyi menyambut pagi, ia pun tak boleh menyerah.
