Banyak orang mengenal Richard Phillips Feynman (1918–1988) sebagai peraih Hadiah Nobel Fisika 1965, salah satu pemikir paling brilian dan eksentrik abad ke-20, juga guru besar dengan cara mengajar paling ajaib yang pernah ada.
Dia ilmuwan yang mampu menjelaskan keajaiban alam dengan tawa di wajahnya. Namun bagi banyak orang lain, terutama yang membaca kisah hidupnya, Feynman bukan sekadar ilmuwan.
Ia adalah seorang anak laki-laki yang tak pernah berhenti bertanya, anak yang ingin tahu mengapa langit biru, bagaimana listrik bekerja, dan kenapa piring kafetaria bisa berputar goyah di udara.
Dari rasa ingin tahu sederhana itulah, ia membangun seluruh kehidupannya.
Richard Phillips Feynman lahir di Far Rockaway, New York, pada 1918, di tengah keluarga sederhana yang penuh cinta pada ilmu pengetahuan dan humor. Ayahnya, Melville, bukan ilmuwan, tetapi seorang penjual seragam militer dengan imajinasi besar.
Dialah yang pertama kali menanamkan pada Richard gagasan bahwa sains bukan sekadar hafalan, tetapi cara memandang dunia.
Suatu hari ia menunjukkan seekor burung kecil dan berkata, “Kamu bisa tahu namanya dalam semua bahasa di dunia, tapi kamu tak akan tahu apa-apa tentang burung itu. Mari lihat bagaimana ia terbang, itulah pengetahuan sejati.” (Gleick, 1992).
Dari ayahnya, Feynman kecil belajar bahwa mengetahui nama tidak sama dengan memahami makna. Ia tumbuh menjadi bocah yang selalu ingin tahu “mengapa”. Di rumah, ia dikenal sebagai Ritty si Tukang Servis Radio.
Ketika teman-temannya bermain di luar, Feynman kecil asyik menyolder kabel atau mencari tahu mengapa jarum amperemeter bergerak aneh. Adiknya, Joan, menjadi “asisten laboratorium” yang dibayar empat sen seminggu untuk memegang kawat percikan listrik, sambil menjerit setiap kali kesetrum ringan.
Itulah laboratorium masa kecil Feynman: kamar tidur, beberapa kawat, dan segunung rasa ingin tahu.
Jika ada bau gosong di rumah, ibunya, Lucille, tahu itu ulah Richard. Namun, bukannya memarahinya, ia tersenyum dan berkata, “It’s worth it.”
Ia percaya kekacauan anaknya adalah harga dari pengetahuan. Di situlah benih rasa ingin tahu Feynman tumbuh, bukan dari kepatuhan, melainkan dari kebebasan untuk gagal.
Dalam kerangka psikologi modern, Feynman adalah perwujudan paling kuat dari dimensi “Joyous Exploration” yang dikemukakan oleh Todd B. Kashdan.
Dimensi ini menggambarkan individu yang terdorong oleh rasa gembira saat menemukan hal baru — di mana belajar itu sendiri menjadi hadiah. Feynman pernah berkata, “The pleasure of finding things out is the greatest joy of my life.”
Ia tidak mengejar sains demi penghargaan; ia melakukannya karena tiap penemuan, sekecil apa pun, membuat hidupnya terasa lebih luas.
Namun Feynman tidak berhenti pada kegembiraan. Ia juga memiliki kadar tinggi “Stress Tolerance”, kemampuan untuk tetap penasaran meski dihadapkan pada ketidakpastian atau risiko.
Di MIT dan kemudian Princeton, Feynman menjelma menjadi mahasiswa yang berpikir di luar batas. Ia tidak suka menghafal rumus, ia ingin merasakan mengapa sesuatu benar. “I learned very early the difference between knowing the name of something and knowing something,” katanya bertahun-tahun kemudian (Feynman, 1999).
Ketika banyak mahasiswa sibuk memuaskan profesor, Feynman sibuk memuaskan rasa penasarannya sendiri. Ia bahkan menghitung sendiri gaya elektromagnetik elektron dari prinsip dasar hanya untuk memastikan teori itu “masuk akal”.
Ketika terlibat dalam Proyek Manhattan -- tempat para ilmuwan merancang bom atom -- di Los Alamos, ia bukan hanya fisikawan muda berbakat; ia juga si biang kerok yang membuka brankas berisi rahasia bom atom.
Ia melakukannya bukan karena motif jahat, melainkan karena ingin tahu apakah keamanan sistem itu sungguh tak bisa ditembus. “Orang bisa ditebak,” katanya ringan, “dan begitu juga kombinasi kuncinya.”
Rasa ingin tahu mendorongnya menembus batas yang bahkan para penjaga pun tak berani dekati.
Di laboratorium Los Alamos, Feynman juga dikenal karena memperbaiki sendiri mesin kalkulator mekanik yang sering rusak. Bersama Nicholas Metropolis, ia memasang papan bertuliskan “Computers Repaired.”
Ketika atasannya menegur bahwa waktunya terlalu berharga untuk hal sepele itu, Feynman menjawab, “Justru karena itu saya melakukannya, agar waktu semua orang tidak terbuang.”
Ia ingin tahu bagaimana mesin berpikir, rasa penasaran yang kemudian menginspirasi generasi ilmuwan komputer.
Tapi rasa ingin tahu Feynman tidak berhenti di laboratorium. Ia merembes ke dalam kehidupannya yang paling pribadi.
Ketika Arline, perempuan yang paling ia cintai sejak muda, divonis mengidap TBC, dunia di sekitar Feynman seakan berhenti. Semua logika dan persamaan yang ia kuasai tak mampu menjelaskan bagaimana seseorang bisa kehilangan bagian dari dirinya sendiri.
Namun alih-alih menjauh, ia memilih untuk tetap di sisi Arline, menatap sakitnya dengan keberanian yang sama seperti ketika ia menatap misteri alam semesta.
Ia menulis surat-surat panjang yang memadukan cinta dan keajaiban ilmu, seolah ingin menulis ulang hukum fisika agar waktu dapat melambat di sekitar perempuan itu.
Ia menulis surat-surat penuh cinta dan sains — surat yang diakhiri dengan kalimat memilukan: “I still love you, and they all seem ashes.” (Gleick, 1992, hlm. 175).
Kata-kata itu bukan sekadar kesedihan, melainkan sebuah pernyataan abadi tentang cinta yang tak mengenal bentuk atau jarak.
Dua tahun setelah Arline pergi, ia masih menulis untuknya, seolah kematian hanyalah perpindahan alamat di kosmos.
Surat itu ditutup dengan kalimat yang lembut dan menghancurkan hati: “P.S. Please excuse my not mailing this—but I don’t know your new address.”
Ia tahu surat itu takkan pernah sampai, tetapi menulisnya adalah cara Feynman menantang semesta, menolak untuk percaya bahwa cinta bisa benar-benar berakhir.
Di situ, rasa ingin tahunya tentang kehidupan berubah menjadi rasa ingin tahu tentang kehilangan, tentang bagaimana cinta bisa bertahan melampaui waktu.
Selepas perang, Feynman kembali ke kampus Cornell dengan semangat yang redup. Ia merasa kosong, seolah keajaiban dunia telah sirna. Hingga suatu hari, ia memperhatikan piring kafetaria yang berputar goyah di udara. Pertanyaan sederhana muncul: mengapa piring itu goyah tapi tidak jatuh?
Ia mulai menghitung, menulis persamaan, dan dari permainan kecil itulah lahir gagasan yang kemudian berkembang menjadi teori elektrodinamika kuantum (QED), temuan yang membawanya ke Stockholm menerima Nobel Fisika.
Ketika rekannya Hans Bethe bertanya apa pentingnya penelitian piring itu, Feynman menjawab dengan tawa, “It doesn’t have any importance… but it’s fun!” (Feynman, 1985).
Inilah manifestasi Joyous Exploration dalam bentuk paling murni: rasa ingin tahu yang tak butuh alasan, hanya kesenangan dalam mencari tahu.
Tapi di balik kesenangan itu juga tersembunyi Deprivation Sensitivity, dorongan yang muncul karena ketidaknyamanan tidak mengetahui sesuatu. Bagi Feynman, ketidaktahuan adalah penderitaan kecil yang hanya bisa diobati dengan penemuan.
Feynman juga menunjukkan bentuk Social Curiosity. Ia suka berbincang, mendengarkan cerita orang biasa, bermain drum di bar Brasil, atau menggambar model di kelas seni.
Ia ingin tahu bagaimana orang lain merasakan hidup.
Dalam surat-suratnya ia sering menyebut, “Manusia menarik karena mereka tidak dapat diprediksi, dan itulah sebabnya mereka menyenangkan untuk dipelajari.”
Di sisi lain, ia juga sedikit Thrill Seeker. Ia pernah memanjat menara air hanya untuk melihat apakah angin di atas terasa berbeda, atau menolak protokol Nobel karena tak mau berjalan mundur di hadapan Raja Swedia. “Saya tidak suka upacara,” katanya, “saya hanya ingin tahu bagaimana rasanya berada di sana.”
Pada akhirnya, kombinasi semua dimensi ini menjadikan Feynman bukan sekadar ilmuwan besar, melainkan archetype dari manusia yang digerakkan oleh rasa ingin tahu sejati.
Ia belajar bukan untuk menjawab, melainkan untuk mempertanyakan. Ia bekerja bukan untuk menemukan kebenaran mutlak, tetapi untuk menikmati proses mendekatinya.
Feynman meninggal pada 1988 dengan kalimat terakhir yang khas: “I’d hate to die twice. It’s so boring.”
Kalimat itu terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya adalah pernyataan hidup seorang penjelajah ide: bahkan kematian pun baginya adalah misteri yang layak dihadapi dengan rasa ingin tahu.
Richard Feynman membuktikan bahwa curiosity bukan sifat sampingan dari kecerdasan, melainkan sumbernya.
Ia menunjukkan bahwa memahami dunia tidak berarti menyingkap semua rahasia, tetapi menikmati perjalanan menyingkapnya sedikit demi sedikit. Seperti piring goyah yang terus berputar, dunia akan selalu tampak ajaib — selama kita cukup penasaran untuk terus memperhatikannya.
Penulis: Edhy Aruman