Tampilkan postingan dengan label Menulis berlatih menulis kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis berlatih menulis kreatif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2026

Ketinggaian

 


Dr. Paulo Freire adalah seorang pendidik progresif, pemikir, dan penulis asal Brasil. Namanya sering disebut sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pendidikan orang dewasa dan pedagogi kritis. 

Karya-karyanya—terutama Pedagogy of the Oppressed dan Pedagogy of Hope —dibaca di berbagai belahan dunia dan menjadi rujukan bagi mereka yang percaya bahwa pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan sekadar mengisi kepala dengan pengetahuan.

Semua itu mungkin sudah banyak diketahui. Namun tidak semua orang tahu bahwa Freire juga pernah melakukan kesalahan yang sangat sederhana, bahkan sangat manusiawi: ia gagal membaca audiensnya sendiri.

Suatu malam, Freire diundang untuk berbicara di hadapan para buruh dan orang tua murid. Ia datang dengan keyakinan penuh sebagai seorang intelektual. Ia berbicara tentang pendidikan anak, tentang pentingnya dialog, tentang menolak kekerasan dalam mendidik, dan tentang hubungan yang penuh kasih antara orang tua dan anak. Ia mengutip pemikiran ilmuwan besar dan menyusun argumen yang logis serta meyakinkan. Kata-katanya mengalir lancar, seperti seorang dosen yang sedang menyampaikan kuliah di ruang universitas.

Namun tanpa ia sadari, ruangan itu bukan ruang kuliah. Di hadapannya bukan mahasiswa yang datang untuk belajar teori. Yang hadir adalah orang-orang yang setiap hari berhadapan dengan rasa lapar, kelelahan, dan ketidakpastian hidup.

Di situlah jarak mulai terasa.

Orang merasa bahasa yang digunakan—kata orang—ndaki-en. Terlalu tinggi. Terlalu jauh dari keseharian mereka.

Pengetahuan yang dimaksudkan untuk membebaskan justru bisa terasa jauh ketika ia disampaikan tanpa memahami dunia orang yang mendengarnya. Freire datang dengan gagasan yang benar secara teori, tetapi belum sepenuhnya menyentuh kenyataan hidup yang keras.

Ia berbicara tentang kesabaran dalam mendidik anak, sementara sebagian orang tua di ruangan itu sedang berjuang sekadar memastikan anak-anak mereka makan malam. Ia berbicara tentang dialog, sementara hidup mereka dipenuhi tekanan yang membuat kesabaran menjadi sesuatu yang mahal.

Situasi itu mungkin tampak biasa dari luar. Namun di dalam ruangan, suasananya terasa berat—seperti ada sesuatu yang tidak pas, meskipun sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kesalahan Freire bukan terletak pada niatnya. Ia tidak bermaksud merendahkan siapa pun. Yang terjadi lebih sederhana: ia menggunakan bahasa yang terlalu tinggi untuk orang-orang yang hidup dalam keterbatasan. Ia membawa konsep yang besar, tetapi belum sepenuhnya membumi.

Pada suatu titik, seorang buruh berdiri.

Ia tidak berbicara dengan istilah ilmiah. Ia tidak mengutip teori pendidikan. Ia hanya bercerita tentang hidupnya sendiri. Tentang rumah yang sempit, tubuh yang lelah, dan anak-anak yang menangis karena lapar. Ia menjelaskan bagaimana kerasnya kehidupan membuat orang tua kadang kehilangan kesabaran—bukan karena mereka tidak mencintai anak-anaknya, tetapi karena tenaga mereka sudah habis sebelum hari berakhir.

Kata-katanya sederhana. Tidak indah. Tidak akademis.

Tetapi justru karena itulah, kata-kata itu terasa sangat jujur.

Saat itulah Freire mulai menyadari sesuatu yang mendasar. Pendidikan tidak bisa hanya berbicara tentang manusia secara abstrak. Pendidikan harus berangkat dari kehidupan manusia yang nyata. Pengetahuan tidak boleh berdiri di atas pengalaman, melainkan tumbuh dari pengalaman itu sendiri.

Kesadaran itu tidak datang secara dramatis. Tidak ada tepuk tangan panjang atau perubahan yang tiba-tiba. Yang ada hanyalah momen hening—momen ketika seseorang mulai melihat kenyataan dari sudut pandang yang berbeda.

Peristiwa sederhana itu kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan pemikiran Freire. Ia mulai memahami bahwa mendidik bukanlah tentang menjadi orang yang paling tahu, melainkan tentang menjadi orang yang paling mau belajar. Ia juga mulai melihat bahwa rakyat miskin bukanlah objek yang harus diperbaiki, melainkan subjek yang memiliki pengetahuan tentang kehidupan mereka sendiri.

Pengetahuan itu mungkin tidak tertulis dalam buku. Namun ia hidup dalam pengalaman sehari-hari—dalam rasa lelah, dalam perjuangan, dan dalam harapan yang sering kali tidak terdengar.

Kisah ini terasa relevan bahkan hingga hari ini. Terlalu sering solusi dirancang dari atas, oleh orang-orang yang tidak mengalami langsung persoalan yang ingin mereka selesaikan. Program dibuat dengan logika yang rapi, tetapi gagal karena tidak memahami konteks kehidupan masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, masalahnya bukan semata-mata kurangnya pengetahuan.

Sering kali, masalahnya adalah kurangnya kedekatan dengan realitas.

Yang membuat kisah Freire ini tetap dikenang bukan hanya karena teguran dari seorang buruh, melainkan karena keberanian Freire untuk menerimanya. Ia tidak mempertahankan ego intelektualnya. Ia tidak menyalahkan orang lain. Ia memilih untuk mendengarkan, merenung, lalu berubah.

Di situlah letak kualitas seorang pemikir sejati.

Bukan pada kemampuannya berbicara panjang lebar, melainkan pada kesediaannya mengoreksi diri ketika menyadari kesalahan.

Dari peristiwa yang tampak sederhana itu lahir sebuah pelajaran yang melampaui ruang kelas dan zaman. Perubahan sosial tidak selalu dimulai dari pidato yang hebat. Kadang ia dimulai dari kerendahan hati—dari kesediaan untuk mendengarkan kehidupan orang lain sebelum mencoba mengubahnya.

Dan mungkin, pada akhirnya, pendidikan memang sesederhana ini: belajar memahami manusia, sebelum berusaha mengajar mereka. 

 

Penulis: Edhy Aruman


RUJUKAN

Freire, P. (2014). Pedagogy of hope: Reliving pedagogy of the oppressed (R. R. Barr, Terj.). Bloomsbury Academic. (Karya asli diterbitkan 1992).

Jumat, 18 Juli 2025

JACK WELCH


Dalam sejarah modern Amerika, jarang ada sosok yang begitu dipuja sekaligus dikritik seperti Jack Welch, mantan CEO General Electric (GE). 

Ia bermain golf dengan presiden, bergaul dengan bintang film, dan dipuja banyak orang.  

Di mata sebagian orang, ia adalah simbol keberhasilan luar biasa karena menjadikan GE perusahaan paling bernilai di dunia. 

Namun di balik kilau keberhasilannya, tersimpan kisah tentang bagaimana satu orang bisa mengubah arah kapitalisme, menurut sebagian orang, bukan ke arah yang lebih baik.

Pertengahan abad ke-20, kapitalisme Amerika hidup dalam harmoni yang langka. Perusahaan, pekerja, dan pemerintah berada dalam sebuah ekosistem ekonomi yang relatif adil. 

Upah layak dibayar. Regulasi dihormati. Pajak dikucurkan untuk membangun infrastruktur dan pendidikan. 

Dan perusahaan-perusahaan besar, seperti General Electric, dianggap sebagai simbol tanggung jawab sosial, bukan hanya mesin laba. GE bangga menyebut "progress" sebagai produk utamanya. 

Pada tahun 1953, mereka membelanjakan 37% dari pendapatannya untuk pekerja dan hanya 3,9% untuk investor. Ini bukan sekadar angka. Ini mencerminkan filosofi bahwa bisnis adalah bagian dari masyarakat, bukan sebagai penguasa tunggalnya.

Namun keseimbangan itu tidak bertahan lama. 

Di tahun 1970-an, seiring munculnya gagasan pasar bebas ekstrem, paradigma ekonomi mulai terguncang. Milton Friedman -- ekonom Amerika terkemuka, pemenang Nobel, dan tokoh utama ekonomi pasar bebas --  menyerukan agar perusahaan berhenti memedulikan masyarakat, dan fokus tunggal pada satu hal: laba bagi pemegang saham. 

Gagasan ini mendapatkan kaki-kakinya di Wall Street, di kampus-kampus bisnis, dan di ruang dewan perusahaan. Apa yang sebelumnya merupakan harmoni pascaperang mulai diretas dari dalam.

Masuklah Jack Welch, simbol puncak dari ideologi baru ini. 

Ketika Welch mengambil alih GE pada tahun 1981, ia tidak hanya memimpin sebuah perusahaan, tetapi merancang ulang mentalitas korporat seluruh negeri. Ia mempopulerkan pemangkasan besar-besaran, outsourcing, merger agresif, dan finansialisasi. 

Langkah itu  bukan untuk menciptakan nilai jangka panjang, tetapi demi satu hal: harga saham.

Dengan ketegasan dingin, Welch merombak GE dari perusahaan yang menghargai pekerja dan inovasi, menjadi mesin laba jangka pendek yang mengorbankan manusia di dalamnya. Ia memecat puluhan ribu orang, mendorong industri manufaktur AS ke jurang, dan menanamkan benih ketimpangan sosial yang kini tumbuh menjadi realitas getir di banyak kota Amerika.

Namun warisan Welch tidak berhenti di GE. Ia melatih generasi baru pemimpin yang meniru taktiknya di perusahaan-perusahaan besar lain, mulai dari Boeing hingga Home Depot. 

Strategi “nilai pemegang saham di atas segalanya” menjadi hukum tak tertulis bisnis Amerika. 

Hasilnya? 

Kelas menengah tergerus, kepercayaan terhadap institusi melemah, dan jurang antara pekerja dan elite semakin lebar.

Tapi kisah ini tidak berakhir di sana.

David Gelles, reporter New York Times, dalam buku The Man Who Broke Capitalism, bukan hanya membongkar bagaimana Welch membentuk sistem yang kini banyak dikritik, tapi juga menyoroti benih perubahan yang mulai tumbuh. 

Ia memperkenalkan tokoh-tokoh baru di dunia bisnis yang menolak warisan Welch, yang percaya bahwa kesuksesan tidak harus dibayar dengan penderitaan banyak orang.

Mereka memilih jalur berbeda dan menolak gagasan bahwa keberhasilan harus dibayar dengan pemangkasan, pengorbanan karyawan, dan pengabaian nilai-nilai kemanusiaan. 

Mereka membuktikan bahwa bisnis bisa tetap unggul tanpa harus mengorbankan siapa pun.

Salah satunya adalah Paul Polman, mantan CEO Unilever. Ketika mengambil alih perusahaan pada saat kritis, ia tak sekadar fokus pada pertumbuhan. Dia membawa Unilever ke akar nilai sosial yang ditanam oleh pendirinya. 

Ia menghentikan laporan panduan keuangan triwulanan, menolak tekanan pasar saham, dan mengarahkan perusahaannya untuk tumbuh tanpa merusak lingkungan atau melupakan pekerja. 

Ketika Kraft Heinz, perusahaan yang sangat berhaluan “Welchian,” berusaha mengambil alih Unilever, Polman menolak mentah-mentah. Ia percaya bahwa bisnis harus melayani banyak orang, bukan hanya segelintir investor.

Di sisi lain, Dan Schulman di PayPal menjalankan kepemimpinan yang sangat manusiawi. Setelah mengetahui bahwa sebagian besar karyawan garis depannya hidup dengan kesulitan keuangan, ia meluncurkan program kesejahteraan finansial, menaikkan gaji, dan memangkas biaya kesehatan. Baginya, karyawan bukanlah beban, melainkan aset terpenting perusahaan.

Keduanya—Polman dan Schulman—menawarkan bukti nyata bahwa kita tidak harus mewarisi sistem bisnis yang keras dan tidak berperasaan. Mereka menunjukkan jalan lain: bahwa kapitalisme bisa berpihak, bahwa perusahaan bisa sukses sambil tetap peduli, dan bahwa menolak warisan Welch bukan kelemahan—tapi keberanian.

Mereka membuktikan bahwa bisnis bisa tetap hebat tanpa menghancurkan komunitas, tanpa melecehkan regulasi, dan tanpa melupakan bahwa perusahaan, pada akhirnya, adalah bagian dari masyarakat.

“Perubahan besar sering dimulai dengan kesadaran akan kesalahan masa lalu. Kini saatnya bisnis menulis ulang misinya. Bukan sekadar mengejar laba, tapi menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.” 

Penulis: Edhy Aruman