Rabu, 08 Oktober 2025

Rasa Ingin Tahu


Banyak orang mengenal Richard Phillips Feynman (1918–1988) sebagai peraih Hadiah Nobel Fisika 1965, salah satu pemikir paling brilian dan eksentrik abad ke-20, juga guru besar dengan cara mengajar paling ajaib yang pernah ada. 

Dia ilmuwan yang mampu menjelaskan keajaiban alam dengan tawa di wajahnya. Namun bagi banyak orang lain, terutama yang membaca kisah hidupnya, Feynman bukan sekadar ilmuwan. 

Ia adalah seorang anak laki-laki yang tak pernah berhenti bertanya, anak yang ingin tahu mengapa langit biru, bagaimana listrik bekerja, dan kenapa piring kafetaria bisa berputar goyah di udara. 

Dari rasa ingin tahu sederhana itulah, ia membangun seluruh kehidupannya.

Richard Phillips Feynman lahir di Far Rockaway, New York, pada 1918, di tengah keluarga sederhana yang penuh cinta pada ilmu pengetahuan dan humor. Ayahnya, Melville, bukan ilmuwan, tetapi seorang penjual seragam militer dengan imajinasi besar. 

Dialah yang pertama kali menanamkan pada Richard gagasan bahwa sains bukan sekadar hafalan, tetapi cara memandang dunia. 

Suatu hari ia menunjukkan seekor burung kecil dan berkata, “Kamu bisa tahu namanya dalam semua bahasa di dunia, tapi kamu tak akan tahu apa-apa tentang burung itu. Mari lihat bagaimana ia terbang, itulah pengetahuan sejati.” (Gleick, 1992). 

Dari ayahnya, Feynman kecil belajar bahwa mengetahui nama tidak sama dengan memahami makna. Ia tumbuh menjadi bocah yang selalu ingin tahu “mengapa”.  Di rumah, ia dikenal sebagai Ritty si Tukang Servis Radio. 

Ketika teman-temannya bermain di luar, Feynman kecil asyik menyolder kabel atau mencari tahu mengapa jarum amperemeter bergerak aneh. Adiknya, Joan, menjadi “asisten laboratorium” yang dibayar empat sen seminggu untuk memegang kawat percikan listrik, sambil menjerit setiap kali kesetrum ringan. 

Itulah laboratorium masa kecil Feynman: kamar tidur, beberapa kawat, dan segunung rasa ingin tahu.

Jika ada bau gosong di rumah, ibunya, Lucille, tahu itu ulah Richard. Namun, bukannya memarahinya, ia tersenyum dan berkata, “It’s worth it.” 

Ia percaya kekacauan anaknya adalah harga dari pengetahuan. Di situlah benih rasa ingin tahu Feynman tumbuh, bukan dari kepatuhan, melainkan dari kebebasan untuk gagal.

Dalam kerangka psikologi modern, Feynman adalah perwujudan paling kuat dari dimensi “Joyous Exploration” yang dikemukakan oleh Todd B. Kashdan. 

Dimensi ini menggambarkan individu yang terdorong oleh rasa gembira saat menemukan hal baru — di mana belajar itu sendiri menjadi hadiah. Feynman pernah berkata, “The pleasure of finding things out is the greatest joy of my life.”

Ia tidak mengejar sains demi penghargaan; ia melakukannya karena tiap penemuan, sekecil apa pun, membuat hidupnya terasa lebih luas.

Namun Feynman tidak berhenti pada kegembiraan. Ia juga memiliki kadar tinggi “Stress Tolerance”,  kemampuan untuk tetap penasaran meski dihadapkan pada ketidakpastian atau risiko. 

Di MIT dan kemudian Princeton, Feynman menjelma menjadi mahasiswa yang berpikir di luar batas. Ia tidak suka menghafal rumus, ia ingin merasakan mengapa sesuatu benar. “I learned very early the difference between knowing the name of something and knowing something,” katanya bertahun-tahun kemudian (Feynman, 1999). 

Ketika banyak mahasiswa sibuk memuaskan profesor, Feynman sibuk memuaskan rasa penasarannya sendiri. Ia bahkan menghitung sendiri gaya elektromagnetik elektron dari prinsip dasar hanya untuk memastikan teori itu “masuk akal”.

Ketika terlibat dalam Proyek Manhattan  -- tempat para ilmuwan merancang bom atom -- di Los Alamos, ia bukan hanya fisikawan muda berbakat; ia juga si biang kerok yang membuka brankas berisi rahasia bom atom. 

Ia melakukannya bukan karena motif jahat, melainkan karena ingin tahu apakah keamanan sistem itu sungguh tak bisa ditembus. “Orang bisa ditebak,” katanya ringan, “dan begitu juga kombinasi kuncinya.” 

Rasa ingin tahu mendorongnya menembus batas yang bahkan para penjaga pun tak berani dekati.

Di laboratorium Los Alamos, Feynman juga dikenal karena memperbaiki sendiri mesin kalkulator mekanik yang sering rusak. Bersama Nicholas Metropolis, ia memasang papan bertuliskan “Computers Repaired.” 

Ketika atasannya menegur bahwa waktunya terlalu berharga untuk hal sepele itu, Feynman menjawab, “Justru karena itu saya melakukannya, agar waktu semua orang tidak terbuang.” 

Ia ingin tahu bagaimana mesin berpikir, rasa penasaran yang kemudian menginspirasi generasi ilmuwan komputer.

Tapi rasa ingin tahu Feynman tidak berhenti di laboratorium. Ia merembes ke dalam kehidupannya yang paling pribadi. 

Ketika Arline, perempuan yang paling ia cintai sejak muda, divonis mengidap TBC, dunia di sekitar Feynman seakan berhenti. Semua logika dan persamaan yang ia kuasai tak mampu menjelaskan bagaimana seseorang bisa kehilangan bagian dari dirinya sendiri. 

Namun alih-alih menjauh, ia memilih untuk tetap di sisi Arline, menatap sakitnya dengan keberanian yang sama seperti ketika ia menatap misteri alam semesta.

Ia menulis surat-surat panjang yang memadukan cinta dan keajaiban ilmu, seolah ingin menulis ulang hukum fisika agar waktu dapat melambat di sekitar perempuan itu. 

Ia menulis surat-surat penuh cinta dan sains — surat yang diakhiri dengan kalimat memilukan: “I still love you, and they all seem ashes.” (Gleick, 1992, hlm. 175). 

Kata-kata itu bukan sekadar kesedihan, melainkan sebuah pernyataan abadi tentang cinta yang tak mengenal bentuk atau jarak.

Dua tahun setelah Arline pergi, ia masih menulis untuknya, seolah kematian hanyalah perpindahan alamat di kosmos. 

Surat itu ditutup dengan kalimat yang lembut dan menghancurkan hati: “P.S. Please excuse my not mailing this—but I don’t know your new address.”

Ia tahu surat itu takkan pernah sampai, tetapi menulisnya adalah cara Feynman menantang semesta, menolak untuk percaya bahwa cinta bisa benar-benar berakhir.

Di situ, rasa ingin tahunya tentang kehidupan berubah menjadi rasa ingin tahu tentang kehilangan, tentang bagaimana cinta bisa bertahan melampaui waktu.

Selepas perang, Feynman kembali ke kampus Cornell dengan semangat yang redup. Ia merasa kosong, seolah keajaiban dunia telah sirna. Hingga suatu hari, ia memperhatikan piring kafetaria yang berputar goyah di udara. Pertanyaan sederhana muncul: mengapa piring itu goyah tapi tidak jatuh?

Ia mulai menghitung, menulis persamaan, dan dari permainan kecil itulah lahir gagasan yang kemudian berkembang menjadi teori elektrodinamika kuantum (QED), temuan yang membawanya ke Stockholm menerima Nobel Fisika. 

Ketika rekannya Hans Bethe bertanya apa pentingnya penelitian piring itu, Feynman menjawab dengan tawa, “It doesn’t have any importance… but it’s fun!” (Feynman, 1985).

Inilah manifestasi Joyous Exploration dalam bentuk paling murni: rasa ingin tahu yang tak butuh alasan, hanya kesenangan dalam mencari tahu. 

Tapi di balik kesenangan itu juga tersembunyi Deprivation Sensitivity, dorongan yang muncul karena ketidaknyamanan tidak mengetahui sesuatu. Bagi Feynman, ketidaktahuan adalah penderitaan kecil yang hanya bisa diobati dengan penemuan.

Feynman juga menunjukkan bentuk Social Curiosity. Ia suka berbincang, mendengarkan cerita orang biasa, bermain drum di bar Brasil, atau menggambar model di kelas seni.

Ia ingin tahu bagaimana orang lain merasakan hidup. 

Dalam surat-suratnya ia sering menyebut, “Manusia menarik karena mereka tidak dapat diprediksi, dan itulah sebabnya mereka menyenangkan untuk dipelajari.”

Di sisi lain, ia juga sedikit Thrill Seeker. Ia pernah memanjat menara air hanya untuk melihat apakah angin di atas terasa berbeda, atau menolak protokol Nobel karena tak mau berjalan mundur di hadapan Raja Swedia. “Saya tidak suka upacara,” katanya, “saya hanya ingin tahu bagaimana rasanya berada di sana.”

Pada akhirnya, kombinasi semua dimensi ini menjadikan Feynman bukan sekadar ilmuwan besar, melainkan archetype dari manusia yang digerakkan oleh rasa ingin tahu sejati. 

Ia belajar bukan untuk menjawab, melainkan untuk mempertanyakan. Ia bekerja bukan untuk menemukan kebenaran mutlak, tetapi untuk menikmati proses mendekatinya.

Feynman meninggal pada 1988 dengan kalimat terakhir yang khas: “I’d hate to die twice. It’s so boring.”

Kalimat itu terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya adalah pernyataan hidup seorang penjelajah ide: bahkan kematian pun baginya adalah misteri yang layak dihadapi dengan rasa ingin tahu.

Richard Feynman membuktikan bahwa curiosity bukan sifat sampingan dari kecerdasan, melainkan sumbernya.

Ia menunjukkan bahwa memahami dunia tidak berarti menyingkap semua rahasia, tetapi menikmati perjalanan menyingkapnya sedikit demi sedikit. Seperti piring goyah yang terus berputar, dunia akan selalu tampak ajaib — selama kita cukup penasaran untuk terus memperhatikannya. 

Penulis: Edhy Aruman

Sabtu, 04 Oktober 2025

Jumat, 03 Oktober 2025

Pledoi Terdakwa Kriminalisasi Kolonel Inf. (Purn.) Eka Yogaswara Yang Berjuang Mempertahankan Lahan Warisan Sang Kakek

Eka Yogaswara, bersama ahli waris lainnya berjuang mempertahankan lahan warisan sang kakek, Bek Musa. Lahan yang sudah dikuasai sejak tahun 1937 itu, mulai membara ketika keluar Sertifikat Hak Pakai Sementara no: 75 tahun 1987, atas nama Departemen Penerangan. Menurut Tessa Elya Andriyana Wahyudi, bagian legal PT PFN yang melaporkan Eka ke POMAD hingga akhirnya disidang di Pengadilan Tinggi Militer II Jakarta, asal perolehan Sertifikat Hak Pakai Sementara no:75 tahun 1987 itu dari eigendom verponding no: 6934.

Eka  didakwa dengan dua pasal KUHP.  Dakwaan Kesatu: Melanggar Pasal 385 Ke-4 KUHP . Pasal ini bunyinya, barang siapa dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, menggadaikan atau menyewakan tanah dengan hak Indonesia, padahal diketahui bahwa orang lain yang mempunyai atau turut mempunyai hak atas tanah itu.

Dakwaan Kedua: Melanggar Pasal 167 ayat (1) KUHP. Pasal ini berbunyi, barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum atau berada disitu dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera.

Dakwaan ini bagi Eka dan ahli waris lainnya, tentu saja dirasakan aneh mengingat sejak masih kecil, mereka semua tahu kalau itu lahan milik kakeknya.

Apalagi, kemudian muncul fakta bahwa lahan eigendom verponding no: 6934 itu tidak berada di jalan Tendean 41, Jakarta. Sebagaimana yang diklaim oleh PT PFN. Buktinya, Surat Kantor Pertanahan Jakarta Selatan, tanggal 20 November 2007 juncto Putusan Tata Usaha Negara tahun 2009 antara PT. Sonati Contractors melawan Kantor Pertanahan Jakarta Selatan, yang pada pokoknya menerangkan bahwa Hak Guna Bangunan (HGB) No. 263, seluas 14.145 m2, atas nama PT. Pertamina, terletak di Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan asalnya tanah Negara bekas eigendom verponding No. 6934. 

Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) No. 940, luas 1.436 m2, atas nama PT. Town And City Properties, terletak di Jl. Taman Patra, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan asalnya tanah Negara bekas eigendom verponding No. 6934. Bahwa dengan demikian dapat disimpulkan bahwa status bidang tanah Tendean 41 adalah konversi dari tanah bekas Hak Milik Adat Girik C bukan konversi dari tanah bekas Eigendom Veponding No. 6934.

Oditur Berbohong

Lebih parahnya lagi, untuk memenangkan kasus ini, oditur militer Kolonel Laut Alfian Rantung berani berbohong tentang surat untuk mengundang BPN ikut hadir dalam Pemeriksaan Setempat (PS) tanggal 28 Agustus 2025. Ia tahu betul, kehadiran BPN ini amat diperlukan, mengingat sidang kriminalisasi ini menyangkut nasib Eka Yogaswara dan harga diri sebagai prajurit TNI.

Oditur juga pernah berbohong terkait pengiriman surat yang dikirimkannya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ia mengaku sudah mengirimkan surat ke BPN itu melalui Caraka (kurir internal) sebelum pelaksanaan Pemeriksaan Setempat (PS) tanggal 28 Agustus 2025. Padahal, ketika itu surat sama sekali belum dikirimkan. Padahal keberadaan pihak BPN ini sangat diperlukan untuk membuktikan batas-batas lahan dan kepemilikan dilahan yang diklaim PFN dengan bekal Sertifikat Hak Pakai Sementara.

Kebohongan oditur terungkap dari bukti pengiriman surat tersebut baru dikirimkan tanggal 9 September 2025 melalui kurir TIKI dan ditujukan pada Kepala Kantor ATR/BPN di  Jalan Sisingamangaraja no.2, Kebayoran Baru, Jakarta.

