Senin, 16 Februari 2026

Hormat


Paula Davis, JD, MAPP, adalah pendiri Stress & Resilience Institute dan mantan pengacara. Ia dikenal sebagai pakar dalam pencegahan burnout, kesejahteraan, dan ketahanan tim. 

Pengalamannya mendampingi berbagai organisasi, memunculkan pemikiran bahwa banyak persoalan kinerja bukan semata-mata soal strategi atau target, melainkan soal bagaimana manusia diperlakukan di tempat kerja. 

Dari sini muncul gagasan tentang kepemimpinan berpusat pada manusia. Gagasan itu dituangkan dalam  Lead Well, sebuah buku yang tidak hanya berteori, tetapi juga berkisah tentang pengalaman hidup yang sangat personal. Utamanya adalah sosok ayahnya, Bob.

Semasih kecil, saat usianya delapan tahun, Davis menyaksikan ayahnya mengambil keputusan besar. Sang ayah meninggalkan pekerjaan tetap yang stabil di sebuah pabrik susu untuk menjalankan bisnis kecil pencetakan injeksi plastik secara penuh waktu. 

Beberapa waktu lalu, saat naik grabcar, drivernya bercerita kalau bisnis pencetakan plastik ini di Indonesia juga prospektif. Industri ini krusial untuk sektor otomotif semisal dashboar, bemper; kemasan, elektronik, dan rumah tangga. Seperti tantangan yang menarik untuk ditekuni.

Bob memulai bisnisnya dalam kondisi jauh dari kenyamanan. Kantor pertamanya hanyalah bekas kandang babi tua di pedesaan Wisconsin. Dengan dua mesin kecil dan satu klien, usaha itu berdiri dalam segala keterbatasan. Davis mengenang dengan nada ringan bahwa “karyawan” pertama ayahnya adalah seekor kucing liar bernama Tiger.

Tahun-tahun awal dipenuhi ketidakpastian. Mobil keluarga mereka hanyalah mobil bekas murah. Mobil itu yang dipakai berkeliling Midwest selama musim panas, untuk mencari pelanggan sambil berhemat sebisa mungkin. 

Lima tahun pertama terasa berat, penuh risiko dan malam-malam tanpa tidur. 

Namun titik balik datang ketika sebuah pabrik jendela besar membutuhkan pemasok baru. Ayah Davis melihat peluang itu dan merespons dengan pendekatan yang ia sebut sebagai “extreme client service”

Ia bersedia mengantar suku cadang kapan pun dibutuhkan, bahkan pada malam hari, agar lini produksi klien tidak berhenti. 

Komitmen ini perlahan membangun kepercayaan dan membuka jalan bagi pertumbuhan bisnis. Yang membuat kisah ini relevan dengan kepemimpinan berpusat pada manusia bukan hanya perjuangan membangun usaha, tetapi cara ayahnya memperlakukan orang-orang di sekitarnya. 

Ia pernah bekerja di perusahaan besar dengan budaya yang menurutnya merendahkan dan tidak menghargai karyawan. Dari pengalaman itu, ia bertekad menciptakan tempat kerja yang berbeda. Ia ingin orang-orang yang bekerja bersamanya merasa dihormati dan benar-benar menikmati pekerjaan mereka.

Di pabriknya, pekerjaan sering kali berat, bising, dan panas. Ketika karyawan harus melakukan tugas sulit—seperti mengganti cetakan mesin yang berat di tengah suhu musim panas yang bisa melampaui 37 derajat Celsius—ia tidak hanya memberi instruksi. Ia turun tangan dan bekerja bersama mereka.

Tindakan itu seolah menyampaikan pesan sederhana namun kuat: “I’m in this with you.” Kalimat lebih bermakna ekspresi dari sikap ketimbang slogan. Ditambah lagi dengan kehadirannya di lantai produksi. Ini memperkuat bukti bahwa kepemimpinan bukan soal jarak, melainkan kebersamaan.

Ia juga membangun suasana kerja yang terasa seperti komunitas. Perayaan kecil seperti pesta pizza atau donat menjadi momen untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Ia membayar upah yang adil dan memperlakukan semua orang dengan rasa hormat, tanpa membedakan jabatan. 

Ketika perusahaan menghadapi masa sulit, para karyawan tidak meninggalkan perusahaan. Sebaliknya, mereka bertahan dan membantu. Loyalitas itu lahir bukan dari kontrak, melainkan dari hubungan.

Saat bisnis tersebut akhirnya dijual, yang paling berat bagi keluarga bukanlah melepas aset, tetapi berpisah dengan orang-orang yang telah tumbuh bersama mereka. Salah satu tenaga penjualan bahkan mengatakan kepada Davis bahwa ayahnya adalah “pria terbaik yang pernah ia temui dalam semua perjalanannya.” 

Pernyataan itu menggambarkan dampak yang melampaui angka keuntungan atau pertumbuhan bisnis.

Dalam Lead Well, Davis merumuskan pelajaran hidup tersebut ke dalam lima pola pikir kepemimpinan. Ia menekankan pentingnya memberikan pengakuan yang spesifik dan bermakna, agar individu merasakan bahwa kontribusinya benar-benar penting. 

Pengakuan yang “melekat” membantu orang merasa dihargai sekaligus melihat dampak nyata dari pekerjaannya.

Ia juga menyoroti tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, rasa memiliki, dan tantangan. Ketika seseorang memiliki kendali atas pekerjaannya, merasa menjadi bagian dari tim, dan terus berkembang melalui tantangan yang sehat, motivasi tumbuh secara alami. 

Di sisi lain, beban kerja yang tidak berkelanjutan dapat menggerus semangat. Karena itu, pemimpin perlu menciptakan ritme kerja yang memberi ruang untuk pulih dan menjaga energi jangka panjang.

Davis menambahkan bahwa ketahanan tidak hanya bersifat individual. Organisasi perlu membangun ketahanan secara sistemik, agar mampu beradaptasi di tengah perubahan dan ketidakpastian. Selain itu, penyelarasan nilai dan makna menjadi kunci. Banyak orang mencari lebih dari sekadar gaji; mereka ingin merasa bahwa pekerjaan mereka selaras dengan nilai pribadi dan memberi kontribusi yang berarti.

Kepemimpinan berpusat pada manusia bukanlah pendekatan yang dramatis atau berlebihan. Ia hadir dalam tindakan sehari-hari: hadir bersama tim, menghargai kontribusi mereka, menjaga keberlanjutan kerja, dan membangun makna bersama. 

"Great leadership has always been needed for companies to grow and to thrive, but the 'how' of going about it has changed," kata Davis. Dan memperlakukan manusia dengan hormat tidak hanya pilihan moral, tetapi juga fondasi bagi organisasi yang tahan lama.

Penulis: Aruman

RUJUKAN

Davis, P. (2025). Lead well: 5 mindsets to engage, retain, and inspire your team. Wharton School Press.

Minggu, 15 Februari 2026

Pemimpin Pro-aktif


Dunia kerja saat ini seakan berjalan serba cepat. Banyak pemimpin tanpa sadar hidup dalam mode krisis. Hari demi hari dihabiskan untuk menyelesaikan masalah yang mendesak: proyek yang gagal, karyawan yang resign, pelanggan yang marah, angka penjualan yang menurun. 

Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami. Bayangkan ketika perusahaan tidak baik-baik saja, karyawan tiba-tiba mengundurkan. Kita seakan berjuang sendirian.

Energi terkuras untuk memadamkan api, sementara sumber percikan tidak pernah benar-benar dicari. Lama-kelamaan, kekacauan menjadi hal yang terasa normal.

Melalui Beyond the Hammer, Brian Gottlieb menggambarkan realitas ini dengan jujur dan manusiawi. 

Kisah George Warren, pemilik generasi ketiga Warren Construction, memperlihatkan bagaimana sebuah bisnis bisa goyah bukan karena kurangnya keterampilan teknis, tetapi karena rapuhnya fondasi kepemimpinan. 

George mewarisi perusahaan dari ayahnya, tetapi ia tidak mewarisi rasa percaya diri dan arah yang jelas. Ia bekerja lima belas jam sehari, namun tetap merasa tenggelam.

Puncak krisisnya terjadi ketika proyek dapur klien besar berantakan. Detail yang terlewat menjadi simbol dari masalah yang lebih dalam. Bayangkan, tim tidak merasa memiliki pekerjaan mereka. 

Ketika manajer proyeknya mengundurkan diri untuk bergabung dengan pesaing, George semakin yakin bahwa ia bukan pemimpin yang terlahir untuk memimpin. Ia merasa seperti julukan masa kecilnya, “Dozer,” yang dulu terdengar seperti ejekan dan diam-diam membentuk keraguannya sendiri.

Di sinilah benih kepemimpinan proaktif mulai tumbuh.

Kepemimpinan proaktif tidak dimulai dari strategi besar atau sistem rumit. Ia dimulai dari cara seorang pemimpin memandang dirinya dan timnya. Salah satu pelajaran paling kuat dalam buku ini adalah bahwa keyakinan itu menular. Seorang pemimpin mentransfer keyakinan—baik yang membangun maupun yang melemahkan. 

Ketika George mulai percaya pada kemampuan manajer penjualannya, Jesse, sesuatu berubah. Ia tidak lagi berbicara dari posisi takut kehilangan proyek, melainkan dari keyakinan bahwa timnya mampu memperbaiki keadaan. Keyakinan itu mengubah cara Jesse berpikir tentang dirinya sendiri, dan dari situ perilakunya ikut berubah.

Kepemimpinan proaktif memahami bahwa performa bukan sekadar soal keterampilan, tetapi tentang pola pikir. Orang yang merasa dipercaya akan bertindak berbeda dibanding orang yang merasa diragukan.

Namun keyakinan saja tidak cukup. Organisasi membutuhkan tujuan dan arah yang jelas. Tanpa itu, orang hanya bekerja demi gaji. Mereka patuh, tetapi tidak selaras. Melalui filosofi “Do Well and Do Good,” mentor George menunjukkan bahwa perusahaan harus tahu mengapa ia ada dan ingin menjadi apa di masa depan. 

Misi memberi makna, visi memberi arah. Ketika keduanya jelas dan dikomunikasikan dengan tulus, orang tidak lagi sekadar mengikuti instruksi; mereka bergerak karena memahami tujuan.

Tanpa tujuan, bisnis berjalan seperti rombongan motor tanpa arah. Dengan tujuan, setiap orang tahu ke mana mereka menuju dan mengapa perjalanan itu penting.

Kepemimpinan proaktif juga menuntut kesadaran bahwa setiap tindakan pemimpin menciptakan gema. Budaya perusahaan dibentuk bukan oleh slogan di dinding, melainkan oleh standar terendah yang dibiarkan. 

Kepemimpinan proaktif bukan tentang menjadi sosok karismatik atau sempurna. Ia tentang keberanian untuk melihat ke dalam, memperbaiki cara berpikir, dan membangun manusia sebelum membangun angka. Ia tentang memilih menjadi arsitek budaya, bukan sekadar pemadam kebakaran.

Karena tanpa eksekusi, visi memang hanya ilusi. Tetapi tanpa budaya yang sehat, eksekusi hanyalah kebetulan.

Kepemimpinan melalui eksekusi berarti membangun fondasi yang kokoh sehingga ketika badai datang—dan ia pasti datang—organisasi tidak goyah. Ia berdiri karena dibangun oleh orang-orang yang percaya, selaras, dan bertumbuh bersama.

Itulah esensi kepemimpinan proaktif: membangun manusia yang pada akhirnya akan membangun masa depan.

Penulis: Aruman

RUJUKAN 

Gottlieb, B. (2024). Beyond the hammer: A fresh approach to leadership, culture, and building high-performance teams. Forbes Books.