Selasa, 30 Desember 2025

Adaptive



Jan Carlzon adalah seorang pemimpin maskapai penerbangan SAS Airlines yang dihadapkan pada kenyataan bahwa perusahaannya tertinggal dalam persaingan layanan. 

Ketika menjabat sebagai CEO, ia menyadari bahwa masalah utama SAS bukan semata-mata soal strategi atau efisiensi operasional, melainkan cara organisasi merespons pelanggan di garis depan. 

Carlzon kemudian mengambil keputusan yang tidak nyaman: memberikan kewenangan lebih besar kepada staf layanan, seperti petugas tiket dan pramugari, untuk mengambil keputusan langsung demi kepuasan pelanggan.

Misalnya, dalam hal pengembalian uang (refund). Juga memindahkan penumpang ke penerbangan maskapai lain jika diperlukan.

Sebelumnya, keputusan memindahkan penumpang adalah wewenang manajer tingkat tinggi, bukan karyawan yang berhadapan langsung dengan pelanggan. Itu karena memindahkan penumpang ke maskapai lain mempunyai konsekuensi keuangan perusahaan.  

Ketika staf memindahkan penumpang ke penerbangan maskapai lain, SAS harus membayar biaya tiket atau kursi kepada maskapai pesaing tersebut. Ini menciptakan pengeluaran tambahan secara langsung

 Ia paham bahwa langkah ini akan menggerus peran manajer menengah dan memicu resistensi internal. 

Ketika memutuskan untuk mendistribusikan wewenang itu, Carlzon tidak memiliki kepastian bahwa perubahan ini akan berjalan mulus. Namun ia tetap melangkah. 

Dia menyiapkan para pemangku kepentingan untuk menghadapi kekacauan sementara, dan menerima kenyataan bahwa sebagian orang harus kecewa agar organisasi dapat belajar dan bertumbuh.

Dalam konteks kepemimpinan adaptif, Carlzon memberi pelajaran tentang "Mengelola Pihak yang Memberi Otoritas" (Managing Authority Figures). 

Seorang pemimpin perubahan tidak hanya perlu memobilisasi orang-orang di bawahnya (staf garis depan). Pemimpin juga harus secara proaktif mengelola atasan (Dewan Direksi) untuk melindungi inisiatif perubahan tersebut agar tidak dimatikan saat situasi memanas.

Ketidakpastian mengenai langkah menuju "wilayah yang tidak diketahui" (unknown territory), yaitu mengoperasikan maskapai dengan memberikan otonomi keputusan finansial kepada staf garis depan, sebuah praktik yang belum lazim saat itu.

Kepemimpinan yang lahir dari ketidakpastian juga tampak dalam kisah seorang prajurit Inggris yang memimpin rekan-rekannya keluar dari ladang ranjau. 

Selama Perang Korea, sebuah batalion Inggris terperangkap di antara musuh dan ladang ranjau setelah komandan mereka tewas. 

Seorang anggota peleton tiba-tiba bangkit dan berkata, "Saya tahu jalan keluar dari sini." 

Lalu dia mulai berjalan melintasi ladang ranjau. Pasukan lain mengikutinya dan mereka semua selamat.

Ketika ditanya kemudian bagaimana ia tahu jalannya, ia mengaku bahwa ia sebenarnya tidak tahu sama sekali. Ia sadar bahwa jika ia terlihat ragu, tidak ada yang akan bergerak dan mereka semua akan mati. 

Dalam situasi ini, kepemimpinan bukan tentang memiliki jawaban yang benar, melainkan tentang keberanian menanggung risiko dan mengelola ketakutan kolektif agar kelompok tetap memiliki harapan untuk selamat.

Ia mengambil risiko (eksperimen) tetapi membingkainya sebagai kepastian ("solusi") karena situasi darurat menuntut keyakinan mutlak untuk mencegah kepanikan. Ini adalah contoh ekstrem tentang bagaimana pemimpin terkadang harus memproyeksikan kepercayaan diri meskipun sedang melangkah dalam ketidakpastian

Konosuke Matsushita (pendiri Panasonic) tumbuh dalam kondisi miskin dan hampir yatim piatu. Namun, ia memiliki ambisi yang kuat untuk menjadi orang yang berhasil secara materi. 

Ambisinya terpenuhi ketika pada usia 38 tahun, ia telah berhasil membangun salah satu perusahaan paling menjanjikan di Jepang. Dia pun keluar dari kemiskinan.

Tahun 1932, dia bertemu – cuma sebentar -- dengan sebuah kelompok keagamaan. Pertemuan itu memicu periode refleksi selama dua bulan yang menghasilkan redefinisi mendasar mengenai tujuan perusahaannya.

Dia tidak meninggalkan bisnis melainkan mengintegrasi antara profitabilitas dan tujuan sosial yang luhur. Dia ingin menjadikan bisnis sebagai alat pengentasan kemiskinan. 

Misi perusahaannya bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan untuk "mengatasi kemiskinan, membebaskan masyarakat secara keseluruhan dari kesengsaraan, dan membawa kekayaan bagi masyarakat".

Kisah-kisah ini, sebagaimana diuraikan dalam The Practice of Adaptive Leadership karya Ronald Heifetz, Marty Linsky, dan Alexander Grashow, menunjukkan bahwa kepemimpinan adaptif bukanlah tentang memberikan solusi cepat atau menjaga semua orang tetap nyaman. 

Berbeda dengan kepemimpinan otoritatif yang dituntut untuk memberikan solusi dan memenuhi harapan, kepemimpinan adaptif mengharuskan seseorang untuk menantang ekspektasi tersebut.

Kepemimpinan adaptif juga harus siap mengecewakan orang pada tingkat yang dapat mereka tolerans. Ia hadir ketika tantangan yang dihadapi tidak dapat diselesaikan hanya dengan keahlian teknis, melainkan menuntut perubahan cara berpikir, nilai, dan kebiasaan.

Otoritas diharapkan memberi jawaban dan stabilitas, sementara kepemimpinan adaptif sering kali justru mengganggu keseimbangan demi memungkinkan perubahan yang bermakna.

Kepemimpinan adaptif mengajak kita berani memimpin tanpa kepastian, setia pada tujuan di tengah kehilangan, dan cukup rendah hati untuk belajar bersama. 

Di sanalah kepemimpinan menjadi manusiawi: bukan memegang kendali penuh, melainkan menuntun orang bertumbuh melalui perubahan yang tidak selalu nyaman, namun bermakna bagi semua pihak. 

Penulis: Edhy Aruman

Sabtu, 27 Desember 2025

PENSIUN: Should Old Man Engage in Politics?


Suatu hari di Athena, seorang lelaki tua berdiri di pengadilan. Dia bukan sebagai terdakwa kejahatan, melainkan sebagai tersangka kelemahan. 

Ia adalah Sophocles, penyair tragedi besar. Dia dituduh oleh anak-anaknya sendiri telah pikun dan tak lagi cakap mengelola hartanya. 

Tuduhan itu terdengar masuk akal di mata hukum: usia lanjut sering disamakan dengan kemunduran akal. 

Namun Sophocles tidak membela diri dengan argumen panjang atau ratapan emosional. Ia hanya membacakan bagian pembuka dari naskah drama terbarunya, Oedipus at Colonus.

Kata-kata yang mengalir penuh keindahan dan kedalaman itu seketika mengubah ruang sidang menjadi teater. Para juri bertepuk tangan, tuduhan gugur, dan Sophocles pulang dengan kehormatan. 

Dalam buku How to be a leader,  Plutarch memulai esainya Should an Old Man Engage in Politics? dengan kisah ini untuk menggugah pertanyaan mendasar: benarkah usia tua identik dengan ketidakmampuan, atau justru sebaliknya, usia tua menyimpan bentuk kecakapan yang paling matang?

Plutarch adalah filsuf, sejarawan, dan penulis Yunani–Romawi (±46–120 M) yang terkenal melalui Moralia dan Parallel Lives, karya tentang etika, kepemimpinan, dan teladan hidup.

Plutarch menolak anggapan bahwa pemimpin lanjut usia sebaiknya menyingkir dari kehidupan publik. Baginya, pengalaman panjang bukan beban, melainkan modal politik yang tak tergantikan. 

Untuk memperjelas argumennya, ia menghadirkan kontras tajam antara dua tokoh Romawi: Lucullus dan Pompey. 

Lucullus adalah jenderal besar yang memilih pensiun dini demi kemewahan. Rumah-rumah megah, pesta berlebihan, dan kenikmatan sensual mengisi hari tuanya. 

Namun Plutarch menggambarkan kehidupan Lucullus yang pasif itu seperti bunga karang di laut yang tenang: perlahan layu karena tak lagi digerakkan arus. Bahkan keputusan-keputusannya diserahkan pada bekas budak yang memberinya ramuan aneh, seolah hidupnya sendiri kehilangan kendali.

Berbeda dengan Lucullus, Pompey tetap aktif dan menaruh curiga pada kemewahan yang melemahkan karakter. Ketika seorang dokter menyarankan ia memakan burung thrush yang hanya tersedia di peternakan mewah Lucullus, Pompey menolak.

Ia bertanya sinis apakah ia tak akan bertahan hidup jika Lucullus bukan seorang hedonis. 

Dalam anekdot sederhana ini, Plutarch menanamkan pesan kuat: bagi orang tua, keterlibatan dalam urusan publik lebih pantas daripada tenggelam dalam kesenangan pribadi. Aktivitas politik menjaga martabat, sementara kemewahan berlebih justru menggerogoti kebajikan.

Lebih jauh, Plutarch menunjukkan bahwa usia tua menghadirkan jenis keberanian yang tak dimiliki kaum muda. Solon dari Athena menjadi contoh. 

Ketika Pisistratus mulai bergerak menuju tirani, tak satu pun warga berani melawan. Solon, yang telah renta, justru keluar rumah membawa senjata dan menantang ketakutan kolektif itu. 

Saat ditanya dari mana datangnya keberanian tersebut, jawabannya singkat dan legendaris: dari masa tuanya. Usia membuatnya bebas dari ambisi, sehingga keberaniannya murni, tak tercemar oleh harapan pribadi.

Kewibawaan usia juga tampak dalam kisah Appius Claudius. Dalam keadaan tua dan buta, ia ditandu ke Senat Romawi ketika para senator hendak menerima perjanjian damai yang memalukan setelah kalah perang. 

Dengan pidato yang tajam, ia menyatakan lebih baik menjadi tuli daripada mendengar rencana yang merendahkan kehormatan negara. Kata-katanya mengubah keputusan Senat. 

Di sini, Plutarch menegaskan bahwa suara seorang tetua, meski tubuhnya rapuh, mampu menjadi jangkar moral bagi negara yang goyah.

Plutarch tidak menutup mata terhadap keterbatasan fisik usia lanjut, tetapi ia menolak menjadikannya alasan pensiun total. 

Ia mengajukan analogi kuda Bucephalus milik Alexander Agung. Saat kuda itu menua, Alexander tidak lagi menungganginya untuk tugas ringan, tetapi ketika pertempuran besar tiba, Bucephalus tetap menjadi pilihan utama. 

Begitu pula pemimpin tua: mereka seharusnya menahan diri dari urusan sepele, memberi ruang bagi yang muda, namun siap maju ketika krisis besar menuntut kebijaksanaan dan keberanian yang telah teruji waktu.

Pada akhirnya, esai Plutarch bukan sekadar pembelaan bagi orang tua dalam politik, melainkan refleksi tentang kepemimpinan bijaksana. 

Kepemimpinan sejati tidak diukur dari tenaga fisik atau ambisi yang menyala-nyala, melainkan dari kejernihan akal, penguasaan diri, dan komitmen seumur hidup pada kebaikan bersama. 

Sophocles di pengadilan, Pompey yang menolak kemewahan, Solon yang berani karena usia, dan Appius Claudius yang menegur Senat, semuanya menunjukkan bahwa usia lanjut bukan akhir dari kepemimpinan. Justru di sanalah politik menemukan bentuknya yang paling matang: tenang, bermartabat, dan berakar pada kebijaksanaan.

Pada akhirnya, pesan Plutarch sederhana namun kuat: _pemimpin bijak mungkin berhenti mengejar jabatan, tetapi tidak pernah berhenti mengabdi.

 Negara paling aman adalah yang memadukan energi kaum muda dan kebijaksanaan para tetua. 

Penulis: Edhy Aruman


RUJUKAN

Plutarch. (2004). _How to be a leader_ (I. Scott-Kilvert & C. Pelling, Trans.). Penguin Classics. (Karya asli diterbitkan ca. abad ke-1–2 M).

Plutarch. (2001). _Lives_ (J. Dryden, Trans.). Modern Library.

Plato. (1997). _Complete works_ (J. M. Cooper & D. S. Hutchinson, Eds.). Hackett Publishing.

Senin, 22 Desember 2025

"Revolusi Tidur"



Pagi di bulan April 2007, Arianna Huffington pingsan di kantornya. Dia mengalami kelelahan ekstrem. Ia jatuh, kepalanya menghantam meja, tulang pipinya patah, dan ia siuman dalam genangan darahnya sendiri.

Peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan kerja. Itu merupakan pesan keras dari tubuh yang selama ini diabaikan. Arianna, yang kala itu sedang membangun The Huffington Post dengan ritme kerja tanpa henti, menyadari bahwa keyakinannya; dan keyakinan banyak orang, bahwa kurang tidur menjadi harga yang wajar untuk sukses. 

Ternyata itu sebuah ilusi berbahaya. Dari momen inilah lahir gagasan besar yang kemudian ia sebut sebagai Sleep Revolution. Itu adalah gerakan yang menempatkan tidur sebagai dasar kesehatan, kejernihan mental, dan kesuksesan, menentang budaya kerja berlebihan yang merusak manusia.

Arianna Huffington, bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah jurnalis, penulis, pengusaha media, dan salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia modern. 

Lahir di Yunani, menempuh pendidikan di Cambridge, dan kemudian meniti karier di Amerika Serikat, Arianna dikenal sebagai pendiri The Huffington Post, media digital yang mengubah lanskap jurnalisme global. 

Arianna kerap disebut “ratu media modern.” Ia bukan hanya mendirikan The Huffington Post, tetapi mengubah wajah media digital: dari media satu arah menjadi ruang percakapan cepat, partisipatif, dan berpengaruh. 

Penjualan HuffPost ke AOL menegaskan bahwa media digital setara, bahkan lebih kuat, dari media tradisional.

Yang membuatnya benar-benar modern adalah keberaniannya bertransformasi. Setelah sukses sebagai mogul media, ia justru mengkritik budaya kerja berlebihan yang ikut ia bangun. Ia lalu memimpin wacana global tentang tidur, kesejahteraan, dan produktivitas berkelanjutan melalui The Sleep Revolution dan Thrive Global.

Jika raja media lama berkuasa lewat kontrol, Arianna berpengaruh lewat ide, empati, dan relevansi zaman. Dalam arti itu, sebutan “ratu media modern” layak disematkan.

Namun, di balik kesuksesan intelektual dan profesionalnya, ia sempat terperangkap dalam budaya kerja berlebihan yang memuja kesibukan dan mengorbankan tidur. Pengalaman pingsan itu mengubah arah hidup dan pemikirannya secara mendasar.

Sleep Revolution adalah sebuah gerakan pemikiran yang menantang cara kita memandang tidur. Dalam buku The Sleep Revolution, Arianna menegaskan bahwa tidur bukanlah kemewahan, kelemahan, atau penghalang produktivitas, melainkan fondasi kesehatan, kejernihan mental, kreativitas, dan keberhasilan jangka panjang. 

Revolusi ini mengajak manusia modern untuk keluar dari budaya “selalu terjaga” dan kembali menghormati ritme biologisnya sendiri. Tidur, menurut Arianna, adalah kebutuhan fundamental yang tidak bisa digantikan oleh kopi, ambisi, atau teknologi.

Untuk memperkuat pesannya, Arianna merangkai berbagai kisah dari sejarah, sains, dan kehidupan populer. Salah satu yang paling mengerikan adalah eksperimen_ “Wakeathon”Peter Tripp pada tahun 1959. 

DJ radio ini mencoba tidak tidur selama lebih dari delapan hari demi amal. Alih-alih menunjukkan ketangguhan manusia, eksperimen itu justru membuka sisi gelap kurang tidur: perubahan kepribadian, halusinasi, paranoia, dan kerusakan fungsi otak. 

Kisah Tripp menjadi cermin ekstrem dari apa yang sebenarnya terjadi, dalam skala lebih kecil, pada jutaan orang yang terus-menerus begadang.

Sejarah juga memperlihatkan bagaimana sikap manusia terhadap tidur berubah. Benjamin Franklin dan John Adams pernah berbagi tempat tidur di sebuah penginapan sempit pada tahun 1776, dan perdebatan mereka tentang jendela kamar berakhir dengan Adams tertidur lelap saat Franklin berteori panjang lebar. 

Tidur kala itu adalah aktivitas alami dan komunal, bukan sesuatu yang harus disembunyikan. 

Kontras dengan era modern, Thomas Edison justru memerangi tidur. Ia menganggap tidur sebagai kebiasaan buruk dan memprediksi manusia suatu hari tidak akan tidur sama sekali. 

Pandangan ini ikut membentuk budaya produktivitas ekstrem yang masih kita warisi, meski ironisnya Edison sendiri diduga menanggung dampak kesehatannya.

Namun, _Sleep Revolution_ tidak hanya berisi peringatan. Arianna juga menunjukkan kekuatan tidur dan mimpi sebagai sumber kreativitas. 

Paul McCartney menemukan inspirasi lagu _“Let It Be”_ dari mimpi tentang ibunya. Madam C.J. Walker membangun imperium bisnis dari formula yang datang dalam tidur. Elias Howe memecahkan kebuntuan desain mesin jahitnya setelah mimpi buruk yang penuh simbol. Semua kisah ini menegaskan bahwa saat kita tidur, pikiran tidak berhenti bekerja. Ia justru menemukan jalannya sendiri.

Di dunia modern, kurang tidur bahkan mendorong manusia pada solusi instan yang berbahaya, seperti ketergantungan obat tidur. 

Kisah-kisah tentang perilaku aneh akibat Ambien, dari merekam salad hingga belanja ribuan dolar tanpa sadar, menunjukkan betapa rapuhnya kesadaran ketika kita mencoba memanipulasi tidur alih-alih menghormatinya. 

Sebaliknya, ketika tidur dipulihkan, hasilnya nyata. 

Atlet NBA Andre Iguodala membuktikan bahwa tidur delapan jam semalam dapat meningkatkan performa secara signifikan. Tidur bukan membuatnya malas, tetapi justru menjadikannya juara.

Semua kisah ini kembali bermuara pada “panggilan bangun” Arianna Huffington. Darah di lantai kantornya adalah simbol dari harga yang harus dibayar ketika manusia melawan kodrat biologisnya. 

_Sleep Revolution_ mengajak kita untuk berhenti membanggakan kelelahan, berhenti mengukur nilai diri dari seberapa sibuk kita, dan mulai melihat tidur sebagai bentuk kebijaksanaan. 

Revolusi ini bukan tentang tidur lebih lama semata, melainkan tentang hidup lebih sadar, lebih sehat, dan lebih utuh. Dalam dunia yang terlalu terjaga, mungkin tindakan paling radikal adalah memejamkan mata dan benar-benar beristirahat. *Edhy Aruman*


*RUJUKAN*

Huffington, A. (2016). _The sleep revolution: Transforming your life, one night at a time._ New York, NY: Harmony Books.