Eka Yogaswara dalam pledoinya, juga tegas mengatakan, patut diduga Oditur dengan sengaja melakukan obstruction of justice atau penghalangan keadilan dengan cara berbohong atau memberikan informasi atau keterangan yang sesat kepada Majelis Hakim, kepada Penasihat Hukum dan kepada dirinya, untuk mengaburkan proses hukum dan patut diduga Oditur telah menutupi kebenaran yang apabila dibuka, maka kebenaran yang sejati akan terungkap.

Hal ini terbukti saat Pemeriksaan Setempat Oditur dan Perum PFN sangat pasif dan tidak sanggup menjelaskan kepada Majelis Hakim mengenai status tanah, letak tanah, luas tanah dan batas tanah tanah yang diklaim sebagai milik Perum PFN, padahal tugas dan kewajiban Oditurlah untuk membuktikan dakwaannya.

“Bukankah sikap Oditur seperti itu menunjukkan ketidakpatuhan dan ketidaktaatan terhadap Sapta Marga, Sumpah 6 Prajurit dan 8 Wajib TNI dengan melakukan kebohongan kepada Majelis Hakim, kepada Penasihat Hukum dan kepada kami? Kami menilai Oditur telah melanggar sumpah jabatannya, yang berbunyi “senantiasa menjalankan jabatan dengan jujur dalam menegakkan hukum dan keadilan”, ujar Eka Yogaswara.

Minggu, 21 September 2025

Sudut Pandang yang Mengubah Hidup

Pagi ini lampu di langgar sebelah masih menyala terang benderanh. Padahal biasanya tetangga yang berada tepat di sebelah langgar itu, yang tinggal di kontrakan Pak Minto, akan membersihkan lantai langgar dan mematikan lampu.

Aku duduk di kursi depan sambil menikmati kopi pahit Dan Pisang rebus. Di kejauhan terdengar suara sirine ambulan yang terdengar mendesak minta jalan melaju. 

Padahal, rumah kami ini cukup jauh masuk gang, dari jalan raya. Tapi raungan sirinenya meraung seolah minta diberi jalan. 

Pagi ini aku memutuskan akan mengambil alih dan bertanggung jawab penuh atas hidupku. Tanpa bermaksud melawan kuasai Gusti Allah...

Gugatan ini bukan sebuah terobosan baru. Aku beberapa kali pernah mendeklarasikan hal yang sama. Aku pernah menjadikan ini sebagai sebuah komitmen untuk "berhenti menyalahkan orang lain" atau "stop mencari kambing hitam atas kesalahan ataupun kegagalan."

Tapi ini bukan untuk diriku saja, melainkan juga untuk kita semua. Tapi ah sudahlah, aku bukanlah guru yang katanya bisa digugu dan ditiru. 

Ini memang lagi ngedumel. Mengapa hidup sulit?

Jawabnya adalah, karena pekerjaan lagi susah, karena konsumen pada lari ke toko lain, karena banyak PHK sehingga orang-orang pada susah.

Tapi jarang menjawab, karena aku tidak beradaptasi terhadap perubahan.

Benar?

Kenyataannya, menyalahkan diluar diri kita tak membuat solusi ditemukan. Terlebih membuat diri semakin "terpenjara" dalam kesusahan.

Bandingkan saat memilih bertanggung jawab pada apa yang terjadi pada diri ini.

"Aku akui kesulitan hidup yang terjadi Dan dialami karena kurang belajar, kurang beradaptasi terhadap perubahan jaman. Tapi sekarang aku memilih bertanggung jawab atas hidupku sendiri, memilih belajar hal baru sampai ahli agar tetap bisa berdaya, bisa unggul, bisa menghasilkan. Ini akan jadi lebih produktif."

Tidak gampang ini, tapi juga bukan hal yang sulit untuk dilakukan.

Akupun merasakan, ada getaran, ada gelombang yang awalnya merambat pelan dan merasakan kehangatan kekuatan baru muncul dalam dada lalu menyebar ke seluruh badan.

Wah kekuatan itu datang... Alhamdulillah semoga jadi dorongan baru untuk bangkit....

Itulah kesadaran, itulah SelfTalk. Sederhana tapi berdampak. 

Dibimbing dan diarahkan, memang lebih nyaman. 

Pagi ini masih sepi, sesekali terdengar suara ayam jantan di halaman samping. Tetangga menitipkan beberapa ayam di halaman samping, mengingat dia tak punya halaman, tak ada tempat untuk berternak ayam.

Jumat, 12 September 2025

Gagal di Dunia Masih Bisa Diperbaiki

Nasehat buat diri sendiri dan anak-anaku

Setiap orang pernah merasakan kegagalan. Entah itu gagal dalam pendidikan, pekerjaan, usaha, bahkan dalam urusan pribadi, percintaan dan sebagainya. Rasanya memang tidak enak—sedih, kecewa, atau merasa hidup hancur. Tapi, sebenarnya kegagalan di dunia bukanlah akhir dari segalanya. Selama kita masih diberi kesempatan hidup, kita selalu bisa bangkit dan mencoba lagi.

Berbeda dengan kegagalan di akhirat. Sekali kita gagal di sana, tidak ada kesempatan kedua. Itulah mengapa hidup di dunia sebenarnya bukan tujuan akhir, melainkan hanya tempat persinggahan untuk mempersiapkan perjalanan panjang setelah kematian.

Allah ﷻ sendiri mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sementara kehidupan akhirat jauh lebih berharga bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-An‘ām: 32). Artinya, kegagalan di dunia masih bisa ditebus, tapi kegagalan di akhirat tidak ada obatnya.

Rasulullah ﷺ bahkan menggambarkan dunia sebagai ladang akhirat. Apa yang kita tanam di sini—amal baik atau keburukan—akan menentukan apa yang kita panen di kehidupan setelah mati. Kalau yang ditanam kebaikan, hasilnya keselamatan. Tapi kalau yang ditanam justru dosa dan kelalaian, penyesalan panjang menanti.

Sayangnya, manusia sering lebih takut gagal di dunia ketimbang di akhirat. Gagal ujian, gagal kerja, atau gagal bisnis bisa bikin gelisah berhari-hari. Tapi, ketika shalat mulai lalai atau dosa dilakukan berulang, seringkali hati kita tetap tenang-tenang saja. Padahal, kegagalan sejati justru ketika seseorang tidak meraih ridha Allah ﷻ.

Allah ﷻ menegaskan dalam QS. Āli ‘Imrān: 185 bahwa orang yang selamat dari neraka dan masuk surga, dialah yang benar-benar sukses. Dunia ini, dengan segala gemerlap dan pencapaiannya, hanyalah kesenangan sementara.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadis sahih: ketika seseorang meninggal, hanya amalnya yang akan menemaninya. Keluarga, harta, dan jabatan—semua akan ditinggalkan. Karena itu, yang paling penting bukanlah seberapa tinggi kita mencapai dunia, melainkan seberapa baik kita mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Meski begitu, bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Allah ﷻ berpesan agar kita tetap mencari bagian kita di dunia, tetapi jangan sampai melupakan akhirat (QS. Al-Qashash: 77). Dunia dan akhirat harus berjalan seimbang: bekerja, belajar, berusaha, iya; tapi tetap menjaga ibadah dan amal saleh sebagai bekal yang tak tergantikan.

Sahabat, jika gagal di dunia, jangan berputus asa. Masih ada kesempatan untuk mencoba lagi. Allah ﷻ bahkan menegaskan bahwa setiap manusia pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah mereka yang mau bertaubat (HR. Tirmidzi).

Yang harus diingat, kesempatan itu hanya ada di dunia. Saat nyawa berakhir, pintu taubat tertutup. Karena itu, jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu esok untuk berubah, karena kita tidak tahu apakah esok masih ada.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah yang hanya mengikuti hawa nafsunya.” (HR. Tirmidzi).

Mari kita belajar menjadi orang yang cerdas—yang menjadikan kegagalan di dunia sebagai pelajaran, bukan sebagai akhir dari segalanya. Karena sejatinya, gagal di dunia masih bisa diperbaiki. Tetapi gagal di akhirat, tidak ada jalan kembali.

Rabu, 10 September 2025

Saat Hati Diuji: Menyulam Luka Menjadi Doa

Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada saat-saat ketika takdir menghadirkan ujian yang berat: kehilangan, kekecewaan, atau luka yang membuat kita hampir menyerah. Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menimpakan ujian untuk mereka...” (HR. Ibnu Majah).

Ujian bukanlah hukuman, melainkan tanda cinta. Dari rasa sakit kerang, lahirlah mutiara. Dari panas dan tempaan besi, tercipta pedang yang kuat. Dari kepompong yang sulit diterobos, lahirlah kupu-kupu dengan sayap indah. Begitu pula manusia: kita ditempa ujian agar menjadi lebih kokoh dan bernilai.

Sayangnya, kita sering terjebak pada keinginan hasil instan, melupakan proses yang penuh makna. Padahal Allah tidak pernah memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Setiap ujian sudah disertai jalan keluar—asal kita bersabar dan berserah.

Para Nabi pun menjalani ujian besar. Nabi Ibrahim AS diuji dengan pengorbanan terhadap keluarga. Nabi Yusuf AS melewati pengkhianatan, godaan, hingga penjara. Dari ujian itulah lahir keteladanan yang abadi.

Maka ketika hati diuji, jangan hanya melihat luka. Lihatlah kesempatan untuk menjadikannya doa. Setiap air mata bisa menjadi jalan menuju ridha Allah. Setiap cobaan bisa menjadi undangan untuk lebih dekat pada-Nya.

Ujian bukan akhir, melainkan awal dari kedewasaan iman. Mari belajar menyulam luka menjadi doa.

Rabu, 03 September 2025

Aluna

“Buuk Crook! Buuk Crook! Buuk Crok!”

Entah sudah ke berapa ratus kali cangkul itu diayunkan oleh tangan Aluna. Setiap kali mata besinya terangkat ke udara lalu jatuh kembali, tanah merah di depannya terbelah tanpa bisa menolak. Tanah basah itu diam saja, menerima nasib dengan sabar, seakan tahu bahwa pada akhirnya apa pun yang lahir dari tubuhnya akan kembali kepadanya juga.

Air yang terselip di sela tanah berbeda sikap. Ia selalu mudah tersinggung. Setiap kali dihantam cangkul, ia memercik liar, melontarkan lumpur ke betis dan paha Aluna. Celana kerjanya yang dulu bersih kini penuh noda cokelat pekat. Namun Aluna tak peduli.

Bagi perempuan itu, tanah, air, dan cangkul sudah menjadi satu-satunya dunia. Matanya menentang tanah, tangannya menghidupkan cangkul, kakinya mengatur langkah, sementara pikirannya berjalan jauh. Ada wajah ibunya yang menua di beranda rumah, ada suara adiknya yang meminta biaya sekolah, dan ada berita buruk yang terus menghantui: sawah yang ia cangkul ini kabarnya akan dijual untuk proyek jalan raya.

Setiap ayunan cangkul terasa seperti perlawanan kecil.

“Selama tanah ini masih di bawah kakiku,” batin Aluna, “ia tetap milikku, meski hanya untuk sebentar.”

Tanah tidak pernah menuntut balas jasa, tidak pernah marah. Tapi Aluna tahu, tanah juga menyimpan rahasia—ia menyaksikan setiap keringat, setiap air mata, setiap janji yang diucapkan petani. Dan di bawah sinar matahari yang semakin terik, Aluna terus mencangkul, seolah ingin menanamkan tekadnya ke dalam bumi: bahwa hidup boleh diguncang, tapi ia tak akan menyerah.

Baik, saya akan melanjutkan cerita Aluna dengan merujuk pada teks yang kamu berikan. Saya gabungkan nuansa puitis perubahan alam dengan batin Aluna, sehingga alur tetap hidup dan terasa menyatu.

Perubahan warna pada tanah yang membentang di depan Aluna sama sekali tak ia sadari. Sejam yang lalu, tanah itu masih kelabu kehitaman. Kini, di bawah cahaya yang mulai menanjak, tanah tampak cokelat kemerah-merahan, seperti sedang berdandan menyambut hari baru.

Ia juga tak begitu mendengar perubahan bunyi-bunyian di sekitarnya. Saat ia mulai mencangkul, suara percik air bercampur dengan kokok ayam jantan dan kerik jangkrik. Kini, suara jangkrik mulai redup, berganti dengan nyanyi burung yang berkejaran di langit fajar. Kegembiraan kecil bersayap itu begitu tulus, seolah-olah mereka sedang menabuh musik suci, menyambut anugerah pagi dengan puja-puji kepada Tuhan.

Sinar matahari merah keemasan perlahan merayapi cakrawala, memercikkan cahaya kehidupan. Pohon-pohon asem dan mahoni di tepi jalan mulai keluar dari gelap, menggeliat seperti manusia yang baru bangun, mengusir pegal setelah semalaman terlelap. Daun-daun muda di ujung ranting bergerak lembut tertiup angin, seperti melambaikan salam kepada hari yang baru lahir.

Di atas sawah berair, garis keemasan tampak melukis permukaan. Rumput-rumput di galengan memantulkan cahaya, dihiasi butir embun yang bergelantung bagai mutiara. Semua benda, baik yang hidup maupun mati, seakan mandi dalam cahaya kebahagiaan yang dibawa sinar keemasan pagi.

Aluna berhenti sejenak. Nafasnya terengah, keringat mengalir deras, namun matanya terpaku pada lukisan semesta di hadapannya. “Alangkah indah,” bisiknya lirih. Tapi dalam keindahan itu, hatinya terguncang. Sawah ini, yang kini bermandi cahaya, sebentar lagi mungkin hanya tinggal kenangan. Proyek jalan raya akan datang, menggantikan semua—tanah, embun, nyanyian burung, bahkan keringatnya.

Ia menggenggam cangkulnya erat-erat, seakan benda itu satu-satunya pegangan yang tersisa. Dalam hati, ia bertanya: apakah manusia memang tahu menerima dan menghargai berkah seperti bumi dan burung-burung ini? Atau justru selalu ingin merampas lebih, tanpa pernah cukup?

Sinar matahari terus menanjak, tapi hati Aluna semakin diliputi kabut keraguan. Namun ia tahu satu hal: selama embun masih menetes di ujung rumput, selama burung masih bernyanyi menyambut pagi, ia pun tak boleh menyerah.

Jumat, 22 Agustus 2025

Renungan: Ridha Allah dan Rasul-Nya



Pernah, dalam sebuah majelis sederhana, dua tokoh besar bertemu. Imam Abu Hanifah, sang imam agung, duduk bersama cicit Rasulullah, Imam Ali Zainal Abidin.

Dalam hening yang penuh berkah, Imam Ali Zainal Abidin menyuapkan makanan ke mulutnya, lalu berucap lirih:
“Alhamdulillah wa Rasulillah.”

Imam Abu Hanifah tertegun. Hatinya bertanya-tanya, dan dengan penuh adab ia mengungkapkan,
“Wahai cucu Rasulullah, bukankah segala pujian hanyalah untuk Allah? Tidakkah menyebut Rasul dalam syukur mendekati syirik?”

Imam Ali Zainal Abidin tersenyum. Senyum yang menenangkan, seakan memancarkan hikmah dari lubuk hati yang dalam. Lalu beliau menjawab lembut:
“Wahai Imam, bukankah Allah sendiri menggandengkan nama-Nya dengan nama Rasul-Nya? Bukankah syahadat itu menyebut keduanya? Bukankah dalam Al-Qur’an Allah berfirman: ‘…dan Allah serta Rasul-Nya akan memberi kami karunia-Nya.’ (QS. Ali Imran: 173).”

Sejenak, Imam Abu Hanifah terdiam. Dadanya lapang, hatinya terbuka. Ia menyadari, bahwa ada kalimat-kalimat yang lahir bukan semata dari akal, melainkan dari ilham. Ada doa-doa yang bukan sekadar susunan kata, melainkan pancaran cinta dan kedekatan.

Mereka yang dianugerahi itu adalah para wali, pewaris cahaya Nabi, keturunan sejati Rasulullah saw. Dari hati mereka mengalir doa-doa yang penuh makna.

Seperti doa yang kita kenal:
“Radlitu billahi Rabba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin abdan wa rasula.”

Namun dari bibir mereka, doa itu tumbuh menjadi renungan yang lebih dalam:

“Ya Allah, aku ridha Engkau sebagai Tuhanku. Dengan rahmat-Mu, masukkanlah aku dan keluargaku ke dalam golongan hamba yang Engkau cintai dan Engkau ridai.”

“Ya Allah, aku ridha Muhammad saw. sebagai Nabi-Mu. Dengan kasih-Mu, jadikanlah aku dan keluargaku termasuk orang-orang yang mencintai Rasul-Mu, mengikuti jejaknya, dan hidup dalam cahaya Islam yang lurus.”

Renungan ini mengajarkan kita, bahwa mencintai Allah tidak bisa dipisahkan dari mencintai Rasul-Nya. Bahwa doa bukan sekadar lafaz, melainkan ikrar hati. Bahwa ridha kepada Allah, berarti juga ridha dengan Rasul-Nya sebagai pembimbing jalan menuju-Nya.

Maka, mari kita berdoa dengan hati yang penuh cinta:
“Ya Allah, ridailah kami. Ya Allah, ajarkan kami mencintai Rasul-Mu, sebagaimana Engkau mencintainya. Ya Allah, satukan kami dalam ridha-Mu, hingga langkah-langkah kami selalu menuju kepada-Mu.”

Kamis, 21 Agustus 2025

Pembakaran Masjidil Aqsha, 21 Agustus 1969

Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsa, Syekh Ikrimah Shabri


Pagi 21 Agustus 1969 itu, menjadi salah satu hari yang kelam bagi Ummat Islam seluruh dunia, Ummat Islam di seluruh dunia tersentak oleh kabar memilukan dari Yerusalem. Denis Michael Rohan, seorang ekstremis asal Australia, menyulut api di Masjid Al-Aqsha. Masjid yang menjadi kiblat pertama bagi Muslim saat sholat.

Dalam hitungan jam, api melahap mimbar bersejarah yang dahulu dibangun atas perintah Salahuddin Al-Ayyubi—mimbar yang menjadi simbol kejayaan Islam ketika Baitul Maqdis dibebaskan. Sebagian besar interior masjid pun hangus, meninggalkan puing dan luka yang sulit terhapus.

Sekitar 1.550 meter persegi dari total 4.500 meter persegi bangunan musnah dilalap api. Syaikh Ekrema Sabri, imam masjid kala itu, menegaskan bahwa kebakaran ini bukan sekadar kelalaian, melainkan “aib besar bagi umat Islam.” Ia menuding upaya pemadaman sengaja diperlambat oleh pihak berwenang. Reaksi pun tak terbendung—demonstrasi meletus di seluruh Palestina, suara kemarahan bergema dari Damaskus hingga Kairo, dari Jakarta hingga Rabat.

Dunia internasional tidak tinggal diam. Pada 15 September 1969, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 271, mengutuk keras pembakaran Al-Aqsha, sekaligus menegaskan bahwa Israel wajib menghormati resolusi-resolusi sebelumnya terkait status Yerusalem dan Konvensi Jenewa. Namun, sejak saat itu hingga hari ini, Masjid Al-Aqsha tak pernah benar-benar aman.

Lebih dari setengah abad berlalu, bayang-bayang tragedi 1969 masih terasa. Masjid Al-Aqsha tetap menjadi titik panas konflik hingga hari ini. Masjid ini menjadi simbol perlawanan sekaligus pengingat betapa rapuhnya keadilan internasional. Setiap kali ketegangan di Palestina memuncak, Al-Aqsha sering menjadi saksi serangan, penggerebekan, dan pembatasan akses ibadah. Tragedi pembakaran itu kini dipandang bukan hanya sebagai insiden sejarah, melainkan bagian dari rangkaian panjang upaya melemahkan identitas dan hak-hak rakyat Palestina.

Refleksi untuk Hari Ini

Peristiwa 21 Agustus 1969 bukan sekadar catatan sejarah, tetapi pesan yang hidup hingga kini: bahwa amanah menjaga Masjid Al-Aqsha bukan tanggung jawab satu bangsa, melainkan seluruh umat Islam. Tragedi itu mengingatkan kita akan pentingnya persatuan, kepedulian, dan solidaritas lintas batas.

Di era ketika dunia terkoneksi begitu cepat, umat Islam memiliki kekuatan yang lebih besar untuk bersuara, menyebarkan kebenaran, dan menolak ketidakadilan. Setiap doa, dukungan moral, hingga aksi nyata untuk Palestina adalah bagian dari ikhtiar menjaga kehormatan Al-Aqsha.

Sejarah telah membuktikan bahwa Al-Aqsha selalu menjadi sumber kekuatan dan simbol kebangkitan umat. Dari mimbar Salahuddin yang terbakar hingga gelombang solidaritas yang tak pernah padam, pesan itu tetap sama: selama Masjid Al-Aqsha berdiri, selama itu pula ummat Islam memiliki alasan untuk bersatu.

Serbuan

Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsa saat ini, Syekh Ikrimah Shabri mengatakan, “Masjid Al-Aqsa sedang menghadapi serbuan intensif dan eskalasi yang terencana untuk memaksakan realitas baru serta menegakkan kedaulatan israel di dalamnya.”

Menurutnya, peningkatan jumlah penyerbu dan keterlibatan pejabat israel menunjukkan adanya upaya nyata untuk mengakhiri otoritas Wakaf Islam atas Masjid Al-Aqsa.

Ia menegaskan, para pemukim dan pejabat israel bahkan melakukan ritual Talmud di dalam kawasan masjid dengan pengawalan ketat, demi mengklaim bahwa masjid itu milik mereka.

Syekh Shabri menyebut eskalasi ini kian meningkat sejak naiknya pemerintahan ekstremis saat ini.

Ia menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran generasi baru tentang hak umat Islam atas Masjid Al-Aqsa, sekaligus menyerukan umat Palestina untuk memperbanyak kunjungan ke masjid tersebut (ribath). Ia juga mengajak seluruh Muslim di dunia untuk membela Al-Aqsa, “sebab kedudukannya sama dengan Ka’bah dan Masjidil Haram.” Kamis (21/8/2025).


Senin, 18 Agustus 2025

Kekhawatiran



Sara Blakely tidak pernah mengikuti sekolah bisnis. Ia bahkan pernah gagal dalam ujian masuk hukum. 

Namun pada usia 29 tahun, dengan tabungan hanya $5.000, ia mendirikan Spanx, perusahaan shapewear yang merevolusi industri pakaian dalam.

Dia menciptakan Spanx, shapewear tanpa garis jahitan yang nyaman, praktis, dan memperindah siluet tubuh. Ia mengubah persepsi wanita tentang pakaian dalam—dari fungsional menjadi pemberdayaan diri, dan membuka pasar baru yang sebelumnya diabaikan.

Dan itu membuatnya menjadi miliarder wanita mandiri termuda versi Forbes. 

Perjalanan itu tidak mudah—penuh penolakan, keraguan, dan kekhawatiran. Tapi Sara memiliki satu pelindung kuat terhadap ketakutan: pola pikir yang ia warisi dari ayahnya.

Setiap minggu saat makan malam keluarga, sang ayah akan bertanya, "Apa yang kamu gagal lakukan minggu ini?"

Alih-alih menghindari kegagalan, Sara justru dilatih untuk mencarinya. Karena itu berarti ia mencoba hal-hal baru. 

Filosofi ini membentuk kepercayaan dasarnya: bahwa kegagalan adalah tanda kemajuan. 

Ketika puluhan pabrik menolak idenya membuat pakaian dalam tanpa garis jahitan, ia tetap maju. Ia bahkan menggunakan korektor putih untuk menggambar desain awal produknya di atas pakaian. 

Saat akhirnya produknya masuk ke Nordstrom, bukan karena pitch bisnis yang sempurna, tapi karena ia pergi sendiri ke toko dan menunjukkan produknya langsung ke staf. 

Ia bergerak cepat, bahkan ketika ketakutan dan ketidakpastian masih berdampingan.

Sementara itu, di dunia yang sangat berbeda — teknologi dan kepemimpinan korporasi —Sheryl Sandberg menghadapi kekhawatiran yang menghancurkan. 

Sebagai COO Facebook dan penulis buku laris Lean In, Sheryl dikenal sebagai sosok kuat dan ambisius. 

Namun pada tahun 2015, hidupnya berubah drastis ketika suaminya, Dave Goldberg, meninggal mendadak saat mereka liburan. Ia tiba-tiba menjadi orang tua tunggal dan merasa seperti kehilangan kendali atas segalanya.

Dalam kesedihan dan ketakutannya, Sheryl menulis buku Option B, berkolaborasi dengan psikolog Adam Grant. 

Ia menyadari bahwa tidak semua orang diberi "rencana A" dalam hidup, dan seringkali kita harus belajar menjalani "Option B", yakni kehidupan yang tidak kita pilih, tapi tetap harus kita maknai. 

Ia belajar bahwa ketahanan bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang membangun kembali. “Ketika kehidupan menarik Anda ke bawah, kemampuan untuk bangkit—itulah keberanian,” tulisnya. 

Ketakutan tidak bisa dihindari, tapi bisa dijinakkan melalui makna, komunitas, dan tindakan kecil yang terus berulang.

Kisah Sara dan Sheryl membuka jalan untuk memahami bahwa kekhawatiran adalah bagian alami dari kemanusiaan. Namun, bagaimana kita memaknai dan menanggapinya adalah kunci yang membedakan mereka yang melangkah maju dari mereka yang diam di tempat.

Wilda Hale, dalam bukunya The Fear of Failure, membongkar bagaimana ketakutan terhadap kegagalan seringkali menjadi tembok tak kasat mata yang membatasi kehidupan kita. 

Ia menceritakan bagaimana ia sendiri berkali-kali melakukan sabotase diri; menunda meminta kenaikan gaji, menghindari kesempatan belajar ke luar negeri, dan membatalkan ide bisnis karena ketakutan yang belum terbukti. 

Ia menyebut fase ini sebagai “self-rejection,” di mana seseorang menolak diri sendiri bahkan sebelum dunia sempat memberikan respons.

Tapi perubahan dimulai ketika Wilda mengubah perspektifnya. Ia mulai melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai umpan balik. 

Sebuah eksperimen, bukan vonis. 

Ia berhenti menunggu keberanian datang, dan mulai bertindak meskipun merasa takut. “Tindakan mendahului motivasi,” tulisnya. 

Semakin ia bertindak, semakin ia menemukan bahwa ketakutan hanyalah gema dari masa lalu, bukan kebenaran masa kini.

Jia Jiang, penulis buku Rejection Proof, menguatkan premis ini. Ia memulai eksperimen pribadi dengan secara sengaja mencari penolakan selama 100 hari berturut-turut. 

Dari meminta donat berbentuk cincin olimpiade hingga minta peluk orang asing, Jia menemukan bahwa ketakutan akan penolakan jauh lebih buruk dalam pikiran daripada kenyataan.

Justru, banyak orang merespons positif atau dengan rasa ingin tahu. Ia belajar bahwa keberanian bukanlah absennya rasa takut, tapi kemauan untuk tetap mencoba di tengah ketakutan itu.

Sementara itu, guru bernama Paul Brandwine mengajarkan filosofi hidup lewat tindakan sederhana, menumpahkan sebotol susu dan meminta murid-muridnya melihat bahwa tidak ada gunanya menyesalinya. 

“Yang bisa kita lakukan hanyalah membersihkannya, melupakannya, dan bergerak ke langkah berikutnya,” katanya. Pesan itu sederhana, tapi sangat kuat: berhenti menatap masa lalu dengan penyesalan, dan fokus pada masa depan dengan niat.

Dan tentu saja, Jeff Bezos, pendiri Amazon, memperkuat ide ini dari sudut pandang bisnis. Ia tidak hanya gagal satu atau dua kali—tapi miliaran dolar dari proyek yang gagal. Namun Bezos tidak menyerah. Ia bahkan menyambut kegagalan sebagai harga dari eksperimen. Baginya, satu-satunya hal yang benar-benar menakutkan adalah tidak pernah mencoba.

Dari semua kisah ini, satu pola terlihat jelas: kekhawatiran tidak akan hilang, tapi bisa dikelola. 

Perspektif adalah kuncinya. 

Mengubah pertanyaan dari "Bagaimana jika saya gagal?" menjadi "Apa yang akan saya sesali jika saya tidak mencoba?" bisa menggeser ketakutan menjadi dorongan.

Kehidupan jarang datang tanpa risiko, tanpa ketidakpastian. Tapi seperti kata Sheryl, meski kita kehilangan rencana A, kita selalu bisa membangun rencana B—dan menjadikannya luar biasa. 

