Minggu, 21 September 2025

Sudut Pandang yang Mengubah Hidup

Pagi ini lampu di langgar sebelah masih menyala terang benderanh. Padahal biasanya tetangga yang berada tepat di sebelah langgar itu, yang tinggal di kontrakan Pak Minto, akan membersihkan lantai langgar dan mematikan lampu.

Aku duduk di kursi depan sambil menikmati kopi pahit Dan Pisang rebus. Di kejauhan terdengar suara sirine ambulan yang terdengar mendesak minta jalan melaju. 

Padahal, rumah kami ini cukup jauh masuk gang, dari jalan raya. Tapi raungan sirinenya meraung seolah minta diberi jalan. 

Pagi ini aku memutuskan akan mengambil alih dan bertanggung jawab penuh atas hidupku. Tanpa bermaksud melawan kuasai Gusti Allah...

Gugatan ini bukan sebuah terobosan baru. Aku beberapa kali pernah mendeklarasikan hal yang sama. Aku pernah menjadikan ini sebagai sebuah komitmen untuk "berhenti menyalahkan orang lain" atau "stop mencari kambing hitam atas kesalahan ataupun kegagalan."

Tapi ini bukan untuk diriku saja, melainkan juga untuk kita semua. Tapi ah sudahlah, aku bukanlah guru yang katanya bisa digugu dan ditiru. 

Ini memang lagi ngedumel. Mengapa hidup sulit?

Jawabnya adalah, karena pekerjaan lagi susah, karena konsumen pada lari ke toko lain, karena banyak PHK sehingga orang-orang pada susah.

Tapi jarang menjawab, karena aku tidak beradaptasi terhadap perubahan.

Benar?

Kenyataannya, menyalahkan diluar diri kita tak membuat solusi ditemukan. Terlebih membuat diri semakin "terpenjara" dalam kesusahan.

Bandingkan saat memilih bertanggung jawab pada apa yang terjadi pada diri ini.

"Aku akui kesulitan hidup yang terjadi Dan dialami karena kurang belajar, kurang beradaptasi terhadap perubahan jaman. Tapi sekarang aku memilih bertanggung jawab atas hidupku sendiri, memilih belajar hal baru sampai ahli agar tetap bisa berdaya, bisa unggul, bisa menghasilkan. Ini akan jadi lebih produktif."

Tidak gampang ini, tapi juga bukan hal yang sulit untuk dilakukan.

Akupun merasakan, ada getaran, ada gelombang yang awalnya merambat pelan dan merasakan kehangatan kekuatan baru muncul dalam dada lalu menyebar ke seluruh badan.

Wah kekuatan itu datang... Alhamdulillah semoga jadi dorongan baru untuk bangkit....

Itulah kesadaran, itulah SelfTalk. Sederhana tapi berdampak. 

Dibimbing dan diarahkan, memang lebih nyaman. 

Pagi ini masih sepi, sesekali terdengar suara ayam jantan di halaman samping. Tetangga menitipkan beberapa ayam di halaman samping, mengingat dia tak punya halaman, tak ada tempat untuk berternak ayam.

Jumat, 12 September 2025

Gagal di Dunia Masih Bisa Diperbaiki

Nasehat buat diri sendiri dan anak-anaku

Setiap orang pernah merasakan kegagalan. Entah itu gagal dalam pendidikan, pekerjaan, usaha, bahkan dalam urusan pribadi, percintaan dan sebagainya. Rasanya memang tidak enak—sedih, kecewa, atau merasa hidup hancur. Tapi, sebenarnya kegagalan di dunia bukanlah akhir dari segalanya. Selama kita masih diberi kesempatan hidup, kita selalu bisa bangkit dan mencoba lagi.

Berbeda dengan kegagalan di akhirat. Sekali kita gagal di sana, tidak ada kesempatan kedua. Itulah mengapa hidup di dunia sebenarnya bukan tujuan akhir, melainkan hanya tempat persinggahan untuk mempersiapkan perjalanan panjang setelah kematian.

Allah ﷻ sendiri mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sementara kehidupan akhirat jauh lebih berharga bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-An‘ām: 32). Artinya, kegagalan di dunia masih bisa ditebus, tapi kegagalan di akhirat tidak ada obatnya.

Rasulullah ﷺ bahkan menggambarkan dunia sebagai ladang akhirat. Apa yang kita tanam di sini—amal baik atau keburukan—akan menentukan apa yang kita panen di kehidupan setelah mati. Kalau yang ditanam kebaikan, hasilnya keselamatan. Tapi kalau yang ditanam justru dosa dan kelalaian, penyesalan panjang menanti.

Sayangnya, manusia sering lebih takut gagal di dunia ketimbang di akhirat. Gagal ujian, gagal kerja, atau gagal bisnis bisa bikin gelisah berhari-hari. Tapi, ketika shalat mulai lalai atau dosa dilakukan berulang, seringkali hati kita tetap tenang-tenang saja. Padahal, kegagalan sejati justru ketika seseorang tidak meraih ridha Allah ﷻ.

Allah ﷻ menegaskan dalam QS. Āli ‘Imrān: 185 bahwa orang yang selamat dari neraka dan masuk surga, dialah yang benar-benar sukses. Dunia ini, dengan segala gemerlap dan pencapaiannya, hanyalah kesenangan sementara.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadis sahih: ketika seseorang meninggal, hanya amalnya yang akan menemaninya. Keluarga, harta, dan jabatan—semua akan ditinggalkan. Karena itu, yang paling penting bukanlah seberapa tinggi kita mencapai dunia, melainkan seberapa baik kita mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Meski begitu, bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Allah ﷻ berpesan agar kita tetap mencari bagian kita di dunia, tetapi jangan sampai melupakan akhirat (QS. Al-Qashash: 77). Dunia dan akhirat harus berjalan seimbang: bekerja, belajar, berusaha, iya; tapi tetap menjaga ibadah dan amal saleh sebagai bekal yang tak tergantikan.

Sahabat, jika gagal di dunia, jangan berputus asa. Masih ada kesempatan untuk mencoba lagi. Allah ﷻ bahkan menegaskan bahwa setiap manusia pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah mereka yang mau bertaubat (HR. Tirmidzi).

Yang harus diingat, kesempatan itu hanya ada di dunia. Saat nyawa berakhir, pintu taubat tertutup. Karena itu, jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu esok untuk berubah, karena kita tidak tahu apakah esok masih ada.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah yang hanya mengikuti hawa nafsunya.” (HR. Tirmidzi).

Mari kita belajar menjadi orang yang cerdas—yang menjadikan kegagalan di dunia sebagai pelajaran, bukan sebagai akhir dari segalanya. Karena sejatinya, gagal di dunia masih bisa diperbaiki. Tetapi gagal di akhirat, tidak ada jalan kembali.

Rabu, 10 September 2025

Saat Hati Diuji: Menyulam Luka Menjadi Doa

Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada saat-saat ketika takdir menghadirkan ujian yang berat: kehilangan, kekecewaan, atau luka yang membuat kita hampir menyerah. Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menimpakan ujian untuk mereka...” (HR. Ibnu Majah).

Ujian bukanlah hukuman, melainkan tanda cinta. Dari rasa sakit kerang, lahirlah mutiara. Dari panas dan tempaan besi, tercipta pedang yang kuat. Dari kepompong yang sulit diterobos, lahirlah kupu-kupu dengan sayap indah. Begitu pula manusia: kita ditempa ujian agar menjadi lebih kokoh dan bernilai.

Sayangnya, kita sering terjebak pada keinginan hasil instan, melupakan proses yang penuh makna. Padahal Allah tidak pernah memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Setiap ujian sudah disertai jalan keluar—asal kita bersabar dan berserah.

Para Nabi pun menjalani ujian besar. Nabi Ibrahim AS diuji dengan pengorbanan terhadap keluarga. Nabi Yusuf AS melewati pengkhianatan, godaan, hingga penjara. Dari ujian itulah lahir keteladanan yang abadi.

Maka ketika hati diuji, jangan hanya melihat luka. Lihatlah kesempatan untuk menjadikannya doa. Setiap air mata bisa menjadi jalan menuju ridha Allah. Setiap cobaan bisa menjadi undangan untuk lebih dekat pada-Nya.

Ujian bukan akhir, melainkan awal dari kedewasaan iman. Mari belajar menyulam luka menjadi doa.

Rabu, 03 September 2025

Aluna

“Buuk Crook! Buuk Crook! Buuk Crok!”

Entah sudah ke berapa ratus kali cangkul itu diayunkan oleh tangan Aluna. Setiap kali mata besinya terangkat ke udara lalu jatuh kembali, tanah merah di depannya terbelah tanpa bisa menolak. Tanah basah itu diam saja, menerima nasib dengan sabar, seakan tahu bahwa pada akhirnya apa pun yang lahir dari tubuhnya akan kembali kepadanya juga.

Air yang terselip di sela tanah berbeda sikap. Ia selalu mudah tersinggung. Setiap kali dihantam cangkul, ia memercik liar, melontarkan lumpur ke betis dan paha Aluna. Celana kerjanya yang dulu bersih kini penuh noda cokelat pekat. Namun Aluna tak peduli.

Bagi perempuan itu, tanah, air, dan cangkul sudah menjadi satu-satunya dunia. Matanya menentang tanah, tangannya menghidupkan cangkul, kakinya mengatur langkah, sementara pikirannya berjalan jauh. Ada wajah ibunya yang menua di beranda rumah, ada suara adiknya yang meminta biaya sekolah, dan ada berita buruk yang terus menghantui: sawah yang ia cangkul ini kabarnya akan dijual untuk proyek jalan raya.

Setiap ayunan cangkul terasa seperti perlawanan kecil.

“Selama tanah ini masih di bawah kakiku,” batin Aluna, “ia tetap milikku, meski hanya untuk sebentar.”

Tanah tidak pernah menuntut balas jasa, tidak pernah marah. Tapi Aluna tahu, tanah juga menyimpan rahasia—ia menyaksikan setiap keringat, setiap air mata, setiap janji yang diucapkan petani. Dan di bawah sinar matahari yang semakin terik, Aluna terus mencangkul, seolah ingin menanamkan tekadnya ke dalam bumi: bahwa hidup boleh diguncang, tapi ia tak akan menyerah.

Baik, saya akan melanjutkan cerita Aluna dengan merujuk pada teks yang kamu berikan. Saya gabungkan nuansa puitis perubahan alam dengan batin Aluna, sehingga alur tetap hidup dan terasa menyatu.

Perubahan warna pada tanah yang membentang di depan Aluna sama sekali tak ia sadari. Sejam yang lalu, tanah itu masih kelabu kehitaman. Kini, di bawah cahaya yang mulai menanjak, tanah tampak cokelat kemerah-merahan, seperti sedang berdandan menyambut hari baru.

Ia juga tak begitu mendengar perubahan bunyi-bunyian di sekitarnya. Saat ia mulai mencangkul, suara percik air bercampur dengan kokok ayam jantan dan kerik jangkrik. Kini, suara jangkrik mulai redup, berganti dengan nyanyi burung yang berkejaran di langit fajar. Kegembiraan kecil bersayap itu begitu tulus, seolah-olah mereka sedang menabuh musik suci, menyambut anugerah pagi dengan puja-puji kepada Tuhan.

Sinar matahari merah keemasan perlahan merayapi cakrawala, memercikkan cahaya kehidupan. Pohon-pohon asem dan mahoni di tepi jalan mulai keluar dari gelap, menggeliat seperti manusia yang baru bangun, mengusir pegal setelah semalaman terlelap. Daun-daun muda di ujung ranting bergerak lembut tertiup angin, seperti melambaikan salam kepada hari yang baru lahir.

Di atas sawah berair, garis keemasan tampak melukis permukaan. Rumput-rumput di galengan memantulkan cahaya, dihiasi butir embun yang bergelantung bagai mutiara. Semua benda, baik yang hidup maupun mati, seakan mandi dalam cahaya kebahagiaan yang dibawa sinar keemasan pagi.

Aluna berhenti sejenak. Nafasnya terengah, keringat mengalir deras, namun matanya terpaku pada lukisan semesta di hadapannya. “Alangkah indah,” bisiknya lirih. Tapi dalam keindahan itu, hatinya terguncang. Sawah ini, yang kini bermandi cahaya, sebentar lagi mungkin hanya tinggal kenangan. Proyek jalan raya akan datang, menggantikan semua—tanah, embun, nyanyian burung, bahkan keringatnya.

Ia menggenggam cangkulnya erat-erat, seakan benda itu satu-satunya pegangan yang tersisa. Dalam hati, ia bertanya: apakah manusia memang tahu menerima dan menghargai berkah seperti bumi dan burung-burung ini? Atau justru selalu ingin merampas lebih, tanpa pernah cukup?

Sinar matahari terus menanjak, tapi hati Aluna semakin diliputi kabut keraguan. Namun ia tahu satu hal: selama embun masih menetes di ujung rumput, selama burung masih bernyanyi menyambut pagi, ia pun tak boleh menyerah.