Jumat, 22 Agustus 2025

Renungan: Ridha Allah dan Rasul-Nya



Pernah, dalam sebuah majelis sederhana, dua tokoh besar bertemu. Imam Abu Hanifah, sang imam agung, duduk bersama cicit Rasulullah, Imam Ali Zainal Abidin.

Dalam hening yang penuh berkah, Imam Ali Zainal Abidin menyuapkan makanan ke mulutnya, lalu berucap lirih:
“Alhamdulillah wa Rasulillah.”

Imam Abu Hanifah tertegun. Hatinya bertanya-tanya, dan dengan penuh adab ia mengungkapkan,
“Wahai cucu Rasulullah, bukankah segala pujian hanyalah untuk Allah? Tidakkah menyebut Rasul dalam syukur mendekati syirik?”

Imam Ali Zainal Abidin tersenyum. Senyum yang menenangkan, seakan memancarkan hikmah dari lubuk hati yang dalam. Lalu beliau menjawab lembut:
“Wahai Imam, bukankah Allah sendiri menggandengkan nama-Nya dengan nama Rasul-Nya? Bukankah syahadat itu menyebut keduanya? Bukankah dalam Al-Qur’an Allah berfirman: ‘…dan Allah serta Rasul-Nya akan memberi kami karunia-Nya.’ (QS. Ali Imran: 173).”

Sejenak, Imam Abu Hanifah terdiam. Dadanya lapang, hatinya terbuka. Ia menyadari, bahwa ada kalimat-kalimat yang lahir bukan semata dari akal, melainkan dari ilham. Ada doa-doa yang bukan sekadar susunan kata, melainkan pancaran cinta dan kedekatan.

Mereka yang dianugerahi itu adalah para wali, pewaris cahaya Nabi, keturunan sejati Rasulullah saw. Dari hati mereka mengalir doa-doa yang penuh makna.

Seperti doa yang kita kenal:
“Radlitu billahi Rabba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin abdan wa rasula.”

Namun dari bibir mereka, doa itu tumbuh menjadi renungan yang lebih dalam:

“Ya Allah, aku ridha Engkau sebagai Tuhanku. Dengan rahmat-Mu, masukkanlah aku dan keluargaku ke dalam golongan hamba yang Engkau cintai dan Engkau ridai.”

“Ya Allah, aku ridha Muhammad saw. sebagai Nabi-Mu. Dengan kasih-Mu, jadikanlah aku dan keluargaku termasuk orang-orang yang mencintai Rasul-Mu, mengikuti jejaknya, dan hidup dalam cahaya Islam yang lurus.”

Renungan ini mengajarkan kita, bahwa mencintai Allah tidak bisa dipisahkan dari mencintai Rasul-Nya. Bahwa doa bukan sekadar lafaz, melainkan ikrar hati. Bahwa ridha kepada Allah, berarti juga ridha dengan Rasul-Nya sebagai pembimbing jalan menuju-Nya.

Maka, mari kita berdoa dengan hati yang penuh cinta:
“Ya Allah, ridailah kami. Ya Allah, ajarkan kami mencintai Rasul-Mu, sebagaimana Engkau mencintainya. Ya Allah, satukan kami dalam ridha-Mu, hingga langkah-langkah kami selalu menuju kepada-Mu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar