Itulah kalimat yang paling indah namun paling jarang diucapkan dalam sejarah sastra.
Kita mengenal Shakespeare sebagai gunung raksasa yang menjulang dalam dunia drama dan puisi. Kita tahu namanya melampaui abad, bahasanya menembus budaya, dan karyanya menciptakan karakter-karakter yang kini hidup lebih lama daripada manusia mana pun.
Namun pada hari ini, tepat 443 tahun yang lalu, ia hanyalah seorang pemuda 18 tahun yang masih mencari jalannya. Dan di sampingnya berdiri seorang perempuan yang akan menjadi tempat pertama ia pulang: Anne Hathaway.
Bayangkan senyapnya pagi-pagi itu di akhir November 1582. Stratford-upon-Avon masih diselimuti kabut musim gugur, pohon-pohon menyimpan sisa kuning daun, dan lonceng gereja berdentang dengan nada yang akrab.
Di sebuah rumah luas di Shottery; yang hari ini sering kita sebut “cottage”, meski jauh melampaui makna sederhana, Anne bersiap memasuki babak baru dalam hidupnya.
Ia perempuan 26 tahun, dewasa dan teguh, dibesarkan dalam keluarga petani mapan. Rumah masa kecilnya berdiri kokoh, penuh kayu tua, ladang, dan jalan-jalan kecil yang menghubungkannya dengan Stratford. Di dunia seperti itulah Anne tumbuh: sunyi, tetapi tegas; sederhana, tetapi bersahaja.
Will, di sisi lain, adalah pemuda muda yang cerdas, penuh rasa ingin tahu, tetapi belum menemukan masa depannya. Belum ada panggung besar, belum ada soneta, belum ada nama Shakespeare yang mendunia.
Ia hanya “Will”; putra pembuat sarung tangan, tak kaya, tak terkenal, tetapi penuh cahaya kecil yang belum menemukan bentuk.
Dan di balik Will yang masih mencari itu, ada Anne yang melihat sesuatu pada dirinya. Kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan saat berjalan menuju gereja. Tidak ada surat cinta yang tersisa, tidak ada rekaman suara, tidak ada puisi yang pasti ditulis untuknya. Yang ada hanyalah fakta bahwa dua dunia bertemu dan memutuskan untuk menjadi satu.
Hari itu, Anne dan Will menikah. Sebuah janji kecil yang diucapkan dengan tenang, tanpa sorotan dunia. Namun dari janji itu, ribuan panggung kelak akan ditegakkan.
Di balik Will yang besar, ada Anne yang menjaga rumah saat ia pergi ke London mengejar pengetahuan dan kesempatan. Ada Anne yang membesarkan anak-anak mereka; Susanna dan kemudian si kembar, Hamnet dan Judith, di tengah penyakit, musim buruk, dan berbagai kenyataan dunia Elizabethan yang jauh dari mudah.
Ada Anne yang mengelola ladang, menata keuangan, mengurus keluarga besar, dan memastikan bahwa Will selalu punya tempat untuk kembali. Dan ketika Will mulai menulis tragedi untuk dunia, Anne menjalani kehidupan yang penuh realitas sehari-hari. Saat Will menulis tentang raja, perang, pengkhianatan, atau cinta yang meruntuhkan langit, Anne menambal yang sobek, mengatur perabot, dan menjaga api tungku agar tetap menyala.
Dia tidak berdiri di panggung, tetapi dialah yang memastikan panggung itu ada. Sejarawan mungkin berdebat tentang pernikahan mereka. Ada yang membaca kehampaan, ada yang membaca jarak, ada yang membaca misteri. Tetapi kehidupan tidak selalu ditulis seterang lakon.
Kadang cinta tidak bersuara lantang, tetapi tetap ada. Kadang kebersamaan tidak terlihat, tetapi tetap menjadi fondasi. Yang jelas, ketika Will akhirnya berhenti dari dunia teater dan memilih pensiun, ia tidak tinggal di London. Ia pulang kepada Anne.
Di balik Will yang besar, ada Anne yang tetap menjadi rumah. Mereka bukan pasangan dongeng. Mereka manusia yang menghadapi sejarah dengan cara yang nyata: bekerja, menunggu, bertahan, dan memilih satu sama lain berulang kali. Dan mungkin justru itulah yang membuat kisah mereka begitu menyentuh.
Cinta mereka tidak membutuhkan panggung. Cukup sebuah kursi kayu di Stratford, cukup perjalanan pulang yang dilakukan setiap tahun, dan cukup saling percaya tanpa banyak kata.
Hari ini, saat kita mengingat pernikahan mereka yang terjadi 443 tahun silam, kita belajar satu hal yang selalu relevan: perjalanan seseorang menuju kebesaran jarang sekali dilakukan sendirian.
Bahkan Shakespeare pun tidak berjalan sendirian. Ia membawa suara, tetapi seseorang menjaga rumah. Ia menulis dunia, tetapi seseorang menjaga kenyataan. Ia mengejar mimpi, tetapi seseorang menjaga tanah di mana ia akan kembali berpijak.
Di balik Will yang besar, selalu ada Anne.
Penulis: Edhy Aruman
DAFTAR PUSTAKA
Greer, G. (2008). Shakespeare’s wife. Harper.
Potter, L. (2012). The life of William Shakespeare: A critical biography (C. Rawson, Ed.). Wiley-Blackwell.
Schoenbaum, S. (1987). William Shakespeare: A compact documentary life (Revised ed.). Oxford University Press.
Wells, S. (2005). Hathaway, Anne. In The Oxford companion to Shakespeare (p. 185). Oxford University Press.
Wills, M. (2025, August 28). Anne Shakespeare: Toward a biography. JSTOR Daily.




