Senin, 27 Oktober 2025

Meniti rasa letih

Pada suatu hari nanti,

Jasadku tak akan ada lagi,

Tinggal dalam bait-bait  ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri. Ada keyakinan, aku akan menemanimu.

Pada suatu hari nanti,

Suaraku dan teksku tak ada lagi,

Tapi tersisa dalam larik-larik teks yg juga akan menghilang.

Kau akan tetap kusayang,

Pada suatu hari nanti,

Impianku pun tak dikenal lagi,

Namun di sela-sela huruf sajak ini,

Aku tak akan letih-letihnya mencarimu..

Rica



Rica adalah gadis kecil berusia dua belas tahun dari Desa Tebing Rambutan, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Bengkulu. 

Di balik wajahnya yang lembut dan senyum cerianya, tersimpan kisah yang menggugah hati banyak orang. 

Sejak ayahnya lumpuh empat tahun lalu, Rica menjalani kehidupan yang jauh lebih berat dari anak-anak seusianya. 

Ia berhenti sekolah bukan karena tidak ingin belajar, tetapi karena harus merawat ayahnya yang terbaring lemah dan tak berdaya.

Namun, berbeda dari bayangan tentang anak yang putus sekolah karena kemiskinan, Rica tetap menjalani harinya dengan semangat yang luar biasa. Ia dikenal sebagai anak yang periang, selalu tersenyum dan menyapa siapa pun yang datang ke rumah mereka. 

“Rica itu ceria, nggak pernah murung,” kata salah satu warga. “Dia suka nyanyi waktu nyapu rumah, sambil ngurus ayahnya. Kadang malah bikin orang yang datang ikut tertawa.”

Setiap pagi, Rica bangun sebelum matahari terbit. Ia menyiapkan air untuk ayahnya, membersihkan tubuh sang ayah yang sudah tak bisa bergerak, lalu memastikan ada makanan, meski sekadar nasi dan garam. “Saya bantu Bapak dulu, baru nanti beresin rumah,” katanya pelan. 

Ia tidak pernah mengeluh, meskipun hidupnya penuh keterbatasan. “Bapak nggak bisa jalan. Jadi Rica yang jagain,” tambahnya, dengan suara yang lembut tapi pasti.

Ayahnya, pria tua dengan tubuh kurus dan kulit legam, memandang anaknya dengan mata berkaca-kaca. “Rica anak baik. Sejak saya sakit, dia yang rawat saya. Anak lain semua sudah punya urusan masing-masing. Tapi dia nggak pernah pergi,” ucapnya lirih, diselingi senyum tipis yang penuh bangga dan haru.

Ketika kisahnya viral di media sosial, banyak orang tak kuasa menahan air mata. 

Dalam video yang beredar, terlihat Rica duduk di antara beberapa orang dewasa, termasuk Bupati Kaur, Gusril Pausi, yang datang langsung ke rumahnya pada Ahad, 26 Oktober 2025. Suasana haru menyelimuti ruang kecil berdinding bata itu. Rica duduk bersila di atas tikar lusuh, berhadapan dengan sang bupati.

Percakapan mereka sederhana, tapi begitu menyentuh.

“Kalo, ini kelas 6, Pak,” kata seseorang yang mendampingi.

“Kelas 6,” jawab Gusril sambil menatap Rica penuh perhatian. “Berarti waktu kamu umur delapan tahun, Bapak masih sehat ya?”

Rica menunduk sejenak, lalu menggeleng pelan. “Iya, waktu itu Bapak udah sakit juga.”

“Jadi siapa yang rawat Bapak?” tanya sang Bupati lagi.

“Tidak ada,” jawab Rica lirih. 

Ibu kemana? “Entah kemana. Nggak ada…”

Suasana menjadi hening. Ayah Rica yang duduk di sampingnya hanya terdiam, air matanya menetes perlahan. Beberapa kali Rica melirik ke arah ayahnya, seolah ingin menenangkan. “Yang di kebun kakak saya, Pak. Kakak cowok,” katanya melanjutkan. “Tapi dia kerja di kebun, nggak di rumah.”

Bupati mengangguk perlahan, lalu menatap ayah Rica. “Berarti anaknya enam ya, Pak?”

Ayahnya tersenyum lemah. “Enam, Pak. Tapi yang di kebun itu, kadang datang, kadang nggak. Ya… ini anak yang paling kecil, tapi dia yang paling rajin.”

Suasana menjadi semakin mengharukan ketika sang Bupati berkata, “Mudah-mudahan seperti ini sehat terus ya, Pak. Biasanya orang yang rajin ngurus orang tuanya, nanti hidupnya sukses.”

Rica menatap sang Bupati dengan mata yang berbinar, lalu menjawab lirih, “Amin.”

Percakapan itu mungkin sederhana, tapi mengandung makna yang dalam. Ia bukan sekadar tanya-jawab tentang kehidupan, melainkan potret nyata ketulusan dan kasih seorang anak kecil kepada orang tuanya.

“Saya pengen sekolah lagi, Pak,” kata Rica kemudian. “Tapi nanti kalau saya sekolah, siapa yang jaga Bapak?”

Bupati menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tenang, Rica. Pemerintah akan bantu. Nanti ada yang bantu jagain Bapakmu, kamu tetap harus sekolah. Anak sekuat kamu harus punya masa depan yang baik.”

Hari itu, pemerintah daerah bersama Baznas membawa bantuan: sembako, uang tunai, dan janji untuk memulihkan hak Rica sebagai anak yang berhak mendapatkan pendidikan. Namun lebih dari semua itu, kunjungan tersebut membawa harapan baru.

Sejak hari itu, Rica tak lagi sendiri dalam perjuangannya. Ia masih merawat ayahnya dengan penuh cinta, tapi kini dengan semangat baru, karena ia tahu, ada banyak orang yang peduli. “Saya janji mau sekolah rajin,” katanya sambil menatap ayahnya. “Biar nanti bisa kerja, bantu Bapak.”

Ayahnya tersenyum dan menepuk tangan kecil putrinya. “Bapak doain kamu jadi orang sukses, Nak. Jangan pernah berhenti senyum, karena itu yang bikin rumah ini tetap hangat.”

Kini, setiap pagi, senyum Rica kembali menyala. Ia masih menjalani rutinitasnya: merawat ayah, menyapu halaman, lalu mempersiapkan diri untuk kembali ke sekolah. 

Tapi kali ini, langkahnya lebih ringan. Ia tidak hanya membawa beban tanggung jawab, tapi juga harapan, bahwa masa depan masih menunggunya, dan cinta yang ia tanam hari ini akan tumbuh menjadi kekuatan yang tak akan pernah padam.

Rica bukan hanya gadis kecil dari pelosok Bengkulu. Ia adalah simbol ketulusan, keteguhan, dan kasih yang tak terukur. Dari rumah sederhana berdinding bata itu, lahirlah inspirasi tentang makna pengorbanan, cinta tanpa syarat, dan keyakinan bahwa secercah kebaikan dapat mengubah segalanya. 

Rica adalah kekuatan cinta dan ketulusan seorang anak kecil yang tak menyerah pada hidup. Ia membuktikan bahwa kasih dan tanggung jawab bisa tumbuh dari hati paling sederhana, menjadikan kesulitan bukan alasan berhenti, melainkan alasan untuk terus berjuang. 

Penulis: Edhy Aruman

Kamis, 23 Oktober 2025

Saladin

 


Dalam sejarah panjang manusia, sedikit sekali pemimpin yang dikenang bukan karena kekuatannya menaklukkan dunia, melainkan karena kelembutan hatinya dalam mengangkat martabat manusia. 

Salah satunya adalah Ṣalāḥ ad-Dīn Yūsuf ibn Ayyūb, Sultan Saladin.

Di tengahan abad ke-12 yang bergolak, di mana perang dan ambisi menjadi bahasa dunia, Saladin muncul membawa pesan yang lebih tinggi: bahwa kekuasaan tanpa kasih hanyalah kekosongan.

Lahir di Tikrit, Irak, pada tahun 1137, Saladin berasal dari keluarga Kurdi sederhana. Sejak kecil, ia dikenal pemalu dan lebih mencintai ilmu daripada peperangan. Ia menggemari pelajaran tafsir, sejarah, dan ilmu hukum. 

Namun di balik ketenangannya, tersimpan tekad yang besar untuk mempersatukan dunia Islam yang tercerai-berai. 

Di bawah bimbingan Nuruddin Zangi di Damaskus, Saladin belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya di medan perang, tetapi juga dalam keadilan dan kebijaksanaan.

Nuruddin Zangi adalah penguasa saleh dan adil dari Dinasti Zengid, yang memerintah Suriah dan Damaskus pada abad ke-12. Ia menjadi guru politik dan spiritual bagi Saladin, yang pertama kali bertemu dengannya saat keluarganya pindah ke Damaskus. 

Di bawah bimbingan Nuruddin, Saladin belajar kepemimpinan dan keadilan, lalu dikirim ke Mesir bersama pamannya, Shirkuh. Dari sinilah, Saladin tumbuh menjadi pemimpin besar yang melanjutkan cita-cita gurunya: mempersatukan umat dan menegakkan kedamaian.

Ketika ia dipercaya menjadi penguasa Mesir, dunia seakan menantangnya. Negeri itu hancur oleh perebutan kekuasaan dan kemerosotan moral. 

Namun Saladin membangun kembali dengan sabar, menata pemerintahan, menghapus korupsi, memperkuat pendidikan, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Ia menolak kemewahan istana. 

Ibn Shaddād, sahabat sekaligus juru catatnya, menulis bahwa Saladin hanya memiliki satu mantel sederhana yang terus ia pakai hingga lusuh. Ketika pelayan istana menyiapkan hidangan lezat, Saladin menegur: “Bagaimana aku bisa makan dengan nikmat sementara rakyatku lapar?”

Namun kisah yang membuatnya abadi, lahir pada tahun 1187, ketika ia memimpin pembebasan Yerusalem. Setelah kemenangan di Bukit Hattin, pasukan Saladin mengepung kota suci itu yang selama hampir satu abad berada di tangan pasukan Eropa. 

Banyak yang mengira Saladin akan membalas dendam atas tragedi pembantaian umat Islam tahun 1099. 

Tetapi, begitu Yerusalem jatuh, Saladin menolak kekerasan. Ia melarang pasukannya menyentuh penduduk sipil dan memerintahkan agar rumah ibadah tetap dijaga. Lonceng gereja tetap boleh berdentang. 

Bahkan, menurut catatan Phillips (2019), Saladin menebus banyak tawanan yang tak mampu membayar kebebasannya dengan uang pribadinya. Seorang biarawati tua yang tak berdaya datang memohon pembebasan anaknya, Saladin menunduk, menangis, dan berkata lembut: “Aku tidak bisa menolak air mata seorang ibu.”

Sikapnya yang penuh kasih ini mengguncang dunia. Raja Richard dari Inggris, yang memimpin pasukan besar dalam perang berikutnya, mengakui kebesaran jiwa Saladin. 

Dalam suatu masa gencatan senjata, ketika Richard jatuh sakit, Saladin mengirimkan tabib terbaiknya dan dua ekor kuda istana untuk membantu sang raja pulih. Ia juga mengirim buah-buahan segar dari Suriah dan air dari pegunungan Libanon. 

Hubungan mereka melampaui perang, dua ksatria yang saling menghormati di tengah pertempuran.

Dari kisah-kisah seperti inilah, legenda Saladin bertumbuh. Di Barat, bahkan para sejarawan yang dulu memandangnya sebagai musuh mulai mengaguminya. 

Humphreys (1977) menulis, Saladin adalah pemimpin yang memahami seni pemerintahan lebih baik daripada banyak penguasa sezamannya. Ia menaklukkan bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun kembali. 

Sementara di Timur, ia menjadi lambang persatuan dan keadilan. Dalam doa, dalam sastra, dalam legenda, nama Saladin menjadi sinonim dari kebesaran jiwa.

Menjelang akhir hayatnya di Damaskus pada tahun 1193, Saladin jatuh sakit. Di saat itu, ia tetap memerintahkan agar hartanya dibagikan kepada fakir miskin. Ketika wafat, harta yang tersisa di istana tak cukup untuk membiayai pemakamannya. 

Ibn Shaddād mencatat dengan getir, “Sultan yang pernah memiliki kerajaan seluas langit, kini tak memiliki apa-apa kecuali kain kafan dan doa rakyatnya.” Di atas makamnya yang sederhana di Damaskus, tertulis sebuah pesan: “Tidak ada yang kekal kecuali amal dan keadilan.”

Warisan Saladin bukan sekadar sejarah peperangan, melainkan pelajaran abadi tentang kemanusiaan. Ia mengajarkan bahwa kejayaan tidak diukur dari berapa banyak musuh dikalahkan, tetapi dari berapa banyak hati yang dimenangkan. 

Dalam dunia modern yang sering terpecah oleh kepentingan, kisah Saladin menjadi cahaya yang menuntun, bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin lahir dari kelembutan, kejujuran, dan kasih sayang.

Berabad-abad telah berlalu, namun namanya tetap bergema, dari Damaskus hingga Kairo, dari London hingga Istanbul. Di setiap masa, selalu ada orang yang berkata: “Andai dunia ini memiliki lebih banyak Saladin, mungkin perdamaian bukan lagi impian.” 

Penulis: Edhy Aruman

Rabu, 22 Oktober 2025

Because You ...

 


Suatu malam, saya membuka Netflix. Tanpa berpikir panjang, karena hari Rabu, saya memilih film yang direkomendasikan di halaman utama: “Because you watched First Lady” — atau “Because you watched Romantics Anonymous.” 

Rabu adalah hari episode baru bagi serial _First Lady_. Film itu ternyata pas sekali dengan suasana hati saya. 

Ceritanya lembut, meski politis, romantis meski terkadang getir, menghadirkan dilema antara cinta dan kekuasaan yang begitu manusiawi, dan penuh refleksi, seolah Netflix benar-benar tahu apa yang saya butuhkan malam itu.

Hal serupa terjadi ketika Anda membuka Amazon. Setelah membeli smartphone baru, toko digital itu langsung menyarankan casing, earphone, dan pelindung layar. 

Tapi kini, ada sesuatu yang berbeda: Amazon menjelaskan _mengapa_ rekomendasi itu muncul lewat fitur “Why Recommended.”

Anda diberi tahu bahwa produk itu disarankan karena pengguna lain dengan selera serupa juga membelinya, atau karena barang itu melengkapi pembelian Anda sebelumnya.

Dua raksasa digital ini — Netflix dan Amazon — sedang menunjukkan arah baru dalam evolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). 

Mereka tidak hanya ingin AI menjadi pintar, tapi juga dapat menjelaskan dirinya sendiri. Inilah dunia baru bernama Explainable Artificial Intelligence (XAI) — kecerdasan buatan yang tidak hanya tahu, tapi juga bisa menjelaskan, mengapa ia tahu.

Selama ini, sistem AI bekerja seperti kotak hitam, menghasilkan keputusan yang akurat, tapi sulit dimengerti. AI tahu apa yang kita inginkan, tapi tak bisa menjelaskan alasannya. 

Dalam konteks bisnis digital, hal ini menjadi masalah besar. Tanpa penjelasan, rekomendasi terasa misterius, bahkan mencurigakan.

Bayangkan jika sistem pinjaman online menolak aplikasi Anda tanpa alasan yang jelas. Atau jika rekomendasi produk terasa terlalu personal, hingga menimbulkan rasa “diawasi.” Tanpa transparansi, keajaiban AI bisa berubah menjadi sumber kecemasan.

Itulah mengapa Explainable AI menjadi kunci. XAI berusaha mengubah AI dari sistem tertutup menjadi sistem yang terbuka dan dapat dipahami. Ia memberikan ruang bagi pengguna untuk bertanya dan bagi mesin untuk menjawab dengan jujur.

Dalam dunia e-commerce, kepercayaan adalah aset paling berharga. Menurut Loveleen Gaur dan Ajith Abraham dalam buku Role of Explainable Artificial Intelligence in E-Commerce (Springer, 2024), XAI berperan penting dalam membangun hubungan emosional antara konsumen dan platform digital.

Netflix dan Amazon mempraktikkan hal ini dengan cerdas. Label seperti “Because you watched…” atau “Why Recommended”_  bukan hanya fitur keren, tetapi strategi komunikasi yang memperkuat rasa percaya. 

Pengguna merasa dilibatkan, bukan dimanipulasi. Mereka paham mengapa sistem membuat rekomendasi tertentu, dan itu membuat mereka lebih nyaman dan loyal.

Penelitian dalam buku tersebut bahkan menunjukkan bahwa kejelasan penjelasan rekomendasi meningkatkan kepuasan pengguna dan waktu interaksi hingga 30%. Dengan kata lain, ketika AI jujur, manusia lebih terlibat.

Sekarang, bayangkan Anda memesan kopi lewat aplikasi Starbucks. Chatbot menyapa dan merekomendasikan minuman baru: “Bagaimana dengan Vanilla Sweet Cream Cold Brew? Berdasarkan pesanan Anda minggu lalu, ini mungkin cocok dengan selera Anda.”

Atau ketika chatbot Sephora menyarankan lipstik tertentu dan menjelaskan alasannya: “Warna ini sesuai dengan tone kulit Anda dan sedang tren di musim ini.”

Inilah kekuatan XAI dalam dunia layanan pelanggan chatbot yang bukan sekadar menjawab, tapi juga menjelaskan alasan di balik jawabannya.

Perusahaan seperti Starbucks, H&M, Sephora, dan Bank of America telah menggunakan chatbot berbasis XAI untuk menciptakan pengalaman digital yang lebih manusiawi. Chatbot seperti ini tidak lagi terasa seperti mesin, tapi seperti asisten pribadi yang memahami dan menghargai penggunanya.


Etika dan Keadilan di Balik Algoritma

Namun, di balik pesona kecerdasan buatan, tersimpan tantangan besar: keadilan dan etika algoritma.

Dalam dunia finansial, AI sering digunakan untuk menilai kelayakan pinjaman. Tapi bagaimana jika data pelatihan mengandung bias terhadap kelompok tertentu? Tanpa penjelasan, sistem bisa saja memperkuat ketidakadilan sosial tanpa disadari.

Di sinilah XAI berperan penting. Melalui metode seperti SHAP dan LIME, perusahaan dapat menelusuri alasan di balik keputusan algoritmik  memastikan bahwa model tidak diskriminatif dan sesuai regulasi seperti GDPR di Eropa. Dengan XAI, keadilan menjadi sesuatu yang bisa diukur dan dijelaskan.

Perjalanan menuju AI yang transparan memang tidak mudah. Terlalu banyak penjelasan bisa membingungkan, terlalu sedikit bisa menimbulkan curiga. Selain itu, keterbukaan sering berbenturan dengan privasi dan rahasia bisnis. Namun, arah masa depan sudah jelas: AI tidak cukup hanya cerdas ia juga harus dapat dipercaya.

E-commerce kini memasuki era baru. Dari algoritma yang tak terlihat, kita menuju sistem yang bisa berbicara dengan jujur dan terbuka. Netflix dan Amazon telah membuktikan bahwa transparansi adalah bentuk tertinggi dari inovasi.

Seperti yang dikatakan Loveleen Gaur, “Explainability is not about simplifying AI, but about amplifying human understanding.

Di masa depan, mungkin AI bukan hanya tahu apa yang kita inginkan, tapi juga bisa menjelaskan dengan lembut mengapa  dan di situlah kecerdasan sejatinya bermula.

Penulis: Edy Aruman

RUJUKAN

Chaudhary, M., Gaur, L., Singh, G., & Afaq, A. (2024). Introduction to Explainable AI (XAI) in E-Commerce. In L. Gaur & A. Abraham (Eds.), _Role of Explainable Artificial Intelligence in E-Commerce_ (pp. 1–15). Springer Nature Switzerland. https://doi.org/10.1007/978-3-031-55615-9_1

Satu Persen


Darren Hardy adalah produk nyata dari prinsip yang ia tulis dalam bukunya The Compound Effect.

Ia bukan hanya seorang penulis atau motivator, melainkan bukti hidup bahwa disiplin kecil yang dijalankan secara konsisten dapat melahirkan kesuksesan besar. 

Sejak muda, ia sudah menunjukkan bagaimana kebiasaan kecil membentuk hasil luar biasa. Pada usia delapan belas tahun, ia sudah memiliki penghasilan enam digit. 

Di usia dua puluh empat, ia menghasilkan lebih dari satu juta dolar per tahun, dan pada usia dua puluh tujuh, ia memimpin perusahaan dengan pendapatan lebih dari lima puluh juta dolar per tahun. 

Hardy menegaskan bahwa kesuksesan luar biasa ini bukan karena kecerdasan luar biasa atau peluang besar, melainkan karena komitmennya untuk hidup sepenuhnya sesuai dengan prinsip compound effect — bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten akan menumpuk menjadi hasil besar.

Kedisiplinan ini sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil, berkat sosok ayahnya yang merupakan mantan pelatih sepak bola universitas. 

Ayahnya menjadi mentor pertama yang mengajarkan arti kerja keras melalui teladan. Setiap pagi jam enam, bukan suara lembut yang membangunkan Hardy, melainkan dentuman besi yang menghantam lantai beton di garasi, tempat ayahnya berolahraga setiap hari tanpa absen, dalam kondisi hujan, salju, atau panas. 

Filosofi sang ayah sederhana: “Tidak peduli seberapa pintar kamu, kamu harus menebus kekurangan pengalaman atau kemampuan dengan kerja keras.”

Bahkan, ada aturan keras: mereka tidak boleh pulang dari sekolah karena sakit kecuali jika mereka “muntah, berdarah, atau menunjukkan tulang.” 

Disiplin keras inilah yang membentuk Hardy menjadi pribadi yang tangguh dan tekun —pondasi utama kesuksesannya di kemudian hari.

Salah satu analogi paling terkenal dari Hardy adalah “Magic Penny” — koin ajaib yang melambangkan kekuatan pertumbuhan kecil yang konsisten. Ia memberi pilihan imajiner: apakah Anda lebih memilih $3 juta tunai sekarang, atau satu sen yang nilainya berlipat ganda setiap hari selama 31 hari? 

Hampir semua orang akan memilih uang tunai instan, padahal di hari ke-31, satu sen yang terus berlipat ganda akan bernilai lebih dari $10,7 juta — tiga kali lipat dari pilihan pertama. Analogi ini menggambarkan bagaimana hasil luar biasa sering kali datang terlambat; mereka tumbuh perlahan, tidak terlihat, sampai akhirnya meledak menjadi sesuatu yang besar.

Hardy mengilustrasikan prinsip ini dengan kisah tiga sahabat: Larry, Scott, dan Brad. 

Ketiganya memulai hidup dengan kondisi serupa dalam hal kesehatan, keuangan, dan karier. Larry menjalani hidup tanpa perubahan, Scott membuat perubahan kecil positif — membaca 10 halaman buku setiap hari, mendengarkan audio inspiratif, mengurangi 125 kalori dari makanannya, dan berjalan sedikit lebih jauh. 

Sementara Brad mengambil kebiasaan negatif kecil — menonton lebih banyak TV, mencoba resep berkalori tinggi, dan menambah satu minuman beralkohol setiap minggu. 

Dalam lima hingga sepuluh bulan, perbedaan di antara mereka hampir tak terlihat. Namun, setelah 31 bulan, perbedaannya mencengangkan: Scott lebih sehat, lebih kaya, dan lebih bahagia, sementara Brad kelebihan berat badan, tidak bahagia, dan pernikahannya berantakan. 

Hardy menegaskan bahwa tidak ada keajaiban di sini — hanya kekuatan dari tindakan kecil yang konsisten.

Namun, compound effect juga bekerja sebaliknya. Satu kebiasaan buruk bisa menciptakan efek riak negatif yang meluas ke seluruh aspek kehidupan. 

Hardy memberi contoh Brad yang sering memakan muffin dan manisan berkalori tinggi. Kebiasaan kecil itu membuatnya lesu, lalu malas berolahraga, mulai mengabaikan istrinya, hingga akhirnya rumah tangganya retak. 

Semua itu bermula dari pilihan kecil yang salah. Ini adalah pengingat bahwa setiap keputusan kecil membawa konsekuensi — baik atau buruk — yang bisa mengubah arah hidup seseorang.

Kisah Hardy tidak berhenti di bidang profesional. Dalam kehidupannya sendiri, ia menerapkan prinsip ini untuk memperbaiki pernikahannya melalui Thanks Giving Journal — jurnal rasa syukur yang ia tulis setiap hari selama satu tahun, mencatat satu hal yang ia hargai dari istrinya. 

Meskipun hadiah itu menyentuh hati sang istri, orang yang paling berubah justru Hardy sendiri. Fokusnya bergeser dari kekurangan menuju keindahan kecil dalam hubungan mereka. 

Perubahan kecil dalam cara berpikir itu menciptakan efek domino dalam pernikahannya — bukti nyata bahwa kekuatan 1% berlaku bahkan dalam cinta dan kehidupan pribadi.

Prinsip ini juga terbukti dalam kisah Kathleen, asistennya yang awalnya bergaji $40.000 dan merasa mustahil menabung 10%. Hardy menantangnya memulai dengan 1% — hanya $33 per bulan. 

Dengan menyesuaikan kebiasaan kecil, seperti membawa bekal makan siang dan memotong langganan TV kabel, ia perlahan meningkatkan tabungannya hingga mencapai 10%. 

Dari sana, ia mulai berinvestasi, memperoleh komisi, dan akhirnya menjadi jutawan. 

Begitu pula dengan Beverly, seorang CEO yang memulai perjalanan kebugarannya dengan hanya berjalan satu mil beberapa kali seminggu. Dalam sembilan bulan, ia berlari sejauh 13,5 mil, kehilangan 40 pon, menggandakan performa kerjanya, dan memperbaiki hubungan keluarganya.

Kisah-kisah ini adalah bukti hidup bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh keberuntungan, kecerdasan, atau kesempatan besar, melainkan oleh tindakan kecil yang dilakukan dengan konsisten setiap hari. 

Sama seperti pertumbuhan harga emas yang berfluktuasi karena faktor eksternal, nilai diri kita pun naik-turun tergantung pada “investasi kecil” yang kita lakukan setiap hari — waktu, energi, kebiasaan, dan fokus. 

Dalam jangka pendek, perubahan 1% tampak tidak berarti. Namun dalam jangka panjang, efek majemuknya dapat mengubah hidup sepenuhnya.

Darren Hardy mengajarkan bahwa menjadi 1% lebih baik setiap hari adalah jalan menuju transformasi sejati. Tidak ada rahasia besar, tidak ada jalan pintas. Hanya konsistensi, disiplin, dan kesabaran — tiga elemen sederhana yang bila diterapkan, dapat membuat hidup Anda luar biasa. 

Karena pada akhirnya, seperti yang Hardy buktikan, keajaiban bukan datang dari perubahan besar, melainkan dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran setiap hari. 

Penulis: Edhy Aruman

Selasa, 21 Oktober 2025

Emas

Selepas Isya tadi, anak laki-laki saya mengirimkan sebuah grafik di ponsel. “Market gold di analisis mencapai top, Yah,” tulisnya singkat. 

Grafik itu memperlihatkan tren harga emas yang menanjak tajam dalam beberapa pekan terakhir, garis yang melesat ke atas seolah menembus langit, setelah perjalanan panjang yang penuh naik-turun selama bertahun-tahun. 

Saya bukan investor, tapi grafik itu memancing rasa ingin tahu dan perenungan dalam diri saya. Mengapa manusia, sejak ribuan tahun lalu, begitu terpesona oleh emas? Apa yang membuat logam ini tidak hanya berharga di pasar, tapi juga di hati manusia?

Saya menatap grafik itu bukan sebagai laporan ekonomi, tetapi sebagai cermin kehidupan. Perjalanan emas dalam grafik itu terasa seperti perjalanan manusia itu sendiri, penuh fase jatuh dan bangkit, penuh waktu diam di lembah sebelum akhirnya menemukan momentum untuk naik lagi. 

Ada masa-masa ketika nilainya stagnan, lalu tiba-tiba melonjak, seperti seseorang yang akhirnya menemukan jati dirinya setelah bertahun-tahun berjuang dalam diam.

Emas memang istimewa. Ia tidak berkarat, tidak pudar, tidak bisa dihancurkan oleh waktu. Di setiap peradaban, dari Mesir kuno hingga dunia modern, emas selalu menjadi simbol kemurnian, kekuatan, dan keindahan yang abadi. 

Tapi bagi saya, emas melambangkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar benda berharga — ia adalah metafora tentang ketekunan dan nilai sejati.

Saya teringat sebuah dokumenter yang dirilis oleh World Gold Council berjudul Elton John – Touched by Gold. Dalam video yang sekarang masih bisa ditonton di X  https://x.com/i/status/1968208024738336791 itu, Elton John bercerita tentang bagaimana emas telah menjadi bagian dari hidupnya, bukan hanya sebagai ornamen di atas panggung, tetapi juga sebagai simbol dari perjalanan batin seorang seniman. 

Ia menyebut emas sebagai sesuatu yang “timeless”, abadi. 

Emas, katanya, adalah pengingat betapa indahnya sesuatu yang sederhana bisa terlihat jika kita memberi waktu dan perhatian. Bagi Elton John, emas adalah refleksi dari dirinya sendiri — penuh cahaya, tapi juga hasil dari kerja keras dan proses panjang.

Pernyataan itu membuat saya berpikir: mungkin setiap orang memiliki “emasnya” masing-masing. Sesuatu yang mereka rawat, mereka perjuangkan, dan mereka jaga agar tetap bersinar di tengah kerasnya hidup. 

Bagi sebagian orang, “emas” itu bisa berupa keluarga yang mereka bangun dengan sabar. 

Bagi yang lain, mungkin pekerjaan, karya, atau nilai-nilai yang mereka pegang teguh. Dalam dunia yang sering memuja hasil instan, emas mengajarkan kita arti dari kesabaran. Ia tidak diciptakan dalam semalam — ia ditempa dari panas, tekanan, dan waktu.

Yang menarik, emas juga punya dua wajah. Ia bisa sederhana, tapi juga luar biasa. Ia bisa jadi cincin kecil di jari seseorang yang penuh makna, tapi juga bisa menjadi mahkota raja yang melambangkan kekuasaan. Sama seperti manusia — kita pun punya fleksibilitas untuk menjadi siapa saja, tergantung bagaimana kita membentuk diri kita sendiri. 

Di tangan yang sabar dan tekun, emas menjadi karya seni. Dalam hidup yang dijalani dengan kesadaran dan kasih, manusia pun bisa menjadi sesuatu yang berharga.

Mungkin karena itu emas selalu menarik hati manusia. Bukan karena ia bersinar lebih terang, tetapi karena ia adalah simbol dari hal-hal yang tidak bisa dibeli: ketulusan, kesetiaan, dan nilai yang bertahan meski dunia berubah. 

Ketika orang menambang emas, mereka harus menggali dalam, melewati batu, lumpur, dan tanah — barulah ditemukan butiran kecil yang bersinar. 

Begitu pula dengan diri kita. Kita pun perlu menggali lebih dalam untuk menemukan “emas” di dalam hati — sisi terbaik dari diri kita yang kadang tertutup oleh kesibukan, ketakutan, atau kelelahan hidup.

Jadi ketika saya melihat grafik emas yang mencapai puncak, saya tidak berpikir tentang harga atau pasar. Saya berpikir tentang proses panjang di balik setiap kilau itu. Tentang kesabaran bumi yang menyimpan logam itu selama jutaan tahun, tentang tangan-tangan yang bekerja untuk menambangnya, tentang nilai yang tumbuh bukan karena uang, tapi karena makna.

Emas mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru. Bahwa keindahan sejati tidak datang dari hasil instan, tetapi dari proses panjang yang dijalani dengan kesetiaan dan cinta. 

Ia mengingatkan kita bahwa nilai tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita punya, tetapi seberapa dalam kita menghargai sesuatu.

Maka, ketika anak saya berkata “market gold di analisis mencapai top,” saya hanya bisa  tersenyum. Mungkin iya, harga emas sedang di puncak. 

Tapi bagi saya, emas tidak pernah benar-benar punya titik tertinggi. Karena makna sejatinya bukan di grafik, melainkan di hati manusia — di tempat di mana nilai, kesabaran, dan keindahan hidup bertemu dan bersinar tanpa henti. 

Penulis: Edhy Aruman

Minggu, 19 Oktober 2025

Novel: Kabut Lembayung

P R O L O G

Jakarta, Awal Agustus 1949

Di sebuah rumah di daerah Matraman, Jakarta, kota yang dijadikan ibukota bagi negara yang baru empat tahun merdeka, tampak lebih ramai dari hari-hasi biasa. Hari itu, berkumpul sejumlah tokoh senior dan pemuda Indonesia. Satu-persatu datang dengan penuh kehati-hatian. Mereka punya misi  penting, karena sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti sebuah perundingan besar yang akan menentukan arah negeri yang baru merdeka ini.

Mereka yang hadir sadar, meski pada tanggal 7 Mei 1949, Republik Indonesia dan Belanda menyepakati beberapa hal dalam Perjanjian Roem Roijen, namun peperangan sporadis di sejumlah tempat di Indonesia belum mereda. Pasalnya, Belanda tetap ingin bercokol lagi di Indonesia.

Militer Belanda terus melakukan serangan-serangan untuk menguasai sejumlah kota-kota penting di Indonesia. Pimpinan militer Belanda terus berusaha meyakinkan pada dunia internasional, bahwa tindakan itu sebagai aksi polisional dan bukan seranga kemanusiaan, ataupun serangan pada negara lain.

Itu sebabnya, hingga awal Agustus 1949, empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan diumumkan, di Indonesia masih berkecamuk perang-perang di beberapa lokasi. Perlawanan rakyat, dan militer Indonesia yang semakin terorganisir dengan baik, memberikan kejutan pada militer Belanda yang dikirimkan. 

Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, telah membangkitkan perlawanan di kalangan rakyat dan jajaran militer Indonesia. Serangan ini, dapat membuktikan pada dunia intenasional bahwa Republik Indonesia masih ada. Militer dan rakyatnya, masih mampu memberikan perlawanan pada militer Belanda yang selalu saja mengklaim serangan itu sebagai tindakan aksi polisional.

Serangan itu pun, tampaknya akan dilakukan lagi pada awal Agustus 1949. Karena militer Belanda masih terus mencoba menguasai kota-kota penting di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Pada saat yang sama, sejumlah tokoh Indonesia, baik senior dan para pemuda yang mendapat pendidikan luar negeri, sedang berkumpul di sebuah tempat di Jakarta.

Mereka inilah yang dipersiapkan untuk menghadapi perundingan penentuan. Perundingan yang akan menentukan arah sejarah bangsa ini. Bung Hatta dan Bung Karno, sudah memperkirakan itu semua. Pada akhirnya nanti, Belanda akan terpaksa melakukan perundingan. Mereka mengenal dengan baik, kondisi ekonomi Belanda saat itu tidak akan mampu lagi membiayai peperangan di Indonesia. Itu hanya akan membawa perekonomian mereka akan semakin terpuruk.

Kecolongan di Yogyakarta, membuat Belanda tidak ingin terulang lagi. Itu sebabnya, mereka memperkuat pertahanan militer di kota-kota di Jawa yang berhasil mereka kuasai. Namun, tindakan ini malah memperhebat semangat perlawanan rakyat dan militer Indonesial. Keberhasilan di Yogyakarta pun, ingin diulang lagi di kota lain. Untuk memperlihatkan pada dunia bahwa Negara Republik Indonesia tetap eksis.

Tanpa diketahui dengan pasti kapan serangan itu akan dilakukan, yang jelas militer Belanda pun berusaha memperkuat benteng pertahananya di kota-kota yang sudah dikuasai. Mereka menyiapkan barisan militer dengan dukungan persenjataan yang lengkap. Kekuatan itu, dihabiskan sebagian besar di Yogyakarta dan Solo, yang mereka perkirakan akan menjadi pertaruhan terbesar Indonesia dan bagi muka mereka. Meski dalam hati prajurit-prajurit muda itu, mereka merasakan kegentaran dan amat kekhawatiran akan mendapatkan serangan seperti yang dilakukan di Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Meski mereka berhasil menguasai kembali keamanan Yogyakarta, namun tak urung mereka kehilangan banyak persenjataan dan personil. Sebuah kerugian besar yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat.

Itu sebabnya, ketika pagi-pagi pada tanggal 7 Agustus 1949, sepuluh hari menjelang hari kemerdekaan Indonesia yang keempat, militer Belanda kembali di kagetkan. Mereka memang sudah mempersiapkan diri terhadap kemungkinan serangan itu. Apalagi, menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Namun yang tak disangkat, ternyata serangan itu dilakukan di Surakarta. Kota yang diperkirakan tidak akan jadi pilihan serangan, karena mereka sudah memperlihatkan betapa persenjataan yang dipersiapkan untuk mempertahankan kota itu sangat lengkap.

Satu hal yang tak disangka, ternyata militer Indonesia didukung penuh oleh pejuang gerilya yang terdiri dari masyarakat dan pemuda setempat. Bagi Belanda, dukungan rakyat inilah, yang tidak ingin diharapkan terjadi. Mereka tahu, jumlah mereka memang besar, namun jika semua rakyat bergerak dalam satu komando, maka persenjataan lengkap yang dimiliki tidak akan ada artinya.

Apalagi, kalangan terdidik pun mulai ikut ambil bagian dengan membentuk Tentara Pelajar. Mereka inilah yang kemudian berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-markas militer Belanda di Solo dan sekitarnya.

Serang umum, sekali lagi menghancurkan arogansi militer Belanda. Mereka sudah mengkhawatirkan itu akan terjadi. Mereka sudah mempersiapdiri akan adanya serangan ini, namun serangan di Solo ini,  tampaknya mulai menyadarkan pimpinan militer Belanda. Bahwa, angin perubahan dunia sudah berhembus kearah yang berbeda. 

Mereka tidak akan mungkin memenangkan pertempuran dengan pengerahan kekuatan militer. Apalagi, Solo merupakan salah satu kota dengan pertahanan militer Belanda terkuat saat itu. Tangsi mereka berhasil dibobol dan dirampas. Padahal, perlawanan rakyat dan militer Indonesia yang bergerak bersama dalam satu komando itu, menggunakan peralatan jauh tertinggal dari yang mereka miliki. Perlawanan itu dipimpin Slamet Riyadi. 

Pertempuran di Solo itu pun berakhir pada tanggal 10 Agustus 1949. Posisi Belanda di mata dunia internasional semakin terpojok. Beruntung, Amerika Serikat yang sudah menekan Belanda, sedikit memberi muka pada Belanda. Memaksa Belanda untuk mau ke meja perundingan, dengan ancaman akan mencabut bantuan ekonominya.

Belanda pun tunduk, dan siap mau ke perundingan yang akan dilakukan di Den Haag. Apalagi, kondisi perekonomian dalam negerinya juga mulai goyang, setelah membiayai perang yang tidak mungkin dimenangkan. 

"Kalau secara militer kita tidak bisa menguasai lagi, paling tidak kita bisa mengalihkan hutang kita pada mereka," ujar salah satu pembesar di Belanda di Den Haag, menghibur para petinggi militer yang galau karena pasukannya kalah perang.

Sementara Ratu Belanda sendiri, tidak mendengar dengan bisikan itu. Ia hanya mengharapkan, kerajaannya bisa bangkit dari keterpurukan, dan menghentikan perang yang sudah menyedot dana dalam jumlah yang sangat besar.

Ternyata benar saja, ancaman itu pun terjadi saat perundingan Ronde Tofel Conferentie atau Konferensi Meja Bundar (KMB) di gelar di Den Haag. Semua delegasi Indonesia terkejut dengan prasyarat yang tidak dituliskan dalam nota perjanjian secara terbuka. Namun, mereka tahu, kesepakatan bawah tangan itu akan mengikat negeri yang baru merdeka ini.

Bung Hatta yang memimpin delegasi Indonesia di perundingan KMB itu, tampak tidak terkejut dengan permintaan bawah tangan itu. Ia dan Sukarno sudah menduga sebelumnya. Itu sebabnya, Hatta yang sudah sepakat dengan Bung Karno, mereka akan memainkan "tipu-tipu Melayu". Mereka pun sudah memilih tokoh-tokoh senior untuk menghadapi perundingan penentuan tersebut. Mereka dipilih bukan sekedar menggertak delegasi Belanda, tetapi mereka sebenarnya punya hubungan "khusus" dengan para delegasi itu. 

Hatta sadar betul, bahwa pihak delegasi Belanda pun dipilih karena tahu mereka punya hubungan "khusus" itu. Meskipun begitu, ia sadar perundingan yang diperkirakan akan alot dan penuh tipu muslihat. Disaat perekonomian sulit seperti saat itu, Belanda akan meminta kompensasi besar. Bahkan, mungkin hutang pembangunan untuk bangkit kembali yang diterima dari Amerika akan dibebankan pada Indonesia.

Bung Hatta pun mengajak sejumlah tokoh muda Indonesia yang mungkin bisa saja mengingatkan para senior. Terutama, atas ancaman yang bisa saja muncul dan tidak terlihat, karena para senior sedang sangat ingin menyelesaikan konflik yang sudah sangat melelahkan ini.

Delegasi Indonesia dalam KMB itu terdiri dari:

  • Ketua: Mohammad Hatta
  • Wakil Ketua: Mr. A.K. Pringgodigdo
  • Sekretaris: Prof. Dr. Soepomo
  • Anggota: Mohammad Roem; Dr. Johannes Leimena; Mr. Ali Sastroamidjojo; Ir. Juanda; Mr. Suyono Hadinoto; Dr. Sumitro Djojohadikusumo; Mr. Abdul Karim Pringgodigdo; Kolonel T.B. Simatupang; Dr. Muwardi

"Siapa yang diutus untuk berangkat Bung. Kita tidak mungkin berangkat ke Den Haag semua. Tapi, diantara kita memang harus ada yang pergi. Siapa orangnya Bung?" tanya Sumitro, seorang pemuda gagah, agak kurus namun punya kesan mendalam. 

Hatta ingat dengan pemuda ini. Orangtua Sumitro inilah yang dengan berani meminta tandatangan pada Sukarno untuk mendirikan bank yang akan menjadi pendukung perekonomian negara. Ia meminta legalitas itu, tepat setelah Sukarno selesai pidato di lapangan Ikada pada 19 September 1945. Penandatanganan itupun, di lakukan di salah satu gedung yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sana, di kompleks yang sekarang menjadi bagian dari Kementrian Keuangan. Bank itu dinamakan Bank Negara Indonesia 1946.

"Kita semua yang hadir disini, akan berangkat semua. Tapi ingat, ada kemungkinan mereka akan menekan kita. Apapun itu, kita harus mendapatkan pengakuan untuk merdeka dulu. Tuntutan dari mereka kita setujui aja dulu. Target kita pengakuan Indonesisa merdeka," ujar Bung Hatta.

Begitulah, Bung Hatta mengingatkan pada semua calon delegasi KMB sebelum berangkat ke Den Haag. KMB sendiri, digelar pada tanggal 23 Agustus - 2 November 1949, di Den Haag, Belanda. KMB ini merupakan perundingan antara Indonesia, Belanda, dan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) untuk menyelesaikan sengketa dan akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

Pengakuan kedaulatan itu sendiri, baru dilakukan pada 27 Desember 1949. Pengakuan secara resmi terjadi, ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. 

Bagi Belanda, mereka tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Pasalnya, jika itu dilakukan, maka sama saja mengakui tindakan yang mereka katakan sebagai politionele acties (aksi polisionil) pada tahun 1945-1949 sebagai tindakan ilegal.

--bersambung--

Minggu, 12 Oktober 2025

Harga Diri

Di sebuah ruangan sederhana, seorang pembicara berdiri di depan para siswa dengan selembar uang kertas $20 di tangannya. “Siapa yang mau uang ini?” tanyanya. 

Hampir semua tangan langsung terangkat. Tak ada yang ragu — semua tahu nilai dari uang itu. Dua puluh dolar tetap dua puluh dolar.

Lalu, sang pembicara menggenggam uang itu erat-erat, meremasnya hingga kusut dan lusuh. “Masih ada yang mau?” tanyanya lagi. 

Sekali lagi, tangan-tangan itu terangkat tanpa ragu. 

Ia tersenyum, kemudian menjatuhkan uang itu ke lantai, menginjaknya, menekannya hingga kotor. “Sekarang?” katanya sambil mengangkat uang yang sudah lecek dan bernoda. 

Dan tetap saja, seluruh ruangan ingin memilikinya. Karena meskipun uang itu telah diremas, diinjak, dan dikotori, nilainya tidak berubah — tetap $20.

Di situlah letak pelajarannya. Betapa pun kerasnya hidup memperlakukan kita — seberapa banyak kita jatuh, tersakiti, ditolak, atau gagal — nilai diri kita tidak pernah berkurang. 

Sama seperti uang kertas itu, kita bisa lelah, lusuh, atau bahkan rusak secara lahiriah, tapi nilai sejati di dalam diri kita tetap sama. 

Dunia mungkin membuat kita merasa tidak cukup baik. Kesalahan masa lalu mungkin membuat kita malu. Kegagalan bisa membuat kita merasa tak berharga. Namun, tidak satu pun dari itu benar-benar bisa mengurangi siapa kita sebenarnya.

Kita sering lupa bahwa nilai diri bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, melainkan sesuatu yang melekat di dalam diri sejak awal. Ia tidak tergantung pada pujian, jabatan, atau pengakuan. 

Ia tidak hilang hanya karena kita pernah membuat keputusan yang buruk atau menjalani masa sulit. Nilai itu tetap ada, bahkan ketika hidup tampak menghancurkan kita dari luar.

Pembicara itu menatap para siswa satu per satu dan berkata pelan, “Tak peduli apa yang telah terjadi, tak peduli apa yang akan terjadi, kamu tidak pernah kehilangan nilaimu. Kamu tidak pernah kehilangan harga dirimu.” 

Kalimat itu menggema di ruangan, tapi lebih dari itu, menggema di hati setiap orang yang mendengarnya. Karena kebenaran sederhana itu sering kali kita lupakan — bahwa kita selalu berharga, bahkan ketika dunia membuat kita merasa sebaliknya.

Hidup bisa keras. Ada masa ketika kita merasa remuk oleh tekanan, terinjak oleh kegagalan, dan kotor oleh kesalahan yang kita sesali. Tapi tidak satu pun dari itu menentukan nilai kita. Justru melalui luka-luka itulah kita menjadi manusia yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih penuh kasih. Seperti uang kertas yang lusuh tetapi tetap sah digunakan, begitu pula kita — penuh cerita, namun tetap berharga.

Demonstrasi sederhana dengan uang $20 itu bukan hanya tentang nilai mata uang, melainkan tentang nilai manusia. Ia mengingatkan bahwa meski dunia bisa membuat kita kusut, hidup bisa menekan kita hingga ke tanah, dan waktu bisa mengubah penampilan luar kita — nilai sejati tidak pernah berubah.

Nelson Mandela tahu rasanya menjadi uang yang diremukkan dunia. Dua puluh tujuh tahun hidup di balik jeruji besi — dipisahkan dari keluarga, dituduh sebagai musuh negara, dihina oleh bangsanya sendiri. 

Tapi ketika akhirnya bebas, Mandela tidak kehilangan nilai dirinya. Ia justru kembali dengan lebih besar dari sebelumnya — menjadi simbol perdamaian dan pengampunan. Dunia telah mencoba menghapusnya, tapi nilainya justru menjadi abadi.

Begitu pula dengan Steve Jobs. Ia dipecat dari Apple, perusahaan yang ia dirikan sendiri. Dunia melihatnya gagal. Tapi Jobs tahu, seperti uang dolar yang kusut, nilainya tidak hilang hanya karena bentuknya berubah. 

Ia bangkit, membangun NeXT dan Pixar, hingga akhirnya kembali ke Apple dan merevolusi dunia teknologi. 

Uang itu mungkin pernah terinjak, tapi nilainya justru meningkat karena perjalanan yang dilaluinya.

Oprah Winfrey juga pernah menjadi “uang yang kotor” di mata dunia. Masa kecilnya penuh luka — kemiskinan, pelecehan, dan rasa tidak berharga. Namun ia memilih untuk tidak membiarkan pengalaman itu menghapus nilai dirinya. 

Ia berkata, “You are worthy because you were born.”

Dari trauma yang dalam, ia membangun empati dan kekuatan yang menyentuh jutaan jiwa. Nilainya tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keberaniannya untuk sembuh dan menginspirasi.

Kisah serupa juga datang dari J.K. Rowling. Sebelum Harry Potter menjadi legenda, ia adalah ibu tunggal yang hidup dari tunjangan sosial, menulis di kafe sambil menidurkan anaknya. Berkali-kali ia ditolak penerbit. 

Dunia mungkin menginjaknya, tapi ia tidak menyerah. Ia tahu, seperti uang dolar yang lecek, nilainya tetap utuh. Dan kini, kisahnya menjadi bukti bahwa yang pernah dianggap tak berharga bisa mengubah dunia dengan imajinasi dan keteguhan hati.

Abraham Lincoln mengalami kegagalan demi kegagalan — kalah dalam pemilihan, kehilangan orang yang dicintai, dan bergulat dengan depresi. Namun ia terus berdiri. Dunia meremukkannya berkali-kali, tapi ia tak pernah kehilangan nilai. Pada akhirnya, dialah yang menyatukan bangsanya di masa paling kelam dalam sejarah Amerika.

Bahkan di era modern, Elon Musk memperlihatkan hal serupa. Ia pernah berada di titik di mana Tesla dan SpaceX hampir bangkrut bersamaan. Dunia menertawakannya, menyebutnya gila. Tapi Musk tetap percaya pada visinya.

Ia tahu nilai dirinya tidak ditentukan oleh opini orang lain, tapi oleh keyakinannya terhadap masa depan. Kini, orang yang dulu diremehkan itu memimpin dua perusahaan paling berpengaruh di dunia.

Setiap kisah itu adalah versi manusia dari uang kertas $20 yang diremukkan — lusuh, kotor, bahkan nyaris robek, tapi nilainya tetap sama. Kadang, justru karena luka dan perjalanan itulah nilai seseorang menjadi lebih besar.

Hidup mungkin tidak selalu adil. Ada masa ketika dunia menekan kita hingga terasa tak bernapas. Tapi nilai sejati manusia tidak bisa dihapus oleh kegagalan, kesalahan, atau pandangan orang lain. Nilai itu melekat — sejak lahir, dan tidak akan pernah pergi.

Maka ketika hidup mencoba meremukkanmu, ingatlah uang dolar itu. Mungkin kamu terlihat kusut di mata dunia, tapi nilaimu tidak berubah. Kamu tetap berharga. Karena seperti uang itu, tidak peduli seberapa keras hidup memperlakukanmu, nilai dirimu tidak pernah hilang. 

Penulis: Edhy Aruman

Sabtu, 11 Oktober 2025

Perlawanan Palestina Yang Mengubah Sejarah Dunia

Sore kemarin, seusai late lunch bersama dengan beberapa sahabat, saya menerima kabar dari salah satu diantara sahabat itu mengatakan bahwa Israel "menyerah". Mereka menarik pasukannya dari Gaza.

Langsung saya membuka peramban dan mencari informasi detailnya. Dari situs Aljazeera.com didapat informasi, Hamas telah mengumumkan tercapainya kesepakatan penghentian perang di Gaza: penarikan pasukan IDF, masuknya bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tahanan. Tak lama berselang, Donald Trump menulis di akun Truth Social miliknya, @realDonaldTrump, bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama rencana perdamaian.

Sebuah kabar menggembirakan, tetapi tetap saja di dalam hati ada keraguan. Seolah-olah ada yang melarang untuk tidak terburu-buru optimis. Jalan menuju perdamaian masih panjang dan berliku—apalagi dengan rekam jejak Israel yang sering mengingkari kesepakatan.

Taufan Al-Aqsa: Titik Balik Sejarah

Peristiwa Taufan Al-Aqsa, yang meletus pada 7 Oktober 2023, akan terus dibicarakan dari berbagai sudut pandang. Ada yang menulisnya kering, sekadar kronologi tanpa jiwa—padahal peristiwa itu masih hangat dan berdenyut di mata dunia. Ada pula yang melihatnya dari sudut hukum jihad, lalu dengan mudah menuduh rakyat dan pejuang Gaza sebagai kelompok sesat, khawarij, atau pencari kehancuran.

Kita lupa satu hal: cita-cita besar selalu menuntut pengorbanan besar. Mereka yang hanya menjadi penonton di balik layar, atau ulama pesanan penguasa yang menuding perlawanan sebagai kesalahan, seharusnya malu di hadapan sejarah. Mereka telah mati saat nurani dunia justru hidup kembali.

Serangan 7 Oktober bukan sekadar operasi militer yang berani dan berisiko tinggi. Ia menjadi titik balik kesadaran global tentang kolonialisme modern, keadilan, dan martabat manusia. Dalam hitungan jam, sistem pertahanan Israel yang selama ini dianggap tak tertembus, berhasil dilumpuhkan. Namun, harga yang dibayar Gaza sangat mahal: lebih dari 66.000 jiwa gugur, 168.000 tertimbun reruntuhan, dan seluruh wilayahnya hampir musnah dari peta kehidupan.

Dari kehancuran itu justru lahir gelombang solidaritas internasional terbesar sejak perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan. Taufan Al-Aqsa telah melampaui makna militer — ia menjadi badai moral yang mengguncang kesadaran dunia.

Perang Kesadaran Mengalahkan Perang Senjata

Selama puluhan tahun, narasi konflik Palestina dikendalikan oleh media dan kepentingan politik negara besar. Namun sejak 2023, arah itu berubah.
Demonstrasi pro-Palestina menggema di lebih dari 80 negara. Kampus-kampus ternama seperti Harvard, Oxford, dan Cambridge menjadi pusat advokasi kemanusiaan yang menekan kebijakan luar negeri negaranya sendiri. Di dunia maya, jutaan orang menampilkan bendera Palestina di profil mereka — simbol bahwa perjuangan ini telah melampaui batas ideologi dan geografi.

Perjuangan Palestina kini bukan lagi isu Timur Tengah semata. Ia telah menjadi simbol perlawanan universal terhadap ketidakadilan global, sebagaimana Vietnam melawan kolonialisme Prancis atau Afrika Selatan menumbangkan apartheid.

Meskipun deep state di Barat belum berubah, deep society—masyarakat akar rumput, akademisi, aktivis, mahasiswa—telah berbalik arah. Narasi Palestina kini diakui sebagai bagian dari gerakan dekolonisasi modern.

Dengan demikian, Taufan Al-Aqsa bukan hanya perang fisik, melainkan perang narasi global—dan pada tataran moral, Palestina telah menang.

Pelajaran dari Revolusi Dunia

Untuk memahami masa depan Palestina, kita perlu belajar dari sejarah kemerdekaan bangsa-bangsa lain pasca Perang Dunia II.

Indonesia memadukan perjuangan bersenjata dan diplomasi hingga akhirnya meraih pengakuan kedaulatan pada 1949. Aljazair, setelah menumpahkan darah lebih dari sejuta syahid, akhirnya memaksa Prancis mengakui kemerdekaan pada 1962. Vietnam menegaskan bahwa keteguhan militer dan dukungan moral dunia dapat menumbangkan kekuatan adidaya.

Dari pengalaman itu, lima pelajaran penting dapat dipetik:

  1. Persatuan nasional adalah pondasi revolusi.

  2. Legitimasi moral dunia lebih kuat dari kekuatan senjata.

  3. Momentum geopolitik global sering menjadi peluang emas.

  4. Kekuatan narasi menentukan pandangan dunia terhadap perjuangan.

  5. Keseimbangan antara perlawanan dan diplomasi adalah kunci kemenangan sejati.

Revolusi Pra-Kemerdekaan Palestina

Dalam konteks sejarah, Taufan Al-Aqsa dapat disebut sebagai revolusi pra-kemerdekaan Palestina. Ia belum melahirkan negara, tetapi telah mengguncang legitimasi moral Israel.

Kini, banyak kalangan Barat mulai berani menyebut Israel sebagai “apartheid”, “pembersih etnis”, bahkan “pelaku genosida.” Tokoh konservatif AS, Tucker Carlson, dengan lantang berkata:

“Stop calling it a war. It’s genocide, it’s an invasion, it’s ethnic cleansing!”

Perubahan besar ini mencerminkan pergeseran dari deep state ke deep society: dari kekuasaan elit menuju hati nurani publik global.

Namun perjuangan masih panjang. Amerika Serikat tetap menjadi penopang utama Israel. Uni Eropa terbelah antara moral dan kepentingan ekonomi. Sementara perpecahan internal antara Otoritas Palestina dan Hamas masih menghambat lahirnya kepemimpinan nasional yang solid.

Peluang Baru di Tengah Krisis Dunia

Meskipun penuh tantangan, peluang menuju tatanan dunia baru tetap terbuka.
Perang Ukraina, ketegangan di Laut Cina Selatan, dan menguatnya dunia multipolar mengubah peta kekuatan global.

Negara-negara di Amerika Latin, Afrika, dan Asia kini lebih berani berpihak pada Palestina. Bolivia dan Kolombia memutus hubungan diplomatik dengan Israel, sementara Afrika Selatan menggugat Israel di Mahkamah Internasional. Indonesia terus menegaskan dukungannya bagi kemerdekaan Palestina dengan Al-Quds sebagai ibu kota.

Sejarah menunjukkan: perubahan besar lahir dari krisis besar. Dunia pernah menyaksikan Indonesia merdeka di tengah perang ideologi global. Kini, mungkin giliran Palestina—lahir dari kelelahan dunia terhadap hegemoni tunggal Amerika Serikat dan pencarian sistem internasional yang lebih adil.

Dari Tragedi Menuju Transformasi

Taufan Al-Aqsa adalah tragedi besar, namun sekaligus awal transformasi kesadaran dunia. Ia membuktikan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berganti rupa. Ia menunjukkan bahwa kekuatan moral dan nurani mampu menembus benteng kekuasaan yang paling kokoh sekalipun.

Jika Gaza dapat bertahan, bersatu, dan membangun kembali kekuatannya, maka revolusi kemerdekaan Palestina akan menemukan jalannya sendiri — bukan dengan meniru revolusi lain, tapi dengan menjadi simbol universal perlawanan terhadap penjajahan modern.

Perlawanan Gaza telah mengguncang geopolitik internasional. Israel tak akan duduk di meja perundingan tanpa kekuatan tawar dari Hamas yang bertahan lebih dari dua tahun.
Ibarat pertandingan sepak bola, mereka belum kalah hingga peluit terakhir berbunyi. Mereka membuktikan bahwa kehormatan dan keteguhan lebih berharga daripada hidup dalam kehinaan.

Sejarah kini mencatat: muqawamah—perlawanan terhadap penjajahan—adalah tindakan sah dan bermartabat, bukan kesesatan. Justru entitas penjajahlah yang kini diadili dunia.
Dan jika sejarah benar-benar berpihak pada keadilan, maka tragedi Gaza bukanlah akhir, melainkan awal lahirnya tatanan dunia baru yang lebih adil.

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.”
(QS. Al-Qashash: 5)

Jumat, 10 Oktober 2025

Warisan


Ketika dokter mengatakan bahwa Bob Fairburn hanya punya lima tahun lagi untuk hidup, dunia seakan berhenti. Serangan jantung yang nyaris merenggut nyawanya di akhir tahun 1980-an membuatnya sadar betapa rapuh hidup ini. 

Ia memandangi wajah istrinya, memikirkan anak-anaknya, dan satu hal terlintas di benaknya: “Aku harus meninggalkan sesuatu untuk mereka. Sesuatu yang tetap hidup setelah aku mati.”

Sayangnya, tak ada asuransi yang mau menanggungnya. Dalam keputusasaan itu, Bob berkata pada dirinya sendiri, “Aku butuh keajaiban, atau sesuatu yang bisa menghasilkan uang tanpa aku harus ada.” 

Ia lalu membaca sebuah artikel yang menulis, “Di Amerika, hanya ada dua cara agar seseorang bisa tetap menghasilkan uang: menulis buku, atau menciptakan sesuatu.”

Bob mencoba menulis. Hasilnya? Berantakan. Tapi kegagalan itu justru menuntunnya ke arah baru. Ia memutuskan untuk menciptakan sesuatu.

Sumber inspirasinya datang dari rumahnya sendiri. Putranya, remaja yang gemar bermain komputer, sudah bisa menulis program kecil menggunakan bahasa BASIC. Ia bahkan membuat gim sendiri. 

Bob tertegun melihat anaknya mengetik cepat di depan layar komputer, seolah berbicara dengan mesin.

“Kalau anakku bisa,” pikirnya, “kenapa aku tidak?”

Padahal, Bob sama sekali tidak punya latar belakang teknologi. Ia bukan insinyur, bahkan tak paham istilah komputer. 

Tapi di situlah letak keberaniannya: ia memulai dari nol. Ia membeli buku-buku pemrograman, membaca manual tebal, dan menghabiskan malam demi malam di depan layar, mencoba memahami logika mesin. 

Setiap kali programnya gagal, ia mencatat kesalahannya di buku kecil, lalu mencoba lagi.

Ia belajar lewat jaringan Bulletin Board System (BBS) yang populer kala itu — jaringan daring sederhana sebelum lahirnya internet modern. 

Dari situ, Bob mengunduh potongan kode, berdiskusi dengan pengguna lain, dan pelan-pelan mulai menulis programnya sendiri. Ia belajar BASIC, lalu PASCAL, hingga suatu hari lahirlah karyanya: Home Designer, program sederhana untuk merancang denah rumah dan kantor.

Setelah berbulan-bulan mencari penerbit, ia berhasil menandatangani kontrak dengan perusahaan Expert Software di Florida. Program itu dijual seharga $14,95, dan Bob mendapat royalti 50 sen per salinan. Angka kecil, tapi bagi Bob, itu bukan soal uang. Itu tanda bahwa ia masih bisa berbuat sesuatu. Bahwa hidupnya belum selesai.

Namun dunia digital punya sisi gelap. Beberapa bulan kemudian, ia menemukan programnya beredar gratis di jaringan Rusty n Edie’s BBS

Ia marah — bukan karena kehilangan uang, tapi karena merasa usahanya diremehkan. 

Ia menulis pesan protes kepada pemilik BBS, tapi dijawab dengan dingin: “Kami tidak bisa mengontrol semua yang diunggah pengguna.”

Kemarahan itu berubah menjadi tekad. Ia melapor ke FBI Kansas City, menunjukkan bukti pembajakan, dan membantu penyelidikan yang akhirnya berujung pada penggerebekan besar. Kasus itu menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah hukum digital Amerika.

Namun kisah Bob bukan tentang hukum atau teknologi. Ini kisah tentang hidup yang dimulai kembali justru ketika waktu hampir habis.

Dari serangan jantung dan ketakutan, Bob menemukan hal yang tak pernah ia miliki sebelumnya: rasa ingin tahu yang menyala. Ia belajar, gagal, mencoba lagi, hingga menulis program yang mengubah jalan hidupnya. Ia mungkin tak pernah menjadi miliarder, tapi ia membuktikan satu hal penting: bahwa belajar bisa menjadi cara untuk melawan kematian.

Kisah Bob Fairburn mengingatkan kita bahwa batas usia hanyalah angka. Selama masih ada kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memulai dari awal.

Kadang, kehidupan kedua seseorang tak dimulai dari rumah sakit — tapi dari sebuah komputer di garasi, dan keberanian untuk menekan tombol “run” sekali lagi. 

Penulis: Edhy Aruman

Kamis, 09 Oktober 2025

Kebohongan Terjadi di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta

Alfian Rantung (baju putih) saat menyaksikan penasehat hukum memperlihatkan bukti pada majelis hakim. (dok. Imam Prihadiyoko)


Pengadilan, seharusnya menjadi tempat para pencari keadilan dan mengungkap kebenaran berdasarkan fakta. Namun, di lembaga yang terhormat ini, terjadi kebohongan yang dilakukan oleh Alfian Rantung, Oditur Militer pada sidang kriminalisasi Kolonel Inf. Eka Yogaswara di Pengadilan Militer Tinggi (Dilmilti) II Jakarta, memberikan keterangan bohong terkait pengiriman surat yang dikirimkannya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Hal ini terungkap pada sidang lanjutan Kriminalisasi terhadap Eka Yogaswara di Dilmilti II Jakarta, Kamis (11/9/2025).

Kebohongan itu terkait dengan pernyataan Alfian Rantung, saat ditanya oleh majelis hakim, ia mengaku sudah mengirimkan surat ke BPN itu melalui Caraka (kurir internal) sebelum pelaksanaan Pemeriksaan Setempat (PS) tanggal 28 Agustus 2025. Saat PS dilakukan, Majelis Hakim memutuskan tetap melanjutkan PS tanpa kehadiran BPN yang pendapatnya sangat diperlukan untuk memberikan kejelasan tentang status tanah dan batas-batas wilayah lahan di Jalan Tendean 41 yang menjadi obyek sengketa terkait kasus Kriminalisasi Eka Yogaswara, ahli waris Bek Musa, pemilik lahan tersebut.

Namun, pada sidang Kamis (11/9/2025) ini, terungkap dari bukti pengiriman surat tersebut baru dikirimkan tanggal 9 September 2025 melalui kurir TIKI dan ditujukan pada Kepala Kantor ATR/BPN di  Jalan Sisingamangaraja no.2, Kebayoran Baru, Jakarta.

Sidang Kriminalisasi terhadap Eka Yogaswara di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta ini, dipimpin Kolonel Kum Siti Mulyaningsih SH MH sebagai Ketua Majelis Hakim.

Eka Yogaswara merupakan salah satu ahli waris Bek Musa yang memiliki lahan di Jalan Tendean 41 berdasarkan surat girik sebagai bukti kepemilikan lahan. Di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, Oditur militer mendakwa Eka melanggar Pasal 385 ayat (1) dan Pasal 167 (1) KUHP. Eka Yogaswara, didakwa oleh Oditur Militer Tinggi, atas laporan Tessa Elya Andriana Wahyudi, selaku Legal Manager BUMN PT PFN, dengan tuduhan telah menyerobot lahan dan memasuki lahan tanpa izin dengan dasar kepemilikan Sertifikat Hak Pakai Sementara atas nama Departemen Penerangan.

Padahal kehadiran BPN ini sangat diperlukan untuk memberikan keadilan pada Eka Yogaswara yang dikriminalisasi. Padahal, kasus sengketa pidana di lahan itu belum selesai sempurna.

Tambahan waktu

Pada Kamis (9/10/2025), Kolonel Laut (H) Alfian Rantung, Oditur militer di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta meminta waktu tambahan untuk menyusun replik atas pledoi yang disampaikan Agus Sasongko, penasehat hukum Kolonel Inf. (purn.) Eka Yogaswara dan Eka Yogaswara, Jakarta, Kamis (9/10/2025).

Eka Yogaswara merupakan salah satu ahli waris Bek Musa yang memiliki lahan di Jalan Tendean 41 berdasarkan surat girik sebagai bukti kepemilikan lahan. Di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, Oditur militer mendakwa Eka melanggar Pasal 385 ayat (1) dan Pasal 167 (1) KUHP. Eka Yogaswara, didakwa oleh Oditur Militer Tinggi, atas laporan Tessa Elya Andriana Wahyudi, selaku Legal Manager BUMN PT PFN, dengan tuduhan telah menyerobot lahan dan memasuki lahan tanpa izin dengan dasar kepemilikan Sertifikat Hak Pakai Sementara atas nama Departemen Penerangan.

Sidang Kriminalisasi terhadap Eka Yogaswara di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta ini, dipimpin Kolonel Kum Siti Mulyaningsih SH MH sebagai Ketua Majelis Hakim.

Eka Yogaswara merupakan salah satu ahli waris Bek Musa yang memiliki lahan di Jalan Tendean 41 berdasarkan surat girik sebagai bukti kepemilikan lahan. Di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, Oditur militer mendakwa Eka melanggar Pasal 385 ayat (1) dan Pasal 167 (1) KUHP. Eka Yogaswara, didakwa oleh Oditur Militer Tinggi, atas laporan Tessa Elya Andriana Wahyudi, selaku Legal Manager BUMN PT PFN, dengan tuduhan telah menyerobot lahan dan memasuki lahan tanpa izin dengan dasar kepemilikan Sertifikat Hak Pakai Sementara atas nama Departemen Penerangan.

Pledoi

Agus Sasongko, penasehat Hukum Eka Yogaswara saat membacakan pledoi di sidang pekan sebelumnya mengingatkan lagi, berdasarkan keterangan Para Saksi, Para Ahli, surat-surat, keterangan terdakwa, barang bukti, surat Dakwaan dan Srat Tuntutan yang disajikan di depan persidangan, maka telah terungkap beberapa fakta yuridis, kasus ini Nebis in Idem.

Perkara A Quo Adalah Nebis In Idem (vide: Pasal 76 KUHPidana) Bahwa yang dimaksud Nebis In Idem, sebagaimana diatur dalam Pasal 76 KUHPidana adalah “Kecuali dalam hal putusan hakim dapat diubah, orang tidak dapat dituntut sekali lagi karena perbuatan yang baginya telah diputuskan oleh hakim di Indonesia dengan putusan yang telah tetap”. Bahwa berdasarkan keterangan saksi Tessa Elya Andriyana Wahyudi, yang pada pokoknya menerangkan bahwa benar saksi mewakili Perum PFN sebagai Legal Manager pada tanggal 11 Agustus 2023 telah melaporkan terdakwa ke Puspomad, sebagaimana Laporan Polisi No. LP-12/ A-12/ VIII/ 2023/Idik, atas dugaan tindak pidana “penyerobotan tanah dan memasuki pekarangan tanpa ijin” ;

Agus Sasongko menambahkan, di dalam surat Dakwaan Oditur Militer Tinggi, Terdakwa telah didakwa karena telah melakukan tindak pidana penyerobotan tanah, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 385 ke-4 KUHP dan memasuki pekarangan tanpa ijin, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat (1) KUHP. Kedua pasal tersebut pada hakekatnya merupakan akibat dari adanya perselisihan/ sengketa keperdataan kepemilikan hak atas tanah Adat yang terletak di Jl. Kapten Tendean No. 41, Jakarta Selatan antara keluarga Terdakwa dan para ahli waris dengan Departemen Penerangan-Perum PFN.

Berdasarkan keterangan saksi Eddy Noor, SH., MPA., Dirut Perum PFN Periode 2001-2011, Agus Sasongko mengatakan, pada pokoknya menerangkan bahwa benar saksi pada tahun 2008 telah melaporkan Terdakwa ke Pomdam Jaya, atas dugaan tindak pidana pengrusakan papan pengumuman milik Perum PFN, sebagaimana Laporan Polisi Militer No. LP-64/ A-57/ XII/ 2008/ Jaya2, tanggal 8 Desember 2008. Berdasarkan keterangan Terdakwa, yang pada pokoknya menerangkan bahwa kasus tersebut disidangkan di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta dalam Perkara No. 35-K/ PMT-II/ AD/ X/ 2016, dengan amar putusan Tingkat Pertama berbunyi “Menyatakan Penuntutan Oditur Militer Tinggi atas perkara Terdakwa yaitu : 1). Eka Yogaswara, Pangkat Letnan Kolonel Inf. NRP 11960002910567 tidak dapat diterima. 2). Menyatakan kewenangan menuntut pidana terhadap perkara ini hapus karena daluwarsa” dan putusan tingkat Kasasi berbunyi: Menolak Permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi/ Oditur Militer Tinggi pada Oditurat
Jendral Tinggi tersebut”.

"Putusan pidana tersebut membuktikan jika Terdakwa pernah diadili dalam perkara yang menyangkut sengketa kepemilikan tanah yang terletak di Jl. Kapten Tendean No. 41 Jakarta Selatan antara Terdakwa dengan Perum PFN, sehingga sepanjang menyangkut kepemilikan tanah antara Terdakwa dengan Perum PFN, Terdakwa secara yuridis tidak bisa dituntut dan diadili untuk kedua kalinya karena melanggar asas nebis in idem," ujarnya.

Rabu, 08 Oktober 2025

Rasa Ingin Tahu


Banyak orang mengenal Richard Phillips Feynman (1918–1988) sebagai peraih Hadiah Nobel Fisika 1965, salah satu pemikir paling brilian dan eksentrik abad ke-20, juga guru besar dengan cara mengajar paling ajaib yang pernah ada. 

Dia ilmuwan yang mampu menjelaskan keajaiban alam dengan tawa di wajahnya. Namun bagi banyak orang lain, terutama yang membaca kisah hidupnya, Feynman bukan sekadar ilmuwan. 

Ia adalah seorang anak laki-laki yang tak pernah berhenti bertanya, anak yang ingin tahu mengapa langit biru, bagaimana listrik bekerja, dan kenapa piring kafetaria bisa berputar goyah di udara. 

Dari rasa ingin tahu sederhana itulah, ia membangun seluruh kehidupannya.

Richard Phillips Feynman lahir di Far Rockaway, New York, pada 1918, di tengah keluarga sederhana yang penuh cinta pada ilmu pengetahuan dan humor. Ayahnya, Melville, bukan ilmuwan, tetapi seorang penjual seragam militer dengan imajinasi besar. 

Dialah yang pertama kali menanamkan pada Richard gagasan bahwa sains bukan sekadar hafalan, tetapi cara memandang dunia. 

Suatu hari ia menunjukkan seekor burung kecil dan berkata, “Kamu bisa tahu namanya dalam semua bahasa di dunia, tapi kamu tak akan tahu apa-apa tentang burung itu. Mari lihat bagaimana ia terbang, itulah pengetahuan sejati.” (Gleick, 1992). 

Dari ayahnya, Feynman kecil belajar bahwa mengetahui nama tidak sama dengan memahami makna. Ia tumbuh menjadi bocah yang selalu ingin tahu “mengapa”.  Di rumah, ia dikenal sebagai Ritty si Tukang Servis Radio. 

Ketika teman-temannya bermain di luar, Feynman kecil asyik menyolder kabel atau mencari tahu mengapa jarum amperemeter bergerak aneh. Adiknya, Joan, menjadi “asisten laboratorium” yang dibayar empat sen seminggu untuk memegang kawat percikan listrik, sambil menjerit setiap kali kesetrum ringan. 

Itulah laboratorium masa kecil Feynman: kamar tidur, beberapa kawat, dan segunung rasa ingin tahu.

Jika ada bau gosong di rumah, ibunya, Lucille, tahu itu ulah Richard. Namun, bukannya memarahinya, ia tersenyum dan berkata, “It’s worth it.” 

Ia percaya kekacauan anaknya adalah harga dari pengetahuan. Di situlah benih rasa ingin tahu Feynman tumbuh, bukan dari kepatuhan, melainkan dari kebebasan untuk gagal.

Dalam kerangka psikologi modern, Feynman adalah perwujudan paling kuat dari dimensi “Joyous Exploration” yang dikemukakan oleh Todd B. Kashdan. 

Dimensi ini menggambarkan individu yang terdorong oleh rasa gembira saat menemukan hal baru — di mana belajar itu sendiri menjadi hadiah. Feynman pernah berkata, “The pleasure of finding things out is the greatest joy of my life.”

Ia tidak mengejar sains demi penghargaan; ia melakukannya karena tiap penemuan, sekecil apa pun, membuat hidupnya terasa lebih luas.

Namun Feynman tidak berhenti pada kegembiraan. Ia juga memiliki kadar tinggi “Stress Tolerance”,  kemampuan untuk tetap penasaran meski dihadapkan pada ketidakpastian atau risiko. 

Di MIT dan kemudian Princeton, Feynman menjelma menjadi mahasiswa yang berpikir di luar batas. Ia tidak suka menghafal rumus, ia ingin merasakan mengapa sesuatu benar. “I learned very early the difference between knowing the name of something and knowing something,” katanya bertahun-tahun kemudian (Feynman, 1999). 

Ketika banyak mahasiswa sibuk memuaskan profesor, Feynman sibuk memuaskan rasa penasarannya sendiri. Ia bahkan menghitung sendiri gaya elektromagnetik elektron dari prinsip dasar hanya untuk memastikan teori itu “masuk akal”.

Ketika terlibat dalam Proyek Manhattan  -- tempat para ilmuwan merancang bom atom -- di Los Alamos, ia bukan hanya fisikawan muda berbakat; ia juga si biang kerok yang membuka brankas berisi rahasia bom atom. 

Ia melakukannya bukan karena motif jahat, melainkan karena ingin tahu apakah keamanan sistem itu sungguh tak bisa ditembus. “Orang bisa ditebak,” katanya ringan, “dan begitu juga kombinasi kuncinya.” 

Rasa ingin tahu mendorongnya menembus batas yang bahkan para penjaga pun tak berani dekati.

Di laboratorium Los Alamos, Feynman juga dikenal karena memperbaiki sendiri mesin kalkulator mekanik yang sering rusak. Bersama Nicholas Metropolis, ia memasang papan bertuliskan “Computers Repaired.” 

Ketika atasannya menegur bahwa waktunya terlalu berharga untuk hal sepele itu, Feynman menjawab, “Justru karena itu saya melakukannya, agar waktu semua orang tidak terbuang.” 

Ia ingin tahu bagaimana mesin berpikir, rasa penasaran yang kemudian menginspirasi generasi ilmuwan komputer.

Tapi rasa ingin tahu Feynman tidak berhenti di laboratorium. Ia merembes ke dalam kehidupannya yang paling pribadi. 

Ketika Arline, perempuan yang paling ia cintai sejak muda, divonis mengidap TBC, dunia di sekitar Feynman seakan berhenti. Semua logika dan persamaan yang ia kuasai tak mampu menjelaskan bagaimana seseorang bisa kehilangan bagian dari dirinya sendiri. 

Namun alih-alih menjauh, ia memilih untuk tetap di sisi Arline, menatap sakitnya dengan keberanian yang sama seperti ketika ia menatap misteri alam semesta.

Ia menulis surat-surat panjang yang memadukan cinta dan keajaiban ilmu, seolah ingin menulis ulang hukum fisika agar waktu dapat melambat di sekitar perempuan itu. 

Ia menulis surat-surat penuh cinta dan sains — surat yang diakhiri dengan kalimat memilukan: “I still love you, and they all seem ashes.” (Gleick, 1992, hlm. 175). 

Kata-kata itu bukan sekadar kesedihan, melainkan sebuah pernyataan abadi tentang cinta yang tak mengenal bentuk atau jarak.

Dua tahun setelah Arline pergi, ia masih menulis untuknya, seolah kematian hanyalah perpindahan alamat di kosmos. 

Surat itu ditutup dengan kalimat yang lembut dan menghancurkan hati: “P.S. Please excuse my not mailing this—but I don’t know your new address.”

Ia tahu surat itu takkan pernah sampai, tetapi menulisnya adalah cara Feynman menantang semesta, menolak untuk percaya bahwa cinta bisa benar-benar berakhir.

Di situ, rasa ingin tahunya tentang kehidupan berubah menjadi rasa ingin tahu tentang kehilangan, tentang bagaimana cinta bisa bertahan melampaui waktu.

Selepas perang, Feynman kembali ke kampus Cornell dengan semangat yang redup. Ia merasa kosong, seolah keajaiban dunia telah sirna. Hingga suatu hari, ia memperhatikan piring kafetaria yang berputar goyah di udara. Pertanyaan sederhana muncul: mengapa piring itu goyah tapi tidak jatuh?

Ia mulai menghitung, menulis persamaan, dan dari permainan kecil itulah lahir gagasan yang kemudian berkembang menjadi teori elektrodinamika kuantum (QED), temuan yang membawanya ke Stockholm menerima Nobel Fisika. 

Ketika rekannya Hans Bethe bertanya apa pentingnya penelitian piring itu, Feynman menjawab dengan tawa, “It doesn’t have any importance… but it’s fun!” (Feynman, 1985).

Inilah manifestasi Joyous Exploration dalam bentuk paling murni: rasa ingin tahu yang tak butuh alasan, hanya kesenangan dalam mencari tahu. 

Tapi di balik kesenangan itu juga tersembunyi Deprivation Sensitivity, dorongan yang muncul karena ketidaknyamanan tidak mengetahui sesuatu. Bagi Feynman, ketidaktahuan adalah penderitaan kecil yang hanya bisa diobati dengan penemuan.

Feynman juga menunjukkan bentuk Social Curiosity. Ia suka berbincang, mendengarkan cerita orang biasa, bermain drum di bar Brasil, atau menggambar model di kelas seni.

Ia ingin tahu bagaimana orang lain merasakan hidup. 

Dalam surat-suratnya ia sering menyebut, “Manusia menarik karena mereka tidak dapat diprediksi, dan itulah sebabnya mereka menyenangkan untuk dipelajari.”

Di sisi lain, ia juga sedikit Thrill Seeker. Ia pernah memanjat menara air hanya untuk melihat apakah angin di atas terasa berbeda, atau menolak protokol Nobel karena tak mau berjalan mundur di hadapan Raja Swedia. “Saya tidak suka upacara,” katanya, “saya hanya ingin tahu bagaimana rasanya berada di sana.”

Pada akhirnya, kombinasi semua dimensi ini menjadikan Feynman bukan sekadar ilmuwan besar, melainkan archetype dari manusia yang digerakkan oleh rasa ingin tahu sejati. 

Ia belajar bukan untuk menjawab, melainkan untuk mempertanyakan. Ia bekerja bukan untuk menemukan kebenaran mutlak, tetapi untuk menikmati proses mendekatinya.

Feynman meninggal pada 1988 dengan kalimat terakhir yang khas: “I’d hate to die twice. It’s so boring.”

Kalimat itu terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya adalah pernyataan hidup seorang penjelajah ide: bahkan kematian pun baginya adalah misteri yang layak dihadapi dengan rasa ingin tahu.

Richard Feynman membuktikan bahwa curiosity bukan sifat sampingan dari kecerdasan, melainkan sumbernya.

Ia menunjukkan bahwa memahami dunia tidak berarti menyingkap semua rahasia, tetapi menikmati perjalanan menyingkapnya sedikit demi sedikit. Seperti piring goyah yang terus berputar, dunia akan selalu tampak ajaib — selama kita cukup penasaran untuk terus memperhatikannya. 

Penulis: Edhy Aruman

Sabtu, 04 Oktober 2025

Jumat, 03 Oktober 2025

Pledoi Terdakwa Kriminalisasi Kolonel Inf. (Purn.) Eka Yogaswara Yang Berjuang Mempertahankan Lahan Warisan Sang Kakek

Eka Yogaswara, bersama ahli waris lainnya berjuang mempertahankan lahan warisan sang kakek, Bek Musa. Lahan yang sudah dikuasai sejak tahun 1937 itu, mulai membara ketika keluar Sertifikat Hak Pakai Sementara no: 75 tahun 1987, atas nama Departemen Penerangan. Menurut Tessa Elya Andriyana Wahyudi, bagian legal PT PFN yang melaporkan Eka ke POMAD hingga akhirnya disidang di Pengadilan Tinggi Militer II Jakarta, asal perolehan Sertifikat Hak Pakai Sementara no:75 tahun 1987 itu dari eigendom verponding no: 6934.

Eka  didakwa dengan dua pasal KUHP.  Dakwaan Kesatu: Melanggar Pasal 385 Ke-4 KUHP . Pasal ini bunyinya, barang siapa dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, menggadaikan atau menyewakan tanah dengan hak Indonesia, padahal diketahui bahwa orang lain yang mempunyai atau turut mempunyai hak atas tanah itu.

Dakwaan Kedua: Melanggar Pasal 167 ayat (1) KUHP. Pasal ini berbunyi, barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum atau berada disitu dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera.

Dakwaan ini bagi Eka dan ahli waris lainnya, tentu saja dirasakan aneh mengingat sejak masih kecil, mereka semua tahu kalau itu lahan milik kakeknya.

Apalagi, kemudian muncul fakta bahwa lahan eigendom verponding no: 6934 itu tidak berada di jalan Tendean 41, Jakarta. Sebagaimana yang diklaim oleh PT PFN. Buktinya, Surat Kantor Pertanahan Jakarta Selatan, tanggal 20 November 2007 juncto Putusan Tata Usaha Negara tahun 2009 antara PT. Sonati Contractors melawan Kantor Pertanahan Jakarta Selatan, yang pada pokoknya menerangkan bahwa Hak Guna Bangunan (HGB) No. 263, seluas 14.145 m2, atas nama PT. Pertamina, terletak di Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan asalnya tanah Negara bekas eigendom verponding No. 6934. 

Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) No. 940, luas 1.436 m2, atas nama PT. Town And City Properties, terletak di Jl. Taman Patra, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan asalnya tanah Negara bekas eigendom verponding No. 6934. Bahwa dengan demikian dapat disimpulkan bahwa status bidang tanah Tendean 41 adalah konversi dari tanah bekas Hak Milik Adat Girik C bukan konversi dari tanah bekas Eigendom Veponding No. 6934.

Oditur Berbohong

Lebih parahnya lagi, untuk memenangkan kasus ini, oditur militer Kolonel Laut Alfian Rantung berani berbohong tentang surat untuk mengundang BPN ikut hadir dalam Pemeriksaan Setempat (PS) tanggal 28 Agustus 2025. Ia tahu betul, kehadiran BPN ini amat diperlukan, mengingat sidang kriminalisasi ini menyangkut nasib Eka Yogaswara dan harga diri sebagai prajurit TNI.

Oditur juga pernah berbohong terkait pengiriman surat yang dikirimkannya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ia mengaku sudah mengirimkan surat ke BPN itu melalui Caraka (kurir internal) sebelum pelaksanaan Pemeriksaan Setempat (PS) tanggal 28 Agustus 2025. Padahal, ketika itu surat sama sekali belum dikirimkan. Padahal keberadaan pihak BPN ini sangat diperlukan untuk membuktikan batas-batas lahan dan kepemilikan dilahan yang diklaim PFN dengan bekal Sertifikat Hak Pakai Sementara.

Kebohongan oditur terungkap dari bukti pengiriman surat tersebut baru dikirimkan tanggal 9 September 2025 melalui kurir TIKI dan ditujukan pada Kepala Kantor ATR/BPN di  Jalan Sisingamangaraja no.2, Kebayoran Baru, Jakarta.

Eka Yogaswara dalam pledoinya, juga tegas mengatakan, patut diduga Oditur dengan sengaja melakukan obstruction of justice atau penghalangan keadilan dengan cara berbohong atau memberikan informasi atau keterangan yang sesat kepada Majelis Hakim, kepada Penasihat Hukum dan kepada dirinya, untuk mengaburkan proses hukum dan patut diduga Oditur telah menutupi kebenaran yang apabila dibuka, maka kebenaran yang sejati akan terungkap.

Hal ini terbukti saat Pemeriksaan Setempat Oditur dan Perum PFN sangat pasif dan tidak sanggup menjelaskan kepada Majelis Hakim mengenai status tanah, letak tanah, luas tanah dan batas tanah tanah yang diklaim sebagai milik Perum PFN, padahal tugas dan kewajiban Oditurlah untuk membuktikan dakwaannya.

“Bukankah sikap Oditur seperti itu menunjukkan ketidakpatuhan dan ketidaktaatan terhadap Sapta Marga, Sumpah 6 Prajurit dan 8 Wajib TNI dengan melakukan kebohongan kepada Majelis Hakim, kepada Penasihat Hukum dan kepada kami? Kami menilai Oditur telah melanggar sumpah jabatannya, yang berbunyi “senantiasa menjalankan jabatan dengan jujur dalam menegakkan hukum dan keadilan”, ujar Eka Yogaswara.