Jumat, 28 November 2025

DI BALIK WILL YANG BESAR, ADA ANNE


Itulah kalimat yang paling indah namun paling jarang diucapkan dalam sejarah sastra. 

Kita mengenal Shakespeare sebagai gunung raksasa yang menjulang dalam dunia drama dan puisi. Kita tahu namanya melampaui abad, bahasanya menembus budaya, dan karyanya menciptakan karakter-karakter yang kini hidup lebih lama daripada manusia mana pun. 

Namun pada hari ini, tepat 443 tahun yang lalu, ia hanyalah seorang pemuda 18 tahun yang masih mencari jalannya. Dan di sampingnya berdiri seorang perempuan yang akan menjadi tempat pertama ia pulang: Anne Hathaway.

Bayangkan senyapnya pagi-pagi itu di akhir November 1582. Stratford-upon-Avon masih diselimuti kabut musim gugur, pohon-pohon menyimpan sisa kuning daun, dan lonceng gereja berdentang dengan nada yang akrab. 

Di sebuah rumah luas di Shottery; yang hari ini sering kita sebut “cottage”, meski jauh melampaui makna sederhana, Anne bersiap memasuki babak baru dalam hidupnya.

Ia perempuan 26 tahun, dewasa dan teguh, dibesarkan dalam keluarga petani mapan. Rumah masa kecilnya berdiri kokoh, penuh kayu tua, ladang, dan jalan-jalan kecil yang menghubungkannya dengan Stratford. Di dunia seperti itulah Anne tumbuh: sunyi, tetapi tegas; sederhana, tetapi bersahaja.

Will, di sisi lain, adalah pemuda muda yang cerdas, penuh rasa ingin tahu, tetapi belum menemukan masa depannya. Belum ada panggung besar, belum ada soneta, belum ada nama Shakespeare yang mendunia. 

Ia hanya “Will”; putra pembuat sarung tangan, tak kaya, tak terkenal, tetapi penuh cahaya kecil yang belum menemukan bentuk.

Dan di balik Will yang masih mencari itu, ada Anne yang melihat sesuatu pada dirinya. Kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan saat berjalan menuju gereja. Tidak ada surat cinta yang tersisa, tidak ada rekaman suara, tidak ada puisi yang pasti ditulis untuknya. Yang ada hanyalah fakta bahwa dua dunia bertemu dan memutuskan untuk menjadi satu. 

Hari itu, Anne dan Will menikah. Sebuah janji kecil yang diucapkan dengan tenang, tanpa sorotan dunia. Namun dari janji itu, ribuan panggung kelak akan ditegakkan.

Di balik Will yang besar, ada Anne yang menjaga rumah saat ia pergi ke London mengejar pengetahuan dan kesempatan. Ada Anne yang membesarkan anak-anak mereka; Susanna dan kemudian si kembar, Hamnet dan Judith, di tengah penyakit, musim buruk, dan berbagai kenyataan dunia Elizabethan yang jauh dari mudah. 

Ada Anne yang mengelola ladang, menata keuangan, mengurus keluarga besar, dan memastikan bahwa Will selalu punya tempat untuk kembali. Dan ketika Will mulai menulis tragedi untuk dunia, Anne menjalani kehidupan yang penuh realitas sehari-hari. Saat Will menulis tentang raja, perang, pengkhianatan, atau cinta yang meruntuhkan langit, Anne menambal yang sobek, mengatur perabot, dan menjaga api tungku agar tetap menyala. 

Dia tidak berdiri di panggung, tetapi dialah yang memastikan panggung itu ada. Sejarawan mungkin berdebat tentang pernikahan mereka. Ada yang membaca kehampaan, ada yang membaca jarak, ada yang membaca misteri. Tetapi kehidupan tidak selalu ditulis seterang lakon. 

Kadang cinta tidak bersuara lantang, tetapi tetap ada. Kadang kebersamaan tidak terlihat, tetapi tetap menjadi fondasi. Yang jelas, ketika Will akhirnya berhenti dari dunia teater dan memilih pensiun, ia tidak tinggal di London. Ia pulang kepada Anne.

Di balik Will yang besar, ada Anne yang tetap menjadi rumah. Mereka bukan pasangan dongeng. Mereka manusia yang menghadapi sejarah dengan cara yang nyata: bekerja, menunggu, bertahan, dan memilih satu sama lain berulang kali. Dan mungkin justru itulah yang membuat kisah mereka begitu menyentuh. 

Cinta mereka tidak membutuhkan panggung. Cukup sebuah kursi kayu di Stratford, cukup perjalanan pulang yang dilakukan setiap tahun, dan cukup saling percaya tanpa banyak kata.

Hari ini, saat kita mengingat pernikahan mereka yang terjadi 443 tahun silam, kita belajar satu hal yang selalu relevan: perjalanan seseorang menuju kebesaran jarang sekali dilakukan sendirian. 

Bahkan Shakespeare pun tidak berjalan sendirian. Ia membawa suara, tetapi seseorang menjaga rumah. Ia menulis dunia, tetapi seseorang menjaga kenyataan. Ia mengejar mimpi, tetapi seseorang menjaga tanah di mana ia akan kembali berpijak.

Di balik Will yang besar, selalu ada Anne. 

Penulis: Edhy Aruman


DAFTAR PUSTAKA 

Greer, G. (2008). Shakespeare’s wife. Harper.

Potter, L. (2012). The life of William Shakespeare: A critical biography (C. Rawson, Ed.). Wiley-Blackwell.

Schoenbaum, S. (1987). William Shakespeare: A compact documentary life (Revised ed.). Oxford University Press.

Wells, S. (2005). Hathaway, Anne. In The Oxford companion to Shakespeare (p. 185). Oxford University Press.

Wills, M. (2025, August 28). Anne Shakespeare: Toward a biography. JSTOR Daily.

Jangan Beli


Yvon Chouinard tidak pernah mimpi menjadi pebisnis. Ia selalu menyebut dirinya sebagai “a reluctant businessman,” seseorang yang terseret ke dunia bisnis hanya karena ia ingin membuat peralatan yang lebih baik bagi dirinya dan teman-temannya. 

Lahir di Maine dari keluarga French-Canadian yang keras, lalu pindah ke California pada 1946, Yvon menghabiskan masa kecilnya sebagai penyendiri yang menemukan rumah di alam liar. 

Ketika bahasa Inggrisnya belum lancar dan tubuhnya terlalu kecil untuk olahraga sekolah, ia justru menemukan jati dirinya saat memanjat tebing, memancing di sungai, dan mengejar elang bersama Southern California Falconry Club. 

Di tebing-tebing itu ia belajar kemandirian, ketabahan, dan keberanian untuk memperbaiki segala sesuatu dengan tangannya sendiri. 

Nilai-nilai inilah yang kelak menjadi jiwa Patagonia.

Pada akhir 1950-an, Yvon mulai membuat piton (paku logam) panjat tebing dari baja chrome-molybdenum, yang bisa digunakan berulang kali dan jauh lebih kuat dibanding piton Eropa yang lunak. 

Ia tidak berniat membangun perusahaan; ia hanya ingin menggunakan peralatan yang tidak akan membahayakan nyawanya. Namun piton yang ia buat di bengkel kecil; yang awalnya merupakan kandang ayam bekas, diminati oleh para pemanjat lain. 

Pada 1964 ia menerbitkan katalog pertamanya, sekadar selembar kertas yang pada bagian bawahnya tertulis: “Jangan berharap pengiriman cepat selama musim panjat.” 

Kalimat itu bukan strategi pemasaran; itu menggambarkan siapa dirinya, seorang pemanjat yang secara kebetulan merakit peralatan, bukan seorang pebisnis yang mengejar laba.

Pesanan berdatangan .. 

Meski usahanya tumbuh, Yvon menyadari paradoks besar: piton baja yang ia produksi merusak batuan di Yosemite. Retakan-retakan alami mulai penuh luka. 

Keputusan yang ia ambil kemudian sangat radikal. Pada 1972 ia dan Tom Frost menghentikan produksi piton, produk paling menguntungkan yang menjaga perusahaan tetap hidup. 

Mereka menggantinya dengan chocks aluminium yang bisa diselipkan tanpa merusak tebing. 

Dalam katalog tahun itu ia menambahkan esai “clean climbing” sebagai seruan moral bagi seluruh komunitas pendaki. 

Keputusan ini tidak hanya membentuk arah perusahaannya, tetapi juga mengubah budaya panjat tebing dunia.

Perubahan terbesar berikutnya terjadi ketika Yvon secara iseng membeli kemeja rugby di Skotlandia. 

Kemeja keras dengan bahan tebal itu ternyata sangat cocok untuk panjat tebing. Para pemanjat lain menyukainya, dan tanpa direncanakan, Yvon masuk ke bisnis pakaian dengan label Patagonia. 

Nama “Patagonia” dipilih karena mengingatkan pada tempat liar dan jauh; sebuah dunia yang belum dijinakkan, dan yang sesuai dengan semangat pakaian yang ingin mereka buat. 

Namun ternyata memasuki industri pakaian jauh lebih kompleks dibanding membuat peralatan logam. Pesanan pertama dari Hong Kong datang dalam kualitas buruk dan hampir membuat perusahaan bangkrut. 

Dari kegagalan itu, Yvon belajar bahwa bisnis yang baik membutuhkan proses, kedisiplinan, dan integritas yang lebih dari sekadar ketekunan seorang pandai besi.

Pada 1991, pertumbuhan yang terlalu cepat menjerumuskan Patagonia ke dalam krisis keuangan. Perusahaan hampir runtuh dan terpaksa memberhentikan 20 persen karyawannya. 

Krisis ini menjadi titik balik penting. 

Yvon menyadari bahwa Patagonia tidak bisa mengikuti ritme kapitalisme yang menuntut pertumbuhan tanpa henti. 

Ia lalu merumuskan identitas baru: bisnis harus tumbuh secara alami, seperti organisme, bukan seperti mesin yang dipaksa berjalan terus. Laba bukan tujuan; laba adalah hasil ketika perusahaan melakukan hal yang benar.

Maka lahirlah Patagonia yang kita kenal hari ini, perusahaan yang berani menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi, bukan aksesori. 

Sejak 1986 Patagonia mulai menyumbangkan 10 persen laba untuk kelompok lingkungan akar rumput. Dan pada 1993 mereka menjadi perusahaan pertama yang membuat fleece dari botol plastik daur ulang. 

Setahun kemudian mereka beralih sepenuhnya ke kapas organik setelah penilaian lingkungan menunjukkan betapa merusaknya kapas konvensional. 

Pada 2002 Yvon ikut mendirikan 1% for the Planet, mengajak perusahaan lain menyumbangkan satu persen dari penjualan untuk bumi. 

Patagonia tidak pernah berhenti. Mereka membuka Footprint Chronicles untuk transparansi rantai pasokan, berbagi strategi keberlanjutan dengan Walmart, dan membantu membangun Sustainable Apparel Coalition. 

Ketika kampanye “Don’t Buy This Jacket” diluncurkan pada 2011, dunia terperangah. Patagonia menjadi satu-satunya perusahaan yang secara publik meminta konsumen untuk membeli lebih sedikit. 

Kampanye itu bukan ironi; itu adalah keberanian moral yang jarang ditemukan dalam dunia bisnis.

Patagonia terus melangkah. Mereka memperbaiki dan menjual kembali pakaian bekas melalui Worn Wear, memutuskan hubungan dengan pemasok wol yang tidak etis, dan menetapkan standar baru mengenai kesejahteraan hewan dan penggunaan lahan. 

Semua langkah ini menunjukkan bahwa Patagonia bukan hanya perusahaan; ia adalah sebuah pernyataan hidup. Mereka membuktikan bahwa ketika nilai dipegang teguh, bisnis dapat menjadi kekuatan perubahan yang nyata.

Patagonia bukan sekadar merek pakaian. Ia adalah kisah keberanian seorang pemuda penyendiri yang percaya bahwa bumi layak diperjuangkan. 

Ia adalah bukti bahwa bisnis bisa tumbuh sambil tetap setia pada hati nurani. Dan ia menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keputusan berani, ketika dilakukan atas dasar nilai yang benar, dapat mengubah tidak hanya sebuah perusahaan, tetapi juga dunia di sekitarnya. 

Patagonia bukan sekadar merek. Ia adalah legenda tentang seorang pemuda yang menemukan kebebasan di tebing dan kemudian memberikan kebebasan itu kembali kepada dunia. Ia adalah bukti bahwa bisnis bisa memiliki jiwa, dan ketika jiwa itu dijaga, bisnis dapat mengubah dunia. 

Penulis: Edhy Aruman

DAFTAR PUSTAKA

Chouinard, Y. (2006). Let my people go surfing: The education of a reluctant businessman. Penguin Books.

Selasa, 18 November 2025

Budaya Jawa, Bincang soal Triwikrama. Saat Para Dewa Turun dalam Amarah Agung


Baru saat ini merasakan terima kasih pada orangtua, yang sejak kecil "memaksa" untuk menyukai udaya dan tradisi Jawa. "Ben gak ilang Jawane," itukah kata-kata yang sering diucapkan Bapak padaku dan empat orang adik-adik. Sebagai keturunan Jawa yang tinggal di Sumatra, tentu belum sepenuhnya memahami apa yang sesungguhnya dilakukan Bapak.

Hampir setiap hari, almarhum Bapak (al fatihah) memperdengarkan gending-gending Jawa. Terkadang memutar lagu pop Jawa, yang ketika itu lebih banyak dari album Pop Jawa Koes Plus, Moes Mulyadi, termasuk juga Eddy Silitonga yang menyanyikan lagu Romo ono Maling karya Titiek Puspa. Bahkan, Bapak berlangganan Majalah Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa.

Bapak juga sempat mengasuh komunitas kelompok Jatilan dan Reog Ponorogo. Pemainnya, ketika itu tinggal di daerah transmigrasi. Mereka biasanya tampil rutin setahun sekali di kota, dan mereka semua menginap di rumah. Bukan hanya itu, juga tradisi Wayang Kulit, lengkap dengan dalang dan pengrawit yang "diopeni"  almarhum Bapak. 

Itu sebabnya, saya menyukai dan tertarik dengan tontonan wayang kulit. Setiap ada pementasan wayang kulit, hampir selalu diajak. Terakhir, sewaktu masih tinggal di Sumatra, saya diajak nonton pementasan Wayang Kulit di Tanjung Enim, di area PTBA kalau tidak salah ingat.

Dan terakhir, sebelum Bapak meninggal, aku sempat mengajak nonton wayang kulit di Bentara Budaya Kompas Jakarta, tahunnya lupa. Sebelum itu, juga sempat saya ajak nonton wayang kulit di DPR RI, dan nonton di Wayang Orang di Gedung Bharata.

Ketertarikanku dengan Wayang Kulit ini pula yang membawaku akhirnya bergaul dengan Senowangi (Organisasi Seniman Wayang Indonesia), di TMII. Tahun ini, Senowangi sudah memasuki usia ke-50. Pada pekan lalu, mereka juga menggejar hajatan peringatan Hari Wayang Nasional di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta.

Triwikrama

Salah satu kisah yang membuatku kagum sejak kecil terkait satu kata Triwikarama. Orang sabar, tokoh baik-baik bisa marah dan mengubah dirinya menjadi raksasa. Tapi juga bisa diartikan sebagai penguasaan pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jika ketiganya bisa dikuasai, maka akan menguasai cokro manggilingan. Turun naiknya proses kehidupan akan selalu bisa waspodo, saat posisi di atas, tidak akan lupa diri. Begitu juga saat di bawah, tidak akan nglokro, terpuruk. Semua merupakan perjalanan hidup yang tetap disyukuri.

Di balik keteduhan budaya Jawa yang sering dikaitkan dengan harmoni dan ketenangan, terselip satu konsep dahsyat yang jarang dibahas: Triwikrama. Sebuah momen ketika sosok yang biasanya bijaksana dan sabar berubah menjadi raksasa kosmis, penuh tenaga, dan tak terhentikan. Triwikrama bukan sekadar amarah, melainkan energi moral yang meledak pada saat kejahatan menembus batas.

