Minggu, 21 September 2025

Sudut Pandang yang Mengubah Hidup

Pagi ini lampu di langgar sebelah masih menyala terang benderanh. Padahal biasanya tetangga yang berada tepat di sebelah langgar itu, yang tinggal di kontrakan Pak Minto, akan membersihkan lantai langgar dan mematikan lampu.

Aku duduk di kursi depan sambil menikmati kopi pahit Dan Pisang rebus. Di kejauhan terdengar suara sirine ambulan yang terdengar mendesak minta jalan melaju. 

Padahal, rumah kami ini cukup jauh masuk gang, dari jalan raya. Tapi raungan sirinenya meraung seolah minta diberi jalan. 

Pagi ini aku memutuskan akan mengambil alih dan bertanggung jawab penuh atas hidupku. Tanpa bermaksud melawan kuasai Gusti Allah...

Gugatan ini bukan sebuah terobosan baru. Aku beberapa kali pernah mendeklarasikan hal yang sama. Aku pernah menjadikan ini sebagai sebuah komitmen untuk "berhenti menyalahkan orang lain" atau "stop mencari kambing hitam atas kesalahan ataupun kegagalan."

Tapi ini bukan untuk diriku saja, melainkan juga untuk kita semua. Tapi ah sudahlah, aku bukanlah guru yang katanya bisa digugu dan ditiru. 

Ini memang lagi ngedumel. Mengapa hidup sulit?

Jawabnya adalah, karena pekerjaan lagi susah, karena konsumen pada lari ke toko lain, karena banyak PHK sehingga orang-orang pada susah.

Tapi jarang menjawab, karena aku tidak beradaptasi terhadap perubahan.

Benar?

Kenyataannya, menyalahkan diluar diri kita tak membuat solusi ditemukan. Terlebih membuat diri semakin "terpenjara" dalam kesusahan.

Bandingkan saat memilih bertanggung jawab pada apa yang terjadi pada diri ini.

"Aku akui kesulitan hidup yang terjadi Dan dialami karena kurang belajar, kurang beradaptasi terhadap perubahan jaman. Tapi sekarang aku memilih bertanggung jawab atas hidupku sendiri, memilih belajar hal baru sampai ahli agar tetap bisa berdaya, bisa unggul, bisa menghasilkan. Ini akan jadi lebih produktif."

Tidak gampang ini, tapi juga bukan hal yang sulit untuk dilakukan.

Akupun merasakan, ada getaran, ada gelombang yang awalnya merambat pelan dan merasakan kehangatan kekuatan baru muncul dalam dada lalu menyebar ke seluruh badan.

Wah kekuatan itu datang... Alhamdulillah semoga jadi dorongan baru untuk bangkit....

Itulah kesadaran, itulah SelfTalk. Sederhana tapi berdampak. 

Dibimbing dan diarahkan, memang lebih nyaman. 

Pagi ini masih sepi, sesekali terdengar suara ayam jantan di halaman samping. Tetangga menitipkan beberapa ayam di halaman samping, mengingat dia tak punya halaman, tak ada tempat untuk berternak ayam.

Jumat, 12 September 2025

Gagal di Dunia Masih Bisa Diperbaiki

Nasehat buat diri sendiri dan anak-anaku

Setiap orang pernah merasakan kegagalan. Entah itu gagal dalam pendidikan, pekerjaan, usaha, bahkan dalam urusan pribadi, percintaan dan sebagainya. Rasanya memang tidak enak—sedih, kecewa, atau merasa hidup hancur. Tapi, sebenarnya kegagalan di dunia bukanlah akhir dari segalanya. Selama kita masih diberi kesempatan hidup, kita selalu bisa bangkit dan mencoba lagi.

Berbeda dengan kegagalan di akhirat. Sekali kita gagal di sana, tidak ada kesempatan kedua. Itulah mengapa hidup di dunia sebenarnya bukan tujuan akhir, melainkan hanya tempat persinggahan untuk mempersiapkan perjalanan panjang setelah kematian.

Allah ﷻ sendiri mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sementara kehidupan akhirat jauh lebih berharga bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-An‘ām: 32). Artinya, kegagalan di dunia masih bisa ditebus, tapi kegagalan di akhirat tidak ada obatnya.

Rasulullah ﷺ bahkan menggambarkan dunia sebagai ladang akhirat. Apa yang kita tanam di sini—amal baik atau keburukan—akan menentukan apa yang kita panen di kehidupan setelah mati. Kalau yang ditanam kebaikan, hasilnya keselamatan. Tapi kalau yang ditanam justru dosa dan kelalaian, penyesalan panjang menanti.

Sayangnya, manusia sering lebih takut gagal di dunia ketimbang di akhirat. Gagal ujian, gagal kerja, atau gagal bisnis bisa bikin gelisah berhari-hari. Tapi, ketika shalat mulai lalai atau dosa dilakukan berulang, seringkali hati kita tetap tenang-tenang saja. Padahal, kegagalan sejati justru ketika seseorang tidak meraih ridha Allah ﷻ.

Allah ﷻ menegaskan dalam QS. Āli ‘Imrān: 185 bahwa orang yang selamat dari neraka dan masuk surga, dialah yang benar-benar sukses. Dunia ini, dengan segala gemerlap dan pencapaiannya, hanyalah kesenangan sementara.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadis sahih: ketika seseorang meninggal, hanya amalnya yang akan menemaninya. Keluarga, harta, dan jabatan—semua akan ditinggalkan. Karena itu, yang paling penting bukanlah seberapa tinggi kita mencapai dunia, melainkan seberapa baik kita mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Meski begitu, bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Allah ﷻ berpesan agar kita tetap mencari bagian kita di dunia, tetapi jangan sampai melupakan akhirat (QS. Al-Qashash: 77). Dunia dan akhirat harus berjalan seimbang: bekerja, belajar, berusaha, iya; tapi tetap menjaga ibadah dan amal saleh sebagai bekal yang tak tergantikan.

Sahabat, jika gagal di dunia, jangan berputus asa. Masih ada kesempatan untuk mencoba lagi. Allah ﷻ bahkan menegaskan bahwa setiap manusia pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah mereka yang mau bertaubat (HR. Tirmidzi).

Yang harus diingat, kesempatan itu hanya ada di dunia. Saat nyawa berakhir, pintu taubat tertutup. Karena itu, jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu esok untuk berubah, karena kita tidak tahu apakah esok masih ada.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah yang hanya mengikuti hawa nafsunya.” (HR. Tirmidzi).

Mari kita belajar menjadi orang yang cerdas—yang menjadikan kegagalan di dunia sebagai pelajaran, bukan sebagai akhir dari segalanya. Karena sejatinya, gagal di dunia masih bisa diperbaiki. Tetapi gagal di akhirat, tidak ada jalan kembali.

Rabu, 10 September 2025

Saat Hati Diuji: Menyulam Luka Menjadi Doa

Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada saat-saat ketika takdir menghadirkan ujian yang berat: kehilangan, kekecewaan, atau luka yang membuat kita hampir menyerah. Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menimpakan ujian untuk mereka...” (HR. Ibnu Majah).

Ujian bukanlah hukuman, melainkan tanda cinta. Dari rasa sakit kerang, lahirlah mutiara. Dari panas dan tempaan besi, tercipta pedang yang kuat. Dari kepompong yang sulit diterobos, lahirlah kupu-kupu dengan sayap indah. Begitu pula manusia: kita ditempa ujian agar menjadi lebih kokoh dan bernilai.

Sayangnya, kita sering terjebak pada keinginan hasil instan, melupakan proses yang penuh makna. Padahal Allah tidak pernah memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Setiap ujian sudah disertai jalan keluar—asal kita bersabar dan berserah.

Para Nabi pun menjalani ujian besar. Nabi Ibrahim AS diuji dengan pengorbanan terhadap keluarga. Nabi Yusuf AS melewati pengkhianatan, godaan, hingga penjara. Dari ujian itulah lahir keteladanan yang abadi.

Maka ketika hati diuji, jangan hanya melihat luka. Lihatlah kesempatan untuk menjadikannya doa. Setiap air mata bisa menjadi jalan menuju ridha Allah. Setiap cobaan bisa menjadi undangan untuk lebih dekat pada-Nya.

Ujian bukan akhir, melainkan awal dari kedewasaan iman. Mari belajar menyulam luka menjadi doa.

Rabu, 03 September 2025

Aluna

“Buuk Crook! Buuk Crook! Buuk Crok!”

Entah sudah ke berapa ratus kali cangkul itu diayunkan oleh tangan Aluna. Setiap kali mata besinya terangkat ke udara lalu jatuh kembali, tanah merah di depannya terbelah tanpa bisa menolak. Tanah basah itu diam saja, menerima nasib dengan sabar, seakan tahu bahwa pada akhirnya apa pun yang lahir dari tubuhnya akan kembali kepadanya juga.

Air yang terselip di sela tanah berbeda sikap. Ia selalu mudah tersinggung. Setiap kali dihantam cangkul, ia memercik liar, melontarkan lumpur ke betis dan paha Aluna. Celana kerjanya yang dulu bersih kini penuh noda cokelat pekat. Namun Aluna tak peduli.

Bagi perempuan itu, tanah, air, dan cangkul sudah menjadi satu-satunya dunia. Matanya menentang tanah, tangannya menghidupkan cangkul, kakinya mengatur langkah, sementara pikirannya berjalan jauh. Ada wajah ibunya yang menua di beranda rumah, ada suara adiknya yang meminta biaya sekolah, dan ada berita buruk yang terus menghantui: sawah yang ia cangkul ini kabarnya akan dijual untuk proyek jalan raya.

Setiap ayunan cangkul terasa seperti perlawanan kecil.

“Selama tanah ini masih di bawah kakiku,” batin Aluna, “ia tetap milikku, meski hanya untuk sebentar.”

Tanah tidak pernah menuntut balas jasa, tidak pernah marah. Tapi Aluna tahu, tanah juga menyimpan rahasia—ia menyaksikan setiap keringat, setiap air mata, setiap janji yang diucapkan petani. Dan di bawah sinar matahari yang semakin terik, Aluna terus mencangkul, seolah ingin menanamkan tekadnya ke dalam bumi: bahwa hidup boleh diguncang, tapi ia tak akan menyerah.

Baik, saya akan melanjutkan cerita Aluna dengan merujuk pada teks yang kamu berikan. Saya gabungkan nuansa puitis perubahan alam dengan batin Aluna, sehingga alur tetap hidup dan terasa menyatu.

Perubahan warna pada tanah yang membentang di depan Aluna sama sekali tak ia sadari. Sejam yang lalu, tanah itu masih kelabu kehitaman. Kini, di bawah cahaya yang mulai menanjak, tanah tampak cokelat kemerah-merahan, seperti sedang berdandan menyambut hari baru.

Ia juga tak begitu mendengar perubahan bunyi-bunyian di sekitarnya. Saat ia mulai mencangkul, suara percik air bercampur dengan kokok ayam jantan dan kerik jangkrik. Kini, suara jangkrik mulai redup, berganti dengan nyanyi burung yang berkejaran di langit fajar. Kegembiraan kecil bersayap itu begitu tulus, seolah-olah mereka sedang menabuh musik suci, menyambut anugerah pagi dengan puja-puji kepada Tuhan.

Sinar matahari merah keemasan perlahan merayapi cakrawala, memercikkan cahaya kehidupan. Pohon-pohon asem dan mahoni di tepi jalan mulai keluar dari gelap, menggeliat seperti manusia yang baru bangun, mengusir pegal setelah semalaman terlelap. Daun-daun muda di ujung ranting bergerak lembut tertiup angin, seperti melambaikan salam kepada hari yang baru lahir.

Di atas sawah berair, garis keemasan tampak melukis permukaan. Rumput-rumput di galengan memantulkan cahaya, dihiasi butir embun yang bergelantung bagai mutiara. Semua benda, baik yang hidup maupun mati, seakan mandi dalam cahaya kebahagiaan yang dibawa sinar keemasan pagi.

Aluna berhenti sejenak. Nafasnya terengah, keringat mengalir deras, namun matanya terpaku pada lukisan semesta di hadapannya. “Alangkah indah,” bisiknya lirih. Tapi dalam keindahan itu, hatinya terguncang. Sawah ini, yang kini bermandi cahaya, sebentar lagi mungkin hanya tinggal kenangan. Proyek jalan raya akan datang, menggantikan semua—tanah, embun, nyanyian burung, bahkan keringatnya.

Ia menggenggam cangkulnya erat-erat, seakan benda itu satu-satunya pegangan yang tersisa. Dalam hati, ia bertanya: apakah manusia memang tahu menerima dan menghargai berkah seperti bumi dan burung-burung ini? Atau justru selalu ingin merampas lebih, tanpa pernah cukup?

Sinar matahari terus menanjak, tapi hati Aluna semakin diliputi kabut keraguan. Namun ia tahu satu hal: selama embun masih menetes di ujung rumput, selama burung masih bernyanyi menyambut pagi, ia pun tak boleh menyerah.

Jumat, 22 Agustus 2025

Renungan: Ridha Allah dan Rasul-Nya



Pernah, dalam sebuah majelis sederhana, dua tokoh besar bertemu. Imam Abu Hanifah, sang imam agung, duduk bersama cicit Rasulullah, Imam Ali Zainal Abidin.

Dalam hening yang penuh berkah, Imam Ali Zainal Abidin menyuapkan makanan ke mulutnya, lalu berucap lirih:
“Alhamdulillah wa Rasulillah.”

Imam Abu Hanifah tertegun. Hatinya bertanya-tanya, dan dengan penuh adab ia mengungkapkan,
“Wahai cucu Rasulullah, bukankah segala pujian hanyalah untuk Allah? Tidakkah menyebut Rasul dalam syukur mendekati syirik?”

Imam Ali Zainal Abidin tersenyum. Senyum yang menenangkan, seakan memancarkan hikmah dari lubuk hati yang dalam. Lalu beliau menjawab lembut:
“Wahai Imam, bukankah Allah sendiri menggandengkan nama-Nya dengan nama Rasul-Nya? Bukankah syahadat itu menyebut keduanya? Bukankah dalam Al-Qur’an Allah berfirman: ‘…dan Allah serta Rasul-Nya akan memberi kami karunia-Nya.’ (QS. Ali Imran: 173).”

Sejenak, Imam Abu Hanifah terdiam. Dadanya lapang, hatinya terbuka. Ia menyadari, bahwa ada kalimat-kalimat yang lahir bukan semata dari akal, melainkan dari ilham. Ada doa-doa yang bukan sekadar susunan kata, melainkan pancaran cinta dan kedekatan.

Mereka yang dianugerahi itu adalah para wali, pewaris cahaya Nabi, keturunan sejati Rasulullah saw. Dari hati mereka mengalir doa-doa yang penuh makna.

Seperti doa yang kita kenal:
“Radlitu billahi Rabba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin abdan wa rasula.”

Namun dari bibir mereka, doa itu tumbuh menjadi renungan yang lebih dalam:

“Ya Allah, aku ridha Engkau sebagai Tuhanku. Dengan rahmat-Mu, masukkanlah aku dan keluargaku ke dalam golongan hamba yang Engkau cintai dan Engkau ridai.”

“Ya Allah, aku ridha Muhammad saw. sebagai Nabi-Mu. Dengan kasih-Mu, jadikanlah aku dan keluargaku termasuk orang-orang yang mencintai Rasul-Mu, mengikuti jejaknya, dan hidup dalam cahaya Islam yang lurus.”

Renungan ini mengajarkan kita, bahwa mencintai Allah tidak bisa dipisahkan dari mencintai Rasul-Nya. Bahwa doa bukan sekadar lafaz, melainkan ikrar hati. Bahwa ridha kepada Allah, berarti juga ridha dengan Rasul-Nya sebagai pembimbing jalan menuju-Nya.

Maka, mari kita berdoa dengan hati yang penuh cinta:
“Ya Allah, ridailah kami. Ya Allah, ajarkan kami mencintai Rasul-Mu, sebagaimana Engkau mencintainya. Ya Allah, satukan kami dalam ridha-Mu, hingga langkah-langkah kami selalu menuju kepada-Mu.”

Kamis, 21 Agustus 2025

Pembakaran Masjidil Aqsha, 21 Agustus 1969

Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsa, Syekh Ikrimah Shabri


Pagi 21 Agustus 1969 itu, menjadi salah satu hari yang kelam bagi Ummat Islam seluruh dunia, Ummat Islam di seluruh dunia tersentak oleh kabar memilukan dari Yerusalem. Denis Michael Rohan, seorang ekstremis asal Australia, menyulut api di Masjid Al-Aqsha. Masjid yang menjadi kiblat pertama bagi Muslim saat sholat.

Dalam hitungan jam, api melahap mimbar bersejarah yang dahulu dibangun atas perintah Salahuddin Al-Ayyubi—mimbar yang menjadi simbol kejayaan Islam ketika Baitul Maqdis dibebaskan. Sebagian besar interior masjid pun hangus, meninggalkan puing dan luka yang sulit terhapus.

Sekitar 1.550 meter persegi dari total 4.500 meter persegi bangunan musnah dilalap api. Syaikh Ekrema Sabri, imam masjid kala itu, menegaskan bahwa kebakaran ini bukan sekadar kelalaian, melainkan “aib besar bagi umat Islam.” Ia menuding upaya pemadaman sengaja diperlambat oleh pihak berwenang. Reaksi pun tak terbendung—demonstrasi meletus di seluruh Palestina, suara kemarahan bergema dari Damaskus hingga Kairo, dari Jakarta hingga Rabat.

Dunia internasional tidak tinggal diam. Pada 15 September 1969, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 271, mengutuk keras pembakaran Al-Aqsha, sekaligus menegaskan bahwa Israel wajib menghormati resolusi-resolusi sebelumnya terkait status Yerusalem dan Konvensi Jenewa. Namun, sejak saat itu hingga hari ini, Masjid Al-Aqsha tak pernah benar-benar aman.

Lebih dari setengah abad berlalu, bayang-bayang tragedi 1969 masih terasa. Masjid Al-Aqsha tetap menjadi titik panas konflik hingga hari ini. Masjid ini menjadi simbol perlawanan sekaligus pengingat betapa rapuhnya keadilan internasional. Setiap kali ketegangan di Palestina memuncak, Al-Aqsha sering menjadi saksi serangan, penggerebekan, dan pembatasan akses ibadah. Tragedi pembakaran itu kini dipandang bukan hanya sebagai insiden sejarah, melainkan bagian dari rangkaian panjang upaya melemahkan identitas dan hak-hak rakyat Palestina.

Refleksi untuk Hari Ini

Peristiwa 21 Agustus 1969 bukan sekadar catatan sejarah, tetapi pesan yang hidup hingga kini: bahwa amanah menjaga Masjid Al-Aqsha bukan tanggung jawab satu bangsa, melainkan seluruh umat Islam. Tragedi itu mengingatkan kita akan pentingnya persatuan, kepedulian, dan solidaritas lintas batas.

Di era ketika dunia terkoneksi begitu cepat, umat Islam memiliki kekuatan yang lebih besar untuk bersuara, menyebarkan kebenaran, dan menolak ketidakadilan. Setiap doa, dukungan moral, hingga aksi nyata untuk Palestina adalah bagian dari ikhtiar menjaga kehormatan Al-Aqsha.

Sejarah telah membuktikan bahwa Al-Aqsha selalu menjadi sumber kekuatan dan simbol kebangkitan umat. Dari mimbar Salahuddin yang terbakar hingga gelombang solidaritas yang tak pernah padam, pesan itu tetap sama: selama Masjid Al-Aqsha berdiri, selama itu pula ummat Islam memiliki alasan untuk bersatu.

Serbuan

Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsa saat ini, Syekh Ikrimah Shabri mengatakan, “Masjid Al-Aqsa sedang menghadapi serbuan intensif dan eskalasi yang terencana untuk memaksakan realitas baru serta menegakkan kedaulatan israel di dalamnya.”

Menurutnya, peningkatan jumlah penyerbu dan keterlibatan pejabat israel menunjukkan adanya upaya nyata untuk mengakhiri otoritas Wakaf Islam atas Masjid Al-Aqsa.

Ia menegaskan, para pemukim dan pejabat israel bahkan melakukan ritual Talmud di dalam kawasan masjid dengan pengawalan ketat, demi mengklaim bahwa masjid itu milik mereka.

Syekh Shabri menyebut eskalasi ini kian meningkat sejak naiknya pemerintahan ekstremis saat ini.

Ia menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran generasi baru tentang hak umat Islam atas Masjid Al-Aqsa, sekaligus menyerukan umat Palestina untuk memperbanyak kunjungan ke masjid tersebut (ribath). Ia juga mengajak seluruh Muslim di dunia untuk membela Al-Aqsa, “sebab kedudukannya sama dengan Ka’bah dan Masjidil Haram.” Kamis (21/8/2025).


Senin, 18 Agustus 2025

Kekhawatiran



Sara Blakely tidak pernah mengikuti sekolah bisnis. Ia bahkan pernah gagal dalam ujian masuk hukum. 

Namun pada usia 29 tahun, dengan tabungan hanya $5.000, ia mendirikan Spanx, perusahaan shapewear yang merevolusi industri pakaian dalam.

Dia menciptakan Spanx, shapewear tanpa garis jahitan yang nyaman, praktis, dan memperindah siluet tubuh. Ia mengubah persepsi wanita tentang pakaian dalam—dari fungsional menjadi pemberdayaan diri, dan membuka pasar baru yang sebelumnya diabaikan.

Dan itu membuatnya menjadi miliarder wanita mandiri termuda versi Forbes. 

Perjalanan itu tidak mudah—penuh penolakan, keraguan, dan kekhawatiran. Tapi Sara memiliki satu pelindung kuat terhadap ketakutan: pola pikir yang ia warisi dari ayahnya.

Setiap minggu saat makan malam keluarga, sang ayah akan bertanya, "Apa yang kamu gagal lakukan minggu ini?"

Alih-alih menghindari kegagalan, Sara justru dilatih untuk mencarinya. Karena itu berarti ia mencoba hal-hal baru. 

Filosofi ini membentuk kepercayaan dasarnya: bahwa kegagalan adalah tanda kemajuan. 

Ketika puluhan pabrik menolak idenya membuat pakaian dalam tanpa garis jahitan, ia tetap maju. Ia bahkan menggunakan korektor putih untuk menggambar desain awal produknya di atas pakaian. 

Saat akhirnya produknya masuk ke Nordstrom, bukan karena pitch bisnis yang sempurna, tapi karena ia pergi sendiri ke toko dan menunjukkan produknya langsung ke staf. 

Ia bergerak cepat, bahkan ketika ketakutan dan ketidakpastian masih berdampingan.

Sementara itu, di dunia yang sangat berbeda — teknologi dan kepemimpinan korporasi —Sheryl Sandberg menghadapi kekhawatiran yang menghancurkan. 