Rabu, 03 Desember 2025

PAK AR FACHRUDIN TERNYATA SEORANG "KONTRAKTOR"?


Di Indonesia, kalau kita mendengar kata kontraktor, bayangan kita biasanya adalah pria berhelm kuning yang mondar-mandir di proyek sambil memegang blueprint dan memarahi tukang karena lambat bekerja atau semen sampe habis. Atau paling tidak orang kaya yang punya kenalan pejabat. 

Tapi rupanya, ada satu kontraktor yang tidak pernah masuk daftar: Pak AR Fachruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah selama 22 tahun. Bedanya, beliau bukan kontraktor bangunan, beliau kontraktor, rumahnya ngontrak. Bahkan sampai akhir hayat, beliau tidak memiliki rumah. Benar-benar kontraktor profesional, berpindah-pindah, dan yang lebih keren lagi: seringnya rumah itu katanya ada jin penunggunya.

Pak AR, dengan segala kesederhanaannya, memilih rumah-rumah yang harga sewanya miring, dan biasanya, rumah murah itu punya dua kemungkinan: catnya mengelupas atau katanya ada penghuni tak kasatmata. Dalam kasus Pak AR, paket hemat itu berisi keduanya.

Contohnya waktu beliau tinggal di Sentolo, Kulonprogo. Rumah sewa dekat stasiun, lama kosong, pemiliknya Mbah Radi yang terkenal galak. Sudah cocok untuk konten "Dunia Lain". Katanya, setiap malam ada suara orang menimba air. Mistis banget. Begitu dihuni Pak AR, rupanya suara itu cuma bambu senggot kena angin. Jadi, daripada jin menimba air, kenyataannya hanya teknologi tradisional yang kurang peredam suara.

Lanjut ke Kauman. Rumah sewa lagi, kali ini katanya dihuni jin bernama Trowongso. Namanya saja sudah seperti tokoh sampingan dalam film Gundala. Malam-malam ada suara anak menangis, lalu suara “dar-der” seperti dilempari batu. Setelah dicek, suara tangisan itu dari hewan sejenis luwak. Suara “dar-der” ternyata buah sawo jatuh kena atap seng. Jinnya? Tidak pernah muncul. Mungkin Trowongso pun malas ketemu keluarga yang terlalu positif thinking.

Yang paling menarik adalah ketenangan Pak AR. Orang lain kalau dengar rumah berhantu langsung siap-siap bawa air ruqyah ukuran galon. Pak AR? Tenang saja. Seolah-olah beliau punya kesepakatan damai dengan seluruh dunia gaib: “Kamu jangan ganggu saya, saya juga nggak akan menagih kontrakan dari kamu.”

Ironisnya, meski langganan kontrakan, beliau justru ditipu developer saat mencoba mencicil rumah sendiri. Duitnya dibawa kabur. Bukannya marah, beliau menenangkan istrinya, berkata bahwa Allah akan mengganti dengan rumah di surga. Jawaban yang bukan hanya bijak, tapi juga menunjukkan bahwa beliau mungkin memang paling cocok tinggal di bumi tanpa kredit, tanpa cicilan, dan tanpa drama developer.

Dan ketika Muhammadiyah ingin memberi tanah dan membangunkan rumah untuk keluarga Pak AR setelah beliau wafat, istrinya malah menolak. “Muhammadiyah lebih membutuhkan tanah itu,” katanya. Kalau ini terjadi di zaman sekarang, mungkin headline-nya: “Keluarga Mantan Ketua Umum Tolak Hibah, Netizen Bingung: Ini Kok Bisa?”

Begitulah. Pak AR adalah satu-satunya “kontraktor” yang justru meninggalkan warisan non-fisik paling besar: teladan kesederhanaan. Tidak pernah punya rumah, tapi jadi tokoh besar. Sementara banyak orang zaman sekarang sudah punya rumah luas dua lantai, tapi hatinya tetap sempit.

Kadang-kadang, kalau membaca kisah Pak AR, kita jadi sadar: rumah itu penting, iya. Tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita tinggal di dunia dengan jujur, ringan, dan tidak mudah takut sama suara sawo jatuh yang disangka jin.

Allahu a'lam

Selasa, 02 Desember 2025

Ketika Pejabat Publik Pakai Rompi Anti-Peluru di Tengah Banjir — Sebuah Subtext yang Mengapung ke Permukaan


Air bah belum surut ketika seorang figur publik muncul di tepian genangan, sepatu botnya menjejak lumpur yang pekat. Verrell Bramasta, anggota DPR dari PAN, datang meninjau korban banjir di Sumatera Barat. Kamera-kamera warga spontan menyorot kehadirannya, bukan pada bantuan yang ia bawa, bukan pula pada dialognya dengan mereka yang kehilangan rumah.

Yang paling mencuri perhatian justru sesuatu yang menempel di tubuhnya: sebuah rompi taktikal warna gelap, penuh kantong dan strap. Sekilas, amat mirip rompi anti-peluru yang biasa dipakai pasukan khusus. Dalam hitungan menit, foto-fotonya menyebar, dan begitu pula tafsir publik yang mengalir lebih cepat dari arus banjir.

Apakah Verrell merasa berada di zona perang? Apakah ada ancaman lain selain air yang meluap? Ataukah ini sekadar gaya?

Belakangan, Verrell mengklarifikasi. Rompi itu, katanya, hanya tactical vest biasa—semacam “peralatan kerja” untuk menyimpan perlengkapan di medan bencana yang sulit. Tidak lebih. Namun publik terlanjur memberi makna. Dan di sinilah cerita sebenarnya dimulai.

Dalam komunikasi publik, terkadang yang paling nyaring justru bukan kalimat yang terucap, melainkan simbol yang diam. Itulah yang disebut subtext: lapisan makna yang mengalir di bawah permukaan, muncul dari pakaian, gestur, ekspresi, bahkan reputasi sang komunikator. Subtext bukan sesuatu yang dirancang secara eksplisit, tapi audiens selalu menemukannya, seperti membaca arus sungai dari riak di permukaan.

Secara semiotika, publik memaknai apa pun yang terlihat sebagai tanda. Rompi, dalam konteks bencana, bukan sekadar rompi: ia membawa konotasi. Dalam situasi krisis, manusia memproses pesan lewat jalur cepat emosi dulu, logika belakangan. Karena itu pakaian bisa menjadi “pesan pertama” yang membentuk persepsi, bahkan sebelum sang komunikator membuka mulut.

Pada kasus Verrell, rompi taktikal itu menjadi narasi tersendiri. Bagi sebagian orang, ia terlihat siap tempur, sigap, dan profesional menghadapi medan yang berat. Namun bagi yang lain, tampilannya terasa dramatis, seolah-olah ia sedang syuting film aksi, bukan meninjau banjir. Tanpa satu kata pun, rompi itu menciptakan dunia interpretasi: dari heroik, niat baik, sampai pencitraan yang berlebihan.

Niat Verrell mungkin sederhana: hadir dan membantu. Tetapi subtext-nya melompat jauh, membentuk opini yang tidak selalu selaras dengan maksud aslinya. Begitulah komunikasi publik bekerja—kadang yang ingin disampaikan tenggelam, yang tak disengaja justru muncul ke permukaan.

Di lokasi bencana, keputusan visual adalah keputusan strategis. Pilihan pakaian, siapa yang mendampingi, bagaimana kamera menangkap momen—semuanya bisa berubah menjadi pesan. Bahkan sebuah rompi sederhana pun dapat menggeser cerita.

Lalu, kembali pada pertanyaan awal: Makna apa yang Anda tangkap ketika melihat Verrell dengan rompi taktikal itu?  Heroik? Keren? Atau justru Jagoan di tengah banjir?

Setiap mata punya jawabannya sendiri.