Dalam dunia pewayangan, istilah ini paling melekat pada Bathara Kresna, raja Dwarawati yang halus tutur, lembut perangai, dan selalu menjadi penengah. Namun dalam keadaan tertentu, ketika ketidakadilan sudah tak tertahankan, Kresna menampakkan wujud Mahabesar, jauh melampaui ukuran manusia dan dewa.

Kisah Triwikrama biasanya muncul pada bagian-bagian paling tegang dalam lakon. Misalnya ketika Kresna menghadapi raksasa Kalasrenggi, atau saat ia turun tangan menahan ambisi tokoh-tokoh adigang yang tak bisa lagi ditundukkan dengan nasihat. Pada titik itu, wajah Kresna berubah garang, tangannya berapi, tubuhnya membesar, dan suaranya mengguntur seperti badai dari langit Kahyangan.

Bagi penonton wayang, kemunculan Triwikrama adalah puncak emosi. Lampu blencong meredup, gamelan menegang, dan dalang memperdalam suara. Seolah seluruh jagat berhenti sesaat untuk menyaksikan amarah suci yang hanya muncul jika dunia benar-benar dalam bahaya.

Makna Filosofis

Ketegasan Tidak Berlawanan dengan Kearifan. Semua menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Orang Jawa dikenal berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. Namun lewat Triwikrama, kita diingatkan bahwa kebijaksanaan tidak selalu berarti kelembutan tanpa batas. Ada saatnya nilai adiluhung menuntut ketegasan. Ada saat ketika membiarkan kejahatan justru menjadi bentuk kelalaian moral.

Dalam falsafah Jawa, Triwikrama adalah simbol bahwa:

  • Kesabaran ada ujungnya.

  • Kebenaran membutuhkan keberanian.

  • Kekuatan hanya digunakan dalam keadaan dharurat moral.

Dengan kata lain, perubahan wujud Kresna bukanlah kehilangan kendali, melainkan laku spiritual: wicaksana yang bangkit untuk menegakkan keseimbangan.

Resonansi di Zaman Sekarang

Menariknya, Triwikrama tidak hanya hidup dalam jagat pewayangan. Ia muncul dalam keseharian kita, meski dengan bentuk yang jauh lebih sederhana. Hari-hari ini, ketika menyaksikan ketimpangan yang masih terus berlanjut, apakah tetap berdiam diri.

Saat seorang ibu mempertahankan anaknya dari bahaya. Saat seorang pemimpin akhirnya berani mengambil keputusan tidak populer demi kebaikan umum. Atau ketika seseorang yang biasanya pendiam akhirnya bersuara untuk melawan ketidakadilan. Atau ketika lahan warisan keluarga, diklaim orang lain, perusahaan atau bahkan lembaga negara dengan alasan "aset negara", maka meradang pun tak tertahankan. 

Ingat dengan kondisi lahan yang tiba-tiba di klaim pihak lain, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun tidak tinggal diam. Begitu juga yang dialami, Kolonel Inf. (Purn.) Eka Yogaswara, lahan kakeknya Bek Musa, yang ada di Jalan Tendean 41, Jakarta, diklaim oleh PFN, tentu saja jadi meradang. Sayang, dia malah dikriminalkan oleh PFN, dengan alasan memasuki lahan orang lain. 

Perasaan ketidakadilan seperti ini, terjadi juga di sejumlah tempat di Indonesia. Mungkin, dalam konteks modern, Triwikrama adalah metafora tentang batas terakhir integritas. Tentang momen ketika kita tidak lagi diam karena diam sama dengan membiarkan. Inilah yang menjelaskan bagaimana mereka mempertahankan diri, bahkan melawan ketidakadilan yang dialaminya.

Wayang sebagai Cermin Batin

Budaya Jawa selalu menawarkan jalan simbolik untuk memahami diri. Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Dan Triwikrama mengingatkan bahwa menjadi baik tidak berarti selalu lembut; menjadi bijak tidak berarti selalu menahan diri.

Kadang, untuk menjaga kebenaran, kita pun perlu “membesar”—bukan dalam arti fisik, tetapi dalam tekad, keberanian, dan komitmen moral.

Sabtu, 08 November 2025

"Rosho" Dan AI

Di tengah gempuran perkembangan AI, saya masih ada keyakinan, ada yang belum bisa tergantikan AI dalam kerja-kerja jurnalis. 

Salah satunya, pagi ini saya dapai satu tulisan sahabat di grup penguji Uji Kompetensi Wartawan. Ia menulis tentang kata "Huuh…”

Ia menuliskan, Huuh ... Merupakan yang gampang ditulis Dan diterjemahkan oleh AI. Kata itu  sederhana, tapi di dunia jurnalistik, maknanya bisa sangat kaya, bagi jurnalis yang berhadapan langsung dengan narasumber.

Ia melanjutkan, AI mungkin akan  menganggapnya hanya sebagai bunyi non-verbal, tidak penting, lalu menghapusnya dari transkrip-wawancara. .

Tapi seorang jurnalis manusia tidak akan begitu cepat melaluinya. Ia akan merasakan dan mencoba membaca konteks di balik desahan itu.

Mari kita uraikan lewat contoh konkret ini : 

😔Nada Lelah dan Pasrah

Seorang petani berkata:

 “Harga gabah turun lagi tahun ini... huuh…”

Jurnalis yang peka akan tahu bahwa “huuh” di situ bukan sekadar napas,

tapi tanda kelelahan, kepasrahan, mungkin juga rasa tidak berdaya.

Dalam tulisan, jurnalis bisa . menarasikannya begini:

“Ia menghela napas panjang, seperti menumpahkan lelah yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.” .

Itu bukan dramatisasi, tapi interpretasi rasa, bentuk empati terhadap emosi manusia yang nyata.

😡Nada Marah atau Geram

Dalam wawancara politik:

“Kita sudah sampaikan protes itu berkali-kali! Huuh!”

Nada ini berbeda. “Huuh” di sini adalah luapan emosi — sebuah tekanan, mungkin frustrasi atau kemarahan.

Jurnalis yang peka akan menandainya dalam catatan lapangan:

“nada meninggi, gestur tangan menekan meja.”

Itulah cara jurnalis menangkap dimensi non-verbal yang memperkaya makna berita.

😢 Nada Menahan Tangis

“Dia... dia baik sekali pada saya... huuh...”

 “Huuh” disini, adalah tangis yang tertahan,

ruang di antara kalimat yang penuh emosi.

Jurnalis tidak perlu mengubahnya menjadi kata-kata lain.

Cukup menuliskannya dengan empati, agar pembaca merasakan keheningan itu.

Jadi, ketika narasumber berkata “huuh…”,

seorang jurnalis tidak hanya mendengar suara — ia mendengar perasaan.

Itulah “feel” yang tak bisa diprogram dalam AI.

Fakta bisa ditulis siapa saja.

Tapi makna di antara napas — hanya bisa ditangkap oleh manusia yang punya hati.

Inilah yang ditulis  Soleman Yusuf di akun IG-nya  https://www.instagram.com/reel/DQt_psRkj3N/?igsh=MW9raTRkbXB1dzFpYQ==

Meski begitu, saya sedang bersemangat mengajarkan tentang creative writing Dan belajar AI bagi anak-anak. Mereka memang Harus menguasai cara berkomunikasi dengan AI yang berkembang sangat cepat dengan variasi penggunaan yang beragam dengan arah yang tak pernah dibayangkan sebelumnya...

Bagi yang ingin mempersiapkan anak-anaknya sejak dini untuk memahami AI, terutama usia kelas 4 SD sampai kelas 1 SMP atau kelas 7, silahkan hubungi saya di prihadiyokoimam@gmail.com

Kamis, 06 November 2025

Perempuan



Suatu pagi di akhir 1990-an, di garasi kecil milik Susan Wojcicki di Menlo Park, dua mahasiswa Stanford bernama Larry Page dan Sergey Brin sibuk menyusun kabel, komputer, dan mimpi besar. 

Mereka tidak tahu bahwa perempuan yang menyewakan garasi itu akan menjadi salah satu arsitek penting dari kerajaan yang kelak bernama Google. Wojcicki bukanlah seorang insinyur, bukan pula tokoh flamboyan khas Silicon Valley. 

Namun dialah perempuan yang membuktikan bahwa pengaruh tidak harus datang dengan suara keras, melainkan dengan visi yang tajam dan keyakinan yang tenang.

Sebagai karyawan keenam belas Google, Susan Wojcicki berperan besar dalam mengubah mesin pencari sederhana menjadi raksasa bisnis global. 

Ia membangun strategi pemasaran pertama Google, meluncurkan AdSense—mesin uang yang menopang seluruh ekosistem digital—dan memainkan peran utama dalam akuisisi YouTube serta DoubleClick, dua langkah yang mendefinisikan masa depan media daring. 

Tetapi di tengah semua kesuksesan itu, Wojcicki juga menolak mitos kerja tanpa henti yang mengakar di dunia teknologi. 

Ia adalah ibu dari lima anak, dan setiap pukul enam sore, ia mematikan komputer untuk makan malam bersama keluarga. Dalam industri yang menganggap “jam panjang” sebagai ukuran dedikasi, keputusan sederhana itu adalah bentuk pemberontakan tersendiri.

Perjalanan berbeda ditempuh Marissa Mayer. Sebagai salah satu insinyur pertama Google dan kemudian CEO Yahoo, Mayer adalah wajah publik dari perempuan ambisius di dunia yang sering kali menolak mereka. 

Saat ia diangkat menjadi CEO sambil mengandung anak pertamanya, media membanjiri berita dengan spekulasi: seberapa lama ia akan cuti, apakah ia bisa menjadi ibu dan pemimpin sekaligus? 

Mayer menjawab dengan tindakan—hanya mengambil cuti singkat, lalu kembali bekerja dengan penuh energi. 

Ia pernah berkata, “Jika saya seorang pria yang akan punya anak, berita itu tidak akan pernah ditulis.” Ia tidak hanya memimpin perusahaan, tetapi juga berjuang di medan perang opini, melawan anggapan bahwa keibuan adalah penghalang kepemimpinan.

Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook, membawa perjuangan itu ke tingkat global. Sheryl menjadi COO Facebook pada Maret 2008, saat perusahaan itu masih muda dan belum memiliki arah bisnis jelas. Berbekal pengalaman dari Google, ia membantu Mark Zuckerberg membangun struktur organisasi dan sistem iklan digital yang mengubah Facebook menjadi raksasa global. 

Di tengah budaya teknologi yang didominasi laki-laki, Sandberg memperkenalkan nilai empati, keseimbangan hidup, dan kesetaraan gender. Kepemimpinannya menandai masa transformasi besar bagi Facebook dan menjadikannya simbol perempuan yang mampu memimpin dengan ketegasan sekaligus kehangatan di jantung Silicon Valley.

Dalam bukunya Lean In, ia menantang perempuan untuk berani duduk di meja pengambil keputusan, untuk tidak menyingkir demi memberi ruang pada ego laki-laki. Sandberg menggunakan posisinya bukan sekadar untuk berkuasa, tetapi untuk mengubah budaya. 

Ia mendorong Facebook agar lebih empatik terhadap isu perempuan, menyoroti kesenjangan gaji, dan berbicara terbuka tentang kehilangan suaminya sebagai bentuk kemanusiaan di tengah dunia digital yang dingin.

Namun kisah perempuan di Silicon Valley tidak berhenti pada mereka yang terkenal. Dalam setiap laboratorium, kapal superkomputer, dan ruang rapat startup, ada perempuan-perempuan lain yang mungkin tidak dikenal publik, tapi kisahnya tak kalah penting.

Lynn Conway, misalnya, adalah pionir sejati di balik layar. Sebagai peneliti di Xerox Palo Alto Research Center (PARC), Conway menyaksikan langsung lahirnya chip “Geometry Engine” ciptaan Jim Clark—prototipe awal yang mengubah dunia grafis komputer. 

Dari desain itu lahirlah teknologi visual yang kini menggerakkan film seperti _Jurassic Park_, simulasi penerbangan, hingga realitas virtual. 

Lynn Conway bukan hanya ilmuwan brilian; ia juga sosok transpuan yang berani hidup jujur di masa ketika dunia sains nyaris tidak memberi ruang bagi keberagaman. Keberadaannya adalah pernyataan bahwa inovasi sejati lahir dari keberanian menjadi diri sendiri.

Ada pula D’Anne Schjerning, sekretaris setia Jim Clark, yang mengawali kariernya dengan menata kertas dan dokumen tanpa pernah menyangka akan menjadi jutawan. 

Ketika Netscape—perusahaan yang terinspirasi oleh Clark—go public pada 1995, saham yang ia pegang membuatnya kaya raya. 

Ia membeli Cadillac emas dan pensiun dengan tenang, sementara kotak-kotak arsip yang ia simpan menjadi catatan sejarah digital paling berharga di Silicon Valley. 

Dari balik meja administrasi, D’Anne membuktikan bahwa kesetiaan dan ketelitian juga dapat menorehkan jejak dalam revolusi teknologi.

Tidak semua kisah berakhir manis. Nancy Rutter, jurnalis dan istri ketiga Jim Clark, menyaksikan dari dekat sisi rapuh seorang visioner. 

Ia melihat suaminya tenggelam dalam obsesi dan kesepian—merakit helikopter di garasi, atau terobsesi dengan kapal yang dapat dikendalikan komputer. 

Di atas kapal itu, seorang juru masak bernama Tina Braddock berjuang menghadapi “revolusi digital” versi laut lepas. 

Suatu malam, sistem otomatis di dapur kapal Hyperion error: partisi meja tiba-tiba naik ke langit-langit, piring-piring jatuh, dan alarm berbunyi nyaring. 

Tina hanya bisa menatap layar kontrol sambil mengutuk kecanggihan yang justru membuatnya merasa tidak berdaya.

Di dinding dapurnya, ia menempelkan kalimat yang menggigit: _“Orang pintar menghabiskan waktu berjam-jam belajar menggunakan teknologi baru. Orang yang lebih pintar menemukan cara untuk mengelak darinya.”_

Kisah perempuan di Silicon Valley tidak hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang benturan antara kemanusiaan dan teknologi. 

Dalam rapat keuangan besar di Wall Street, seorang bankir wanita dari Morgan Stanley berbicara lewat telepon konferensi karena sedang sakit. 

Saat diskusi serius berlangsung, suara bayi terdengar dari ujung lain sambungan. Semua eksekutif tertawa canggung. 

Namun di balik momen itu tersimpan realitas yang tak bisa dihapuskan: bahkan di tengah dunia bisnis yang berputar cepat, kehidupan nyata -- ibu, anak, keluarga -- tetap hadir dan menuntut tempat.

Mereka semua — Wojcicki, Mayer, Sandberg, Conway, Schjerning, Rutter, Braddock, bahkan sang bankir tanpa nama — adalah wajah-wajah yang menantang narasi lama Silicon Valley. 

Mereka mengingatkan bahwa di balik kode, laba, dan logika, ada sisi manusia yang tak boleh hilang. Mereka membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar bagian kecil dari sejarah teknologi, tetapi denyut nadi yang membuat inovasi tetap bermakna.

Dan mungkin, di masa depan, ketika dunia menulis ulang kisah Silicon Valley, garasi itu —yang dulu disewakan oleh seorang perempuan muda bernama Susan Wojcicki — akan dikenang bukan sebagai tempat lahirnya mesin pencari, tapi sebagai simbol perubahan. Titik awal di mana perempuan berhenti hanya menjadi penonton, dan mulai menulis sejarah mereka sendiri. *Edhy Aruman*

Imogiri, Tempat Bersatunya Raja-raja Mataram

 


Berita wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada 1 November 2025, dalam usia 77 tahun, bukan hanya menjadi kabar duka bagi Keraton Surakarta, tetapi juga menjadi pengingat tentang betapa panjangnya napas sejarah Jawa. 