Sebagai COO Facebook dan penulis buku laris Lean In, Sheryl dikenal sebagai sosok kuat dan ambisius. 

Namun pada tahun 2015, hidupnya berubah drastis ketika suaminya, Dave Goldberg, meninggal mendadak saat mereka liburan. Ia tiba-tiba menjadi orang tua tunggal dan merasa seperti kehilangan kendali atas segalanya.

Dalam kesedihan dan ketakutannya, Sheryl menulis buku Option B, berkolaborasi dengan psikolog Adam Grant. 

Ia menyadari bahwa tidak semua orang diberi "rencana A" dalam hidup, dan seringkali kita harus belajar menjalani "Option B", yakni kehidupan yang tidak kita pilih, tapi tetap harus kita maknai. 

Ia belajar bahwa ketahanan bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang membangun kembali. “Ketika kehidupan menarik Anda ke bawah, kemampuan untuk bangkit—itulah keberanian,” tulisnya. 

Ketakutan tidak bisa dihindari, tapi bisa dijinakkan melalui makna, komunitas, dan tindakan kecil yang terus berulang.

Kisah Sara dan Sheryl membuka jalan untuk memahami bahwa kekhawatiran adalah bagian alami dari kemanusiaan. Namun, bagaimana kita memaknai dan menanggapinya adalah kunci yang membedakan mereka yang melangkah maju dari mereka yang diam di tempat.

Wilda Hale, dalam bukunya The Fear of Failure, membongkar bagaimana ketakutan terhadap kegagalan seringkali menjadi tembok tak kasat mata yang membatasi kehidupan kita. 

Ia menceritakan bagaimana ia sendiri berkali-kali melakukan sabotase diri; menunda meminta kenaikan gaji, menghindari kesempatan belajar ke luar negeri, dan membatalkan ide bisnis karena ketakutan yang belum terbukti. 

Ia menyebut fase ini sebagai “self-rejection,” di mana seseorang menolak diri sendiri bahkan sebelum dunia sempat memberikan respons.

Tapi perubahan dimulai ketika Wilda mengubah perspektifnya. Ia mulai melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai umpan balik. 

Sebuah eksperimen, bukan vonis. 

Ia berhenti menunggu keberanian datang, dan mulai bertindak meskipun merasa takut. “Tindakan mendahului motivasi,” tulisnya. 

Semakin ia bertindak, semakin ia menemukan bahwa ketakutan hanyalah gema dari masa lalu, bukan kebenaran masa kini.

Jia Jiang, penulis buku Rejection Proof, menguatkan premis ini. Ia memulai eksperimen pribadi dengan secara sengaja mencari penolakan selama 100 hari berturut-turut. 

Dari meminta donat berbentuk cincin olimpiade hingga minta peluk orang asing, Jia menemukan bahwa ketakutan akan penolakan jauh lebih buruk dalam pikiran daripada kenyataan.

Justru, banyak orang merespons positif atau dengan rasa ingin tahu. Ia belajar bahwa keberanian bukanlah absennya rasa takut, tapi kemauan untuk tetap mencoba di tengah ketakutan itu.

Sementara itu, guru bernama Paul Brandwine mengajarkan filosofi hidup lewat tindakan sederhana, menumpahkan sebotol susu dan meminta murid-muridnya melihat bahwa tidak ada gunanya menyesalinya. 

“Yang bisa kita lakukan hanyalah membersihkannya, melupakannya, dan bergerak ke langkah berikutnya,” katanya. Pesan itu sederhana, tapi sangat kuat: berhenti menatap masa lalu dengan penyesalan, dan fokus pada masa depan dengan niat.

Dan tentu saja, Jeff Bezos, pendiri Amazon, memperkuat ide ini dari sudut pandang bisnis. Ia tidak hanya gagal satu atau dua kali—tapi miliaran dolar dari proyek yang gagal. Namun Bezos tidak menyerah. Ia bahkan menyambut kegagalan sebagai harga dari eksperimen. Baginya, satu-satunya hal yang benar-benar menakutkan adalah tidak pernah mencoba.

Dari semua kisah ini, satu pola terlihat jelas: kekhawatiran tidak akan hilang, tapi bisa dikelola. 

Perspektif adalah kuncinya. 

Mengubah pertanyaan dari "Bagaimana jika saya gagal?" menjadi "Apa yang akan saya sesali jika saya tidak mencoba?" bisa menggeser ketakutan menjadi dorongan.

Kehidupan jarang datang tanpa risiko, tanpa ketidakpastian. Tapi seperti kata Sheryl, meski kita kehilangan rencana A, kita selalu bisa membangun rencana B—dan menjadikannya luar biasa. 

Dan seperti Sara Blakely, kadang hal paling revolusioner yang bisa kita lakukan adalah melangkah dengan keberanian, bahkan ketika tak seorang pun percaya pada ide kita. Termasuk diri kita sendiri. 

Penulis: Edhy Aruman

Rabu, 06 Agustus 2025

Rumus Bahagia

Neil Pasricha pernah jadi Direktur Pengembangan Kepemimpinan di Walmart, perusahaan ritel terbesar di dunia. Dia juga penulis buku motivasi. Ia juga seorang pengamat kehidupan yang tajam, dan pembicara publik yang memikat.

Dari ruang-ruang rapat para eksekutif hingga panggung konferensi internasional, Pasricha telah berjumpa dengan para pemimpin bisnis, miliarder, dan tokoh berpengaruh. 

Namun di balik kemilau kesuksesan mereka, ia menemukan kenyataan yang menggelitik pikirannya: begitu banyak orang hebat itu ternyata tidak benar-benar bahagia.

Di sela-sela makan siang konferensi atau percakapan santai di lorong kantor, topik yang muncul bukanlah tentang impian atau pencapaian, melainkan keluhan tentang stres, kelelahan, dan tekanan hidup yang tak kunjung reda.

Ironisnya, hal ini tidak hanya terjadi pada orang biasa, tetapi juga pada para tokoh yang dianggap berada di puncak pencapaian hidup. 

Pengalaman ini menanamkan sebuah pertanyaan besar dalam benak Pasricha.  

Jika mereka yang “memiliki segalanya” tidak merasa bahagia, lalu apa sebenarnya kunci kebahagiaan itu?

Dari perenungan panjang dan pengalaman pribadinya, Pasricha merumuskan sebuah persamaan sederhana yang menjadi inti bukunya The Happiness Equation:

Want Nothing + Do Anything = Have Everything

(Ingin Tidak Menginginkan Apa Pun + Melakukan Apa Pun = Memiliki Segalanya)

Bagi Pasricha, kebahagiaan bukanlah hadiah yang datang setelah kita mencapai tujuan tertentu. Sebaliknya, kebahagiaan adalah titik awal. Ia membalik logika umum yang kita dengar sejak kecil—bekerja keras, meraih sukses, lalu bahagia—menjadi sebaliknya: bahagialah dulu, maka Anda akan bekerja lebih baik, dan kesuksesan akan datang sebagai akibat alami.

Pendekatan ini bukan sekadar slogan manis. Penelitian mendukungnya. 

Harvard Business Review menunjukkan bahwa orang yang bahagia 31 persen lebih produktif, 37 persen lebih tinggi penjualannya, dan tiga kali lebih kreatif. 

Secara biologis, otak manusia memang terbiasa fokus pada hal negatif karena ribuan tahun hidup dalam kondisi singkat, keras, dan penuh persaingan. 

Namun kini, di dunia modern, kita tidak lagi terancam predator setiap saat. Meski begitu, otak kita masih memindai masalah, membuat kita sulit merasa cukup. Pasricha menunjukkan bahwa 90 persen kebahagiaan kita sebenarnya berasal dari cara kita memandang dunia dan aktivitas yang kita pilih, bukan dari keadaan hidup itu sendiri.

Itulah mengapa ia menekankan pentingnya melatih diri untuk “bahagia sekarang”. 

Kebahagiaan bukan sesuatu yang menunggu di ujung perjalanan; ia dibangun dari kebiasaan sehari-hari—langkah-langkah kecil yang mengubah cara kita merasakan hidup. 

Mulai dari berjalan kaki di pagi hari, menulis pengalaman positif, melakukan kebaikan acak, meluangkan waktu untuk diam, hingga melatih rasa syukur, semua itu adalah pintu masuk menuju keadaan batin yang lebih damai.

Pasricha juga menyoroti betapa rapuhnya kebahagiaan jika kita hanya mengandalkan validasi eksternal. 

Ia menceritakan pengalamannya sendiri ketika terjebak dalam lingkaran mengejar angka kunjungan blog, daftar bestseller, dan penghargaan. Setiap pencapaian hanya memuaskan sebentar, sebelum ia menetapkan target baru. 

Lama-kelamaan, ia menyadari bahwa motivasi eksternal membuat kita meng-outsource rasa percaya diri. Jika pujian membuat kita melayang, kritik bisa dengan mudah menjatuhkan kita.

Di sinilah empat kata sederhana menjadi pelindung: Do it for you. Lakukan untuk dirimu sendiri. Pasricha juga mengingatkan bahwa kita harus memahami jenis kesuksesan yang kita cari, apakah itu kesuksesan komersial, pengakuan sosial, atau kepuasan pribadi. 

Tidak semua bisa dimiliki sekaligus, dan sering kali dua di antaranya justru menghalangi yang ketiga.

Lebih jauh lagi, ia mengajak kita keluar dari “Budaya Lebih”, obsesi tak berujung untuk memiliki lebih banyak. 

Dengan kisah sederhana seperti nelayan Meksiko yang menolak tawaran membangun usaha besar karena ia sudah puas dengan hidupnya, Pasricha menunjukkan bahwa kekayaan sejati datang ketika kita merasa cukup. 

Ia menyebut fakta bahwa hanya dengan menjadi hidup saat ini—di antara miliaran manusia yang pernah ada—kita sudah memenangkan “loteri kehidupan”.

Salah satu gagasan paling menantang dari Pasricha adalah anjurannya untuk “tidak pernah pensiun”. Bukan berarti bekerja tanpa henti, tetapi menemukan makna melalui aktivitas yang memberi tujuan, struktur, stimulasi, dan hubungan sosial. 

Ia mencontohkan masyarakat Okinawa di Jepang yang memiliki ikigai, alasan untuk bangun setiap pagi, dan tetap aktif hingga usia lanjut.

Waktu, menurut Pasricha, adalah aset paling berharga yang sering kita remehkan. Ia mendorong pembaca untuk menghitung “gaji nyata” per jam, menyadari bahwa pendapatan besar bisa kehilangan maknanya jika dibayar dengan waktu hidup yang habis untuk hal yang tidak kita cintai. 

Karena itu, ia mengajak kita menciptakan ruang—menghapus pilihan yang tidak perlu, membatasi waktu yang dihabiskan untuk tugas tertentu, dan memutuskan akses terhadap gangguan.

Yang tak kalah penting, Pasricha membalik urutan motivasi: jangan menunggu ingin, baru melakukan. Mulailah bertindak, dan rasa mampu serta keinginan akan mengikuti. 

Seperti hukum fisika pertama Newton, gerak akan terus berlanjut kecuali dihentikan oleh gaya yang lebih besar. Begitu kita memulai, momentum akan membawa kita maju.

Pada akhirnya, inti dari semua ini adalah keaslian. Menjadi diri sendiri sepenuhnya adalah satu-satunya cara untuk menghindari penyesalan terbesar di akhir hidup. 

Pasricha mengingatkan bahwa semua nasihat pada dasarnya subjektif. Jawaban terbaik ada di dalam diri kita, menunggu untuk ditemukan.

The Happiness Equation bukan hanya buku, tetapi undangan untuk mengubah cara kita menjalani hari-hari. Dengan ingin tidak menginginkan apa pun, kita membebaskan diri dari jeratan “kurang”. 

Dengan berani melakukan apa pun, kita membuka pintu bagi kemungkinan yang tak terbatas. 

Dan ketika dua hal ini bersatu, kita akan merasa telah memiliki segalanya, bahkan sebelum dunia mengatakan demikian.

Penulis: Aruman

SUMBER:

Pasricha, N. (2016). The happiness equation: Want nothing + do anything = have everything. G. P. Putnam’s Sons.

Jumat, 01 Agustus 2025

PARKINSON

 



Zaman yang serba cepat dan penuh tuntutan membuat waktu terasa selalu kurang. Tugas datang bertubi-tubi, kalender nyaris tanpa jeda, dan deadline terasa terus memburu. 

Orang sibuk setiap hari, tapi sering tak tahu apakah kesibukan itu benar-benar perlu, atau hanya karena memberi ruang terlalu besar untuk pekerjaan yang terus membesar.

Tak bisa dipungkiri, kita terus bergerak. Tapi kita sering lupa bertanya: apakah kita benar-benar sibuk, atau sekadar membiarkan pekerjaan melebar melebihi yang seharusnya? Pernahkah kita merenung: apakah benar pekerjaan kita sebanyak itu, ataukah sebenarnya kita membiarkannya mengembang mengikuti waktu yang tersedia?

Pertanyaan ini bukan sekadar renungan pribadi, tapi merupakan inti dari apa yang dikenal sebagai Parkinson’s Law, sebuah prinsip legendaris dari sejarawan dan birokrat Inggris, C. Northcote Parkinson. 

Dalam bukunya Parkinson’s Law, and Other Studies in Administration (1957), ia menyampaikan satu kalimat sederhana yang sangat mengena: “Work expands so as to fill the time available for its completion.” Atau dalam bahasa kita, pekerjaan akan membengkak untuk mengisi waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya.

Parkinson menemukan bahwa dalam organisasi, terutama birokrasi pemerintahan, semakin banyak waktu dan sumber daya yang tersedia, maka semakin kompleks dan besar pula tugas yang diciptakan. Bahkan ketika kebutuhan nyatanya tidak meningkat. 

Dalam sebuah studi satir tetapi didukung data nyata, ia menunjukkan bahwa jumlah pegawai administratif di Kementerian Angkatan Laut Inggris meningkat drastis antara tahun 1914 dan 1928, meskipun jumlah kapal dan personel militer justru menurun. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan organisasi seringkali bukan karena beban kerja, tetapi karena dorongan internal untuk terlihat sibuk dan penting.

Namun, Parkinson’s Law bukan hanya tentang birokrasi. 

Ia juga berlaku dalam hidup kita sehari-hari. Saat diberi waktu dua jam untuk menyelesaikan laporan yang sebenarnya bisa selesai dalam 30 menit, kita cenderung menunda-nunda, mempercantik hal-hal yang tidak perlu, atau tenggelam dalam rincian yang tidak penting. 

Kita tidak sadar bahwa kita membiarkan pekerjaan tumbuh mengikuti wadah waktunya. Bukan karena kita membutuhkan waktu lebih, tetapi karena kita tidak membatasi diri.

Parkinson menulis dengan ironi yang halus tapi tajam. Salah satu bab yang paling terkenal dalam bukunya berjudul “Injelititis, or Palsied Paralysis” , istilah yang terdengar seperti penyakit medis. 

Tapi ini bukan tentang kesehatan fisik, melainkan penyakit organisasi. 

Dalam metafora brilian ini, Parkinson menggambarkan kondisi di mana pejabat senior dalam organisasi menjadi tumpul dan tidak produktif, pejabat menengah saling menjegal demi posisi, dan orang-orang muda yang kompeten tertekan dan akhirnya memilih mundur atau diam. 

Organisasi yang terkena “injelititis” akan terlihat sibuk di permukaan, tapi sejatinya berada dalam kondisi koma. Ia tidak bergerak maju, tidak mengambil keputusan bermakna.

Parkinson menyusun gejala-gejala injelititis layaknya dokter menulis diagnosis: mulai dari kemunculan pemimpin yang iri dan tidak kompeten, menyebarnya budaya aman dan tidak berani bersuara, hingga fase akhir di mana kantor penuh perabot mewah, tapi tidak ada hasil nyata. 

Meskipun mengutip istilah-istilah medis seperti “penyakit” dan “penyembuhan,” penting diingat bahwa ini hanyalah metafora. 

Parkinson adalah seorang sejarawan, bukan dokter. Fokusnya adalah administrasi publik dan organisasi bisnis, bukan kesehatan tubuh manusia.

Hal ini penting untuk ditegaskan karena banyak orang mengira Parkinson’s Law berkaitan dengan Penyakit Parkinson , sebuah kondisi neurologis serius yang memengaruhi pergerakan tubuh manusia. 

Padahal keduanya tidak memiliki hubungan sama sekali, meskipun namanya sama. 

Penyakit Parkinson dinamai dari James Parkinson, seorang dokter Inggris yang pada tahun 1817 menulis esai medis pertama yang mendeskripsikan kondisi ini secara klinis. Penyakit ini berkaitan dengan kerusakan saraf dan penurunan produksi dopamin di otak, menyebabkan gejala seperti tremor, kekakuan otot, dan lambatnya gerak.

Sedangkan Parkinson’s Law adalah hasil pengamatan dan sindiran C. Northcote Parkinson terhadap dunia birokrasi dan organisasi. 

Ia bukan berbicara tentang tubuh manusia, melainkan tentang “tubuh” organisasi . tentang  bagaimana ia tumbuh, melebar, dan kadang mati karena terlalu banyak kompleksitas yang diciptakan dari dalam.

Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa lebih menghargai kejeniusan C. Northcote Parkinson. 

Ia tidak hanya menunjukkan masalah, tetapi juga menyodorkan cermin kepada kita semua — bahwa sering kali, keterlambatan, inefisiensi, dan stagnasi bukan datang dari luar, melainkan dari sistem yang kita pelihara sendiri. 

Sistem yang membenarkan rapat tanpa akhir, organisasi yang mengukur keberhasilan dari jumlah staf bukan dari hasil, dan pribadi-pribadi yang merasa sibuk padahal sebenarnya hanya sedang terjebak dalam ilusi kesibukan.

Parkinson’s Law memberi kita satu pelajaran penting: bahwa efisiensi bukan soal kerja keras tanpa henti, melainkan tentang keberanian menyederhanakan. 

Tentang kemampuan menetapkan batas waktu yang masuk akal, dan disiplin untuk tidak membiarkan pekerjaan meluas tanpa kendali. Bahwa terkadang, membatasi diri adalah bentuk tertinggi dari kebebasan.

Di era yang terobsesi dengan produktivitas, mungkin justru prinsip Parkinson-lah yang perlu diingat ulang: jangan izinkan pekerjaan tumbuh tanpa batas. 

Bentuklah waktu, jangan dibentuk olehnya. Maka kita akan kembali pada esensi: bekerja bukan untuk terlihat sibuk, melainkan untuk menyelesaikan yang penting. 


Penulis: Edhy Aruman


DAFTAR PUSTAKA 

Parkinson, C. N. (1957). Parkinson’s law, and other studies in administration. Houghton Mifflin.

Minggu, 27 Juli 2025

Jumat Terakhir Mas Teduh



Saat azan Asar menggema, suaminya diam di kursi. Lalu kenangan masa kecil datang menggulung: tentang ibu yang wafat di pangkuan, dan ayah yang tak pernah pulang dari tikar judi.

Oleh : Sri Asian

Desir angin bulan Juli pada Jumat sore serasa menusuk sampai ke tulang. Suara azan asar berkumandang dari corong masjid yang tak jauh dari rumah.

Setelah berwudu, kukenakan mukena. Sedikit heran ketika langkahku sampai ruang tamu rumah, Mas Teduh, suamiku, masih tertidur di atas kursi. Tumben. Biasanya dia yang membangunkanku.

Memang begitulah rutinitas kami berdua—selalu berusaha salat tepat waktu dan berjemaah di masjid.

“Mas… bangun, Mas!”

Sekali, dua kali, berkali-kali kupanggil, Mas Teduh tetap diam. Perasaan takutku perlahan menjadi kenyataan. Mas Teduh diam… untuk selamanya.

“Ya Allah… innalillahi wainna ilaihiraji’un…”

Tak kuasa air mataku membasahi wajahku, mukena putihku, dan sajadahku.

Bukan kematian yang aku sesali, tapi datangnya kematian yang tiba-tiba. Ketika aku belum menyiapkan diri untuk berpisah dengan orang yang aku cinta.

Air mataku ini untuk hari ini, ketika suamiku, orang yang sangat aku cintai, meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dan air mata ini juga untuk tiga puluh lima tahun silam yang tak bisa kuhapus.

Waktu itu usiaku sepuluh tahun. Aku anak pertama dengan tiga adik perempuan yang masih kecil-kecil. Si bungsu belum genap dua tahun, masih menyusu.

Kondisi ekonomi keluarga yang kurang dari cukup memaksaku untuk hidup mandiri.

Mencari kayu bakar di hutan, mencari wol-wolan—ulat yang hidup di pangkal batang pohon turi—untuk dijadikan lauk. Bahkan belalang pun kutangkap demi memenuhi kebutuhan protein, yang tak perlu mengeluarkan uang.

Setahuku, ibuku adalah wanita paling cantik yang kesabarannya luar biasa. Gurat di wajahnya tampak menua, walau sebenarnya usianya belum terlalu tua. Sementara ayahku, seorang mandor hutan, hari-harinya dihabiskan di meja judi.

Bulan Juli, tiga puluh lima tahun silam. Jumat dini hari.

Ibu batuk-batuk kecil, mengeluarkan darah dari dahaknya. Aku terjaga.

“Nduk… adikmu ya…”

Setelah itu, ibu tak berkata apa-apa lagi. Aku menjerit sekeras-kerasnya, memeluk tubuhnya erat-erat. Kutaruh kepalanya di pangkuanku—pangkuan anak kecil berusia sepuluh tahun.

“Bu, bangun, Bu… bangun, Bu…!”

Kuciumi wajahnya. Kugerakkan tangannya. Ia tetap diam. Lalu kugendong adik bayi dan bergegas keluar mencari ayah.

Aku sibak semak, menerobos jalan kecil menuju pasar yang jaraknya sekitar lima ratus meter. Sesekali kudengar ayam berkokok. Hari masih pagi.

Seseorang menyapaku, menatapku penuh selidik, lalu bertanya, “Oh, anake Cokro, arep lapo?”

Sambil menangis aku pegangi bajunya. “Pak… Bapak suruh pulang sekarang… tolong, Pak…!”

Dari kejauhan kudengar suara ayah: “Diluk engkas!”

Refleks aku berlari ke arah suara itu. Ayahku sedang membawa kartu, duduk di atas tikar lusuh bersama beberapa lelaki paruh baya. Permainan itu bubar seketika. Aku tak menghiraukannya.

Yah… kepergian orang-orang yang sangat aku cintai meninggalkan trauma yang sulit dihapus.

Hari-hari kulalui dengan menggantikan posisi ibu, merawat ketiga adikku. Semua pekerjaan rumah tangga ada di pundakku.

Rupanya, ayah benar-benar insaf. Ia menikah lagi dengan perempuan yang menyayangi kami semua hingga kami tumbuh remaja.

Pada usia yang terbilang sangat muda, tujuh belas tahun, Mas Teduh melamarku. Aku pun mengiyakan.

Memulai hidup baru dengannya sungguh sangat indah. Ia seorang pegawai negeri, tepatnya guru SD di tempat tinggalku, yang mampu mengubah hidupku seratus delapan puluh derajat.

Dialah imanku, juga suamiku, sekaligus sandaran hidupku yang berpijak pada ajaran agama dalam mengelola rumah tangga.

Buah cinta kami, dua anak perempuan cantik dan salehah yang kini telah berumah tangga dan hidup bersama suaminya masing-masing.

Ya Allah, kuatkan dan ikhlaskan hatiku untuk melepas Mas Teduh.

“Sebenarnya tidak ada kata kesepian jika orang hanya bersandar kepada Allah.” Itulah kalimat terakhirnya pada malam-malam kami berdua.


Tak kusangka, itulah kalimat terakhir yang kudengar darinya.


Selamat jalan, Mas. Terima kasih telah membersamaiku selama dua puluh delapan tahun. Terima kasih telah mengentasku dari tempat yang gelap menuju terang benderang. Semoga semua kebaikanmu menjadi amal jariyah, dan semoga Mas Teduh ditempatkan di jannah-Nya. Amin.

Jumat, 18 Juli 2025

JACK WELCH


Dalam sejarah modern Amerika, jarang ada sosok yang begitu dipuja sekaligus dikritik seperti Jack Welch, mantan CEO General Electric (GE). 

Ia bermain golf dengan presiden, bergaul dengan bintang film, dan dipuja banyak orang.  

Di mata sebagian orang, ia adalah simbol keberhasilan luar biasa karena menjadikan GE perusahaan paling bernilai di dunia. 

Namun di balik kilau keberhasilannya, tersimpan kisah tentang bagaimana satu orang bisa mengubah arah kapitalisme, menurut sebagian orang, bukan ke arah yang lebih baik.

Pertengahan abad ke-20, kapitalisme Amerika hidup dalam harmoni yang langka. Perusahaan, pekerja, dan pemerintah berada dalam sebuah ekosistem ekonomi yang relatif adil. 

Upah layak dibayar. Regulasi dihormati. Pajak dikucurkan untuk membangun infrastruktur dan pendidikan. 

Dan perusahaan-perusahaan besar, seperti General Electric, dianggap sebagai simbol tanggung jawab sosial, bukan hanya mesin laba. GE bangga menyebut "progress" sebagai produk utamanya. 

Pada tahun 1953, mereka membelanjakan 37% dari pendapatannya untuk pekerja dan hanya 3,9% untuk investor. Ini bukan sekadar angka. Ini mencerminkan filosofi bahwa bisnis adalah bagian dari masyarakat, bukan sebagai penguasa tunggalnya.

Namun keseimbangan itu tidak bertahan lama. 

Di tahun 1970-an, seiring munculnya gagasan pasar bebas ekstrem, paradigma ekonomi mulai terguncang. Milton Friedman -- ekonom Amerika terkemuka, pemenang Nobel, dan tokoh utama ekonomi pasar bebas --  menyerukan agar perusahaan berhenti memedulikan masyarakat, dan fokus tunggal pada satu hal: laba bagi pemegang saham. 

Gagasan ini mendapatkan kaki-kakinya di Wall Street, di kampus-kampus bisnis, dan di ruang dewan perusahaan. Apa yang sebelumnya merupakan harmoni pascaperang mulai diretas dari dalam.

Masuklah Jack Welch, simbol puncak dari ideologi baru ini. 

Ketika Welch mengambil alih GE pada tahun 1981, ia tidak hanya memimpin sebuah perusahaan, tetapi merancang ulang mentalitas korporat seluruh negeri. Ia mempopulerkan pemangkasan besar-besaran, outsourcing, merger agresif, dan finansialisasi. 

Langkah itu  bukan untuk menciptakan nilai jangka panjang, tetapi demi satu hal: harga saham.

Dengan ketegasan dingin, Welch merombak GE dari perusahaan yang menghargai pekerja dan inovasi, menjadi mesin laba jangka pendek yang mengorbankan manusia di dalamnya. Ia memecat puluhan ribu orang, mendorong industri manufaktur AS ke jurang, dan menanamkan benih ketimpangan sosial yang kini tumbuh menjadi realitas getir di banyak kota Amerika.

Namun warisan Welch tidak berhenti di GE. Ia melatih generasi baru pemimpin yang meniru taktiknya di perusahaan-perusahaan besar lain, mulai dari Boeing hingga Home Depot. 

Strategi “nilai pemegang saham di atas segalanya” menjadi hukum tak tertulis bisnis Amerika. 

Hasilnya? 

Kelas menengah tergerus, kepercayaan terhadap institusi melemah, dan jurang antara pekerja dan elite semakin lebar.

Tapi kisah ini tidak berakhir di sana.

David Gelles, reporter New York Times, dalam buku The Man Who Broke Capitalism, bukan hanya membongkar bagaimana Welch membentuk sistem yang kini banyak dikritik, tapi juga menyoroti benih perubahan yang mulai tumbuh. 

Ia memperkenalkan tokoh-tokoh baru di dunia bisnis yang menolak warisan Welch, yang percaya bahwa kesuksesan tidak harus dibayar dengan penderitaan banyak orang.

Mereka memilih jalur berbeda dan menolak gagasan bahwa keberhasilan harus dibayar dengan pemangkasan, pengorbanan karyawan, dan pengabaian nilai-nilai kemanusiaan. 

Mereka membuktikan bahwa bisnis bisa tetap unggul tanpa harus mengorbankan siapa pun.

Salah satunya adalah Paul Polman, mantan CEO Unilever. Ketika mengambil alih perusahaan pada saat kritis, ia tak sekadar fokus pada pertumbuhan. Dia membawa Unilever ke akar nilai sosial yang ditanam oleh pendirinya. 

Ia menghentikan laporan panduan keuangan triwulanan, menolak tekanan pasar saham, dan mengarahkan perusahaannya untuk tumbuh tanpa merusak lingkungan atau melupakan pekerja. 

Ketika Kraft Heinz, perusahaan yang sangat berhaluan “Welchian,” berusaha mengambil alih Unilever, Polman menolak mentah-mentah. Ia percaya bahwa bisnis harus melayani banyak orang, bukan hanya segelintir investor.

Di sisi lain, Dan Schulman di PayPal menjalankan kepemimpinan yang sangat manusiawi. Setelah mengetahui bahwa sebagian besar karyawan garis depannya hidup dengan kesulitan keuangan, ia meluncurkan program kesejahteraan finansial, menaikkan gaji, dan memangkas biaya kesehatan. Baginya, karyawan bukanlah beban, melainkan aset terpenting perusahaan.

Keduanya—Polman dan Schulman—menawarkan bukti nyata bahwa kita tidak harus mewarisi sistem bisnis yang keras dan tidak berperasaan. Mereka menunjukkan jalan lain: bahwa kapitalisme bisa berpihak, bahwa perusahaan bisa sukses sambil tetap peduli, dan bahwa menolak warisan Welch bukan kelemahan—tapi keberanian.

Mereka membuktikan bahwa bisnis bisa tetap hebat tanpa menghancurkan komunitas, tanpa melecehkan regulasi, dan tanpa melupakan bahwa perusahaan, pada akhirnya, adalah bagian dari masyarakat.

“Perubahan besar sering dimulai dengan kesadaran akan kesalahan masa lalu. Kini saatnya bisnis menulis ulang misinya. Bukan sekadar mengejar laba, tapi menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.” 

Penulis: Edhy Aruman

Rabu, 16 Juli 2025

Korup Itu ...





William Magear Tweed , yang lebih dikenal sebagai "Boss" Tweed, adalah nama yang tercatat dalam sejarah kelam Amerika Serikat. 

Ia bukan seorang presiden, jenderal perang, atau tokoh ilmuwan besar. 

Ia adalah politisi. Tapi bukan politisi biasa. 

Boss Tweed adalah simbol sempurna dari korupsi yang tidak hanya disembunyikan, tetapi dipertontonkan di panggung publik, seolah itu bagian sah dari demokrasi. 

Lahir di New York pada 1823, Tweed menjadi lambang dari sebuah era di mana kekuasaan dan uang bisa membentuk ulang keadilan, hukum, dan bahkan takdir kota sebesar New York.

Tweed memulai karier politiknya sebagai anggota Dewan Kota New York di usia 28 tahun.

Namun, bukan kebijakan atau kepeduliannya terhadap rakyat yang menjadikannya terkenal. Melainkan kepiawaiannya menguasai sistem dari dalam dan memanfaatkannya demi keuntungan pribadi. 

Ia membangun jaringan kekuasaan yang dikenal dengan nama Tammany Hall, organisasi politik Partai Demokrat yang mengendalikan birokrasi kota New York dengan tangan besi dan dompet penuh uang rakyat.

Meski tak punya latar belakang hukum, Tweed mendirikan firma hukum. 

Ironisnya, kantor ini tak pernah menangani perkara-perkara hukum biasa. 

Di situlah ia memulai praktik “pelicin” politik: perusahaan-perusahaan besar membayar Tweed untuk mendapatkan proyek atau perlindungan hukum, yang pada dasarnya adalah bentuk pemerasan. 

Uang hasil suap digunakan untuk membeli lahan-lahan strategis di Manhattan dan memperkuat jaringan loyalis di dalam pemerintahan kota. 

Inilah awal dari “mesin” korupsi modern yang luar biasa efektif. Ini adalah sebuah sistem yang, seperti dikatakan oleh Kenneth D. Ackerman dalam buku Boss Tweed: The rise and fall of the corrupt pol who conceived the soul of modern New York , bekerja seperti jam Swiss, dengan strategi kontrol terhadap pengadilan, legislator, bendahara kota, bahkan hingga tempat pemungutan suara.

Pada puncak kekuasaannya, diperkirakan Tweed dan kelompoknya mencuri antara $45 juta hingga $200 juta dari kas kota, setara dengan $1 hingga $4 miliar sekarang. 

Mereka memanipulasi anggaran, memalsukan laporan, dan membebani proyek pembangunan dengan biaya yang berkali-kali lipat untuk memperkaya diri. 

Sistem yang dijalankan Tweed begitu kuat sehingga kartun satire tahun 1889 di majalah Puck menggambarkan Senat Amerika sebagai panggung para monopolis dan pengusaha rakus, sementara pintu masuk rakyat ditutup rapat dengan tulisan: “The People’s Entrance: Closed.”

Namun, sebagaimana sejarah seringkali mencatat, zaman kegelapan akan memunculkan lentera-lentera harapan. 

Maraknya korupsi dan ketimpangan ini mulai memantik perlawanan. 

Dalam salah satu tulisannya pada 1913, Presiden Woodrow Wilson mengecam pengadilan-pengadilan yang tak lagi berdiri untuk kepentingan publik, melainkan menjadi pelayan dari segelintir elite ekonomi. 

Ia mempertanyakan: jika benteng terakhir keadilan ikut rusak, ke mana rakyat akan berlindung?

Korupsi tidak hanya mencengkeram pemerintahan. Ia juga menjalar ke proyek-proyek besar infrastruktur, seperti pembangunan jalur kereta api dan jalan raya. 

Subsidi pemerintah diberikan bukan berdasarkan kualitas, tetapi kuantitas mil jalan yang dibangun. Ini membuka celah bagi kontraktor nakal untuk membuat jalur yang berliku-liku tanpa arah, demi keuntungan pribadi. 

Setelah revolusi industri dan munculnya mobil di awal abad ke-20, pembangunan jalan menjadi ladang emas baru bagi para oportunis. Seperti dicatat oleh Earl Swift dalam The Big Roads, hanya 10 sen dari setiap dolar pajak yang benar-benar diwujudkan dalam bentuk jalan berkualitas.

Namun, seiring berkembangnya kelas menengah dan meningkatnya kesadaran warga negara akan hak dan transparansi, korupsi tidak lagi dapat berjalan dengan tenang. 

Menurut sejarawan hukum Lawrence Friedman, +“amarah rakyat tak berarti apa-apa di tahun 1840, masih kecil di 1860, tetapi menjadi kekuatan besar di 1890.”_ Ini adalah titik balik.

Yang menarik, sebagaimana ditunjukkan oleh The Prosperity Paradox karya Christensen, Ojomo, dan Dillon, perubahan ini tidak semata-mata digerakkan oleh hukum yang lebih ketat atau polisi yang lebih rajin menangkap koruptor. 

Ia datang karena warga negara menemukan cara-cara baru untuk hidup lebih baik. 

Ketika inovasi membuka jalan untuk menciptakan kekayaan secara sah—melalui kewirausahaan, teknologi, dan peluang ekonomi yang inklusif, maka korupsi perlahan kehilangan relevansinya. 

Jika dulu korupsi adalah satu-satunya jalan untuk naik kelas, sekarang ada alternatif yang lebih bermartabat.

Kisah Boss Tweed adalah kisah tentang bagaimana sebuah bangsa bisa terjerembab begitu dalam ke dalam lumpur ketidakadilan, tapi juga bagaimana bangsa itu bisa bangkit. 

Amerika Serikat yang kita kenal hari ini, negara dengan peringkat ke-16 dalam indeks transparansi dunia, pernah menjadi negara di mana hukum dijual, pemilu direkayasa, dan rakyat kecil tak punya suara. 

Namun, rakyatnya memilih untuk berubah. Mereka tidak hanya membentuk hukum baru, tetapi membangun sistem ekonomi dan sosial yang lebih inklusif.

Tahun 1871, seorang mantan sekutu Tweed yang kecewa, James O'Brien, membocorkan dokumen keuangan rahasia yang membongkar pemborosan dan pencurian anggaran kota. 

Dokumen ini menjadi bahan bagi jurnalis investigatif seperti Thomas Nast, yang melalui karikatur di majalah Harper’s Weekly, mengubah Tweed menjadi simbol nasional korupsi politik.

Disertai kampanye karikatur tajam oleh Thomas Nast, masyarakat mulai menuntut keadilan.

Tweed ditangkap diadili pada tahun 1873 dan dijatuhi hukuman 12 tahun penjara karena korupsi, meskipun hukumannya kemudian dikurangi menjadi 1 tahun. Namun, segera setelah dibebaskan, ia ditangkap kembali dalam kasus perdata dan dijebloskan ke Ludlow Street Jail.

Ia melarikan diri ke Spanyol, tetapi tertangkap setelah polisi mengenalinya dari karikatur Nast. Tweed diekstradisi ke Amerika dan dipenjara kembali. Dalam kondisi sakit dan ditinggalkan para sekutunya, ia meninggal dunia pada 12 April 1878, sendirian di balik jeruji besi.

Akhir tragis Tweed menjadi simbol bahwa kekuasaan tanpa moral hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Pesan abadi dari era Boss Tweed adalah bahwa korupsi akan selalu menemukan ruang ketika masyarakat tak punya pilihan lain. Tapi ketika kesempatan dan harapan muncul, suara rakyat akan kembali menemukan jalannya. Dan di situlah letak kekuatan demokrasi yang sejati.

Penulis: Edhy Aruman