Ketika dokter mengatakan bahwa Bob Fairburn hanya punya lima tahun lagi untuk hidup, dunia seakan berhenti. Serangan jantung yang nyaris merenggut nyawanya di akhir tahun 1980-an membuatnya sadar betapa rapuh hidup ini.
Ia memandangi wajah istrinya, memikirkan anak-anaknya, dan satu hal terlintas di benaknya: “Aku harus meninggalkan sesuatu untuk mereka. Sesuatu yang tetap hidup setelah aku mati.”
Sayangnya, tak ada asuransi yang mau menanggungnya. Dalam keputusasaan itu, Bob berkata pada dirinya sendiri, “Aku butuh keajaiban, atau sesuatu yang bisa menghasilkan uang tanpa aku harus ada.”
Ia lalu membaca sebuah artikel yang menulis, “Di Amerika, hanya ada dua cara agar seseorang bisa tetap menghasilkan uang: menulis buku, atau menciptakan sesuatu.”
Bob mencoba menulis. Hasilnya? Berantakan. Tapi kegagalan itu justru menuntunnya ke arah baru. Ia memutuskan untuk menciptakan sesuatu.
Sumber inspirasinya datang dari rumahnya sendiri. Putranya, remaja yang gemar bermain komputer, sudah bisa menulis program kecil menggunakan bahasa BASIC. Ia bahkan membuat gim sendiri.
Bob tertegun melihat anaknya mengetik cepat di depan layar komputer, seolah berbicara dengan mesin.
“Kalau anakku bisa,” pikirnya, “kenapa aku tidak?”
Padahal, Bob sama sekali tidak punya latar belakang teknologi. Ia bukan insinyur, bahkan tak paham istilah komputer.
Tapi di situlah letak keberaniannya: ia memulai dari nol. Ia membeli buku-buku pemrograman, membaca manual tebal, dan menghabiskan malam demi malam di depan layar, mencoba memahami logika mesin.
Setiap kali programnya gagal, ia mencatat kesalahannya di buku kecil, lalu mencoba lagi.
Ia belajar lewat jaringan Bulletin Board System (BBS) yang populer kala itu — jaringan daring sederhana sebelum lahirnya internet modern.
Dari situ, Bob mengunduh potongan kode, berdiskusi dengan pengguna lain, dan pelan-pelan mulai menulis programnya sendiri. Ia belajar BASIC, lalu PASCAL, hingga suatu hari lahirlah karyanya: Home Designer, program sederhana untuk merancang denah rumah dan kantor.
Setelah berbulan-bulan mencari penerbit, ia berhasil menandatangani kontrak dengan perusahaan Expert Software di Florida. Program itu dijual seharga $14,95, dan Bob mendapat royalti 50 sen per salinan. Angka kecil, tapi bagi Bob, itu bukan soal uang. Itu tanda bahwa ia masih bisa berbuat sesuatu. Bahwa hidupnya belum selesai.
Namun dunia digital punya sisi gelap. Beberapa bulan kemudian, ia menemukan programnya beredar gratis di jaringan Rusty n Edie’s BBS.
Ia marah — bukan karena kehilangan uang, tapi karena merasa usahanya diremehkan.
Ia menulis pesan protes kepada pemilik BBS, tapi dijawab dengan dingin: “Kami tidak bisa mengontrol semua yang diunggah pengguna.”
Kemarahan itu berubah menjadi tekad. Ia melapor ke FBI Kansas City, menunjukkan bukti pembajakan, dan membantu penyelidikan yang akhirnya berujung pada penggerebekan besar. Kasus itu menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah hukum digital Amerika.
Namun kisah Bob bukan tentang hukum atau teknologi. Ini kisah tentang hidup yang dimulai kembali justru ketika waktu hampir habis.
Dari serangan jantung dan ketakutan, Bob menemukan hal yang tak pernah ia miliki sebelumnya: rasa ingin tahu yang menyala. Ia belajar, gagal, mencoba lagi, hingga menulis program yang mengubah jalan hidupnya. Ia mungkin tak pernah menjadi miliarder, tapi ia membuktikan satu hal penting: bahwa belajar bisa menjadi cara untuk melawan kematian.
Kisah Bob Fairburn mengingatkan kita bahwa batas usia hanyalah angka. Selama masih ada kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memulai dari awal.
Kadang, kehidupan kedua seseorang tak dimulai dari rumah sakit — tapi dari sebuah komputer di garasi, dan keberanian untuk menekan tombol “run” sekali lagi.
Penulis: Edhy Aruman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar