Minggu, 15 Februari 2026

Pemimpin Pro-aktif


Dunia kerja saat ini seakan berjalan serba cepat. Banyak pemimpin tanpa sadar hidup dalam mode krisis. Hari demi hari dihabiskan untuk menyelesaikan masalah yang mendesak: proyek yang gagal, karyawan yang resign, pelanggan yang marah, angka penjualan yang menurun. 

Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami. Bayangkan ketika perusahaan tidak baik-baik saja, karyawan tiba-tiba mengundurkan. Kita seakan berjuang sendirian.

Energi terkuras untuk memadamkan api, sementara sumber percikan tidak pernah benar-benar dicari. Lama-kelamaan, kekacauan menjadi hal yang terasa normal.

Melalui Beyond the Hammer, Brian Gottlieb menggambarkan realitas ini dengan jujur dan manusiawi. 

Kisah George Warren, pemilik generasi ketiga Warren Construction, memperlihatkan bagaimana sebuah bisnis bisa goyah bukan karena kurangnya keterampilan teknis, tetapi karena rapuhnya fondasi kepemimpinan. 

George mewarisi perusahaan dari ayahnya, tetapi ia tidak mewarisi rasa percaya diri dan arah yang jelas. Ia bekerja lima belas jam sehari, namun tetap merasa tenggelam.

Puncak krisisnya terjadi ketika proyek dapur klien besar berantakan. Detail yang terlewat menjadi simbol dari masalah yang lebih dalam. Bayangkan, tim tidak merasa memiliki pekerjaan mereka. 

Ketika manajer proyeknya mengundurkan diri untuk bergabung dengan pesaing, George semakin yakin bahwa ia bukan pemimpin yang terlahir untuk memimpin. Ia merasa seperti julukan masa kecilnya, “Dozer,” yang dulu terdengar seperti ejekan dan diam-diam membentuk keraguannya sendiri.

Di sinilah benih kepemimpinan proaktif mulai tumbuh.

Kepemimpinan proaktif tidak dimulai dari strategi besar atau sistem rumit. Ia dimulai dari cara seorang pemimpin memandang dirinya dan timnya. Salah satu pelajaran paling kuat dalam buku ini adalah bahwa keyakinan itu menular. Seorang pemimpin mentransfer keyakinan—baik yang membangun maupun yang melemahkan. 

Ketika George mulai percaya pada kemampuan manajer penjualannya, Jesse, sesuatu berubah. Ia tidak lagi berbicara dari posisi takut kehilangan proyek, melainkan dari keyakinan bahwa timnya mampu memperbaiki keadaan. Keyakinan itu mengubah cara Jesse berpikir tentang dirinya sendiri, dan dari situ perilakunya ikut berubah.

Kepemimpinan proaktif memahami bahwa performa bukan sekadar soal keterampilan, tetapi tentang pola pikir. Orang yang merasa dipercaya akan bertindak berbeda dibanding orang yang merasa diragukan.

Namun keyakinan saja tidak cukup. Organisasi membutuhkan tujuan dan arah yang jelas. Tanpa itu, orang hanya bekerja demi gaji. Mereka patuh, tetapi tidak selaras. Melalui filosofi “Do Well and Do Good,” mentor George menunjukkan bahwa perusahaan harus tahu mengapa ia ada dan ingin menjadi apa di masa depan. 

Misi memberi makna, visi memberi arah. Ketika keduanya jelas dan dikomunikasikan dengan tulus, orang tidak lagi sekadar mengikuti instruksi; mereka bergerak karena memahami tujuan.

Tanpa tujuan, bisnis berjalan seperti rombongan motor tanpa arah. Dengan tujuan, setiap orang tahu ke mana mereka menuju dan mengapa perjalanan itu penting.

Kepemimpinan proaktif juga menuntut kesadaran bahwa setiap tindakan pemimpin menciptakan gema. Budaya perusahaan dibentuk bukan oleh slogan di dinding, melainkan oleh standar terendah yang dibiarkan. 

Kepemimpinan proaktif bukan tentang menjadi sosok karismatik atau sempurna. Ia tentang keberanian untuk melihat ke dalam, memperbaiki cara berpikir, dan membangun manusia sebelum membangun angka. Ia tentang memilih menjadi arsitek budaya, bukan sekadar pemadam kebakaran.

Karena tanpa eksekusi, visi memang hanya ilusi. Tetapi tanpa budaya yang sehat, eksekusi hanyalah kebetulan.

Kepemimpinan melalui eksekusi berarti membangun fondasi yang kokoh sehingga ketika badai datang—dan ia pasti datang—organisasi tidak goyah. Ia berdiri karena dibangun oleh orang-orang yang percaya, selaras, dan bertumbuh bersama.

Itulah esensi kepemimpinan proaktif: membangun manusia yang pada akhirnya akan membangun masa depan.

Penulis: Aruman

RUJUKAN 

Gottlieb, B. (2024). Beyond the hammer: A fresh approach to leadership, culture, and building high-performance teams. Forbes Books.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar