John Irving tidak pernah terlihat seperti orang yang akan menjadi penulis besar. Ia mendapatkan nilai C– (baca C minus) untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.
Skor verbal SAT-nya sangat rendah. Ia butuh satu tahun tambahan hanya untuk lulus dari sekolah menengah. Banyak gurunya menganggapnya sebagai seorang pemalas.
Tapi Irving – lengkapnya John Winslow Irving – tidak bodoh. Dia orang yang tidak mudah menyerah. Ia hanya disleksik, kondisi neurologis yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, dan mengeja, meskipun memiliki kecerdasan normal atau di atas rata-rata. Ini bukan tanda kemalasan.
Dan karena itulah, ia belajar sejak muda bahwa satu-satunya cara untuk mencapai sesuatu adalah dengan mengulang, mengulang, dan mengulang. Murojaah...
Ia menulis ulang setiap draf. Ia membaca lebih lambat, menulis lebih lambat, berpikir lebih lambat. Tapi ia tetap menulis. Ia memilih untuk terus datang ke meja kerjanya setiap hari.
Sehingga pada akhirnya, John Irving menjadi penulis hebat. Dia memenagkan penghargaan National Book Award. Dia menjadi penulis naskah pemenang Oscar. Bukan karena bakatnya mencolok. Tapi karena ia tidak pernah berhenti. Dia mengulang, mengulang, dan mengulang
“Untuk melakukan sesuatu dengan sangat baik,” katanya, “kamu harus melakukannya berulang kali. Sesuatu yang awalnya tidak alami, akan menjadi kebiasaan jika kamu cukup sabar dan cukup gigih.”
Kisah Irving menyuarakan makna terdalam dari apa yang dikenal sebagai Treadmill Test. Ini adalah bentuk latihan atau eksperimen yang mengukur daya tahan fisik dan mental seseorang. Caranya, dengan meminta mereka berlari di treadmill miring. Tujuannya adalah memprediksi ketangguhan psikologis jangka panjang.
Dan Treadmill Test menunjukkan satu realitas penting dalam kehidupan. Dalam hidup, seperti di atas treadmill, yang paling menentukan bukanlah kecepatan atau kehebatan sesaat, melainkan siapa yang tidak menyerah lebih dulu. Siapa yang mampu terus melangkah, meski perlahan. Itulah yang pada akhirnya membentuk ketangguhan sejati.
Pada tahun 1940, peneliti Harvard meminta sekelompok mahasiswa untuk berlari di atas treadmill dengan kecepatan tinggi dan kemiringan curam. Tujuannya bukan semata-mata untuk menguji kekuatan fisik, tetapi untuk mengukur daya tahan psikologis: seberapa lama seseorang bertahan saat tubuhnya ingin berhenti.
Yang mengejutkan, waktu yang mereka habiskan di atas treadmill terbukti menjadi prediktor kuat atas kesehatan mental dan keberhasilan hidup mereka puluhan tahun kemudian (Duckworth, 2016). Tes itu bukan tentang siapa yang tercepat, tapi siapa yang paling lama bertahan.
Angela Duckworth menyebut ini sebagai grit —kombinasi antara hasrat jangka panjang dan kegigihan sehari-hari. Ketekunan bukanlah glamor. Ia sunyi. Ia tidak viral. Tapi ia membentuk segalanya.
Karena dalam kehidupan, sebagaimana di treadmill, yang membuat perbedaan bukan langkah pertama kita, tapi keputusan untuk terus melangkah saat kaki mulai gemetar.
Will Smith adalah bukti hidup bahwa ketahanan bukan soal siapa yang bersinar paling awal, tetapi siapa yang tetap berjalan ketika cahaya mulai padam. Ia menyadari bahwa dalam dunia yang penuh bakat alami, kerja keras tetap tak tergantikan.
Ia memilih untuk bertahan di jalur yang sama, mengulang, memperbaiki, memantapkan. Dan hasilnya? Ia menaklukkan musik, film, panggung, dan hati jutaan orang. Bukan karena ia paling jenius, tapi karena ia paling gigih.
Smith menyebut ini sebagai “filsafat treadmill.” Katanya, “Kamu mungkin lebih berbakat, lebih pintar, lebih menarik. Tapi kalau kita sama-sama naik ke treadmill, hanya ada dua kemungkinan: kamu turun lebih dulu, atau aku mati di sana.”
Smith percaya bahwa keberhasilan bukan soal siapa yang memulai dengan bintang di pundaknya, tapi siapa yang tetap datang ke tempat latihan—hari demi hari—meski tidak ada yang menonton.
“Kalau kita berlari bersama,” katanya dalam sebuah wawancara, “hanya ada dua kemungkinan: kamu turun lebih dulu, atau aku mati.”
Dalam kalimat sederhana itu, tersimpan filosofi hidup Will Smith. Keyakinan bahwa ketekunan akan selalu mengalahkan talenta ketika ia muncul setiap hari, tanpa henti, tanpa alasan.
Kita semua memiliki treadmill kita sendiri. Kadang itu berbentuk studi yang panjang, pekerjaan yang terasa stagnan, keluarga yang penuh beban, atau mimpi yang terasa jauh. Terkadang, tidak ada hasil instan. Tidak ada kemajuan yang terlihat.
Tapi jika kita memilih untuk kembali lagi besok, maka tanpa sadar kita sedang membangun sesuatu yang tak tergantikan.
Treadmill Test adalah metafora paling jujur tentang hidup. Ia tidak menilai seberapa cepat kamu bisa berlari. Ia hanya menanyakan: apakah kamu akan kembali besok, dan melanjutkan satu langkah lagi?
Dan pada akhirnya, bukan mereka yang lahir hebat yang mengubah dunia, melainkan mereka yang tidak berhenti ketika yang lain memilih menyerah.
Penulis: Edhy Aruman
PUSTAKA
Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar