Sara Blakely tidak pernah mengikuti sekolah bisnis. Ia bahkan pernah gagal dalam ujian masuk hukum.
Namun pada usia 29 tahun, dengan tabungan hanya $5.000, ia mendirikan Spanx, perusahaan shapewear yang merevolusi industri pakaian dalam.
Dia menciptakan Spanx, shapewear tanpa garis jahitan yang nyaman, praktis, dan memperindah siluet tubuh. Ia mengubah persepsi wanita tentang pakaian dalam—dari fungsional menjadi pemberdayaan diri, dan membuka pasar baru yang sebelumnya diabaikan.
Dan itu membuatnya menjadi miliarder wanita mandiri termuda versi Forbes.
Perjalanan itu tidak mudah—penuh penolakan, keraguan, dan kekhawatiran. Tapi Sara memiliki satu pelindung kuat terhadap ketakutan: pola pikir yang ia warisi dari ayahnya.
Setiap minggu saat makan malam keluarga, sang ayah akan bertanya, "Apa yang kamu gagal lakukan minggu ini?"
Alih-alih menghindari kegagalan, Sara justru dilatih untuk mencarinya. Karena itu berarti ia mencoba hal-hal baru.
Filosofi ini membentuk kepercayaan dasarnya: bahwa kegagalan adalah tanda kemajuan.
Ketika puluhan pabrik menolak idenya membuat pakaian dalam tanpa garis jahitan, ia tetap maju. Ia bahkan menggunakan korektor putih untuk menggambar desain awal produknya di atas pakaian.
Saat akhirnya produknya masuk ke Nordstrom, bukan karena pitch bisnis yang sempurna, tapi karena ia pergi sendiri ke toko dan menunjukkan produknya langsung ke staf.
Ia bergerak cepat, bahkan ketika ketakutan dan ketidakpastian masih berdampingan.
Sementara itu, di dunia yang sangat berbeda — teknologi dan kepemimpinan korporasi —Sheryl Sandberg menghadapi kekhawatiran yang menghancurkan.
Sebagai COO Facebook dan penulis buku laris Lean In, Sheryl dikenal sebagai sosok kuat dan ambisius.
Namun pada tahun 2015, hidupnya berubah drastis ketika suaminya, Dave Goldberg, meninggal mendadak saat mereka liburan. Ia tiba-tiba menjadi orang tua tunggal dan merasa seperti kehilangan kendali atas segalanya.
Dalam kesedihan dan ketakutannya, Sheryl menulis buku Option B, berkolaborasi dengan psikolog Adam Grant.
Ia menyadari bahwa tidak semua orang diberi "rencana A" dalam hidup, dan seringkali kita harus belajar menjalani "Option B", yakni kehidupan yang tidak kita pilih, tapi tetap harus kita maknai.
Ia belajar bahwa ketahanan bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang membangun kembali. “Ketika kehidupan menarik Anda ke bawah, kemampuan untuk bangkit—itulah keberanian,” tulisnya.
Ketakutan tidak bisa dihindari, tapi bisa dijinakkan melalui makna, komunitas, dan tindakan kecil yang terus berulang.
Kisah Sara dan Sheryl membuka jalan untuk memahami bahwa kekhawatiran adalah bagian alami dari kemanusiaan. Namun, bagaimana kita memaknai dan menanggapinya adalah kunci yang membedakan mereka yang melangkah maju dari mereka yang diam di tempat.
Wilda Hale, dalam bukunya The Fear of Failure, membongkar bagaimana ketakutan terhadap kegagalan seringkali menjadi tembok tak kasat mata yang membatasi kehidupan kita.
Ia menceritakan bagaimana ia sendiri berkali-kali melakukan sabotase diri; menunda meminta kenaikan gaji, menghindari kesempatan belajar ke luar negeri, dan membatalkan ide bisnis karena ketakutan yang belum terbukti.
Ia menyebut fase ini sebagai “self-rejection,” di mana seseorang menolak diri sendiri bahkan sebelum dunia sempat memberikan respons.
Tapi perubahan dimulai ketika Wilda mengubah perspektifnya. Ia mulai melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai umpan balik.
Sebuah eksperimen, bukan vonis.
Ia berhenti menunggu keberanian datang, dan mulai bertindak meskipun merasa takut. “Tindakan mendahului motivasi,” tulisnya.
Semakin ia bertindak, semakin ia menemukan bahwa ketakutan hanyalah gema dari masa lalu, bukan kebenaran masa kini.
Jia Jiang, penulis buku Rejection Proof, menguatkan premis ini. Ia memulai eksperimen pribadi dengan secara sengaja mencari penolakan selama 100 hari berturut-turut.
Dari meminta donat berbentuk cincin olimpiade hingga minta peluk orang asing, Jia menemukan bahwa ketakutan akan penolakan jauh lebih buruk dalam pikiran daripada kenyataan.
Justru, banyak orang merespons positif atau dengan rasa ingin tahu. Ia belajar bahwa keberanian bukanlah absennya rasa takut, tapi kemauan untuk tetap mencoba di tengah ketakutan itu.
Sementara itu, guru bernama Paul Brandwine mengajarkan filosofi hidup lewat tindakan sederhana, menumpahkan sebotol susu dan meminta murid-muridnya melihat bahwa tidak ada gunanya menyesalinya.
“Yang bisa kita lakukan hanyalah membersihkannya, melupakannya, dan bergerak ke langkah berikutnya,” katanya. Pesan itu sederhana, tapi sangat kuat: berhenti menatap masa lalu dengan penyesalan, dan fokus pada masa depan dengan niat.
Dan tentu saja, Jeff Bezos, pendiri Amazon, memperkuat ide ini dari sudut pandang bisnis. Ia tidak hanya gagal satu atau dua kali—tapi miliaran dolar dari proyek yang gagal. Namun Bezos tidak menyerah. Ia bahkan menyambut kegagalan sebagai harga dari eksperimen. Baginya, satu-satunya hal yang benar-benar menakutkan adalah tidak pernah mencoba.
Dari semua kisah ini, satu pola terlihat jelas: kekhawatiran tidak akan hilang, tapi bisa dikelola.
Perspektif adalah kuncinya.
Mengubah pertanyaan dari "Bagaimana jika saya gagal?" menjadi "Apa yang akan saya sesali jika saya tidak mencoba?" bisa menggeser ketakutan menjadi dorongan.
Kehidupan jarang datang tanpa risiko, tanpa ketidakpastian. Tapi seperti kata Sheryl, meski kita kehilangan rencana A, kita selalu bisa membangun rencana B—dan menjadikannya luar biasa.
Dan seperti Sara Blakely, kadang hal paling revolusioner yang bisa kita lakukan adalah melangkah dengan keberanian, bahkan ketika tak seorang pun percaya pada ide kita. Termasuk diri kita sendiri.
Penulis: Edhy Aruman