Dan seperti Sara Blakely, kadang hal paling revolusioner yang bisa kita lakukan adalah melangkah dengan keberanian, bahkan ketika tak seorang pun percaya pada ide kita. Termasuk diri kita sendiri. 

Penulis: Edhy Aruman

Rabu, 06 Agustus 2025

Rumus Bahagia

Neil Pasricha pernah jadi Direktur Pengembangan Kepemimpinan di Walmart, perusahaan ritel terbesar di dunia. Dia juga penulis buku motivasi. Ia juga seorang pengamat kehidupan yang tajam, dan pembicara publik yang memikat.

Dari ruang-ruang rapat para eksekutif hingga panggung konferensi internasional, Pasricha telah berjumpa dengan para pemimpin bisnis, miliarder, dan tokoh berpengaruh. 

Namun di balik kemilau kesuksesan mereka, ia menemukan kenyataan yang menggelitik pikirannya: begitu banyak orang hebat itu ternyata tidak benar-benar bahagia.

Di sela-sela makan siang konferensi atau percakapan santai di lorong kantor, topik yang muncul bukanlah tentang impian atau pencapaian, melainkan keluhan tentang stres, kelelahan, dan tekanan hidup yang tak kunjung reda.

Ironisnya, hal ini tidak hanya terjadi pada orang biasa, tetapi juga pada para tokoh yang dianggap berada di puncak pencapaian hidup. 

Pengalaman ini menanamkan sebuah pertanyaan besar dalam benak Pasricha.  

Jika mereka yang “memiliki segalanya” tidak merasa bahagia, lalu apa sebenarnya kunci kebahagiaan itu?

Dari perenungan panjang dan pengalaman pribadinya, Pasricha merumuskan sebuah persamaan sederhana yang menjadi inti bukunya The Happiness Equation:

Want Nothing + Do Anything = Have Everything

(Ingin Tidak Menginginkan Apa Pun + Melakukan Apa Pun = Memiliki Segalanya)

Bagi Pasricha, kebahagiaan bukanlah hadiah yang datang setelah kita mencapai tujuan tertentu. Sebaliknya, kebahagiaan adalah titik awal. Ia membalik logika umum yang kita dengar sejak kecil—bekerja keras, meraih sukses, lalu bahagia—menjadi sebaliknya: bahagialah dulu, maka Anda akan bekerja lebih baik, dan kesuksesan akan datang sebagai akibat alami.

Pendekatan ini bukan sekadar slogan manis. Penelitian mendukungnya. 

Harvard Business Review menunjukkan bahwa orang yang bahagia 31 persen lebih produktif, 37 persen lebih tinggi penjualannya, dan tiga kali lebih kreatif. 

Secara biologis, otak manusia memang terbiasa fokus pada hal negatif karena ribuan tahun hidup dalam kondisi singkat, keras, dan penuh persaingan. 

Namun kini, di dunia modern, kita tidak lagi terancam predator setiap saat. Meski begitu, otak kita masih memindai masalah, membuat kita sulit merasa cukup. Pasricha menunjukkan bahwa 90 persen kebahagiaan kita sebenarnya berasal dari cara kita memandang dunia dan aktivitas yang kita pilih, bukan dari keadaan hidup itu sendiri.

Itulah mengapa ia menekankan pentingnya melatih diri untuk “bahagia sekarang”. 

Kebahagiaan bukan sesuatu yang menunggu di ujung perjalanan; ia dibangun dari kebiasaan sehari-hari—langkah-langkah kecil yang mengubah cara kita merasakan hidup. 

Mulai dari berjalan kaki di pagi hari, menulis pengalaman positif, melakukan kebaikan acak, meluangkan waktu untuk diam, hingga melatih rasa syukur, semua itu adalah pintu masuk menuju keadaan batin yang lebih damai.

Pasricha juga menyoroti betapa rapuhnya kebahagiaan jika kita hanya mengandalkan validasi eksternal. 

Ia menceritakan pengalamannya sendiri ketika terjebak dalam lingkaran mengejar angka kunjungan blog, daftar bestseller, dan penghargaan. Setiap pencapaian hanya memuaskan sebentar, sebelum ia menetapkan target baru. 

Lama-kelamaan, ia menyadari bahwa motivasi eksternal membuat kita meng-outsource rasa percaya diri. Jika pujian membuat kita melayang, kritik bisa dengan mudah menjatuhkan kita.

Di sinilah empat kata sederhana menjadi pelindung: Do it for you. Lakukan untuk dirimu sendiri. Pasricha juga mengingatkan bahwa kita harus memahami jenis kesuksesan yang kita cari, apakah itu kesuksesan komersial, pengakuan sosial, atau kepuasan pribadi. 

Tidak semua bisa dimiliki sekaligus, dan sering kali dua di antaranya justru menghalangi yang ketiga.

Lebih jauh lagi, ia mengajak kita keluar dari “Budaya Lebih”, obsesi tak berujung untuk memiliki lebih banyak. 

Dengan kisah sederhana seperti nelayan Meksiko yang menolak tawaran membangun usaha besar karena ia sudah puas dengan hidupnya, Pasricha menunjukkan bahwa kekayaan sejati datang ketika kita merasa cukup. 

Ia menyebut fakta bahwa hanya dengan menjadi hidup saat ini—di antara miliaran manusia yang pernah ada—kita sudah memenangkan “loteri kehidupan”.

Salah satu gagasan paling menantang dari Pasricha adalah anjurannya untuk “tidak pernah pensiun”. Bukan berarti bekerja tanpa henti, tetapi menemukan makna melalui aktivitas yang memberi tujuan, struktur, stimulasi, dan hubungan sosial. 

Ia mencontohkan masyarakat Okinawa di Jepang yang memiliki ikigai, alasan untuk bangun setiap pagi, dan tetap aktif hingga usia lanjut.

Waktu, menurut Pasricha, adalah aset paling berharga yang sering kita remehkan. Ia mendorong pembaca untuk menghitung “gaji nyata” per jam, menyadari bahwa pendapatan besar bisa kehilangan maknanya jika dibayar dengan waktu hidup yang habis untuk hal yang tidak kita cintai. 

Karena itu, ia mengajak kita menciptakan ruang—menghapus pilihan yang tidak perlu, membatasi waktu yang dihabiskan untuk tugas tertentu, dan memutuskan akses terhadap gangguan.

Yang tak kalah penting, Pasricha membalik urutan motivasi: jangan menunggu ingin, baru melakukan. Mulailah bertindak, dan rasa mampu serta keinginan akan mengikuti. 

Seperti hukum fisika pertama Newton, gerak akan terus berlanjut kecuali dihentikan oleh gaya yang lebih besar. Begitu kita memulai, momentum akan membawa kita maju.

Pada akhirnya, inti dari semua ini adalah keaslian. Menjadi diri sendiri sepenuhnya adalah satu-satunya cara untuk menghindari penyesalan terbesar di akhir hidup. 

Pasricha mengingatkan bahwa semua nasihat pada dasarnya subjektif. Jawaban terbaik ada di dalam diri kita, menunggu untuk ditemukan.

The Happiness Equation bukan hanya buku, tetapi undangan untuk mengubah cara kita menjalani hari-hari. Dengan ingin tidak menginginkan apa pun, kita membebaskan diri dari jeratan “kurang”. 

Dengan berani melakukan apa pun, kita membuka pintu bagi kemungkinan yang tak terbatas. 

Dan ketika dua hal ini bersatu, kita akan merasa telah memiliki segalanya, bahkan sebelum dunia mengatakan demikian.

Penulis: Aruman

SUMBER:

Pasricha, N. (2016). The happiness equation: Want nothing + do anything = have everything. G. P. Putnam’s Sons.

Jumat, 01 Agustus 2025

PARKINSON

 



Zaman yang serba cepat dan penuh tuntutan membuat waktu terasa selalu kurang. Tugas datang bertubi-tubi, kalender nyaris tanpa jeda, dan deadline terasa terus memburu. 

Orang sibuk setiap hari, tapi sering tak tahu apakah kesibukan itu benar-benar perlu, atau hanya karena memberi ruang terlalu besar untuk pekerjaan yang terus membesar.

Tak bisa dipungkiri, kita terus bergerak. Tapi kita sering lupa bertanya: apakah kita benar-benar sibuk, atau sekadar membiarkan pekerjaan melebar melebihi yang seharusnya? Pernahkah kita merenung: apakah benar pekerjaan kita sebanyak itu, ataukah sebenarnya kita membiarkannya mengembang mengikuti waktu yang tersedia?

Pertanyaan ini bukan sekadar renungan pribadi, tapi merupakan inti dari apa yang dikenal sebagai Parkinson’s Law, sebuah prinsip legendaris dari sejarawan dan birokrat Inggris, C. Northcote Parkinson. 

Dalam bukunya Parkinson’s Law, and Other Studies in Administration (1957), ia menyampaikan satu kalimat sederhana yang sangat mengena: “Work expands so as to fill the time available for its completion.” Atau dalam bahasa kita, pekerjaan akan membengkak untuk mengisi waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya.

Parkinson menemukan bahwa dalam organisasi, terutama birokrasi pemerintahan, semakin banyak waktu dan sumber daya yang tersedia, maka semakin kompleks dan besar pula tugas yang diciptakan. Bahkan ketika kebutuhan nyatanya tidak meningkat. 

Dalam sebuah studi satir tetapi didukung data nyata, ia menunjukkan bahwa jumlah pegawai administratif di Kementerian Angkatan Laut Inggris meningkat drastis antara tahun 1914 dan 1928, meskipun jumlah kapal dan personel militer justru menurun. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan organisasi seringkali bukan karena beban kerja, tetapi karena dorongan internal untuk terlihat sibuk dan penting.

Namun, Parkinson’s Law bukan hanya tentang birokrasi. 

Ia juga berlaku dalam hidup kita sehari-hari. Saat diberi waktu dua jam untuk menyelesaikan laporan yang sebenarnya bisa selesai dalam 30 menit, kita cenderung menunda-nunda, mempercantik hal-hal yang tidak perlu, atau tenggelam dalam rincian yang tidak penting. 

Kita tidak sadar bahwa kita membiarkan pekerjaan tumbuh mengikuti wadah waktunya. Bukan karena kita membutuhkan waktu lebih, tetapi karena kita tidak membatasi diri.

Parkinson menulis dengan ironi yang halus tapi tajam. Salah satu bab yang paling terkenal dalam bukunya berjudul “Injelititis, or Palsied Paralysis” , istilah yang terdengar seperti penyakit medis. 

Tapi ini bukan tentang kesehatan fisik, melainkan penyakit organisasi. 

Dalam metafora brilian ini, Parkinson menggambarkan kondisi di mana pejabat senior dalam organisasi menjadi tumpul dan tidak produktif, pejabat menengah saling menjegal demi posisi, dan orang-orang muda yang kompeten tertekan dan akhirnya memilih mundur atau diam. 

Organisasi yang terkena “injelititis” akan terlihat sibuk di permukaan, tapi sejatinya berada dalam kondisi koma. Ia tidak bergerak maju, tidak mengambil keputusan bermakna.

Parkinson menyusun gejala-gejala injelititis layaknya dokter menulis diagnosis: mulai dari kemunculan pemimpin yang iri dan tidak kompeten, menyebarnya budaya aman dan tidak berani bersuara, hingga fase akhir di mana kantor penuh perabot mewah, tapi tidak ada hasil nyata. 

Meskipun mengutip istilah-istilah medis seperti “penyakit” dan “penyembuhan,” penting diingat bahwa ini hanyalah metafora. 

Parkinson adalah seorang sejarawan, bukan dokter. Fokusnya adalah administrasi publik dan organisasi bisnis, bukan kesehatan tubuh manusia.

Hal ini penting untuk ditegaskan karena banyak orang mengira Parkinson’s Law berkaitan dengan Penyakit Parkinson , sebuah kondisi neurologis serius yang memengaruhi pergerakan tubuh manusia. 

Padahal keduanya tidak memiliki hubungan sama sekali, meskipun namanya sama. 

Penyakit Parkinson dinamai dari James Parkinson, seorang dokter Inggris yang pada tahun 1817 menulis esai medis pertama yang mendeskripsikan kondisi ini secara klinis. Penyakit ini berkaitan dengan kerusakan saraf dan penurunan produksi dopamin di otak, menyebabkan gejala seperti tremor, kekakuan otot, dan lambatnya gerak.

Sedangkan Parkinson’s Law adalah hasil pengamatan dan sindiran C. Northcote Parkinson terhadap dunia birokrasi dan organisasi. 

Ia bukan berbicara tentang tubuh manusia, melainkan tentang “tubuh” organisasi . tentang  bagaimana ia tumbuh, melebar, dan kadang mati karena terlalu banyak kompleksitas yang diciptakan dari dalam.

Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa lebih menghargai kejeniusan C. Northcote Parkinson. 

Ia tidak hanya menunjukkan masalah, tetapi juga menyodorkan cermin kepada kita semua — bahwa sering kali, keterlambatan, inefisiensi, dan stagnasi bukan datang dari luar, melainkan dari sistem yang kita pelihara sendiri. 

Sistem yang membenarkan rapat tanpa akhir, organisasi yang mengukur keberhasilan dari jumlah staf bukan dari hasil, dan pribadi-pribadi yang merasa sibuk padahal sebenarnya hanya sedang terjebak dalam ilusi kesibukan.

Parkinson’s Law memberi kita satu pelajaran penting: bahwa efisiensi bukan soal kerja keras tanpa henti, melainkan tentang keberanian menyederhanakan. 

Tentang kemampuan menetapkan batas waktu yang masuk akal, dan disiplin untuk tidak membiarkan pekerjaan meluas tanpa kendali. Bahwa terkadang, membatasi diri adalah bentuk tertinggi dari kebebasan.

Di era yang terobsesi dengan produktivitas, mungkin justru prinsip Parkinson-lah yang perlu diingat ulang: jangan izinkan pekerjaan tumbuh tanpa batas. 

Bentuklah waktu, jangan dibentuk olehnya. Maka kita akan kembali pada esensi: bekerja bukan untuk terlihat sibuk, melainkan untuk menyelesaikan yang penting. 


Penulis: Edhy Aruman


DAFTAR PUSTAKA 

Parkinson, C. N. (1957). Parkinson’s law, and other studies in administration. Houghton Mifflin.