Beberapa orang mungkin bertanya—terutama generasi yang tidak lagi akrab dengan tata krama keraton—mengapa jenazah seorang raja Solo justru tidak dimakamkan di Surakarta, melainkan di Imogiri, Yogyakarta. Mengapa tidak dimakamkan di dalam lingkungan keraton seperti layaknya leluhur bangsawan Eropa, atau di makam keluarga di Surakarta seperti lazimnya masyarakat umum? 


Jawabannya menyimpan kisah panjang yang jauh lebih tua daripada berdirinya kota Solo sendiri.


*Keraton Surakarta baru berdiri pada tahun 1745.* Tetapi garis darah raja-raja Surakarta jauh melampaui tanggal itu. Mereka bukan dimulai dari Solo, tetapi dari Kerajaan Mataram Islam—kerajaan yang dibangun sejak Panembahan Senopati di Kotagede, mencapai puncaknya pada masa Sultan Agung, lalu terbelah menjadi dua tahta akibat Perjanjian Giyanti: Yogyakarta dan Surakarta. Maka ketika seorang raja Surakarta wafat, yang dikuburkan bukan sekadar sosok penguasa Surakarta, tetapi *keturunan langsung dinasti Mataram, pewaris takhta Sultan Agung.*


Dan di sinilah jawaban historis yang jarang dijelaskan secara utuh: Imogiri bukan “milik Yogyakarta”. *Imogiri adalah makam raja-raja Mataram,* yang dibangun oleh Sultan Agung pada abad ke-17 sebagai rumah abadi bagi dirinya dan keturunannya. Ia bukan kompleks pemakaman politis, melainkan *simbol persatuan dinasti*—tempat di mana seluruh pewaris sah Mataram, entah dari Surakarta atau Yogyakarta, akhirnya pulang ke tanah yang sama.


Imogiri adalah titik temu sejarah: raja yang berkuasa di dua istana yang berbeda, akhirnya disatukan lagi dalam keheningan yang sama. Hamengkubuwono I maupun Pakubuwono I, yang dulu pernah berperang memperebutkan tahta, kini beristirahat tidak lebih dari beberapa puluh langkah satu sama lain. Keturunan mereka pun menyusul dari abad ke abad. Maka ketika Pakubuwono XIII dimakamkan di sana, ia tidak sedang "pindah kota", melainkan "pulang ke asal".


Orang yang bertanya: "Mengapa raja Solo dimakamkan di Yogyakarta?" sesungguhnya tersesat oleh peta modern. Mereka lupa bahwa batas administratif yang kita kenal hari ini—perbatasan provinsi, identitas kota, dan garis wilayah—adalah ciptaan kolonial dan republik. Sedangkan garis keturunan raja mengikuti hukum yang jauh lebih tua: *trah, bukan daerah.* Pakubuwono XIII tidak datang dari “keraton Solo”, ia datang dari garis Mataram—dan Imogiri adalah bukti bahwa sejarah Jawa tidak pernah mengenal sekat politis sebagai sekat spiritual.


Ketika jenazahnya dipikul meniti anak tangga menuju puncak bukit Imogiri, itu bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan napas sejarah yang ditarik sekali lagi. Di sana ia bergabung dengan Sultan Agung, leluhur agung Mataram; dengan para Pakubuwono generasi sebelumnya, yang juga harus menutup mata di tengah zaman yang berubah; dengan raja-raja Yogya yang meski berbeda istana, tetap satu keluarga darah.


Maka dimakamkannya Pakubuwono XIII di Imogiri bukanlah keanehan, melainkan kelanjutan tradisi yang tidak pernah putus. Ketika kekuasaan terbelah, imogiri menyatukan kembali. Ketika sejarah melahirkan perjanjian, makam itu membatalkannya dalam keabadian.


Dan mungkin di situlah paradoks Jawa berdiri megah: meski istana bisa diperebutkan, tetapi tempat pulang selalu satu. Seorang raja boleh dilahirkan di Solo, berkuasa di Surakarta, tetapi ia wafat sebagai anak Mataram. Dan Mataram, hingga kini, masih hidup—bukan dalam istana megah, tetapi dalam *tanah Imogiri yang sunyi*.




Elang cyber, 03 November 2025

Selasa, 04 November 2025

ZIONIS MENGAJI BUKAN FITNAH, TAPI FAKTA

Mari simak kajian Dr. Abdul Aziz Al-Rayyis

"Dan terbunuhnya Utsman (bin Affan) terjadi karena tipu daya orang Yahudi, dan di antara mereka adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba, yang berpura-pura masuk Islam. Maka ketahuilah —pada masa para salaf, masa para sahabat— sudah ada orang Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam. Maka ketahuilah juga bahwa di zaman kita sekarang ini ada banyak orang Yahudi sejati yang berpura-pura menjadi Muslim.


Banyak di antara mereka yang disebut “jihadis”, atau bahkan bisa jadi ada penyusup di kalangan salafi—seorang Yahudi yang menyusup dan berpura-pura menjadi salafi untuk membuat kerusakan. Maka berhati-hatilah.


Bahkan, salah satu syekh mulia dari Palestina pernah bercerita kepadaku. Ia mengatakan bahwa ia menghadiri sidang tesis magister di sebuah universitas Yahudi. Tesis itu disusun oleh seorang Yahudi, dan setelah sidang selesai, syekh itu bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkan semua informasi ini?” Yahudi itu menjawab, “Aku hidup di Dammaj selama lima tahun (atau semacam itu).” Ia hidup di tengah para salafi di Dammaj, berpura-pura menjadi salah satu dari mereka, hidup dalam kemiskinan, hanya demi menyelesaikan penelitiannya.


Dan ada banyak kisah serupa. Al-Albani rahimahullah juga pernah menyebut bahwa salah satu muridnya pernah berada di sebuah restoran dan bertemu dengan seorang Yahudi tua yang sangat menguasai ilmu hadis. Sebab di negeri Yahudi pun ada kajian tentang ilmu-ilmu syar’i, termasuk ilmu hadis, dan sebagian dari mereka bahkan mencapai derajat profesor dalam bidang tersebut.


Yahudi tua itu bercerita kepada salah satu murid Al-Albani bahwa setelah membaca kitab Ahmad Syakir—yakni tahqiq-nya atas Sunan at-Tirmidzi atau Musnad Ahmad—ia menulis catatan koreksi dan mengirimkannya kepada Ahmad Syakir. Setelah membacanya, Ahmad Syakir rahimahullah berkata di akhir suratnya: *“Sungguh menyedihkan, catatan ini datang dari seorang Yahudi keji seperti dirimu.”* Namun hal itu menunjukkan bahwa orang Yahudi itu memiliki ilmu dalam bidang hadis.


Dan Yahudi itu bahkan memuji Al-Albani, katanya: “Al-Albani lebih unggul dari yang lain.” Jadi, mereka (orang Yahudi) juga mempelajari ilmu-ilmu keislaman di universitas mereka. Bahkan, sebagian syekh dari Palestina bercerita bahwa di sana mereka juga mempelajari seni berkhutbah. Seorang Yahudi bisa berdiri di mimbar dan menyampaikan khutbah.


Maka jangan heran jika banyak di antara para pemimpin kelompok takfiri, jihadis, Ikhwanul Muslimin, dan yang sejenisnya, sebenarnya adalah orang Yahudi. Bahkan ada juga kaum Yahudi yang menyusup di kalangan salafi untuk menimbulkan fitnah dan perselisihan di antara mereka. Contoh dan bukti paling jelas adalah perbuatan Abdullah bin Saba. Jika hal seperti itu bisa terjadi pada masa para sahabat —masa yang agung itu— maka bagaimana lagi di zaman kita sekarang?"


Jakarta, 04/11/2025

Sabtu, 01 November 2025

Fenomena Pop Jawa: Musik Lokal yang Mendunia

 

Dalam beberapa tahun terakhir, musik pop Jawa berhasil melampaui batas geografis dan bahasa. Tidak hanya menguasai trending TikTok dan YouTube di Indonesia, lagu-lagu berbahasa Jawa kini juga didengar oleh penikmat musik dari Malaysia, Brunei, hingga Eropa. Paduan lirik yang puitis, nuansa etnik yang kuat, dan sentuhan musik modern menjadikan pop Jawa sebagai genre yang unik dan memikat.

Dari Campursari ke Pop Kontemporer

Pop Jawa modern lahir dari perpaduan campursari dan dangdut koplo, namun dikemas lebih segar dengan sentuhan elektronik dan pop mainstream. Peran YouTube dan platform digital sangat besar dalam mendongkrak popularitas genre ini. Musik yang dulu dianggap “niche” kini menjadi arus utama.

Tokoh dan Lagu yang Memimpin Tren

  1. Denny Caknan – “Sugeng Ndalu”
    Masuk jajaran fenomena musik Indonesia, lagu ini memadukan kegalauan cinta dengan irama pop Jawa yang mudah diterima semua kalangan. Video musiknya menembus ratusan juta penonton di YouTube.

  2. Ndarboy Genk – “Mendung Tanpo Udan
    Lagu yang sempat viral di TikTok ini mencerminkan perasaan cinta yang tak tersampaikan. Melodi sederhana namun menyayat hati membuatnya cepat dikenal luas.

  3. Happy Asmara – “Tak Ikhlasno
    Penyanyi perempuan yang disebut sebagai "Ratu Pop Jawa" ini sukses membawa emosi pendengar melalui suara serak khas dan gaya panggung yang kuat. “Tak Ikhlasno” menjadi salah satu anthem patah hati Gen Z.

  4. Guyon Waton – “Menepi
    Diproduksi secara sederhana, tetapi justru itulah pesonanya. “Menepi” menjadi simbol bahwa musik dari daerah pun bisa menguasai chart nasional tanpa label besar.

  5. Vita Alvia – "Satru"
    Lagu hasil kolaborasi dengan Denny Caknan ini memadukan nada koplo yang enerjik dengan penghayatan mendalam. Cocok untuk mereka yang sedang menghadapi konflik hubungan.

Mengapa Banyak yang Terpikat?

  • Bahasa Ibu yang Hangat
    Bagi pendengar Jawa, lirik terasa lebih personal dan emosional. Namun bagi yang tidak mengerti, melodinya tetap menyampaikan pesan hati.

  • Cocok untuk Semua Mood
    Dari yang galau hingga yang butuh joget koplo, pop Jawa menyediakan semuanya.

  • Dekat dengan Budaya
    Identitas lokal yang kuat memberi rasa bangga dan koneksi emosional.

Menuju Pentas Internasional

Banyak musisi pop Jawa kini mulai tampil di berbagai festival musik luar negeri. Kolaborasi lintas negara bukan lagi hal mustahil. Dengan semakin berkembangnya platform distribusi digital, pop Jawa layak diperhitungkan sebagai wajah baru musik Indonesia di kancah global.